[35] Pondok Pesantren Darul Aman, Makassar, Sulawesi Selatan PDF Print E-mail
Sunday, 18 July 2010 17:44

Pencetak Kader Tiga Dimensi dari Jantung Sulsel

Sesuai dengan mottonya, diharapkan ponpes ini melahirkan Muslim dan Mujahid yang siap dipimpin dan memimpin.

Suasananya asri. Sangat cocok bagi santri untuk menimba ilmu. Lokasinya strategis namun jauh dari kebisingan. Dikelilingi perkampungan penduduk. Pondok Pesantren Darul Aman ini berdekatan pula dengan pesantren yang lain  seperti Ponpes Darul Arqam dan Pesantren Ummul Mu’minin. Kegiatan antara santri  putra dan santri putri dipisahkan oleh kolam. Dikelilingi pepohonan besar nan rindang mengalirkan udara yang sejuk ke ruang-runag pondok santri.

Pesantren ini didirikan oleh KH Abdul Djalil Thahir. Saat itu, KH Abdul Djalil Thahir, baru pulang dari Pakistan, setelah lulus studi magister di Universitas Islamabad. Beberapa saat sebelum kembali ke Indonesia, dosennya menyatakan agar kelak santri-santrinya melanjutkan pendidikan ke Pakistan, padahal saat itu Abdul Djalil belum memiliki seorang santripun.

Maka dengan bermodalkan ilmu yang ditimbanya dan upaya yang sungguh-sungguh dan penuh perjuangan serta adanya dukungan dari masyarakat yang mempercayakan anak-anaknya, ”Bismillah..” ia pun mendirikan ponpes di sebelah utara Kota Makassar tepatnya  di jalan KH. Abdul Jabbar Assiri No 01 Gombara, Kelurahan Pai, Biringkanaya, Kota Makassar pada 12 Rabiul Awal tahun 1991 Masehi.

”Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, setelah melewati berbagai rintangan sehingga agak tersendat, maka lahirlah pontren tersebut,” ujarnya kepada kontributor Media Umat saat berkunjung ke Darul Aman beberapa waktu lalu.

Visi Pondok Pesantren Darul Aman adalah sebagai wadah mencetak generasi Muslim yang taat, berakhlakul karimah dan berwawasan luas dan mandiri. Sedangkan misinya ada tiga. Pertama, membina dan mendidik santri berakhlak mulia melalui pendidikan dan ketrampilan praktis. Kedua, mencetak kader 3 dimensi yaitu: Muslim, Dai, dan Mujahid. Ketiga, menjalin kerja sama dan kemitraan dengan beberapa lembaga pendidikan dalam dan luar negri.

Pola Pembinaan

Pembinaan dan pendidikan yang diterapkan adalah berdasarkan kurikulum Diknas, Depag, dan Pesantren dengan penekanan pada penguasaan Bahasa Arab dan Inggris pada pagi hingga petang hari, juga pembinaan mental melalui pengajian pada subuh hari oleh pengasuh dan pembina pondok.

Penghafalan dan pemahaman Alquranul Karim, tadarus Alquran seusai Maghrib hingga Isya dengan penambahan dan pembinaan Bahasa Arab dan Inggris. Di samping itu para santri dibina melalui keorganisasian di asrama dan OSIS.

Saat ini, Darul Aman merupakan pesantren dengan luas area terbesar di Makassar dengan luas wilayah sekitar 7 hektar. Sarana dan prasarana pesantren diperoleh dari swadaya dan dan bantuan dari berbagai lembaga pemerintah.

Jumlah santri aktif sekitar 800 orang. Sedangkan biaya bagi santri yang berasal dari lingkungan sekitar digratiskan dan sebagian warga sekitar pun dengan antusias bekerja di pesantren misalnya di bagian dapur dan penataan.

Akhirnya harapan dosen Universitas Islamabad tercapai, tidak sedikit santri Abdul Djalil yang melanjutkan pendidikan ke almamater sang kyai di Pakistan. Bahkan ada pula yang melanjutkan kuliah ke Mesir, Malaysia, Jepang, dan Amerika.

Saat ini ada sekitar 26 alumni Darul Aman yang lulus S2 (magister) di luar negeri yang  kembali untuk mengabdikan diri di ponpes ini. Sehingga sumber daya yang dimiliki sangat memadai karena tersedianya sumber daya dengan berbagai disipilin ilmu.

Sejak tahun 2005, amanah memimpin ponpes yang bermotokan Mencetak Muslim dan Mujahid, Siap Dipimpin dan Memimpin itu diserahkan kepada putra pendiri ponpes yakni Ust Muh Iqbal Abdul Djalil, Lc. [] kemal shadiq/musdalfa abdullah/joko prasetyo

KH Abdul Djalil Thahir
Khilafah dan Syariah Harga Mati!

KH Abdul Djalil dengan tegas menyatakan bahwa syariah Islam itu wajib diterapkan secara kaffah, bukan hanya yang terkait dengan kesalihan pribadi saja tetapi negara pun wajib menerapkan syariah Islam saja tidak boleh menggunakan aturan dari pandangan hidup di luar Islam. ”Syariah harga mati dan tidak bisa ditawar!” tandasnya.

Tentu saja syariah Islam dapat diterapkan secara sempurna bila negara ini menganut sistem pemerintahan Islam atau yang disebut oleh para shalafush shalih sebagai Khilafah Islamiyyah. ”Khilafah wajib diperjuangankan, tidak mungkin tegak tanpa diperjuangkan dan harus sesuai dengan sunnah Nabi, saya tidak pernah setuju syariah diperjuangkan melalui DPR (parlemen), itu tidak ada sunnahnya!” tegas ulama lulusan Universitas Islamabad Pakistan ini kepada kontributor Media Umat. Dalam rangka menyadarkan santri dan masyarakat secara umum, maka dalam setiap ceramah dan materi yang dipaparkannya ia menekankan kewajiban menegakkan syariah. Ia pun sependapat dengan metode perjuangan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dalam upaya menyadarkan masyarakat akan wajibnya menegakkan syariah dan khilafah, sampai-sampai ia pun menyatakan, ”Hati dan jiwa saya sudah di Hizbut Tahrir, meskipun jasad saya masih di sini, di pesantren” tegasnya. []kemal/musdalfa/joy

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved