Banner
[37] Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia PDF Print E-mail
Monday, 19 July 2010 17:35

Mengejar Keberkahan Dakwah di Pedalaman

Mereka sepakat DDII hanyalah tempat untuk mengabdi kepada Allah SWT. Ditugaskan membina warga terpencil di pedalaman disambut dengan suka cita, meski dengan honorarium yang sangat kecil.

Masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim ini ternyata terdiskriminasi dan terabaikan. Mereka hidup terbelakang dalam segala hal. Pendidikan terbelakang, fasilitas publik terbatas, layanan kesehatan langka, rumah ala kadarnya, makan seadanya, kekeringan spiritual dan sejumlah kekurangan lainnya. Lantas siapa yang akan membinanya untuk mengenal Allah SWT dan menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan teladan Rasulullah SAW?

Kenyataan tersebutlah yang melatarbelakangi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) untuk mengirim para dainya ke pelosok Indonesia termasuk ke tengah-tengah suku terasing.

Pada 7 April lalu di Jakarta, DDII melepaskan 12 dainya untuk berdakwah dan membina para mualaf dan Muslim minoritas di desa-desa pedalaman wilayah timur Indonesia. Mereka diberangkatkan ke Pulau Seram, Maluku; Pulau Halmahera, Maluku Utara; Nusa Tenggara Timur; Raja Ampat, Papua; dan Pulau Nias.

Sekilas Pandang

DDII adalah suatu lembaga swadaya masyarakat (LSM) berbadan hukum berbentuk yayasan yang kini telah berkembang ke seluruh tanah air. Dewan Dakwah memiliki perwakilan di 30 provinsi dan lebih dari 100 pembantu perwakilan di kota dan kabupaten dengan kantor pusat di Jakarta. Organisasi ini tidak terlibat dalam politik praktis.

Dewan Dakwah didirikan atas inisiatif pahlawan nasional Mohammad Natsir, mantan Ketua Umum Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dan Perdana Menteri RI, melalui musyawarah alim ulama se-Jakarta tanggal 26 Februari 1967 (17 Dzulqaidah 1386 H).

Landasan didirikannya tentu saja  atas dasar kewajiban setiap Muslim untuk melaksanakan dakwah sebagaimana disebutkan dalam Alquran dan hadits. Di antaranya adalah Alquran Surat Ali Imran Ayat 104, yang artinya:

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.

Dan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya: Sampaikan (dari aku) meskipun satu ayat.

Oase Iman

Beberapa waktu lalu Ketua Umum DDII KH Syuhada Bahri menyatakan bahwa setiap dai yang bergabung dalam DDII semuanya sepakat bahwa DDII hanyalah tempat mengabdi kepada Allah SWT. “Meskipun honor para dai di daerah itu rata-rata 250 ribu perbulan, tetapi itu semua tidak dirasakan sebagai sebuah duka atau kesengsaraan tetapi justru mereka merasakan bahwa ini adalah sebuah keberkahan,” ujarnya kepada Media Umat  saat bersilaturahmi ke Kantor Pusat DDII beberapa waktu lalu di Jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta.

Maka tidak aneh meski honorarium yang diberikannya begitu kecil tetapi mereka tetap semangat menjalankan tugas untuk membina masyarakat di berbagai wilayah terpencil. Tentu saja banyak ibrah yang bisa dipetik dari dai yang ditugaskan tersebut. Mulai dari dai yang berhasil menggerakan ekonomi umat sampai dai yang mampu meningkatkan kualitas spiritualnya.

Misal, seorang dai yang ditugaskan di Blitar, Jawa Timur. Ia berhasil menggerakkan ekonomi umat, seperti ternak, pertanian dan perkebunan. Di samping berdakwah, dia berhasil mempersaudarakan yang kaya dan miskin. Dibina secara baik, sehingga perekonomian penduduk setempat cukup stabil.

Sedangkan kisah yang dialami dai yang ditugaskan ke daerah So’e, Nusa Tenggara Timur bisa menjadi bahan renungan kaum Muslim agar tidak terhanyut dalam arus hedonisme. Pasalnya, di daerah terpencil tersebut, sang dai selama sepuluh hari berturut-turut hanya makan dedaun saja. Karena memang uang, beras, jagung, tidak punya. Minta sama umat tidak mungkin.

Tetapi ketika lokasi tugasnya akan dipindah ke tempat yang mudah dijangkau kendaraan bermotor, ia malah menolak. “Jangan jauhkan saya dengan Allah SWT! Justru dengan peristiwa itu saya merasa semakin dekat dengan Allah SWT dan semakin merasakan besarnya pertolongan Allah SWT,” ujar Syuhada menirukan jawaban sang dai yang menyadari bahwa umat pedalaman sangat kekurangan dai baik kualitas maupun kuantitasnya.

Melalui kiprah dai-dai seperti di atas, DDII telah menyalurkan dana dari para dermawan  sehingga dapat mengirim lebih dari 300 dai ke berbagai daerah yang membutuhkan. Dewan Dakwah juga menyantuni hampir 300 anak yatim, mengusahakan dan merekomendasikan lebih dari 500 beasiswa ke universitas dalam dan luar negeri, mengumpulkan dan membagi bantuan kemanusiaan melalui Komite Penanggulangan Krisis (KOMPAK) senilai lebih 8 milyar rupiah. Lembaga ini juga mengadakan 25 pelatihan dai, meluluskan lebih 250 Program D3 Dakwah melalui Lembaga Pendidikan Dakwah Islam (LPDI), menerbitkan 162 judul buku melalui penerbit Hudaya Media Dakwah, dan lainnya.

Di samping dari Departemen Agama, Dewan Dakwah juga telah menerima penghargaan dan rekomendasi dari Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, Departemen Kehakiman & HAM karena peranannya dalam bidang dakwah, pendidikan dan pembinaan akhlak.[] joko prasetyo

KH Syuhada Bahri, Ketua Umum DDII

TARGETKAN 1.000 ULAMA BERGELAR DOKTOR

Target besar DDII saat ini adalah mencetak seribu ulama yang berpendidikan formal sampai tingkat doktoral (S3). Menempatkan dai ke pedalaman adalah salah satu rangkaian dari program tersebut. Semua dai dikuliahkan tentu saja dengan beasiswa. DDII hanya menyalurkan dana tersebut dari para agniya kepada yang berhak. Setelah lulus sarjana (S1), para dai harus berdakwah ke pedalaman selama dua tahun baru boleh meneruskan pendidikan magisternya (S2).

Lulus S2, mereka diterjunkan kembali ke desa terpencil selama dua tahun lagi. Setelah itu barulah mereka meneruskan ke jenjang doktoral. Namun target tersebut belum tercapai karena faktor pendanaan. “Sekarang ini yang program S3 baru 24 orang, yang S2-nya ada 140 orang. Setelah lulus S3 baru kita proyeksikan mereka di kabupaten atau provinsi,” ujar KH Syuhada Bahri kepada Media Umat. Dewan Dakwah, lanjut Syuhada, tidak mau memprogramkan S1-S3 secara beruntun. Karena ingin teori yang dipelajari selama kuliah dan pengalaman di lapangan itu berimbang. Sebab kalau langsung sampai S3 kecenderungannya tidak mau ditugaskan ke pedalaman. “Karena mereka merasa kalau sudah doktor itu pantasnya di ruang seminar, bukan lagi di pedalaman!” ungkapnya sambil tersenyum.

Di lapangan, para dai tidak dilepas seperti anak panah dibiarkan begitu saja. Mereka terus dimonitor, ditambah terus ilmunya. Diberi brosur-brosur secara berkala. “Jadi meskipun mereka ditugaskan di tempat terpencil informasi yang diperlukan untuk dakwah tetap update!” pungkasnya.[] joy

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved