Banner
[42] Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) Ma'arif NU, Ampelgading, Malang PDF Print E-mail
Wednesday, 27 October 2010 14:50


Bertekad Mencetak Kader Tangguh

Meski saat ini masyarakat menitipkan anaknya untuk sekadar bisa baca Alquran dan shalat, namun YPAI Ma'arif bertekad akan mencetak kader dakwah yang tangguh agar masyarakat mengenal (ma'arif) Tuhannya dan mau menerapkan syariah-Nya.

Letaknya cukup jauh dari Kota Malang. Sekitar 50 km arah selatan dan timur Kota Dingin ini. Di sana lokasi Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) Ma'arif  Nahdhatul Ulama yakni di Jl K Husein RT 12 RW 04 Desa Tamanasri Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang Jatim.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi tersebut, karena dengan menggunakan angkutan umum jurusan Malang-Lumajang, kontributor Media Umat sampai juga di sebuah lingkungan pendidikan yang asri yang lokasinya persis di pinggir jalan raya. Setiap penumpang angkutan umum dapat melihat dari atas kendaraan, kemegahan dan kesederhanaan Masjid Nurulmuttaqin yang berdiri di tengah-tengah bangunan Taman kanak kanak, Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum dan Madrasah Tsanawiyah Al Musholliyah.

Yayasan pendidikan ini dikelola oleh seorang ulama yang cukup mumpuni dalam pendidikan agama maupun umum yakni  KH Muhammad Shodiq. Ia dilimpahi amanah oleh orang tuanya yang bernama KH Musholli yang saat ini dikurangi nikmat penglihatannya oleh Allah SWT.

KH Musholi mendirikan YPAI ini pada tahun 1970-an. Semula adalah sebuah pondok pesantren yang sangat sederhana yang dibina pertama kali dalam rangka memberikan solusi terhadap masyarakat sekitarnya yang kebanyakan tidak memiliki pengetahuan agama atau kosong terhadap pemahaman Islam terutama para remaja yang menghabiskan waktunya di ladang.

KH Musholli pernah membimbing puluhan santri. Karena perkembangan dan kebutuhan dalam pendidikan semakin maju maka pada tahun 1975 barulah diajukan secara resmi sebagai Yayasan  Pendidikan Agama Islam (YPAI) di bawah naungan ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama (NU).

Keberadaan yayasan ini sangat penting artinya bagi masyarakat sekitarnya karena bisa mengangkat harkat mereka dari yang dulunya tak ambil peduli terhadap pendidikan kini banyak alumnusnya yang menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekelilingnya melalui profesi masing-masing.
Ia selalu menekankan kepada santri dan warga sekitar agar lebih menitik beratkan pendidikan agama apalagi di era yang serba permisif ini. Era para pemuda yang tadinya shalatnya rajin tetapi tiba -tiba menjadi pelaku tindak kriminal karena pendidikannya tidak diimbangi dengan iman dan taqwa (Imtaq).

Kewajiban Syariat
KH Mohammad Shodiq seorang ulama yang sabar dan tawadhu yang senantiasa condong kepada kebenaran meski beliau harus menerima resiko harus dijauhi orang-orang yang tidak setuju dengan sepak terjangnya dalam mensyiarkan Islam. Hal itu terlihat dari banyaknya bangunan yang belum terselesaikan tapi ia dengan hanif dan sabar terus berjuang demi kemuliaan Islam. Selama tidak ada udzur syar'i, ia pun selalu menghadiri berbagai undangan majelis taklim dari berorangan maupun berbagai ormas tanpa memandang siapa yang mengundang dan ormas mana yang mengundang.
Ia menyatakan penegakan syariat Islam adalah wajib bagi setiap Muslim karena sama persis dengan ijma ulama Ahlussunnah wal Jamaah dalam kitab Al Farqu Bainal Firaq. Dari 15 prinsip dalam kitab itu prinsip ke 12 adalah adanya imamah (kepemimpinan Islam/khilafah). Maka ia pun akan selalu mendukung pergerakan suatu harakah yang ingin mewujudkan diterapkannya hukum Allah SWT. “Karena ini adalah ladang pahala dan sekaligus medan jihad bagi kaum Muslimin” ujarnya.

Kemudian ia mengutip sabda Rasulullah SAW, penghulu para syuhada' adalah Hamzah atau seseorang yang menasehati penguasa yang dzolim kemudian dia mati karenanya. Satu-satunya kesempatan mati syahid di Indonesia saat ini adalah berjuang menegakkan hukum-hukum Allah dengan argumentasi yang jelas yang diambil dari kitab-kitab salaf yang menjadi rujukan kaum Muslimin dengan catatan tanpa menggunakan kekerasan fisik.
Ia pun menyatakan kemaksiatan pada saat ini telah begitu merajalela sedangkan Nur dari Allah SWT  tidak akan bisa bercampur dengannya, bagaikan siang dan malam yang tidak mungkin bersatu setiap Muslim harus memilih salah satu dari keadaan itu.

“Kalau kita ingin kehidupan kaum Muslimin terus terpuruk maka kita tidak perlu berjuang tapi kalau kaum Muslimin ingin meraih kemuliaan yang dijanjikan oleh Allah sekaranglah saatnya mengopinikan kebaikan hukum Islam dibanding dengan hukum buatan manusia!” tegasnya.

Ia menitipkan amanah kepada para aktivis dakwah agar jangan cepat putus asa karena usaha yang wajib akan diganti dengan pahala yang berlimpah sedangkan urusan berhasil dan tidak kita harus yakin bahwa ini adalah dari Allah. Melalui YPAI Ma'arif  ia bertekad akan  mencetak kader yang tangguh dalam penguasaan tsaqafah Islam ataupun iptek.

Akan tetapi semangatnya tidak berimbang dengan animo masyarakat yang hanya menyambut seruan ini dengan setengah hati, warga hanya mengirimkan anak-anak mereka sebatas untuk bisa baca Alquran dan bisa shalat. Itu yang menjadi kendala bagi Kyai Shodiq dan jajaran pengajar di yayasan ini, tapi perjuangan adalah tetap perjuangan ia akan terus berproses sampai kesuksesan muncul diambang fajar.

Di ujung pertemuan, ia menyitir maqalah dari Abu Bakar Al Barra', yang menyatakan bahwa sekecil apapun kemaksiatan akan berimbas kepada mengerasnya hati. Selanjutnya akan menjauhkan kita dari Allah SWT dan menjauhkan seorang Muslim pada tujuan mulia. Krisis multi dimensi yang terjadi pada bangsa Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya memaksa umat Islam harus lebih ekstra hati-hati, jangan sampai merencanakan kemaksiatan akan tetapi kalau harus muncul dihadapan kemaksiatan itu  segera palingkan.  Akhirnya diiringi suara mesin selep kopi yang sangat bising perbincangan dengan Kyai Shodiq berakhir. Kontributor Media Umat  pun pulang ditemani gerimis. Alhamdulillah.[] ibnu fathi

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved