Banner
[45] Mengembalikan Gowa Sebagai Pusat Penyebaran Islam PDF Print E-mail
Friday, 14 January 2011 14:43

Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dengan Islam. Di Kabupaten yang berpenduduk lebih dari 600 ribu jiwa ini mayoritas berpenduduk Muslim dan dulunya adalah pusat Kerajaan Gowa-Tallo yang menjadi pusat penyebaran Islam di Indonesia Timur. Di Kabupaten Gowa inilah, tepatnya di Kecamatan Pallangga berdiri pesantren Bahrul Ulum yang beralamat di Jalan Pallangga Raya Km. 3,5.

Cukup mudah untuk menjangkau pesantren ini. Selain terletak di jalan poros utama kabupaten Gowa-Takalar, perjalanan dari kota Makassar hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk menjangkau pesantren yang lokasinya tidak jauh dari Stadion Kalegowa Kabupaten Gowa. Dari tepi jalan poros, plang  dan gapura pesantren tampak mencolok dan hanya berjarak + 500 meter untuk memasuki lokasi pesantren.

Kontributor  Media Umat, saat bersilaturahmi, merasakan suasana warga pesantren yang penuh keikhlasan, kesederhanaan, kebersamaan, kekeluargaan, dan kemandirian. Tampak keceriaan santri yang bermain, diskusi di masjid atau sementara menimba ilmu di dalam kelas. Di pesantren Bahrul Ulum, penyelenggaraan pendidikan formal yaitu madrasah tampak hidup dalam satu atap pesantren atau pendidikan formal sekolah diselenggarakan dalam lingkar budaya pesantren.

Sejarah Berdirinya
Bahrul Ulum diresmikan pada 11 November 1988 oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sulawesi Selatan H Abd Rahman K. Berdirinya pesantren dilatarbelakangi  inisiatif  tiga orang tokoh setempat yang resah melihat kondisi kaum Muslim yang semakin menjauh dari ajaran Islam, mereka adalah  H Halifu Hamid, Hasan Basri, dan Bali Daeng Sese.

Melihat gejala kemerosotan moral masayarakat waktu itu, dan kurangnya pemahaman ilmu agama maka selanjutnya mereka bertiga punya keinginan untuk mendirikan pesantren. Namun saat itu mereka tidak tahu dari mana memulai untuk mewujudkan niat membangun pesantren. Dengan izin Allah akhirnya mereka mendapat informasi bahwa ada seorang kyai yang selalu mengisi pengajian di masjid Katangka Gowa, masjid pertama dan tertua di Sulsel.

Akhirnya mereka bertiga rutin menghadiri pengajian KH Bustamin Syarif dan mendirikan majelis taklim. Seiring majelis taklim yang makin berkembang, mereka mengutarakan keinginannya untuk mendirikan pesantren. Atas saran dan petunjuk Bustamin Syarif, diputuskanlah bahwa pesantren didirikan di Kecamatan Pallangga, berdiri di atas tanah wakaf Bali Daeng Sese dengan luas 2 hektar.

Dengan bahu membahu, kyai, santri, dan jamaahnya secara ikhlas dalam beramal membangun pesantren Bahrul Ulum. Mereka mendedikasikan pribadi dan hidupnya untuk Islam, pesantren dan umat, seakan telah ia wakafkan nyawanya untuk kemanfaatan orang lain.

Fasilitas Ponpes
Di samping ponpes, Bahrul Ulum membina tiga jenjang pendidikan, yaitu Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Saat ini Bahrul Ulum  baru  memiliki 15 ruangan kelas, 2 pondokan untuk santri laki-laki dan satu pondokan untuk perempuan, serta satu masjid sebagai pusat pembinaan warga pesantren dan masyarakat sekitar pesantren. Jumlah santri saat ini  lebih dari 200 orang dengan tenaga pengajar lebih 30 orang.

Pesantren Bahrul Ulum adalah pesantren yang berbasis Nahdlatul Ulama (NU). Saat ini direkturnya adalah H Djabbar Hijjaz Daeng Sanre yang juga pengurus NU Kabupaten Gowa. Dalam perkembangannya, telah banyak alumni yang telah ditelorkan pesantren Bahrul Ulum. Banyak diantara mereka yang menjadi tokoh, termasuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo di Mesir. Salah satu alumninya, H Syam Amir, adalah pendiri Tahfizul Qur'an di Perumnas Makassar.

Berbagai prestasi juga diraih santri-santriwati Bahrul ulum, antara lain juara lomba ceramah tingkat Kabupaten Gowa, Lomba Hafal Alquran 30 juz, beberapa kali menjadi juara pertama lomba Syarhil Qur'an tinggkat Provinsi Sulsel, Beberapa kali masuk nomonasi syarhil atau mensyarah Alquran dan Hadits ke ajang MTQ Nasional.

Di Bahrul Ulum sistem pendidikan menempuh sistem pendidikan satuan pendidikan formal, menggunakan kurikulum yang sama dengan kurikulum madrasah dan sekolah. Santri dibekali dengan tiga bahasa: bahasa Indonesia, Arab dan Ingris. Selain itu, santri juga belajar kitab-kitab klasik seperti nahwu/sharaf, fikih, hadist, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, serta cabang-cabang lainnya seperti tarikh dan balaghah.

Tidak ketinggalan pula para santri diajarkan kitab Riyadush Shalihin, Bulughul Maram, Irsyadul Ibaad, Safiinatun Naja, Al Jawaribul Kalamiyyah, Ulumul Hadits, Tafsir, Ahkamul Sulthaniyyah Mawardi dan Fiqh Sirah Nabawiyyah. Tak lupa, di pesantren ini juga ada kajian sejarah khilafah Islam.

Untuk lebih mendekatkan kiprah pesantren dengan masyarakat, maka setiap Ramadhan para santri diterjunkan ke tengah masyarakat untuk menyampaikan dakwah dan ceramah-ceramah termasuk penyampaian tentang kewajiban menegakkan syariah dan khilafah Islam. Sebenarnya kegiatan dakwah ke masyarakat dilakukan para santri tidak hanya selama Ramadhan, melainkan juga berlangsung selama satu tahun di berbagai tempat di Kabupaten Gowa dan Sulsel pada umumnya meskipun tidak semasif  Ramadhan.

Di dalam pesantren, masjid dijadikan mercusuar dakwah Islam ke masyarakat sekitar. Masjid pesantren bukan hanya menjadi pusat pembinaan warga santri tetapi juga menjadi tempat pembinaan umat melalui kajian, khutbah Jumat, maupun diskusi, terutama membahas problematika umat dan upaya membangun peradaban Islam. 

Harapannya pesantren Bahrul Ulum ke depannya dapat menjadi salah satu pilar kebangkitan Islam di Gowa sehingga dapat kembali berjaya sebagai pusat penyebaran dan pembangunan peradaban Islam di Sulsel dan Indonesia timur pada umumnya. Semoga. [] bahrul ulum/irhaz

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved