Banner
[47] Memuliakan Fakir Miskin PDF Print E-mail
Thursday, 20 January 2011 14:04

Yayasan Islam Al Ittihad, Jatiroke, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat

Puluhan anak-anak begitu gembira saat mereka turun dari kendaraan dan disambut Lengser (salah satu tarian penyambutan) dengan iringan musik tradisional Sunda. Suasana tegang ba'da shubuh ketika dikhitan langsung sirna. Wajah mereka ceria secerah pagi itu di bebukitan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat yang masih asri .

Warga antusias menyaksikan arak-arakan mereka sepanjang jalan Jatiroke hingga berhenti di Yayasan Al Ittihad. Ternyata di lokasi itu pun telah dipasang panggung dan tenda untuk menggelar tabligh akbar. Bahkan telah hadir ribuan warga lainnya termasuk Bupati dan Kapolres Sumedang.

Anak siapa yang disunat tersebut sehingga sambutannya begitu meriah? Bukan, mereka bukan anak bupati atau pun Kapolsek Sumedang. Mereka hanyalah anak-anak dari warga Sumedang yang fakir dan miskin.

Sejak 1998, Yayasan Al Ittihad memang mengadakan acara sosial berupa khitanan massal. Setiap tahun dilakukan kecuali pada tahun 2004. “Berhenti itu cuma sekali-kalinya ketika terjadi tsunami Aceh,” ujar KH Abdul Qohar Nurzaman, pimpinan Yayasan Islam Al Ittihad. Karena saat itu salah seorang jamaahnya mengusulkan dana yang tadinya untuk khitanan disalurkan ke para korban tsunami.

Pelaksanaan khitanan tersebut dilakuan antara tanggal 1-10 Muharram. Pada awal khitanan massal mencari empat orang saja susah. Tetapi saat ini bukan yayasan yang cari, umat yang mendaftarkan anaknya. Bahkan setiap tahun ada daftar tunggu karena tidak tertampung. Al Ittihad punya prinsip bukan kuantitas tetapi kualitas. Sehingga dengan anggaran Rp 30 juta rupiah per tahun itu hanya cukup mengkhitan 50 anak saja.

Kalau sekadar kuantitas, setiap tahun dengan biaya yang sama bisa 100-150 anak. Tetapi Abdul Qohar tidak mau anak yang disunat dibiarkan begitu saja. “Kita bawa ke dokternya dengan biaya yang kita tanggung jawabi, kasih santunan uang, baju sekian pasang dan makanan untuk sekian hari,” paparnya.

Sedangkan biayanya dihimpun dari jamaah dan umat untuk acara tabligh akbar. Umat memasukkan uang ke dalam bumbung dan uang itu dikembalikan lagi kepada umat dalam bentuk khitanan massal. Namun ada juga beberapa orang yang mampu mengikut sertakan anaknya untuk dikhitan secara massal, bukan karena ingin sunatan gratis, tetapi ingin mendapatkan berkah dari doa ribuan orang yang dipanjatkan untuk kebaikan pengantin sunat. “Untuk yang seperti ini semua biayanya ditanggung sendiri,” ujarnya berpromosi.

Al Ittihad melakukan itu dalam rangka memuliakan para fakir dan miskin. “Biar orang tahu bukan hanya orang kaya yang bisa dijemput dengan penjemputan Lengser seperti itu, kaum dhuafa pun layak!” tegasnya sambari mengingatkan bahwa Rasulullah SAW cinta kaum dhuafa.

Untuk rapinya administrasi, di yayasan ini dibentuk pula Dana Bantuan Umat (DBU) Manhaj Istiqamah, dengan motto: dari oleh dan untuk umat. Dana itu ditampung dalam pos zakat, infak, dan shadaqah. “Kemudian ditamwil hasilnya ada yang buat pendidikan, fuqara dan dhuafa, ada juga yang buat jihad fisabilillah, dan amar makruf nahi munkar,” bebernya.
Selain DBU, Yayasan ini pun membentuk Majlis Taklim Maqom; Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT); Radio Maqam FM 107,3 FM; TKA, TPA, TPQ; Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), dan juga Pondok Pesantren Manhaj Istiqomah.

Jejak Al Ittihad
Setamat kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir tahun 1997, Abdul Qohar langsung merintis pengajian di sebuah mushala ukuran 3 X 3 meter. Jamaah yang hadir waktu itu 13 orang. Dalam sebulan yang tersisa tinggal tujuh orang. Namun dengan berjalannya waktu jamaah semakin banyak hingga ratusan sehingga pada 1999 pindahlah ke rumah salah seorang jamaah yang saat itu belum jadi. Sehingga berdirilah Majlis Taklim Manhaj Istiqamah.

Manhaj artinya jalan atau metode. Sedangkan istiqamah adalah konsistensi, keteguhan seseorang dalam berpegang kepada Alquran dan Sunah, aqidah dan syariah, muamalah dengan akhlakul karimah. “Maka Manhaj Istiqamah ini sebenarnya menu dari apa yang ada di sini agar seseorang menjadi istiqomah,” ujarnya kepada Media Umat saat bersilaturahmi ke yayasan tersebut.

Karena kebanyakan dari jamaah Manhaj Istiqomah ini telah memiliki anak, maka jamaah pun mengusulkan agar dibuka pula Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) buat anak-anak mereka dalam bentuk madrasah. Akhirnya di tahun yang sama dibuatlah Madrasah Diniyah Awaliyah. Dibangun pula masjid ukuran 6 X 6 meter dan madrasah ukuran 4 X 11 meter dan 4 X 6 meter.

Tahun 2000, saat dipandang perlu membuat yayasan pendidikan maka dibuatlah Yayasan Islam Al Ittihad. Al Ittihad artinya bersatu padu dan kebersamaan karena waktu itu Abdul Qohar melihat umat bercerai-berai karena berbagai macam alasan furuiyyah, organisasi, dan lainnya. Bahkan sampai ada berbagai macam kejadian yang membuat resah masyarakat. “Maka kebersamaan dan kebersatu paduan ingin kita opinikan lewat didirikannya yayasan,” ia beralasan.

Alhamdulillah, terbukti yang datang ke Al Ittihad dari berbagai macam organisasi, ada yang dari NU, Muhammadiyah, Persis, dan juga dari beberapa harakah Islamiyah. Al Ittihad memandang perbedaan itu semua tidak boleh menjadi hal yang dapat memecah belah umat.

Sampai saat ini baik di majlis taklim dan acara-acara tertentu, Al Ittihad selalu mendengungkan motto Al Ittihad Terbuka dan untuk Semua Golongan. Sudah barang tentu untuk semua golongan ini dalam koridor Islam dan tidak menyimpang dari akidah dan syariah Islam.

Al Ittihad pun menerapkan manajemen yang terbuka (open management). “Kita juga membuka selebar-lebarnya partisipasi aktif dalam bentuk apapun dari seluruh golongan yang ada selama golongan ini berpatokan kepada Alquran dan Sunah,” ujarnya.

Yayasan ini menaungi berbagai unit yang telah disebut di atas. Tetapi saat itu Al Ittihad belum memondokkan santrinya. Karena keterbatasan fasilitas dan SDM. Barulah pada tahun berikutnya Al Ittihad mendapatkan tanah wakaf yang berjarak sekitar 200 meter dari Al Ittihad untuk mondok para santri.

Pada 2009, baru dibangun satu pondokan berupa lokal yang luasnya 6 X 12 meter. Saat ini santri yang mondok ada 30 orang sedangkan yang ngalong (tidak nginap) ada 100 orang. [] joko prasetyo

KH Abdul Qohar Nurzaman Al Qodsi, Lc Pimpinan Yayasan Islam Al Ittihad, Sumedang

Khilafah Harus Diperjuangkan

Seluruh Lapisan Umat

Semua jumhur ulama sepakat bahwa syariah dan khilafah adalah amrun dharuriun, perkara yang urgen, yang harus dikedepankan. “Bahkan pemakaman Rasulullah SAW harus ditangguhkan untuk memastikan siapa khalifah (pengganti) Rasulullah SAW sebagai kepala negara,” ujar KH Abdul Qohar Nurzaman Al Qodsi kepada Media Umat saat ditemui di rumahnya di kompleks Yayasan Islam Al Ittihad, Jatiroke.

Ketua Tanfidz Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat ini menegaskan umat harus mengetahui dan turut memperjuangkan penegakan kembali syariah dan khilafah. “Harus diperjuangkan oleh umat seluruhnya tidak peduli dari organisasi manapun!” tegas pria kelahiran Sumedang, 11 November 1971 itu.

Alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir tahun 1997 ini menegaskan para dai harus membuka paradigma pikir umat untuk melihat apa itu syariah dan khilafah. Dan sejauh mana urgensinya, biar mereka paham. “Yang jelas dari sisi hukum saya berkeyakinan bahwa itu amrun dharuriun, yang harus diperjuangkan oleh seluruh lapisan umat,” ujar lelaki lulusan tahun ajaran 1989-1990, Pondok Modern Gontor Darussalam, Ponorogo, Jawa Timur tersebut.

“Makanya di pesantren ini dari awal, pemahaman akan syariah dan khilafah kita pahamkan kepada umat agar mereka tahu, mengerti, tentang apa dan bagaimana yang harus mereka lakukan, terhadap Allah dan Rasul-Nya, terhadap Islam dan kaum Muslim,” pungkas kiai yang selalu berjubah dan bertutup kepala putih ini.[] joy


 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved