Banner
[48] Taman Bersuci dari Utara Pasuruan PDF Print E-mail
Tuesday, 01 March 2011 15:07

Yayasan Pondok Pesantren Raudhatul Muthahharah, Pasrepan, Pasuruan, Jawa Timur

Lokasinya jauh dari keramaian kota. Namun, alhamdulillah, jalannya sudah beraspal. Meskipun jarak tempuhnya cukup jauh, sekitar 25 Km dari Alun-Alun Kota Pasuruan, perjalanan menuju Pondok Pesantren Raudhatul Muthahharah menjadi lebih menyenangkan apalagi dengan mengendarai sepeda motor, saat cuacanya cerah.

Angin yang sangat segar dan suara gemerisik dedauan pohon salak sepanjang jalan menjadi lebih terasa. Palma berbentuk perdu yang hampir tidak berbatang, berduri banyak, melata dan beranak banyak itu tumbuh menjadi rumpun yang rapat dan kuat di kanan-kiri sepanjang jalan menuju Dusun Sibon Desa Sibon Kecamatan Pasrepan, tempat ponpes tersebut berada.

Tepat di depan ponpes tampak masjid dan gedung pendidikan yang putih bersih seperti baru. Namun dilihat dari batu nisan makam keluarga yang berlumut, besar-besar, model kuno yang ada di belakang masjid bisa diperkirakan bahwa lembaga ini dirintis sejak lama.

Benar saja, ternyata Kiai Mas Tohari, Pimpinan Raudhatul Muthahharah, merupakan generasi penerus lembaga ini yang telah dirintis oleh kakeknya yakni Mbah Dahlan.  Dahlan mendirikan ponpes ini pada tahun 1960-an atas rekomendasi Syaikhuna Cholil Bangkalan. Pada tahun 2005, Tohari dengan didampingi kakaknya  melengkapi lembaganya dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Miftahul Ulum II.

Luas tanah kompleks yayasan ini sekitar satu hektar. Madrasahnya walau hanya mempunyai sekitar 300 santri namun termasuk lembaga MI terbesar di Pasrepan.  Tampak wajah-wajah polos, lugu dan bersahaja  yang sedang belajar di ruang kelas yang sederhana ketika kontributor Media Umat bersilaturahmi ke Raudhatul Muthaharah. Mereka tersenyum malu-malu ketika tahu akan difoto.

Taman yang Disucikan
Raudhatul Muthaharah bermakna taman yang disucikan atau dibersihkan. Bukan suci atau bersih secara fisik semata, tetapi harapannya siapa pun yang menuntut ilmu di sini menjadi suci pula batinnya. Kesucian batin tentu saja diawali dengan meyakini tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.  Untuk itu dipelajari dan didalamilah ilmu-ilmu tauhid di samping ilmu-ilmu fiqih di dalam majelis taklim dan pesantren yang diselenggarakan yayasan ini.

Tohari dikaruniai 18 orang anak. “Sebenarnya 23  anak kalau hidup semua!” terang suami dengan empat orang istri ini.  Ia lahir di Tambakrejo 12 Desember 1960, kesehariannya mengajar di pondok dan muballigh bagi masyarakat sekitar. Santri  yang belajar di Ponpes ini lebih banyak yang pulang ke rumah masing-masing daripada menginapdi pondok sebab kebanyakan santrinya adalah masyarakat sekitar.

Dalam membina dan mendidik santri, Tohari didampingi asatidz dan asatidzah  yang mumpuni di bidangnya, di antaranya adalah Gus Faishol yang lulusan Pondok Pesantren Mbah Maimun Zubair, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Di samping mengajarkan kitab-kitab kuning klasik semisal Jurumiyah, Amtsilah Tasrifiyah dan kitab-kitab fiqih Fathul Qarib dan Fathul Muin. Yayasan ini pun mengelola pendidikan jalur formal meskipun saat ini yang sudah dirintis masih  taman kanak-kanak Islam (Raudhatul Athfal) dan MI saja.

Kepada kontributor Media Umat, Tohari menyatakan pula alasannya mengapa ponpes ini mengadakan lembaga pendidikan formal.

“Saya melengkapi lembaga ini dengan MI menuruti omongan guru saya Kyai Abu Amar dan Kyai Jasim Podokaton agar saya konsentrasi pada pendidikan saja jangan yang lain-lain, soalnya Mbah Dahlan, kakek saya lebih dominan jadi rujukan orang yang mau carok (berkelahi pakai celurit gaya Madura, red),” ujarnya. Alhamdulillah sejak saat itu lokasi tersebut di pagi hari dipakai MI sedangkan malamnya digunakan untuk majelis taklim.

Tohari pun sangat bersyukur walau madrasahnya terpencil namun di Kecamatan Pasrepan muridnya paling banyak dan paling sering juara dalam setiap even berbagai perlombaan adzan, kaligrafi, qiraah, dll.

Dalam waktu dekat yayasan menargetkan akan segera mendirikan madrasah tsanawiyah (MTs). Semoga dimudahkan dan penuh barakah dari Allah SWT. Amin.[] syamsuddin alwahidah

 

KH Mas Tohari,
Pondok Pesantren Roudlotul Muthohharoh, Pasrepan, Pasuruan

Ndak Bisa Bila Bukan dengan Syariah



Mengatur kehidupan manusia kalau tidak dengan syariah mau dengan apa? Saya ini memperjuangkan syariah dan khilafah bukan pingin jadi imam, saya lebih suka jadi makmun, ndak capek. Tapi buat apa berimam pada orang yang tidak pakai syariah? Saya mengatur rumah tangga saya dengan empat istri dalam satu lokasi rukun semua; kalau diatur dengan selain syariat Islam apa bisa? Ndak bisa! Setan itu akan lebih mudah mengadu domba.

Negara juga begitu; sejak dulu sejak pertama kali saya ngaji Fathul Qarib saya sudah kepingin Indonesia ini diatur dengan  syariat Islam; sampai ngiler- ngiler saya (saking kepinginnya, red). Sekarang semakin terbukti gonta-ganti pemimpinnya tetap saja; wong yang dipakai sekarang hukum Londo (Belanda, red). Kalau ada orang “kakean dan” (terlalu banyak menimbang resiko, red) dalam menjalankan syariat maka orang itu harus (diseru) untuk kembali menggunakan akalnya, karena Alquran sering menyeru “afala ta'qilun”.[]sa
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved