|

Sore itu suasana cerah. Tampak belasan santri sedang main bola di tanah lapang salah satu dayah (pesantren) di Aceh Barat. “Gol...” pekik beberapa remaja ketika melihat temannya memasukkan bola ke gawang lawan. Sedangkan di depan kamar mandi beberapa orang mengalungkan handuk berbincang sambil menunggu giliran mandi.
Sementara yang lainnya sedang asyik duduk santai berbincang tentang berbagai hal di teras dayah. Mereka langsung menghentikan percakapan kemudian tersenyum ramah dan menyambut kedatangan kontributor Media Umat.
Meski tidak berada di tengah kota Meulaboh, dayah yang bernama Darul Hikmah Islamiyah ini mudah dijangkau. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit berkendaraan santai dari kota. Lokasi yang tak jauh dari jalan besar yang menghubungkan Aceh Barat dengan Medan menjadikan Dayah tak pernah sepi dilalui orang.
Apalagi sejak didirikannya Universitas Teuku Umar (UTU) yang lokasinya tak jauh dari dayah, menjadikan jalan raya itu semakin ramai saja. Tak aneh apabila masyarakat Aceh Barat dan sekitarnya mengenal betul keberadaan dayah yang terletak di Gampong (Kampung) Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.
Pasang Surut Dayah Ibarat pepatah “berakit rakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,” begitulah gambaran bagaimana Saidi Anshari mulai membangun dayah ini. Dimulai pada tahun 1971 saat ia menjadi geuchik (kepala desa), Saidi Anshari memulai menyebarkan Islam melalui pengajian gampong yang ia adakan di rumahnya.
Karena semakin banyak yang ikut pengajiannya, pada tahun 1979 tempat pengajian dipindah ke masjid gampong dan dinamakan Kelompok Pengajian Darul Hikmah. Saat itu ada sekitar 120 orang yang mengikuti pengajian.
Pada tahun 1981 ia mengajak masyarakat secara swadaya mendirikan dayah. Pada mulanya ada sebagian tokoh masyarakat yang kurang setuju. Kemudian ia berinisiatif mengumpulkan tuha peut (tokoh masyarakat) sebanyak 15 orang. Karena mayoritas masyarakat mendukung, maka para tuha peut sepakat mendukung Saidi mendirikan dayah.
Perjuangan tidak sampai di situ. Melihat berbagai pengalaman para tengku sebelumnya yang mendirikan dayah di tanah wakaf selalu membuahkan sengketa tanah, maka Saidi Ansari menolak pemberian tanah wakaf dari warga. Ia berusaha sekuat tenaga membeli tanah masyarakat dan membuat sertifikat tanah atas nama Dayah Darul Hikmah Islamiyah.
Walhasil pada tahun 1982 berdiri dayah dengan sertifikat tanah atas nama Dayah Darul Hikmah Islamiyah. Pada tahun 1984 resmi berdiri Yayasan Pesantren Darul Hikmah Islamiyah. Tahun 1990 berhasil dibangun asrama putri.
Mulai tahun 1994 dirintis pendidikan terpadu (pesantren dan sekolah umum). Dua tahun kemudian berhasil didirikan Pesantren Darul Hikmah Islamiyah Pendidikan Terpadu bermottokan “Hasanah Dunia Hasanah Akhirat” dengan status izin “Terdaftar”. Dan sekarang tengah mengurus izin pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam. Diharapkan tahun 2011 sudah dapat izin operasi.
Dari tahun ke tahun Dayah Darul Hikmah mengalami pasang surut dilihat dari banyaknya santri yang belajar. Bermula dari sedikit lalu berkembang dan puncaknya pada tahun 1996 mencapai 825 santri yang mayoritasnya (60 persen) adalah suku Jawa bahkan pengajarnya banyak yang bersuku Jawa. Sedangkan 40 persen santri dari suku Aceh yang berasal dari berbagai pelosok.
Jumlah santri menurun drastis ketika Aceh dilanda konflik yang puncaknya pada 1999. Banyak di antara santrinya terutama yang bersuku Jawa mengundurkan diri dengan alasan keamanan. Kondisi ini semakin berat terutama setelah Aceh digoncang gempa dan tsunami tahun 2004. Namun perjuangan Saidi Anshari tidak berhenti. Bersama pengasuh dayah lainnya, ia bangkit kembali, merekrut santri dan membangun kembali bangunan yang hancur.
Kegigihan mereka rupanya membuahkan hasil dan saat ini secara fisik dayah sudah pulih. Bahkan beberapa fasilitas pendukung seperti laboratorium bahasa dan komputer lengkap serta peralatannya sudah dapat dinikmati para santri secara gratis. Masyarakat umum juga dapat memanfaatkan fasilitas ini dengan biaya murah.
Selain laboratorium, dayah memiliki bangunan utama terdiri dari Madrasah Aliyah (MA) tiga lokal, Madrasah Tsanawiyah (MTs) empat lokal, asrama putra, asrama putri dan satu ruang aula, sedangkan Raudhatul Athfal (TK) belum beroperasi lagi sejak tsunami.
Tidak sedikit santri dayah meneruskan menimba ilmu ke Mesir dan Madinah. Dayah juga menerima santri dari kalangan anak yatim dan fakir miskin. Bahkan setiap bulan ada santunan dayah kepada keluarga beberapa santri yang tergolong kurang mampu. Bantuan itu dianggarkan dari dana bantuan Pemerintah Daerah Aceh untuk para santri.
Peuayon Bantai Ketika disinggung tentang penerapan syariah Islam di Aceh, Saidi Anshari mengatakan “kah lagei peuayon bantai” (sudah seperti mengayun bantal) seolah bayinya sudah tidur, padahal diamnya tangisan karena memang tidak ada bayi.
Artinya tampak dari luar Aceh heboh penerapan syariah Islam, padahal belum sepenuhnya diterapkan. Ia menambahkan bahwa penerapan syariah itu memang tidak cukup dengan semangat saja, diperlukan Qanun (Undang-undang) yang cukup untuk menjerat pelanggar syariah.
Ia menegaskan bahwa dalam Islam hukuman itu berfungsi untuk menimbulkan efek jera di samping sebagai penebusan dosa. Ia mencontohkan bahwa hukum potong tangan bagi pencuri yang melebihi nishab (senilai 1,25 gram emas) akan membuat jera pencuri dan calon pencuri akan berpikir seribu kali.
“Kalau sekarang pencuri ayam yang harganya Rp 50.000,- dipenjara 5 bulan, akibatnya negara malah rugi karena setiap hari harus memberi makan mereka 3 x Rp 10.000, satu bulan Rp 900.000, lima bulan Rp.4.500.000. Coba kalau ditakzir dengan cambuk, habis perkara sudah...” tegasnya sambil tertawa.
Sementara itu berkaitan dengan upaya mendirikan Khilafah ia menyatakan, “Bagus, tapi kita semua harus bersama-sama bersatu padu, dimulai dari pendidikan yang berbasis Islam, ya melalui dayah.”[] abbas abdullah
Tgk H Saidi Anshari, Pendiri & Pimpinan Dayah Darul Hikmah Islamiyah
Harus Paham dan Perjuangkan Syariah
Santun, cerdas dan bersahaja khas dengan dialeg bahasa Aceh demikian kesan ketika MU menjumpai Tgk H Saidi Anshari pendiri sekaligus pemilik Pesantren Darul Hikmah Islamiyah, Peunaga Rayeuk, Meurebo, Aceh Barat ini. Ia mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) sekitar tahun 1950-an. Kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tarbiyah Islamiyah Peunaga Rayeuk, kemudian Dayah Babussalam Ujong Kalak, Meulaboh dan Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Ayah dengan dua orang anak laki-laki, tiga orang anak perempuan dan 10 orang cucu ini masih sangat energik di usianya yang ke 70 tahun. Ulama asli Peunaga Rayeuk, Aceh Barat ini didampingi seorang istri bernama Hj Zahariyah. Waktu demi waktu mereka lalui dengan penuh perjuangan mengajarkan dinullah meskipun desingan peluru di saat konflik bisa saja merenggut nyawa setiap saat. Lelaki yang juga memiliki Toko Kitab “HSA” tidak pernah surut dari perjuangan sekalipun harta bendanya habis diterpa tsunami 26 Desember 2004. Tanggung jawab memperjuangkan Islam menjadikannya berupaya terus bangkit membangun dayahnya. “Harapan saya kepada anak-anak muda Islam saat ini memiliki akhlaqul karimah, paham syariah Islam dan memperjuangkannya, terlebih-lebih di bumi serambi Mekah yang telah 8 tahun ditetapkan sebagai provinsi dengan otonomi penerapan Syariat Islam” tegasnya.[] abbas abdullah
|