Banner
[50] Pencetak Generasi Shalih dari Lereng Galunggung PDF Print E-mail
Monday, 14 March 2011 13:06

 

Warga lereng Galunggung bisa bernafas lega, meskipun tercatat 34 kali gempa vulkanik pada Oktober 2010 lalu. Gunung yang pernah empat kali meletus dan menelan korban lebih dari 4000 jiwa ini tidak jadi 'batuk'.

Tentu saja, tidak terjadinya letusan yang kelima ini sangat disyukuri oleh warga setempat termasuk juga para santri dan kyai Yayasan Pondok Pesantren Al Mukhtar, dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta gunung berapi dan berkehendak untuk membuat gunung tersebut meletus kapan saja.

Al Mukhtar berlokasi di lereng Gunung Galunggung tepatnya di Kampung Padakaria, Desa Linggasirna, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Udaranya sejuk, tanahnya sangat subur, terdiri atas pesawahan, kebun, bukit-bukit kecil dan perkampungan. Tidak pernah ada kekeringan meski di musim kemarau sekalipun.

Nama pesantren yang luasnya enam hektar ini diambil dari nama tokoh ulama terkemuka di Tasikmalaya yakni Mama KHM Mukhtar. Ia hidup di paruh kedua abad ke-19 dan sepertiga awal abad ke-20. Sampai saat ini belum ada data resmi tentang sejarahnya. 

“Kami masih sedang mencari, mengumpulkan dan menyusunnya,” ujar KH Ii Abdul Haq, cucu KHM Mukhtar, yang sekarang menjadi pimpinan ponpes, sekaligus ketua yayasan tersebut.

KHM Mukhtar awalnya mengembangkan agama Islam dari rumah ke rumah dan dari kampung ke kampung. Ia adalah salah satu Imam Besar dan Khatib di Masjid Agung Kota Singaparna yang berjarak 5 km dari Padakaria.

“Pada waktu itu, di daerah sini, hanya Masjid Agung Singaparna saja yang mendirikan shalat Jumat,” ungkap Ii Abdul Haq, yang berpenampilan wibawa, gagah dan menyenangkan itu.

Menurut beberapa sumber, memang di Padakaria pada saat KHM Mukhtar masih jumeneng, pesantren itu sudah ada. Namun biasa, karena pada zaman penjajah, segala sesuatunya dalam kesulitan, -termasuk keamanan-, maka pesantren ini mengalami pasang surut.

Barulah, pada tahun 1972, pesantren ini dihidupkan kembali atas prakarsa Ii Abdul Haq. Lokasinya tetap di Padakaria. Kemudian formalisasi Yayasan Pesantren Al Mukhtar dilakukan pada tahun 1989 dengan nomor Akta Yayasan, No: 02/02/06/89.

Visi Al Mukhtar adalah menciptakan generasi shalih, membentuk generasi yang taat kepada Allah, memiliki iman & takwa (Imtak), serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

Sedangkan misinya ada tiga. Pertama, sebagai pelanjut generasi rabbani dan penerus estafeta Rasul. Kedua, memiliki kemampuan dan keteladanan hidup dengan Alquran sebagai panduan dan sumber paradigma berpikir. Ketiga, siap dan mampu hidup di tengah-tengah masyarakat yang plural dengan tetap menjaga eksistensi pribadi Muslim yang shalih.

Untuk mewujudkan visi dan misi itu, selain tetap menyelenggarakan pendidikan Salafiyah yang menyediakan asrama putra-putri, yayasan yang memiliki 200 santri ini pun kini mengelola SMP Islam Terpadu, Madrasah Diniyah, Paket B & C, Pusat Santunan Anak Asuh dan Majelis Taklim.

Berbagai prestasi sudah di torehkan oleh para santri di mulai tingkat kecamatan, kabupaten maupun propinsi. Di antaranya adalah pernah juara Tahfid Alquran se- Priangan Timur, peyelenggara berbagai lomba Tahfid, seminar guru, lomba tingkat madrasah diniyah, dan workshop guru se-Priangan Timur.
Di samping itu, Al Mukhtar pun menjalankan kegiatan ekonomi berbasis pemberdayaan santri di dalam program yang bernama Sarami Farm (Santri Al Mukhtar Raksa Ekonomi). Program ini bergerak di bidang pertanian dan peternakan. Harapannya mereka memiliki keahlian di bidang peternakan dan pertanian ketika kembali ke tengah-tengah masyarakat. “Alhamdulillah program ini sudah berjalan setahun ini,” pungkasnya.[] adli minfadli robby/salman alfarizi

 

KH Ii Abdul Haq,
Pimpinan Yayasan Ponpes Al Mukhtar, Tasikmalaya

Menegakkan Khilafah Kewajiban Semua


KH. Ii Abdul Haq lahir di Singaparna, Tasikmalaya tahun 1945, masa kecilnya sampai remaja dihabiskan di berbagai pondok pesantren. Air dari sumur ilmu mulai dari Ponpes Cintawana,Tasikmalaya, sampai Pesantren Gontor, Ponorogo, pernah ia reguk.

Pada pada tahun 1960-an ia aktif di berbagai organisasi, di antaranya kepemudaan seperti Pelajar Islam Indonesia (PII), Angkatan Muda Islam (AMI)dan Persatuan Umat Islam (PUI).

Saat ini ia dikaruniai delapan anak dari dua orang istri yang sabar dan setia untuk mendampinginya dalam perjuangan menyiarkan Islam.

Ulama yang hafidz Alquran ini menyambut baik seruan Hizbut Tahrir Indenesia (HTI) untuk memperjuangkan tegaknya syariah Islam kafah dalam bingkai khilafah. “Saya menilai mengenai apa yang dilakukan oleh HTI selama ini adalah positif dan sangat mendukung karena apa yang dilakukan oleh HTI adalah bagian dari harapan saya pribadi dan tentunya umat Islam yang masih komit terhadap Islam,” ujarnya.

Ia pun menyadari menegakkan syariah dan khilafah berarti melanjutkan estafet risalah Rasulullah SAW yang dilanjutkan oleh khulafaur rasyidin yang sekarang ini terputus. “Sehingga menjadi kewajiban kepada kita sekarang ini untuk kembali menegakan khilafah,” tegasnya.

Oleh karena itu dalam berbagai kesempatan mengisi kajian-kajian kitab, baik kitab kuning maupun kajian tafsir, ia selalu menjelaskan dan menekankan pentingnya penerapan syariat dalam segala aspek kehidupan dan menjadi kewajiban bagi seluruh umat untuk kembali menegakan khilafah.

“Opini tentang syariah dan khilafah harus terus dikumandangkan dan seharusnya apa yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir mengenai syariat dan khilafah ini sebenarnya harus menjadi perjuangan seluruh umat Islam bukan hanya Hizbut Tahrir saja,” ujarnya kembali menegaskan.[] salman alfarizi
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved