|
Pondok Pesantren Hamfara, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Ponpes Hamfara berkiprah membina ratusan santrinya. Ponpes yang menjadi bagian dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Hamfara Yogyakarta ini bertekad dan berupaya mencetak ekonom Muslim sekaligus pejuang syariah dan khilafah.
Menghirup udara sore di bebukitan hijau tempat Ponpes Hamfara berada sangat menyegarkan. Di tanah seluas empat hektar itu aktivitas santri berlangsung. Di lapangan santri berlari dan berteriak mengejar dan menendang bola.
Di masjid dan di beberapa tempat lainnya yang lebih hening tampak santri dibagi ke dalam beberapa kelompok mengikuti mentoring kajian Islam. Sebagiannya lagi masih asyik mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) yang juga berada di komplek yang sama.
Ada juga santri yang dengan lahapnya menyantap siomay dan bakso tuna goreng. Uniknya, yang berjualannya pun ternyata santri juga. Tujuannya untuk melatih mental dan kemandirian santri. Para ekonom besar awalnya pun dari berdagang dan bisnis kecil-kecilan. Tentu tidak cukup hanya itu, untuk menjadi ekonom yang memahami ekonomi makro dan siap menjadi pejuang khilafah mereka pun mengikuti mentoring dan perkuliahan di STEI.
Sejarah Hamfara Ponpes ini resminya bernama Mahad Hamfara. Alamatnya di Dukuh Kenalan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Jarak dari pusat kota (Kantor Pos Besar Yogya) sekitar 15 km. Meski kondisi jalan untuk menuju Hamfara sudah bagus, belum ada kendaraan umum seperti bus atau pun angkot ke arah ponpes. Tapi jangan khawatir, bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri bisa naik ojek.
Kata “Hamfara” adalah singkatan dari hadza min fadhl Rabbi berarti (ini adalah karunia Tuhanku). “Sebuah penggalan ayat Alquran yang menegaskan keinsyafan batin yang mendalam, bahwa segala sesuatu yang kita nikmati hakikatnya adalah atas karunia Allah SWT, bukan atas usaha atau ilmu kita semata,” ujar pimpinan Ponpes Hamfara KH Muhammad Shiddiq Al Jawi kepada Media Umat.
Ponpes Hamfara merupakan bagian tak terpisahkan dari STEI Hamfara. Para santrinya ya sekaligus mahasiswa STEI Hamfara, karena STEI Hamfara itu ciri khasnya dua, bebas bea pendidikan dan berpesantren. “Jadi kalau mahasiswa kuliah di STEI Hamfara, wajib sekaligus jadi santri di asrama yang kita siapkan,” ujar lulusan magister Studi Islam UII Yogyakarta tersebut.
Santri tidak boleh kos di luar asrama kampus karena terkait dengan tiga tujuan besar STEI Hamfara. Pertama, memberikan ilmu kehidupan kepada mahasiswa, khususnya ekonomi Islam. Kedua, membentuk mahasiswa yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah). Tiga, membekali mereka dengan tsaqafah Islam atau ilmu-ilmu keislaman.
Tujuan pertama diupayakan oleh bidang akademik lewat perkuliahan formal. Tujuan kedua menjadi tanggung jawab kegiatan KKAI (Kelompok Kajian Agama Islam). Ini semacam mentoring atau asistensi dengan materi terstruktur selama 6 semester. Sedang tujuan ketiga, menjadi tanggung jawab Mahad Hamfara.
Cikal bakal ponpes ini bermula tahun 2006, ketika STEI Hamfara mencanangkan program asrama bagi mahasiswa. Tapi waktu itu Hamfara belum punya gedung sendiri, masih kontrak. Para mahasiswa diasramakan. Nah di asrama itulah Hamfara mengadakan kajian rutin bada Maghrib dan bada Shubuh, dengan berbagai macam kajian.
Ada kajian bahasa Arab, Ulumul Qur`an, Pemikiran Islam Kontemporer, dan sebagainya. Sejak itu dari tahun ke tahun jumlah penghuni asrama makin bertambah. Mulai tahun 2008 Hamfara mengadakan workshop internal yang kemudian memformalkan kajian di asrama itu dalam sebuah sistem pesantren.
Ustadz Ismail Yusanto, sebagai penggagas utama pendirian STEI dan Mahad. “Lalu gagasan besar beliau itu direalisasikan dan diterjemahkan di lapangan oleh kami para stafnya, antara lain saya sendiri, dan juga Ust Dhuha Ghufron, yang kini sebagai wakil saya sebagai Mudir Tanfidz Mahad atau pimpinan pelaksana sehari-hari,” ujar alumnus PP Al Azhar Bogor itu.
Sedangkan STEI Hamfara sendiri merupakan transformasi lanjutan dari Jurusan Ekonomi Islam STAIN Surakarta – SEM Institute yang berkiprah di Yogyakarta sejak tahun 2000. Barulah sejak September 2010 (Syawal 1431 H), dengan gedung milik sendiri di Bantul, Ponpes Hamfara mulai berjalan dengan penataan yang lebih baik serta tersentralisasi.
Kurikulum Hamfara Inti kurikulum Ponpes Hamfara adalah tsaqafah Islamiyah dengan tiga fokus. Fokus pertama, penguatan bahasa Arab mulai dari nahwu sharaf, muhadatsah (percakapan), qira`atul kutub (membaca kitab kuning), dan terjemahan.
Untuk nahwu sharaf Hamfara memakai kitab Nahwul Wadhih, Amtsilatu Tashrifiyah, dan Amtsilaty. Sedangkan rujukan untuk praktek qira`atul kutub adalah kitab Syakhshiyah Islamiyah Juz 2 karya Syekh Taqiyuddin Nabhani.
Fokus kedua adalah pembekalan tsaqafah Islam dasar seperti aqidah dan fiqih ibadah. Untuk pembinaan aqidah menggunakan kitab Dirasat fi Al-Fikr Al-Islami karya Syekh Muhammad Husein Abdullah dan kajian fiqih ibadahnya menggunakan kitab Ahkamush Shalah karya Syekh Ali Raghib.
Fokus ketiga adalah tsaqafah khusus yaitu ekonomi Islam. Untuk itu Hamfara mengadakan kajian rutin untuk seluruh santri, namanya Halqah Kubra, dengan kitab An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam karya Syekh Taqiyuddin Nabhani.
Sedangkan jadwal dirasah (ngaji) di pesantren ada dua, pagi dan malam. Pagi mulai jam 05.30 – 07.00. WIB. Sedang malam mulai bada Maghrib sampai sekitar jam 20.00 WIB. Jumlah santri sekarang tercatat sekitar 586 santri, dengan rincian 314 santri putra dan 272 santri putri. Sedang jumlah tenaga pengasuh ada 15 orang.
Hubungan Hamfara dengan masyarakat sekitar pun cukup baik. Itu setidaknya ditunjukkan dengan aktifnya santri dan pengasuh dalam kegiatan Yasinan berkeliling di rumah-rumah di sekeliling ponpes. Ada pula yang ikut ronda atau kerja bakti di kampung sekitar, khususnya di Desa Bangunjiwo. Ketika ditanya mengapa Hamfara menggunakan kitab-kitab ekonomi karya Syekh Taqiyyuddin An Nabhani, yang terkenal sebagai ekonom makro Islam ideologis itu, ia menyatakan karena Hamfara bertekad dan berupaya mencetak ekonom Muslim sekaligus pejuang syariah dan khilafah.[] joko prasetyo
KH Muhammad Shiddiq Al Jawi, Pimpinan Ponpes Hamfara, Bantul, DIY
Syariah tanpa Khilafah, Hanyalah Khayalan
KH Muhammad Shiddiq Al Jawi, Pimpinan Ponpes Hamfara, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini lahir di Grobogan, Jawa Tengah, 31 Mei 1969. Ia menjelaskan kepada santri untuk sadar akan kewajiban menerapkan syariah dan khilafah melalui dua jalur. Pertama, ketika ia mengajar mahasiswa dalam perkuliahan formal. Karena di STEI ia diamanahi mengasuh beberapa mata kuliah keislaman, seperti fiqih muamalah, ushul fiqih, juga beberapa mata kuliah umum seperti perekonomian Indonesia dan ilmu budaya dasar. “Ide-ide tentang syariah dan khilafah sering saya sisipkan dalam kuliah-kuliah itu,” ujar anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia ini. Kedua, ketika alumnus PP Nurul Imdad Bogor ini mengajar santri di pesantren, lewat kitab-kitab yang ia ajarkan, misalkan kitab Syakhshiyah Islamiyah Juz 2 dan An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam karya Syekh Taqiyuddin Nabhani. “Alhamdulillah, santri menerimanya, bahkan sebagian antusias memperjuangkannya,” akunya. Perlu diketahui, dukungan kepada syariah dan khilafah juga dijadikan Hamfara sebagai semacam budaya atau nilai (value) yang ditanamkan di pesantren. Santri Hamfara, tegasnya, harus berideologi Islam. “Kalau ada yang coba-coba menyebarkan atau mengadopsi ideologi kufur, seperti sekulerisme-liberalisme, sosialisme-komunisme, maka mahasiswa itu akan kami keluarkan,” tegas penulis enam buku, 12 karya terjemahan, dan delapan karya suntingan itu. Sarjana lulusan Fakultas MIPA, IPB ini menyatakan ia mempunyai rumusan singkat, mengapa harus syariah dan Khilafah. Ia katakan, al insan bilaa syariah hayawan, wasy syariah bilaa khilafah takunu khayalan. “Jadi manusia kalau tak mengamalkan syariah, hidupnya akan sesat seperti hewan. Sedang menerapkan syariah secara kaffah tanpa institusi Khilafah, jelas hanya khayalan saja,” pungkasnya. [] joy
|