| [54] Mandirikan Anak Yatim dan Dhuafa |
|
|
|
| Tuesday, 31 May 2011 16:04 |
|
Waringinkurung dikelilingi oleh pegunungan. Cukup panas karena daerahnya di dekat pantai. Anak-anak berjalan kaki berkilo-kilo meter ketika harus ke sekolah, mencari biji melinjo ke kebun untuk biaya sekolah. Mereka dilarang orang tua bersekolah formal karena dianggap itu warisan penjajah Belanda. Sederet kesusahan serta kesulitan lain menimpa warganya. Eiiit, tunggu dulu, itu zaman dulu. Kalau sekarang, masyarakat tidak perlu khawatir. Terutama masyarakat dhuafa dan anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Sangat mudah sekali mereka sekolah di Waringinkurung. Perguruan tinggi juga tersedia. Ya, anak-anak yatim-piatu dan dhuafa di desa Sukadalem dan desa-desa sekitarnya tidak lagi kehilangan harapan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dengan mudah, murah bahkan bisa tak berbiaya sama sekali. Kecamatan Waringin-kurung memang seakan dibuang, terletak di perbatasan kota tetapi kurang tersentuh oleh pembangunan. Namun, masyarakatnya bisa bernafas lega, semenjak hadirnya Yayasan Al Irsyad di tengah-tengah mereka. Inovasi yang dikembangkan Yayasan Al Irsyad dalam mengabdi kepada masyarakatnya telah mampu menangani dan melayani 700-an santri. Santri yang kebanyakan yatim dan dhuafa ini bisa bersekolah dengan mudah, murah dan bahkan bisa gratis hingga jenjang SLTA di Al Irsyad. Fasilitas Al Irsyad Yayasan yang berlokasi di Kampung Makambata, Jalan Raya Sukadalem No. 6 Desa Sukadalem, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Gedung-gedungnya yang sangat representatif dibangun di atas tanah sekitar 7 hektar, pada lokasi terpisah. Lokasi pertama terdapat satu aula besar sebagai pusat kajian berbagai macam ilmu. Bangunan ini merupakan bangunan tertua yang dimiliki yayasan. Kemudian terdapat tiga asrama besar berkapasitas 200-an orang, sebagai tempat tinggal para santri dan anak asuh. Sekira 300 meter jarak dari lokasi asrama terdapat gedung sekolah formal yang dinamai Kampus A sebagai gedung SMA dan kampus B sebagai gedung SMP. Mulai dari masjid, mushola, laboratorium IPA dan komputer, perpustakaan, lapangan olahraga dan ruang-ruang kelas yang terus dibangun. Saat ini sudah memiliki kurang lebih 25 ruang kelas. Alhamdulillah, Al Irsyad terus berkembang, dan sekarang merintis membangun sekolah tinggi. Sekolah untuk program sarjana (S1) tersebut membuka dua program studi yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Manajemen. Di samping mendapatkan donasi dari para donatur, Al Irsyad pun mengembangkan berbagai bidang usaha untuk lancarnya roda pembangunan dan operasional kegiatan sosial, pendidikan dan dakwahnya. Usaha tersebut di antaranya adalah mengembangkan peternakan dan pertanian. Kemudian membuka toko dan kursus komputer; mini market (Alismart), koperasi, Baitul Mal Wattamwil (BMT), bahkan sudah memiliki lembaga usaha, CV. Irsyad Banten Mandiri namanya. Usaha itu bergerak di bidang macam-macam usaha, di antaranya sebagai kontraktor dan konsultan. Oleh sebab itu, berbagai macam penghargaan dari berbagai macam instansi baik pemerintah maupun non pemerintah berdatangan. Baik sebagai lembaga sosial (Panti Sosial Asuhan Anak-PSAA) maupun pondok pesantren yang profesional dan mandiri. Bentuk Rasa Syukur Al Irsyad Banten merupakan karya nyata dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT dari seorang aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta kala itu. Perjalanan hidup yang dirasakannya sangat berliku. “Kesadaran bahwa dilahirkan dalam kondisi keluarga yang kekurangan, kesusasahan, dan kesulitan. Lebih-lebih ketika berkeinginan untuk duduk di bangku pendidikan yang lebih tinggi, dirasa sangat minim harapan,” curhat Bukhari Arsyad, pendiri Al Irsyad kepada Media Umat. Dengan tekad baja kala itu, ia berangkat memberantas nilai-nilai musykil yang ada di tengah-tengah masyarakat. Singgah dari masjid yang satu ke masjid yang lain. Akhirnya Allah SWT menunjukinya jalan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia bertemu dan mengajar ngaji cucu seorang rektor dan pendiri IISIP Jakarta. Dari wasilah tersebutlah ia dapat melanjutkan kuliah di kampus tersebut dengan program Beasiswa Bantuan Studi. Ia pun mengambil Program Studi Kesejahteraan Sosial dan langsung mempraktikannya dengan mendirikan Al Irsyad. “Supaya anak yatim dan dhuafa bisa langsung mengembangkan potensinya tanpa bersusah-susah seperti saya dahulu,” ujarnya beralasan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap sepak terjang alumninya. IISIP Jakarta hingga kini menjalin kekeluargaan yang sangat erat dengan Yayasan Al Irsyad. Alumni Al Irsyad diberikan kesempatan untuk melanjutkan studinya secara cuma-cuma di kampus yang dinaungi oleh Yayasan Kampus Tercinta itu. Termasuk penulis salah satunya, yang kini tengah duduk di semester VI Program Studi Ilmu Politik IISIP Jakarta. [] Bukhari Arsyad, Pendiri Yayasan Al Irsyad BantenBersyukur tak jadi Anggota DPRBukhari Arsyad, Pendiri Yayasan Al Irsyad Banten ini lahir di Waringinkurung, Serang B 4 Juli 1970. Ia meyakini bahwa syariah Islam adalah mutlak harus diterapkan jika negeri ini ingin berubah. Ia meyakini hanya syariah Islam saja yang mampu memanusiakan manusia, menyejahterakan manusia, serta mendapatkan keberkahan dalam kehidupan. Itulah yang terus ia perjuangkan semenjak ia duduk di bangku SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Serang. Pasalnya saat itu, pemerintah represif terhadap umat Islam. Betapa tidak, umat yang sedang berusaha menjalankan perintah agamanya dilarang dan dibatasi dengan tidak berdasar sama sekali. ”Saya ingat dulu, para Muslimah yang mengenakan kerudung ke sekolah, ketika sampai di depan gerbang sekolah buru-buru mereka buka dan memasukkan kerudungnya ke dalam tas karena memang aturan yang zalim terhadap umat” kenang pemuda pelopor pembangunanan di Kabupaten Serang tahun 2000 itu menceritakan titik tolak kesadaran perjuangannya. Sekira tahun 2004, ia begitu menaruh harapan besar terhadap partai-partai Islam di negeri ini untuk membangkitkan dan menyadarkan umat dari keterpurukan. Sehingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk menjadi caleg salah satu partai yang menamakan dirinya partai dakwah. Ia bersyukur karena hanya hampir menjadi anggota legislatif. Karena setelah ia bersilaturahim dengan teman-temannya yang sudah duduk di DPR, ia menjadi ketakutan. ”Kenapa saya jadi takut. Kalau saya jadi, justru akan banyak umat yang kecewa dan akan banyak umat yang mencaci maki saya. Karena yang ada ini bukan kepentingan rakyat, bukan kebenaran yang diperjuangkan tapi adalah toleransi, lobi-lobi yang ujung- ujungnya mengecewakan rakyat.” ujar alumnus pasca sarjana Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini. Dari peristiwa tersebut, kini ia berubah total. Ia mengubah pandangannya 180 derajat terhadap demokrasi sekuler ini. Menurut Sekretaris Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Banten ini, demokrasi sangat tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Islam. Dalam demokrasi keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak, jelas itu berbahaya. Menurutnya, suara mayoritas itu belum tentu suara kebenaran. Jadi mestinya satu kyai dalam sebuah musyawarah, yang bisa berargumen dengan dalil-dalil yang kuat dan bisa membuktikan argumentasinya dalam kehidupan, harusnya itu yang dimenangkan meskipun suara mayoritas berseberangan. Ia pun meyakini kesengsaraan yang mendera negeri ini akibat tidak diterapkannya syariah Islam. ”Oleh karena itu, harus dibangun sistem yang baru dengan syariah, tidak lain-tidak bukan harus di dalam bingkai khilafah tentunya,” pungkasnya menegaskan.[] radj |





Bukhari Arsyad, Pendiri Yayasan Al Irsyad Banten





