| [55] Menjawab Harapan Pejuang Khilafah |
|
|
|
| Thursday, 07 July 2011 17:51 |
|
Belum genap satu tahun Islamic Boarding School Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Al Amri (IBS Al Amri) berdiri, sudah menampakkan hasilnya. “Anak saya baru satu semester sudah bisa aktif berbahasa Arab dan hafal Alquran sampai 3 juz,” ujar Bahron Kamal, orang tua siswa asal Malang. “Setelah anak saya mondok di IBS Al Amri perubahannya luar biasa, yang dulu selalu menuntut kepada orang tua untuk pemenuhan kebutuhannya, sekarang sudah mengerti dan menyadari kebutuhan yang lebih baik, semakin patuh kepada orangtua,” aku Syarifuddin, orang tua siswa asal Jember. Sejarah IBS Al Amri Dengan keistiqamahan sang pendiri, banyak alumni ponpes yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Kurang lebih 80 tahun, Kyai Sekar memberikan pelajaran kepada para santrinya dengan berbagai bekal keilmuan Islam. Generasi Kyai Sekar juga berlanjut kepada Kyai Sekar Anom atau Kyai Abdul Djalal. Selama puluhan tahun itu pula, ponpes Al-Amri mengalami masa-masa kejayaan karena sistem yang diterapkan dalam ponpes saat itu. Namun situasi itu berubah seiring dengan meninggalnya dua tokoh besar itu. Sejak itu ponpes Al-Amri mengalami kondisi surut. Dalam situasi yang vakum itu pula, sang cicit dari generasi kyai Sekar, yakni kyai Abdullah Amroni bangkit untuk “merespons” situasi yang ada di pesantren. “Ponpes ini memiliki sejarah dan cita-cita yang besar dari kakek buyut saya. Untuk itu kami juga bertekad untuk ikut mengembangkan pesantren agar lebih baik, seperti zaman keemasan buyut pendulu saya,” ujar pimpinan IBS Al Amri Kyai Abdullah Amroni. Kyai Amroni yang pernah nyantren di pondok Al-Jauhar Jember itu pun mendesain model pendidikan untuk meneruskan cita-cita besar sang pendiri. Tekad besar itu untuk membangun pesantren itu terus mendorongnya melakukan berbagai terobosan. Maka, sejak 1998, ia merintis kembali berbagai model pendidikan di pesantren itu. Salah satunya, meneguhkan sebagai ponpes yang mengembangkan Pendidikan Islam Terpadu (PIT), yang dimulai dari Taman PQ, TK, dan SD. Kyai Amroni pun bertemu dengan para pejuang penegakan khilafah, di antaranya : Ust Abdun Muthi' Ust Harun Musa, Ust Muhammad Al Fatih, Ust Faqih Syarif dan Ust Hazby Harokan. Terjadilah proses diskusi panjang untuk memberikan solusi dari upaya revitalisasi peran Lembaga Pendidikan Al Amri dalam dakwah Diskusi meliputi pembahasan arus ideologi kapitalisme semakin deras menerjang ranah pendidikan. Keresahan yang meluas di tengah masyarakat yang khawatir bila anak-anaknya sekolah, malah tergelincir dalam pemikiran sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Terlebih lagi para pengemban dakwah. Mereka tentunya menginginkan putra-putri mereka mempunyai kualitas melebihi orangtuanya, baik dari sisi kepribadian Islam, tsaqafah Islam, penguasaan terhadap sains, maupun keterampilan, “Serta dedikasi terhadap dakwah penegakan khilafah,” ungkapnya. Maka terjadi kesepakatan para ustadz tersebut dengan Kyai Amroni untuk berjuang bersama membidani berdirinya IBS Al Amri, sekaligus mereka menyediakan diri untuk menjadi Dewan Pengurus di IBS Al Amri yang beralamat di Jl Kyai Sekar 126 Leces, Probolinggo, Jawa Timur. “Jadi pendirian IBS Al Amri ini dimaksudkan untuk memenuhi harapan sebagian besar para pejuang penegak khilafah untuk generasi penerus mereka!” tegas pimpinan IBS Al Amri Kyai Abdullah Amroni kepada Media Umat. Metode Pembinaan “Mereka pun secara rutin dilatih berpidato bahkan dalam event-event tertentu ditampilkan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penguasaan bahasa mereka seperti debat terbuka, drama dengan bahasa Arab,” ungkap cicit Kyai Sekar kelahiran Probolinggo, 15 Juni 1971 itu. Begitu juga berkenaan dengan ilmu Alquran, para siswa ditekankan untuk menghafal Alquran dengan target yang telah ditentukan. Program yang lain seperti qira'atul kitab dikemas dalam beberapa jenjang. Jenjang pertama pembelajaran kitab kuning dengan metodologi tradisional dan pemaknaan khas para ulama-ulama salaf di Nusantara. Kemudian dilanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya, di antaranya, menggunakan program-program kitab dalam komputer. Adab dan sopan santun, dibudayakan melalui pembiasaan dalam keseharian mereka disaat berinteraksi dengan sesama teman, asatidz, pengasuh bahkan dengan tamu yang berkunjung. Diharapkan kelak menjadi bekal dalam berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Pembinaan fikrah yang ada di SMP IT Al Amri merupakan sisi yang sangat penting dan menjadi perhatian serius bagi para pengurus. Sebagai bentuk kesungguhannya, di antaranya, bahwa SDM yang terlibat dalam SMP IT kesemuanya adalah para pengemban dakwah pejuang penegak khilafah, dengan maksud agar semua sisi aktifitas para siswa dilandasi dan terlingkupi dalam koridor pemikiran Islam. Tak ketinggalan pula dari sisi penguasaan sains dan teknologi, utamanya berkaitan dengan teknologi informatika, program yang diajarkan untuk para siswa dipilihkan program-program yang aplikatif dan mutakhir. Penguasaan komputer siswa dalam waktu tertentu diuji dalam event-event yang digelar oleh sekolah, sehingga para siswa senantiasa termotivasi untuk belajar dengan semangat. Program menarik lainnya dari IBS Al Amri adalah mengasah sisi keterampilan para siswa. Melalui kegiatan pelatihan-pelatihan usaha secara singkat, para siswa diharapkan memiliki keterampilan dasar bagi usaha-usaha tertentu di masyarakat. Dengan berbagai program yang ada di IBS Al Amri baik dalam mengasah daya pikir siswa maupun, malatih keterampilan, dan menanamkan pemikiran yang berlandaskan aqidah Islam, akan menjadikan generasi IBS Al Amri generasi berkualitas dalam profesinya, dan dakwah sebagai poros hidupnya.[] joko prasetyo Kyai Abdullah Amroni, Pimpinan IBS Al Amri, Probolinggo, Jatim Siapkan Generasi Pejuang KhilafahKaum Muslimin harus memandang dan merasakan bahwa satu-satunya perjuangan dalam hidup di dunia saat ini adalah diterapkannya syariah Islam. Sedangkan satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk penerapan syariat Islam adalah dengan menegakkan khilafah.Dan ini butuh energi besar dan perjuangan panjang. Sementara profesi yang dipunyai oleh masing-masing kaum Muslimin hanyalah sebagai energi untuk menyambung hidup, dan pada saat kehidupan berlanjut maka kembali terjun dalam kancah perjuangan tanpa menyia-nyiakan waktu sedetik pun sehingga poros kehidupan kaum Muslimin adalah berjuang untuk tegaknya khilafah. Namun begitu, mengingat perjuangan ini panjang, maka kaum Muslimin jangan sampai lalai untuk menyiapkan generasi selanjutnya yang harus lebih berkualitas dibanding generasi saat ini, baik pola sikap mau pun pola pikirnya.[] joy |





Kyai Abdullah Amroni, Pimpinan IBS Al Amri, Probolinggo, Jatim 





