| [56] Mengader Generasi Istiqamah |
|
|
|
| Thursday, 04 August 2011 15:19 |
|
Di tengah hiruk pikuknya rutinitas karyawan tekstil, berharap lahir generasi yang istiqamah menetapi petunjuk (huda) dari Allah SWT. Majalaya adalah sebuah kota yang terletak di timur Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebagai daerah yang dikenal sebagai kota industri tekstil skala besar, tentunya sebagian wilayah Majalaya adalah industri-industri tekstil yang memproduksi kain, pakaian dan lainnya. Dari pabrik kain sampai pabrik garmen ada di kota ini. Bahkan Majalaya adalah pemasok terbesar bahan kain dan baju untuk kebutuhan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tidak aneh bila profesi sebagian penduduknya adalah karyawan pabrik. Di tengah-tengah hingar bingar rutinitas yang padat, ada pesantren di selatan Majalaya. Pesantren tersebut tepatnya berada di Jalan Raya Radug No 48, RT 02/01, Simpang, Dusun Wangisagara Kecamatan Majalaya. Suasananya sejuk karena letak wilayahnya di dataran tinggi dan penuh pepohonan. Di bukit kecil itu, berdiri kokoh sebuah pondok pesantren yang sederhana. Keberadaan pondok pesantren ini selain karena terletak di wilayah yang sejuk, ternyata keberadaannya juga menjadi penyejuk rohani bagi orang-orang yang kesehariannya di kelilingi rutinitas yang sangat menjemukan mencari materi. Inilah dia Pondok Pesantren Istiqomatul Huda. Di balik kesederhanaan bagunan fisiknya ternyata Ponpes Istiqomatul Huda memiliki visi misi yang jauh ke depan, menembus ruang dan waktu. Yakni mencetak ulama al 'alimin, mencetak imamul muttaqien, dan mencetak insan yang muttaqien. Dari visi misi ponpes inilah umat Islam boleh berharap akan lahir para ulama warasathul anbiyaa, dan lahir pula pemimpin yang memiliki ketaqwaan yang tinggi kepada Allah SWT. Generasi Rabbani yang memiliki rasa cinta dan takut hanya kepada Allah SWT yang tercermin dalam keterikatannya terhadap syariah Islam serta mampu istiqamah dalam menjalankan syariah Islam sesuai nama ponpes ini yakni Istiqomatul Huda. Istiqamah adalah sebuah kata yang sangat sederhana namun memiliki bobot makna yang sangat dalam. Tinta emas kejayaan Islam ditorehkan oleh orang-orang yang istiqamah mengikuti huda (petunjuk), yang senantiasa menetapi dalam jalan dakwah Islam. Islam terjaga karena adanya ulama yang istiqamah menyampaikan hidayah Islam. Kaum Muslim terlindungi kehormatannya dan terjaga kemuliaannya karena adanya pemimpin yang istiqamah dalam menegakkan syariah Islam. Terbentuknya masyarakat islami karena adanya insan-insan yang beristiqamah dalam melaksanakan syariat Islam. Istiqomatul Huda didirikan oleh KH Arbaie pada tahun 1994. Bukan hanya pendiri, ia sekaligus sebagai sesepuh dan ulama yang pertama kali mengajarkan tentang Islam kepada penduduk Simpang. Kini Istiqamatul Huda di bawah asuhan KH Afif. Selain ponpes, Istiqamatul Huda pun memiliki fasiltas yang cukup memadai untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak Alquran (TKA). Hingga hari ini santriwan dan santriwati yang menuntut ilmu di ponpes ini mencapai 387 orang. “Insya Allah tahun depan Istiqamatul Huda akan membangun program pendidikan sekolah seperti halnya pondok pesantren modern lainnya,” ujar Kiai Afif yang memimpin Istiqamatul Huda sejak 2001. Di tingkat Kabupaten Bandung, pondok pesantren ini sudah tidak asing, ini karena salah satu santrinya telah menoreh prestasi yang sangat menggembirakan. Yakni prestasi terbaik dalam Qira'atul Kutub yang diselenggarakan oleh Pemkab Bandung dalam acara tahunan. “Dalam mengembangkan pondok ini saya dibantu oleh teman-teman dari sesama alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Ciamis,” ujar lelaki yang pernah mondok selama sembilan tahun di Miftahul Huda tersebut. Begitu juga dalam memakmurkan pondok, secara istiqamah ia bahu membahu bersama teman-teman seperjuangannya yang juga alumnus Ponpes Miftahul Huda, Manonjaya yang memiliki ghirah untuk membina warga Majalaya melalui Istiqamatul Huda. Sehingga diharapkan lahirlah generasi yang istiqamah menetapi petunjuk (huda) dari Allah SWT.[] mulyana/ikbal/ rahadia/amin KH Afif, Pimpinan Ponpes Istiqomatul Huda, Majalaya, Jawa Barat Diziarahi Ikhwan HTI, Ghirah Saya NaikKH Afif lahir di Ciamis pada 21 Juni 1972. Dan menghabiskan masa kecilnya di Ciamis. Pendidikan sekolah dasar, tsanawiyah dan aliyah juga ditempuh di tempat kelahirannya. Setelah lulus aliyah ia sempat mengenyam pendidikan Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Ia juga merupakan alumni dari Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Ciamis. Setelah menimba ilmu di Miftahul Huda selama 9 tahun, ia menjadi dai yang giat membangun generasi umat. Sebagai bentuk pengabdiannya, ia terjun ke medan dakwah menjadi penerus KH Arbaie, pendiri Pondok Pesantren Al Istiqamatul Huda. Dalam mendidik para santrinya, ia senantiasa menanamkan nilai-nilai tauhidullah, dan menolak segala thaghut. Karena menurutnya, tauhid merupakan pondasi bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. “Tauhid yang menentukan iman dan kufur seseorang!” tegasnya. Ulama yang menguasai kitab-kitab pesantren ini sangat hangat sambutannya terhadap dakwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk memperjuangkan syariah dan khilafah. Menurutnya, yang diperjuangkan oleh HTI itu sesuai dengan yang senantiasa diajarkan dalam kitab-kitab pesantren. “Saya harap opini syariah dan khilafah ini bisa beredar di masjid-masjid jami’, minimal ada buletin yang masuk beredar sehingga akan terbentuk opini yang sama di antara para ulama dan kaum Muslim,” harapnya. “Ghirah saya terasa naik seperti ini setelah ada dari ikhwan HTI yang senantiasa ziarah ke sini,” akunya. Ia pun menyadari bahwa perjuangan terhadap penegakan syariah dan khilafah adalah harga mati dan bukan semata-mata hanya kewajiban Hizbut Tahrir, tapi merupakan kewajiban seluruh kaum Muslim.[] mulyana/ikbal/rahadian/amin |





KH Afif, 





