Banner
[57] Gigih Bina Santri Lereng Merapi PDF Print E-mail
Wednesday, 05 October 2011 16:14

Ponpes Darussalam, Sewukan, Magelang, Jawa Tengah

Awalnya, sempat ditentang warga karena khawatir dengan mengaji apalagi sampai mondok, proses belajar dan sekolah anak-anak mereka terganggu dan nilainya jadi jelek.

Meski hujan asap wedhus gembel Merapi sudah lama berlalu, tetapi banjir lahar dingin masih sering terjadi. Maka bila hujan turun, biasanya warga menjauh dari sungai. Begitu juga pada sore itu, hujan deras kembali mengguyur. Jalan terlihat lengang dan sunyi. Bahkan Pasar Talon yang biasanya ramai dipenuhi pedagang dan pembeli terlihat tak berpenghuni.

Karena sudah berazam untuk bersilaturahim ke Pondok Pesantren Darussalamah di dusun yang letaknya 10 kilometer dari puncak Merapi itu, dengan keadaan cuaca seperti itu kontributor Media Umat, tetap meneruskan perjalanan.

Dengan sepenuhnya bertawakal kepada Allah SWT, tidak mengurungkan niat untuk melewati sungai dengan menyeberangi jembatan Gulon, Muntilan. Meskipun bila jembatan ini roboh, maka Desa Sewukan bakal terisolasi. Naudzubillahi mindzalik.

Saat ini, memang, Gulon menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan Desa Sewukan dengan dunia luar, setelah jembatan yang disebelah utara desa roboh diterjang lahar dingin beberapa waktu lalu.

Kesunyian tetap terasa meski gemuruh hujan terdengar keras. Rasa itu perlahan memudar oleh suara sayup-sayup lantunan ayat suci Alquran. Senyuman ikhlas nan ceria pun terurai dari bibir para santri dan ustadz Ponpes Darussalam yang menyambut hangat kedatangan kontributor Media Umat.

Sempat Ditentang Warga

Usai nyantri dari tiga pondok pesantren, KH Wahid Ansory langsung mendirikan Pondok Pesantren Darussalam di Jawa Tengah pada tahun 1993. Darussalam juga adalah salah satu nama pesantren tempat ia mondok dulu. Sengaja ia menamai ponpesnya dengan nama yang sama, untuk mengenang tempat ia  menimba ilmu dulu dan menghormati para kyainya.

Pada awalnya,  pendirian ponpes sempat ditentang masyarakat karena khawatir dengan mengaji apalagi sampai mondok, proses belajar dan sekolah anak-anak mereka terganggu dan nilainya jadi jelek.

Apalagi saat itu, belum ada listrik, sehingga untuk kajian malam terpaksa menumpang kepada warga setempat. Tak jarang warga pun merasa keberatan. Tetapi Kyai Wachid tetap sabar dan berusaha agar lebih baik.

Di ponpesnya itu, ia menyelenggarakan belajar kelompok. Dan pada tahun 1994, ia mendirikan tiga lokal madrasah.  ”Hasilnya? Alhamdulillah, banyak santri dapat masuk ke sekolah-sekolah favorit dan ternyata anak-anak yang tidak ikut mondok tidak diterima di sekolah-sekolah favorit,” kenangnya kepada kontributor Media Umat.

Sejak saat itu pandangan warga pun berubah. Sekarang mereka sangat menghormati Wahid Ansory dan merasa beruntung adanya pondok yang bisa membantu mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik.

Jumlah santrinya pun terus bertambah, tahun ini saja ada sekitar 150 santri yang belajar di Darussalam. Bahkan beberapa sekolah sempat memintanya untuk mengajar agama dan bahasa Arab.Tetapi Wahid belum bisa memenuhinya karena ia masih harus mengurus ponpes secara penuh.

Darussalam pun menerapkan manajemen yang memisahkan antara aset pribadi dan pondok serta masjid yang dikelola pondok, berwawasan luas ke arah kemajuan untuk menjadi pondok yang unggul, menjunjung tinggi kedisiplinan khususnya bagi para pendidik.

Satu hal yang ditekankan kepada para pendidik adalah sebuah pertanyaan yang memotivasi mereka untuk terus mendidik meski minim fasilitas.  “Anda di sini mau berjuang atau mencari duit?”  ujarnya kepada para pendidik.

Subhanallah, pendidik yang terdiri atas tujuh ustadz dan satu ustadzah itu menegaskan mereka ada untuk berjuang. Mereka pun tetap semangat dan gigih membina santri dengan sepenuh hati meski dengan segala keterbatasan fasilitas dan dana.

Namun demikian. Wahid Ansory memiliki harapan yang tinggi dari pesantrennya itu. “Dari Darussalam, kelak lahir para ulama yang tidak hanya bisa mempelajari kitab tetapi juga dapat menghasilkan kitab-kitab baru sebagai hasil ijtihadnya!” azamnya. Aamiin.[] choliq chaeroni/yogie w abarri/dedi prasetiyo

 

 

KH Wahid Ansory,
Pimpinan Ponpes Darussalam, Sewukan, Magelang

Saya Sangat Merindukan Tegaknya Khilafah”


KH Wahid Ansory lahir di Sukabumi, 18 Maret 1970. Saat ini dikarunia satu orang istri dan dua orang anak. Usai nyantri selama tiga tahun (1991-1993) di Ponpes Tegal Randu, Magelang, ia pun langsung mendirikan ponpes. Sebelumnya ia nyantri di Ponpes Tegalrejo, Magelang, namun belum sampai satu tahun, ia sudah keluar dan pindah ke Lampung. Di kota sepak bola gajah itu, ia nyantri di Ponpes Darussalam selama enam tahun.

Ia pun aktif dalam berorganisasi. Saat ini, ia diamanahi sebagai Ketua Syuriah NU Kecamatan Dukun, Kab Magelang dan pengurus PPP. Ia  sangat disegani karena kebaikan dan transparansinya dalam mengemban amanah.

Menurutnya, syariah Islam wajib untuk dilaksanakan. Karena bila menerapkan undang-undang yang bukan syariah berarti telah menuruti nafsu karena telah menggunakan hukum atau undang-undang selain dari Allah.

“Jika kita tidak menggunakan hukum Allah maka kita kufur nikmat dan bakal kuwalat!” ujarnya. Karena itu, ia pun sangat merindukan institusi penerap syariah Islam kaffah. “Saya sangat merindukan tegaknya khilafah,” pungkasnya.[] choliq/yogie/dedi



 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved