Banner
[58] Istiqamah Bina Tauhid Santri PDF Print E-mail
Thursday, 03 November 2011 16:41

Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Jatisari, Karawang, Jawa Barat

Udara sejuk sangat terasa di komplek Pondok Pesantren Miftahul Jannah Jatiragas Kaum, Desa Jatibaru, Kecamatan Jatisari, Karawang. Maklum memang pesantren tersebut dikelilingi aneka macam pepohonan yang tumbuh dengan subur. Sambil menunggu Abah dan Umi, panggilan suami istri pendiri dan pimpinan ponpes Miftahul Jannah KH Jejen Nasirul Hajin dan Ustadzah Hj Aisyah Maelasari ke aula, Media Umat melihat-lihat bangunan ponpes.

“Itu rumahnya Umi!” ujar seorang teman yang mengantar, sambil menunjuk rumah panggung tua berdinding bilik yang dicat kapur putih. Tak dinyana, rumah yang kayunya sudah banyak yang lapuk itu tempat tinggal pimpinan ponpes. Pasalnya, bangunan yang lain seperti asrama dan aula ditembok dan cukup bagus. Apalagi masjidnya, lantai dan dindingnya terbuat dari marmer, sehingga terkesan mewah.

Tak lama kemudian Umi pun keluar dari rumahnya menuju aula. “Abah lagi sakit jadi tidak bisa menemani,”  ucap  Umi dalam bahasa Sunda sambil didampingi Ust H Ade Rosi Fauzan, menantunya.

Panyawat naon? (sakit apa?)” ujar Media Umat. “Lho bisa bahasa Sunda, Umi minta saya dampingi karena Umi tidak bisa bahasa Indonesia, apalagi bahasa Jawa, saya kira Mas Joko tidak bisa bahasa Sunda,” ujar Ade. Semua tertawa dan suasana langsung menjadi cair saat Media Umat menjawab, “Sami, abdi ge teu tiasa basa Jawa. (Sama saya juga tidak bisa bahasa Jawa.)”

Numpang Tetangga

Abah dan Umi adalah lulusan Pondok Pesantren Miftahul Huda pimpinan KH Khoer Affandi alias Uwa Manonjaya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sudah menjadi tradisi, santri yang sudah tamat menimba ilmu di pesantren itu mesti dinikahkan oleh Uwa Manonjaya kemudian ke luar pesantren dan mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat.

Begitu juga dengan Abah dan Umi, keduanya dinikahkan pada tahun 1974, setahun kemudian mereka mengembara ke Karawang dan bertekad ingin membuat pesantren. Namun uniknya, mereka sama sekali tidak memiliki lahan apalagi uang untuk membeli tanah untuk membangun pesantrennya. Mereka hanya berkeyakinan bahwa mereka sedang berjuang di jalan-Nya dan Allah SWT pasti akan menolong dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Abah dan Umi pun hanya dapat membeli rumah panggung untuk tinggal mereka saja. Di rumah itulah Abah dan Umi membuka majelis taklim. Warga sekitar satu per satu datang untuk menimba ilmu kepada keduanya. Umi pun mendapatkan panggilan mengisi pengajian ke berbagai kecamatan di Karawang.

Seiring berjalannya waktu, santrinya semakin banyak. Bahkan tidak sedikit yang berdatangan dari luar Karawang. Karena jarak yang jauh dan tiap hari harus belajar, maka sekitar 30 santri di luar Karawang diinapkan di tetangga karena rumahnya hanya dapat menampung 15 orang saja.

Di samping dukungan, ternyata ada juga yang mengejek. “Tidak punya lahan kok bikin pesantren, jadi menyusahkan tetangga.” Namun Abah dan Umi tidak berkecil hati. Mereka tetap istiqamah membina tauhid santri dan tetap menerima siapa saja yang mau mengaji.

Karena keistiqamahannya itu, pertolongan Allah SWT pun datang. Belakangan, tepatnya pada tahun 1984, hati seorang kaya penduduk setempat yang bernama Harun Al Rasydi terketuk. Maka ia pun menjual tanahnya sebanyak lima hektar untuk membangun pesantren dan diwakafkan kepada Abah. Ketika pesantrennya sudah jadi kuncinya langsung diserahkan kepada Abah.

Betapa terharunya Abah dan Umi, akhirnya cita-cita mengelola pesantren terkabul. Maka Abah pun memberi nama pesantren tersebut dengan nama Miftahul Jannah atau kunci surga. Harapannya semoga yang memberi kunci tersebut masuk surga.

Sungguh tidak diduga, tidak lama setelah mewakafkan pesantren tersebut, Harun Al Rasyid meninggal dunia. Inna lilahi wa inna ilaihi rajiuun. Untuk mengenang kebaikannya maka asrama putri diberi nama Harun Al Rasyid. Selain asrama putri, ada juga asrama putra, masjid, MCK, kantin, dan ruang tempat belajar mengajar.

Pan Tauhid

Saat ini jumlah santri Miftahul Jannah sekitar 110 orang. “Sebelum ada program SMP gratis, santri Miftahul Jannah biasanya berjumlah 200 orang,” ujar Umi. Namun ia tetap bersyukur karena ada pesantren lain di Jatisari yang jumlah santri awalnya 100 anjlok menjadi 10 orang saja.

Pesantren yang mayoritas santrinya dari keluarga dhuafa itu, selain diasuh oleh Abah dan Umi juga diasuh pula oleh ketiga putri dan ketiga menantunya. Abah, bertugas ke luar pesantren mengisi pengajian umum  dan majelis taklim keliling. Umi mengelola pengajian-pengajian, istighasah rutin sebulan sekali yang diikuti sekitar lima ratus jamaah dari lima kecamatan, di samping mengajar di kelas santri putri. Sedangkan putri dan menantu mengurus pelajaran para santri.

Setiap pesantren pastinya memilik program unggulan, begitu juga dengan Miftahul Jannah. Menurut Ade, keunggulan Miftahul Jannah tentu saja di bidang tauhid. “Miftahul Huda Manonjaya, orientasi pokoknya kan ilmu tauhid karena Manonjaya adalah pakar disiplin ilmu tauhid, jadi biasanya para lulusannya pun menjadikan tauhid sebagai unggulannya,” ujarnya.

Lulusan Miftahul Huda semuanya bisa dakwah. “Minimal ceramah, membina majelis taklim,  bahkan 25 persennya mendirikan pesantren lagi atau lembaga keislaman lainnya,” akunya.[]joko prasetyo

Ustadzah Hj Aisyah Maelasari,
Pimpinan Ponpes Miftahul Jannah


 

“Umi Yakin Khilafah segera Terwujud”

Sejak beberapa tahun lalu Umi membantu Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia sampai sekarang. Karena Muslimah HTI bagus sekali, mau memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah. Umi sangat setuju sekali bila syariah Islam diterapkan, Umi sampai meninggalpun ridha lillahi ta’ala membantu menegakkannya. Umi sangat bangga dan bagja melihat anak-anak muda, mahasiswa dan yang usianya jauh-jauh di bawah Umi begitu semangatnya memperjuangkan tegakknya syariah Islam. Masa umi yang sudah tua begini yang umurnya tidak berapa lama lagi tidak bisa membantu? Maka sampai Umi meninggal dunia pun Umi siap membantu untuk menegakkan syariah Islam bersama-sama. Insya Allah, bersama-sama melanjutkan dakwah yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW.

Mudah-mudahan dengan begitu, di Indonesia segera berdiri khilafah walaupun saat ini banyak sekali godaan, rintangan, dan hambatan. Tapi Umi yakin, insya Allah, khilafah akan segera tegak, dan terwujudlah baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Karena Umi melihat terjadinya banyak kehancuran di negeri ini disebabkan tidak tegaknya syariah dan khilafah.

Bahkan Umi kepada para santri dan kepada para jamaah istighasah dari lima kecamatan sedikit demi sedikit selalu menyampaikan ide-ide Hizbut Tahrir. Meskipun jamaah Umi kebanyakan orang-orang kampung, orang-orang yang kuper, kebanyakan hanya tamatan SD, Umi bagikan Al-Islam, Media Umat, Al Waie, tapi Alhamdulillah ngerti, walaupun memang masih banyak yang awam. Sakali deui Umi yakin, khilafah bakal segera terwujud, dipimpinan khalifah yang cinta Allah SWT, cinta Rasul, cinta Islam. Aamiin.[] joy

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved