Banner
[59] Rumah Takwa di Jantung Kota PDF Print E-mail
Thursday, 03 November 2011 18:55

Pondok Pesantren Daaruttaqwa, Cibinong, Bogor, Jawa Barat

Lokasi Pondok Pesantren Daaruttaqwa benar-benar strategis karena berada di dekat Kantor Pemerintah Kabupaten Bogor, tepatnya di samping pintu gerbang gapura kabupaten, Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 44 Cibinong. Meski berada di jantung kabupaten, namun suasana  tenang dan teduh akan terasa ketika memasuki gerbang pondok apalagi di asramanya yang sangat kondusif bagi para santri untuk belajar, padahal dulunya hanya berupa majlis taklim kecil di sebuah masjid di sekitar kandang kerbau.

Wakaf

Bagi yang belum mengetahui sejarahnya, apabila datang ke Daaruttaqwa pastilah tidak akan menyangka bahwa ponpes yang terkategori megah ini ternyata awalnya hanyalah merupakan kandang kerbau dan lumbung padi yang berada dekat sebuah masjid.

Di masjid itulah Kyai Muhammad Zaeni Zaenuddin bin Alimin Salim membuk a majelis taklim Uswatun Hasanah pada tahun 1975. Ternyata animo warga cukup tinggi untuk menimba ilmu dari alumnus Ponpes Modern Darussalam Gontor Ponorogo itu.

Banyak santri yang datang dari luar Cibinong, ditambah lagi agar santri bisa mengaji secara intensif, mendorong warga untuk mendirikan kobong untuk menginap para santri. Inilah cikal bakal berdirinya pesantren. Kemudian dirintis pendidikan taman kanak-kanak karena banyak warga yang memercayakan anak-anak balitanya.

Setahun kemudian KH Ahmad Syahal, pendiri dan pengasuh Ponpes Gontor, mengganti nama pesantren Uswatun Hasanah itu menjadi Ponpes Daaruttaqwa. Melihat istiqamahnya Kyai Muhammad Zaeni mengelola Daaruttaqwa, membuat warga setempat yang bernama Hj Arah binti H Abdul Hadi tersentuh hatinya. Dengan ikhlas dan mengharap keridhaan Allah SWT, ia pun mewakafkan tanahnya di sekitar lokasi tersebut seluas 8.000 hektar untuk dikelola Ponpes Daaruttaqwa.

Serah terima tanah wakaf itu pun disaksikan oleh tokoh-tokoh pesantren terkemuka saat itu, di antaranya Ketua BKSSP KH Sholeh Iskandar, Pimpinan Ponpes At Taqwa Bekasi KH Noer Aly, Pimpinan Ponpes Darunnajah Jakarta  KH  Machrus Amien, dan  KH Hasan Igrisa.

Seperti kata pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, KM Zaeni pun dalam mengembangkan ponpesnya mencontoh Gontor. Pada 10 Juli 1977, ia mendirikan Kulliyatul Mu’allimien Wal-Muallimat Al-Islamiyah (KMMI). Di bawah asuhan langsung KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, KMMI Daaruttaqwa  mengacu pada sistem dan metode pengajaran Pondok Pesantren Modern Daarusalam Gontor hingga sekarang.

Lokasi asrama pun dibuat berjauhan dalam rangka menjaga interaksi antara santriawan dan santriwati. Jadi kalau sampai ada santri yang melanggar pasti akan terkena sanksi yang berat. Bahkan sekadar kirim-kirim surat antara santri laki-laki dan santri wanita saja bisa dikeluarkan dari ponpes.

Seratus Persen Lulus

Setelah 14 tahun kapal Daruttaqwa dinahkodai KM Zaeni dengan tawakal dan istiqamah, kemudian estafet kepemimpinan pun berpindah ke tangan KH. Ahmad Tajuddin Alimien Salim hingga sekarang.

Daaruttaqwa dengan kepemimpinan baru ini mengawali langkah melanjutkan cita-cita pendahulunya dengan komitmen kuat tetap akan mencetak generasi yang amilan, shalihan serta mujahidan. Menurut Ahmad Tajuddin, Muslim yang kaffah itu mengemban dua perkara yang merupakan harga mati tidak bisa di tawar-tawar lagi yaitu sebagai khalifah dan abid di muka bumi yang tidak bisa dipisahkan  antara keduanya. “Itulah citc-cita kami dalam mendidik santri kader kami tandasnya,” tegasnya kepada kontributor Media Umat.

Sedangkan dalam metodenya mewujudkan cita-citanya, Daaruttaqwa  menggunakan metode induksi dan pengembangan, (thariqatu al istiqra’ wa tahrir) yakni santri dirangsang untuk aktif dan responsif terhadap pelajaran yang disampaikan guru dan mereka di tuntut untuk memahami (mengerti dan hafal), menghayati, menganalisa serta mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari.

Terbukti dari seluruh jenjang dari tingkat SD-SMA Daaruttaqwa mampu meluluskan santrinya 100 persen. Saat ini total santri sekitar 350 orang. Sementara alumninya dibebaskan hendak melanjutkan ke mana sesuai dengan keinginanya.  ”Kalau mau cari ilmu agama ya ke Timur Tengah sedang kalau mau cari ilmu sains ya ke Jerman, Ausralia, bahkan Amerika asalkan dasar agamanya telah kuat,”  ujarnya. Yang penting tidak ke universitas yang terkenal keliberalannya.

Daaruttaqwa pun menyarankan kepada santri yang ingin mendalami ekonomi Islam untuk melanjutkan kuliah  ke STEI Hamfara di Yogyakarta. “Karena sudah ada beberapa santri kami yang di sana dan perkembanganya Subhanallah..., kemarin kami bertemu ketika ada acara rihlah i’lamiyah iqtishadiyah santri akhir ke Yogya,” ungkapnya.

Di samping itu, banyak pula alumni yang telah berhasil bahkan mereka ada yang membantu mengajar juga membantu dalam pembangunan pondoknya, ada yang S2 bahkan S3 ini membuktikan memang lulusanya berkualitas.

Keberadaan pondok sampai saat ini tetap menjadi harapan masyarakat sekitar Daaruttaqwa, banyak kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat baik dalam agenda pengajian umum ataupun yang khusus melibatkan guru santri untuk membina warga sekitar melalui majelis taklim maupun khutbah Jumat. Bahkan sering kali aula pondok yang cukup luas itu digunakan untuk aktifitas dakwah syariah dan khilafah  yang panitianya para aktivis Hizbut Tahrir.[] agus supriadi

 

KH Ahmad Tajuddin,
Pimpinan Pondok Pesantren Daaruttaqwa

 

Khilafah, Mutiara yang Hilang

Syariah adalah wajib bagi setiap Muslim untuk menjalankan dan menerapkannya karena Islam telah mengatur dari perkara syariah yang sangat kecil hingga perkara syariah yang berhubungan dengan pemerintahan. Sebagai gambaran bagaimana Islam dijalankan ya lihatlah Khalifah yang empat (Khulafaurrasyidin), Islam diterapkan dijalankan secara kaffah. Adapun khilafah saat ini adalah merupakan mutiara yang hilang, hilang entah ke mana hingga kaum Muslimin sendiri tidak memahaminya. Untuk itu  kalaupun ada upaya kaum Muslimin yang memperjuangkan syariah Islam, tentu harus mengikuti metode Rasulullah SAW dan para khulafaur rasyidin bukan seperti zaman kerajaan yang sesudahnya, dan itu membutuhkan jamaah yang kuat dan solid.

Kalau dengan partai-partai Islam kami tidak percaya lagi untuk perjuangan syariah ini, dan sejak jaman Nabi Adam AS yang namanya perjuangan akidah itu ya ekstra parlemen. Daaruttaqwa ini adalah pondok pesantren  yang tidak pernah berafiliasi ke partai politik manapun, banyak partai memang yang menawarkan janji-janjinya namun semua saya tolak.

Saya melihat Hizbut Tahrir sampai saat ini masih istiqamah di dalam perjuangannya dan saya berdoa mudah mudahan tetap istiqamah,  pertolongan Allah SWT akan segera datang. Amin.[] agus supriadi

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved