Banner
Mencetak Kader Pemimpin Umat PDF Print E-mail
Saturday, 13 December 2008 17:42

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, sebuah pesantren berkembang pesat. Namanya tersohor ke berbagai penjuru. Pesantren Darunnajah menjadi kawah pembinaan umat.

Suasana khas pesantren sudah terasa ketika pertama kali kita menginjakkan kaki di komplek Pondok Pesantren Darunnajah yang terletak di Jl  Ulujami Raya  86, Pesanggrahan Jakarta Selatan itu. Beragam aktifitas dilakukan para santri. Salah satunya adalah tadarus Alquran.

Seusai sholat Ashar berjamaah misalnya, para santri pria yang berpakaian putih itu membentuk shaf yang rapi saling berhadapan. Suara bacaan Alquran pun terdengar dari lisan mereka.  Tampak mereka khusu' membacakan ayat-ayat Allah tersebut. Kegiatan rutin lainnya dari para santri yang tinggal 24 jam itu adalah mufradat, belajar di kelas, olahraga,  dan belajar malam.

Pesantren Darunnajah dikenal, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Sejumlah tokoh dunia pernah mengunjungi pesantren tersebut. Tamu istimewa yang pernah berkunjung ke pesantren ini di antaranya Syeikh Yusuf Qardhawi, yakni pada Rabu, 10 Januari 2007. Keinginan penulis buku  “Fatwa-Fatwa Kontemporer” ini adalah untuk melihat secara langsung Pondok Pesantren Darunnajah  yang selama ini didengarnya dari khalayak ramai.


Sejarah

Ada beberapa periode yang mewarnai sejarah Pondok Pesantren Darunnajah. Pertama adalah periode cikal bakal (1942-1960), yang merupakan modal pertama berdirinya Pondok Pesantren Darunnajah. Periode ini diawali dengan berdirinya sekolah Madrasah Al-Islamiyah di Petunduhan Palmerah pada tahun 1942 milik KH Abdul Manaf Mukhayyar. Namun kemudian pada 1959 tanah dan madrasah tersebut digusur  untuk perluasan komplek Perkampungan Olah Raga Sea Games, yang sekarang dikenal dengan komplek Olah Raga Senayan.

Untuk melanjutkan cita-citanya, maka diusahakanlah tanah di Ulujami. Di tahun 1960, didirikanlah Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI), dengan tujuan agar di atas tanah tersebut didirikan pesantren. Periode inilah yang disebut dengan periode cikal bakal.

Pada tahun 1961 KH Abdul Manaf kemudian membangun gedung madrasah enam lokal di atas  tanah wakaf. Ide mendirikan pesantren didukung oleh H Kamaruzzaman yang saat itu sedang menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta. Untuk pengelolaan pendidikan akhirnya diserahkan kepada Ust Mahrus Amin, alumnus KMI Gontor yang mulai menetap di Jakarta pada tanggal 2 Februari 1961.

Namun, karena banyaknya rintangan dan hambatan, maka pendidikan belum bisa dilaksanakan di Ulujami. Pendidikan akhirnya dilaksanakan di Petukangan bersama beberapa tokoh masyarakat, di antarannya Ust Abdillah Amin dan H Ghozali, berkerja sama dengan YKMI.

Para periode ini, meskipun pesantren yang diharapkan belum terwujud, tetapi dengan usaha-usaha tersebut, Yayasan telah berhasil mempertahankan tanah wakaf di Ulujami dari berbagai rongrongan, antara lain BTI PKI saat itu. Dari tahun 1961 hingga 1973 ini disebut sebagai periode perintisan.

Usaha untuk mendirikan Pesantren Darunnajah di Ulujami terus dilakukan. Pada tanggal 1 April 1974, usaha itu dicoba kembali. Mula-mula Pesantren mengasuh tiga orang santri, sementara Tsanawiyah Petukangan dipindah ke Ulujami untuk meramaikannya.

Pada periode ini dibangun sebuah Masjid dengan ukuran 11 X 11 m2 dan beberapa lokal asrama. Pada periode inilah ditata kehidupan di Pesantren Darunnajah dengan sunnah-sunnahnya. Penataan tersebut di antaranya aktivitas santri dan kegiatan pesantren disesuaikan dengan jadwal waktu shalat, menggali dana dari pesantren sendiri untuk lebih mandiri, meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran. Periode dari 1974 hingga 1987 ini merupakan periode pembinaan dan penataan.

Pada 1987 hingga 1993 Darunnajah mulai melebarkan misi dan cita-citanya, mengajarkan agama Islam, pendidikan anak-anak fuqara dan masakin dan bercita-cita membangun seratus Pondok Pesantren Modern.

Dari 1994 hingga sekarang kemudian Pondok Pesantren Darunnajah memasuki periode Dewan Nazir.  Belajar dari perjalanan pondok pesantren di Indonesia dan melihat keberhasilan lembaga Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, yang telah berumur lebih 1000 tahun lamanya, Yayasan Darunnajah yang memayungi segala kebijakan yang telah berjalan selama ini, berusaha merapikan dan meremajakan pengurus yayasan.

Dengan niat yang tulus dan ikhlas, maka wakif tanah di Ulujami Jakarta KHAbdul Manaf Mukhayyar, Drs KH Mahrus Amin, dan Drs H Kamaruzzaman Muslim yang ketiganya mengatasnamakan para dermawan untuk wakaf tanah di Cipining Bogor seluas 70 ha, mengikrarkan wakaf kembali di hadapan para ulama dan umara dalam acara nasional di Darunnajah pada tanggal 7 Oktober 1994.

Di tahun 2007, Pesantren Darunnajah memiliki 11 cabang pesantren di berbagai tempat; Jakarta, Bogor, Serang, Bengkulu, Kalimantan Timur, dengan luas aset 318 ha.


Mencetak Muttafaqah Fiddin

Pondok Pesantren Darunnajah mempunyai visi mencetak manusia yang ber-muttafaqah fiddin untuk menjadi kader umat . Visi ini diputuskan dalam rapat Tim Evaluasi Kurikulul TMI di TMII, Jakarta, 23-26 Mei 2002.

Sementara itu misinya adalah mencetak manusia yang beriman dan bertaqwa, berahlaq mulia, berpengetahuan luas, sehat dan kuat, terampil dan ulet, mandiri, mampu besaing, kritis, problem solver, komunikatif dan berjiwa juang.

Selain itu, seperti dikatakan Pimpinan Ponpes Darunnajah, KH Mahrus Amin dalam bulletin Darunajah edisi XXI Mei 2007 , misi Ponpes Darunajah  adalah merintis dan memelopori berdirinya pondok pesantren di seluruh Indonesia sebagai lembaga sosial keagamaan yang yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah.

Ponpes Darunnajah memiliki ciri khas tersendiri dibanding pesantren lainnya. Ciri khas tersebut di antaranya: menggunakan bahasa pengantar sehari-hari bahasa Arab dan Inggris, kegiatan santri 24 jam dengan jadwal disesuaikan waktu shalat, dan adanya disiplin dan tata tertib yang ketat. Sementara itu untuk materi pelajarannya adalah memadukan materi pelajaran dari Depag dan materi pesantren. Selain mendapatkan ijazah dari Depag (Tsanawiyah dan Aliyah) juga mendapatkan ijazah dari pesantren yang telah diakui di luar negeri seperti Al Azhar Mesir, Universitas Islam Madinah, Universitas Ibnu Suud Riyadh, dan Universitas Umul Qura Mekkah.

Santri Darunnajah tidak hanya datang dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari berbagai pelosok tanah air. Bahkan ada juga yang berasal dari Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Brunei Darusalam.  Jumlah total santri yang tercatat tahun 2007 ada 3.015 orang dengan jumlah guru 344.

KH Mahrus Amin mengatakan, Pesantren Darunnajah tidak pernah berhenti untuk selalu berusaha, berinovasi,  berjuang, berijtihad dan berdoa untuk kemajuan Darunnajah demi kemaslahatan umat Islam. “Untuk itu kami mohon keikhlasan para pembaca ikut serta mendoakan demi kelancaran pelaksanaan program-program yang telah dicanangkan,” ujarnya.[] Pendi

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved