| [61] Utang, Instrumen Kuasai SDA |
|
|
|
| Tuesday, 06 December 2011 17:32 |
|
Memang sejak awalnya, utang luar negeri merupakan instrumen bagi perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) untuk mengeruk kekayaan sumber daya alam (SDA) dari dunia ketiga. Mereka memang menggunakan instrumen utang untuk melakukan kerja sama dengan pemerintahan atau para elite di dunia ketiga agar mereka punya akses untuk menguras kekayaan alam. Secara personal utang luar negeri dinikmati oleh perusahaan multinasional. Kita ketahui skema utang luar negeri itu berbentuk proyek. Ini bisa dipastikan pemberian utang ke negara-negara dunia ketiga maka perusahan perusahaan multinasional itu yang akan mendapatkan manfaat dari proyek itu. Menjadi kontraktor menjadi penyedia jasa konsultan yang tentu saja sangat menguntukan bagi perusahaannnya. Bukan hanya menguntukan secara pribadi tapi menguntungkan juga ekonomi negara dari MNC itu. Keterlibatan MNC soal itu ini bukan saja saat ini, jauh hari awal masa kemerdekaan bahkan terulang dari pemerintahan Soeharto. Itu sangat merugikan karena perjanjian-perjanjian utang itu dikaitkan dengan penguasaan aset untuk menguasai sumber daya alam kita. Mereka bisa menguasai seperti halnya Freeport menguasai tambang di Papua. Perusahaan-perusahaan minyak seperti Cevron, Shell dan lainnya pun menguasai kantong-kantong kekayaan Indonesia. Rakyat tidak dapat menikmati kekayaan alamnya sendiri dan anehnya MNC ini difasilitasi oleh negara kita. Sekarang mereka melakukkan upaya neokolonialisasi. Atau upaya menaklukkan perekonomian sebuah negara dengan merampok SDA secara tidak langsung. MNC lebih sangat berbahaya ketimbang VOC karena sumber-sumber yang mereka rampok lebih besar daripada dahulu. Kalau dahulu multinasional itu hanya bisa mengambil material seperti kekayaan gas dan tambang. Tapi sekarang mereka sudah merasuk hingga sektor-sektor pendidikan, kesehatan, farmasi, sektor infrastruktur dan lain-lain. Seluruhnya dihabisi oleh MNC ini. Jadikita lihat praktiknya bisa kita tidak lihat tapi daya rusaknya bisa sangat kuat[] |




Dani Setiawan, 





