| [61] Penguasa Mental Terjajah |
|
|
|
| Tuesday, 06 December 2011 17:34 |
|
Indonesia dijajah oleh VOC Belanda sejak tahun 1602. Banyak pakta atau perjanjian yang dibuat dengan VOC yang sangat merugikan masyarakat Indonesia saat itu. Didorong dari ekonomi kapitalisme inilah VOC mencari wilayah jajahan untuk dikeruk kekayaan alamnya. Awalnya dengan cara membujuk penguasa-penguasa setempat datang secara baik-baik untuk menjalin kerja sama tapi lama kelamaan penjajah menjalankan misi militernya untuk lebih menguras habis kekayaan di negeri ini. Walaupun saat ini, Indonesia dikatakan telah merdeka dan bersatu, tetapi perjanjian-perjanjian tentang pengelolaan sumber daya alamnya itu masih mengikat dan kemerdekaan Indonesia bukan berarti kemerdekaan untuk mengelola sumberdaya alamnya. Makanya bisa dibayangkan setelah Indonesia merdeka, Belanda masih bisa mengeruk kekayaan alam Indonesia di bagian timur. Itu bisa terjadi karena adanya perjanjian. Bahkan lebih dari itu penjajah lainnya pun turut menikmati sumber daya alam kita seperti Amerika, Cina dan lainnya. Indonesia belum bisa lepas dari penjajahan. Contohnya yang nyata yaitu aturan perdata dan pidana warisan penjajah yang ditafsirkan lebih menarik oleh penguasa saat ini. Inilah mental terjajah. Bila ingin lepas dari penjajahan, kita harus sadar dulu, kalau kita sedang dijajah. Kemudian mencari tolok ukur yang benar-benar memberikan solusi yang memiliki pondasi yang kuat. Oleh karena itu kita sebagai kaum Muslimin bisa mencari serta memahami mana sebenarnya tolok ukur yang paling mendasar, tentu saja Islam. Karena Islam harus dipahami oleh kaum Muslimin bukan sekadar ibadah ritual saja, tapi kaum Muslimin harus menyadari dan mengetahui bahwa Islam menyelesaikan seluruh problematika umat. Dari akidah Islamlah kita meyakini perkara ekonomi berdasarkan akidah Islam berarti kita mencari solusi ekonomi berdasarkan akidah Islam. Penerapan ekonomi Islam berarti kita mengikuti perintah Allah. Dan di situlah ada maslahat ketika kita melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Kita mengajak kaum Muslimin untuk berpikir bukan hanya untuk kesenangan di dunia saja tapi juga di akhirat. Jadi harus benar-benar mengambil syariat Islam sebagai tolok ukur setiap perbuatannya. [] |




Tun Kelana Jaya, 





