| [61] Masih Dicengkeram Asing |
|
|
|
| Tuesday, 06 December 2011 17:35 |
|
Kalau mungkin dahulu kita dijajah oleh VOC dengan menggunakan senjata, sekarang para perusahan-perusahaan asing hanya perlu memegang orang-orang kunci untuk diajak kerja sama dan itu terjadi saat ini. Kita bisa berkata elite politik banyak bermain. Mereka mementingkan kepentingan politik untuk berkuasa. Bagaimana mereka bisa berkuasa tanpa dukungan? Maka dari itu para elite politik ini juga menarik dukungan kepada pihak asing untuk meraih kekuasaan. Dari sinilah ada kesepakatan yang akhirnya mengorbankan sumber kekayaan alam kita untuk dieksploitasi oleh pihak asing. Para elite berkuasa maka asing pun bebas melenggang merengguk kekayaan kita. Maka tidak salah perkataan seorang pakar Amerika bahwa Soeharto menyerahkan kekayaan negeri ini ke asing untuk mendapatkan dukungan dari asing. Saya tidak bisa menekankan secara gamblang kalau saat ini SBY pun melakukan hal yang sama, tapi faktanya seperti itu. Kita masih ingat dahulu adanya pembicaraan-pembicaran dan pertemuan antara SBY-George W Bush yang salah satunya membahas tentang Blok Cepu. Mereka berbicara di Busan kemudian di Texas, dan di Chile. Dan terakhir ditutup dengan gong persetujuan dengan kedatangan Condoleeza Rice. Maka Blok Cepu pun diserahkan ke tangan Amerika. Yang jelas ini tidak adil kita terlalu banyak ditipu karena tidak mendapatkan apa-apa. Dan saham kita di Freeport hanya 9,36 persen. Puluhan tahun kita tidak dapat sepenuhnya, yang kita dapatkan hanya itu-itu saja. Orang-orang dari kita pun tidak ada yang bisa ditempatkan di sana baik sebagai direktur apalagi komisaris. Kita saat ini masih dicengkram oleh asing. Kita paling banter hanya mendapatkan pajaknya saja dan asing mendapatkan segalanya. Dan inilah penjajahan yang masih dirasakan oleh negeri ini.[] |




Marwan Batubara, 





