Banner
[81] Agamanya Islam atau Bukan? PDF Print E-mail
Wednesday, 23 May 2012 01:07

Herman Ibrahim, Pengamat Intelijen

Untuk menjawab permintaan Boediono agar adzan sayup-sayup dan tidak terdengar keras, kita tinggal tanya, “Pak Boediono itu agamanya Islam atau bukan?” Di Masjidil Haram itu, adzannya terdengar hampir berpuluh-puluh kilometer itu. Karena memang lebih dikeraskan lebih baik. Jadi seruan-seruan tentang kebesaran Allah dalam panggilan shalat itu lebih keras dan jangkauannya lebih jauh itu lebih baik. Ini Boediono ini rupanya sudah tidur nyenyak itu dan tidak suka dengar suara adzan keras-keras mungkin. Saya jadi buruk sangka sama dia lah, tulis saja begitu. Tulis saja si Boediono itu begitu, orang aneh itu.

Belum lagi terkait radikalisme dan terorisme. Sejak kapan masjid di Indonesia yang menjadi basis terorisme? Tunjukkan kepada saya kalau ada masjid yang menjadi basis radikalisme dan terorisme. Jadi si Boediono itu kalau ngomong jangan asal bunyi. Jadi kalau ada definisi itu (radikalisme dan terorisme, red) kapan ada? Masjid itu milik umat, masjid itu heterogen. Tidak ada masjid yang homogen di Indonesia ini.

Jadi tidak adalah masjid yang jadi basis radikalisme dan terorisme tetapi kalau pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan pemerintah memang pasti ada di masjid itu. Tetapi kalau “terorisme dan radikalisme”, seharusnya dipikirkan dulu dampak ucapan itu oleh si Boediono. Kita, semua orang tahu kok, radikalisme dan terorisme itu kan bukan bikinan Islam. Itu kerja-kerja intelijen dan rekayasa.

Jadi sebenarnya, kalau kita mau jujur, radikalisme-terorisme adalah sebuah rekayasa. Bahwa ada pelaku dari kelompok Islam, iya. Tetapi sebenarnya mereka adalah agen yang tidak tahu lalu dimanfaatkan dan digunakan. Abu Bakar Baasyir ditahan 15 tahun sama dengan seumur hidup, Amerika tenang. Tetapi yang kelimpungan polisi, duitnya terus berkurang. Kalau tidak ada orang yang dituduh teroris kan, duit untuk polisi juga jadi berkurang. Makanya polisi cari-cari, dengan atas nama perang lawan terorisme, seseorang tanpa diperiksa, tanpa diberi penjelasan kepada masyarakat, main bunuh saja.

Umat Islam Indonesia itu bukan toleran atau tidak toleran. Umat Islam Indonesia itu lemah! Sehingga tidak berani mengemukakan pemikiran-pemikirannya. Dan ketika ketidakadilan itu terjadi umat Islam Indonesia itu tidak berani menuntut keadilan karena takut dianggap tidak toleran.

Jadi pikiran-pikiran si Boediono itu samalah dengan orang-orang yang cari muka seperti orang-orang Paramadina, orang-orang yang merasa hebat pinterlah seperti si Dawam Raharjo.[]

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved