|
Muhammad Karebet Widjajakusuma Praktisi bisnis syariah bidang konsultasi dan training manajemen dan motivasi Pengurus Pusat Gugus Tugas Pengusaha HTI
Menjalankan kegiatan bisnis tidak pernah sepi dari tantangan dan hambatan, termasuk hari ini. Baik menyangkut masalah permodalan, sumberdaya manusia, pemasaran maupun perizinan. Tapi bagi pebisnis Muslim kiranya tantangan terbesar adalah bagaimana menjalankan bisnis dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam di tengah-tengah suasana bisnis dalam sistem kapitalistik yang menghalalkan segala cara. Tentu saja jalan belum tertutup sama sekali. Bahkan masih cukup banyak peluang terbuka bagi pebisnis Muslim yang mencoba untuk sukses tanpa harus melanggar syariah. Pun termasuk saat bisnis agak redup.
Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam Nasyrah: 6)
Muslimpreneur, saat kinerja bisnis kita menurun, seringkali kita tidak melakukan muhasabah atau koreksi mendalam sebagaimana yang seharusnya. Boleh jadi, tanpa disadari, kita malah sibuk mencari celah pembenar atau bahkan dalih pembalik fakta. Akhirnya, kita malah melindungi kegagalan dengan 'keberhasilan semu', bukan malah memperbaikinya. Kita terjebak pada kesombong-an. Sesuatu yang malah akan menjadi titik kejatuhan.
Seperti anekdot yang ditulis oleh Bonnie Triyana, seorang sejarawan-cum-wartawan di salah satu media ibukota, Januari 2009 lalu. Ia menuliskan “syahdan, dalam suatu pertemuan arkeolog internasional, arkeolog Amerika melaporkan bahwa mereka telah menggali lubang sedalam 3 meter dan menemukan serat tembaga di dalam galian. Atas penemuan itu, mereka mengklaim bahwa sejak 350 tahun lalu penduduk Asli amerika telah menggunakan telepon… Sementara itu arkeolog Israel mengklaim telah menemukan pecahan gelas di dalam lubang sedalam 4 meter di dekat Tepi Barat, dan berdasarkan temuan yang mirip dengan serat optik itu, mereka menyimpulkan bahwa 400 tahun yang lalu orang Yahudi sudah menggunakan internet. Arkeolog Indonesia tak mau kalah. Mereka melaporkan telah menggali tanah sedalam lima meter di Trowulan dan tidak menemukan apa-apa. Maka, disimpulkan bahwa 500 tahun yang lalu Gadjah Mada sudah menggunakan handphone.”
Tulisan Bonnie sebenarnya diarahkan untuk menganalisis iklan politik klaim keberhasilan pem-bangunan oleh pemerintah. Namun, anekdot ini juga dapat dimaknai dengan interpretasi lain. Intinya, sindiran ini agaknya mengingatkan bahwa kita lebih suka melihat dan bangga atas klaim capaian hasil yang positif – sekalipun tak sepenuhnya positif – ketimbang berintrospeksi atas sejumlah capaian negatif - kalau tak mau disebut kegagalan.
Maka, saat kinerja bisnis turun atau ada tanda-tanda menurun, kita mesti sabar dan segera muhasabah apa yang sebenarnya terjadi hingga didapatkan faktor-faktor penyebabnya. Boleh jadi, ada di faktor reputasi yang tercoreng karena delivery time yang tak lagi tepat. Bisa juga karakter bisnis yang kita bangun cenderung instan, rentan akan gangguan. Mungkin juga kita tidak konsentrasi di bisnis yang kita kuasai, sementara belum pernah terdengar kisah sukses pengusaha yang berada dalam bidang yang tidak dikuasainya sama sekali. Atau, boleh jadi, bisnis kita berada di tengah kerumunan begitu banyaknya pemain sejenis, hingga makin hari makin sulit bernafas. Atau juga, kita terlalu fokus pada modal uang, sementara modal keahlian, jaringan, nama baik, penguasan teknologi, pengetahuan mengenai pasar tidak kita kuasai.
Dari situlah kemudian, kita bisa susun solusinya secara tepat. Lalu, mainkan program aksinya. Rumusnya, tetap harus ada (1) motivasi bisnis untuk meraih bisnis penuh 'berkat' dan berkah, (2) doa 'sapu jagat' agar bisnis kita membahagiakan kita di dunia dan akhirat nanti, (3) ikhtiar perbaikan dan improvisasi tiada henti karena bisnis tidak stagnan tapi terus dituntut untuk lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi, serta (4) tawakkal yang kita letakkan di depan, di tengah dan di akhir proses bisnis kita.
Tetap semangat ![]
|