Banner
[53] Shalahuddin Membersihkan Mesir PDF Print E-mail
Thursday, 14 April 2011 14:55

Shalahuddin al-Ayyubi nama lengkapnya adalah Shalahuddin bin Yusuf bin Ayyub. Lahir pada tahun 523 H/1137 M di kota Tikrit, Irak. Menurut sebagian ahli sejarah, ia berdarah Armenia. Shalahuddin, sebelum menjadi penguasa di Mesir, sempat menjabat sebagai wazir ketika Mesir di bawah dinasti Fathimiyyah. Pada zaman Fathimiyyah inilah, Mesir tidak lagi menjadi pemerintahan otonom, tetapi telah melepaskan diri wilayah kekuasaan Khilafah Abbasiyyah di Baghdad. 

Dinasti Fathimiyyah ini telah mengadopsi mazhab Syiah sebagai mazhab negara. Bahkan lebih spesifik lagi, Syiah Ismailiyyah. Sebagian pengaji pemikiran Islam telah mengategorikan Syiah Ismaiiliyyah, Bathiniyyah dan Qaramithah ini sebagai satu aliran, dengan nama yang berbeda. Mereka telah mempertuhankan al-Hakim bi Amrillah al-Fathimi tahun 408 H. Propaganda ini dipimpin oleh Hamzah bin Ali, dengan bukunya Ruhu-Llah (roh Allah). Menurutnya, roh Allah merasuk ke dalam jasad Nabi Adam, kemudian berpindah ke jasad Ali bin Abi Thalib, kemudian pindah ke jasad al-Aziz, dan berpindah lagi ke jasad anaknya, al-Hakim. Ini merupakan paham reinkarnasi dan wihdatu al-wujud (manunggaling gusti ing kawulo). 

Setelah Shalahuddin berkuasa, ia pun membersihkan Mesir dari kotoran paham Ismaiiliyyah, Bathiniyyah dan Qaramithah yang sesat ini. Ia dengan tentaranya membersihkan wilayahnya dari paham ini, dan menyapu bersih semua jejak-jejaknya. Ia kemudian mengembalikan Mesir dan wilayahnya ke paham yang shahih berdasarkan Alquran dan Sunnah. Usaha ia pun membuahkan hasil. Selain dukungan militer yang kuat, ia juga membuka pusat-pusat pendidikan di seluruh negeri. Di antaranya, sekolah an-Nashiriyyah dan al-Kamiliyyah. Ia menginstruksikan seluruh rakyat untuk memasuki sekolah-sekolah ini untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan Islam yang hakiki, di samping mempelajari akidah salaf as-shalih yang bersih dari berbagai manipulasi dan penyelewengan.

Usaha Shalahuddin ini mendapat dukungan dari rakyat Mesir karena kecintaan dan kepercayaan mereka kepadanya. Terutama setelah ia berhasil mengalahkan tentara Salib Prancis dalam Perang Salib di Dimyat, Ghizzah dan Aqabah. Teluk Aqabah adalah anak kunci Laut Merah bagi para jamaah haji Mesir dan luar Mesir untuk menunaikan kefardhuan haji ke Mekkah. Kepahlawanan Shalahuddin inilah yang menjadi salah satu faktor, yang membuat posisinya sangat dikagumi dan dihormati di kalangan rakyat Mesir. 

Selain faktor di atas, para jamaah haji itu juga merasakan amannya jalur perjalanan jamaah haji asal Mesir. Ini menjadi faktor yang ikut menanamkan kepercayaan, kecintaan dan keikhlasan rakyat Mesir kepada Shalahuddin. Karena itu, begitu Shalahuddin membersihkan paham Ismailiyyah, Bathiniyyah dan Qaramithah yang sesat tadi, dengan senang hati dan begitu mudah rakyat pun mengikutinya. Mereka pun berbondong-bondong meninggalkan paham sesat itu dan bergabung dengan saudara-saudara sesama Muslim yang lain di bawah panji yang dikibarkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi. 

Bumi Mesir dan sekitarnya pun bersih dari kotoran Ismailiyyah, Bathiniyyah dan Qaramithah, paham yang mengotori Mesir selama kurang lebih 3 abad. Inilah jasa Shalahuddin yang sangat besar kepada kaum Muslim, khususnya Mesir dan sekitarnya. Kini, Mesir menanti Shalahuddin baru untuk membersihkan Mesir dari kotoran paham sesat sekularisme, Nasherisme dan kediktatoran yang mencengkeram rakyatnya selama setengah abad. 

Baik di dalam maupun di luar Mesir, Hizbut Tahrir telah menyampaikan seruan kepada rakyat Mesir agar tidak tertipu dengan Amerika dan antek-anteknya. Hizb pun menyerukan kepada Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir untuk mengembalikan Mesir dalam pangkuan Khilafah, dengan mendirikan Khilafah di sana. Hanya dengan itulah, Mesir akan kembali bersih dari kotoran paham sesat tadi, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Shalahuddin.[] har

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved