| [56] Politik Luar Negeri Al-Walid Bin Abd Malik |
|
|
|
| Thursday, 14 July 2011 17:14 |
|
Era Khilafah Umayyah dikenal sebagai era penaklukan. Dengan stabilitas politik di dalam negeri yang diwariskan oleh Khalifah Abd al-Malik, selain al-Walid, penerus Abd al-Malik, bisa melakukan pembangunan yang luar biasa, bukan saja fisik tetapi juga non-fisik. Sebagai contoh, orang-orang tuna netra dan cacat, nafkah hidupnya dijamin oleh negara. Tidak hanya itu, bagi yang buta juga diberi pemandu dan bagi yang tidak mampu bekerja diberi pembantu. Rumah sakit khusus untuk penderita kusta pun dibangun di Damaskus, Suriah, yang hingga kini masih berdiri dan menggunakan namanya. Karena itu, ketika masalah di dalam negerinya relatif tidak ada, khilafah saat itu pun segera mengemban Islam keluar, sekaligus untuk mewujudkan bisyarah Rasul, menaklukkan Konstantinopel. Ada empat target yang menjadi sasaran penaklukan saat itu, yaitu: (1) Wilayah Wara' an-Nahr, yang dipimpin oleh Qutaibah bin Muslim; (2) Anak benua India dipimpin oleh Muhammad bin al-Qasim; (3) Spanyol dipimpin oleh Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad; (4) Asia Kecil-Konstantinopel dipimpin oleh Maslamah bin Abd al-Malik. Wilayah baru ini kemudian berhasil dilebur oleh Khilafah saat itu menjadi satu kesatuan. Bangsa-bangsa non-Arab yang hidup di sana, yang nota bene bukan orang Arab dan bahasanya bukan bahasa Arab, pada akhirnya berhasil dilebur sehingga budaya dan bahasanya pun menyatu. Bahkan, Bapak Balaghah, seperti Imam az-Zamakhsyari pun lahir dari kawasan ini. Kitabnya, Tafsir al-Kasysyaf pun diakui sebagai tafsir bi ar-ra'yi (dengan Ini merupakan bukti keberhasilan politik luar negeri khilafah, menjadikan bangsa-bangsa yang ditaklukkan bukan sebagai orang asing tetapi dilebur menjadi satu umat, yaitu umat Islam. Dengan bahasa, budaya dan tradisi yang satu, yaitu Islam. Dari bangsa-bangsa yang telah dilebur dengan Islam itu pun lahir para ulama hebat sekaliber Imam Bukhari, at-Tirmidzi, az-Zamakhsyari dan lain-lain.[] har |










