MediaUmat.com
[124] Campakkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah PDF Print E-mail
Monday, 21 April 2014 05:47

Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.

Demokrasi bagi Amerika adalah alat untuk mendominasi dunia. Makanya, negara manapun yang mengambil demokrasi sebagai sistemnya, pasti akan tetap ada dalam cengkraman Amerika. Tak akan bisa bangkit, karena Amerika tak menginginkan hal itu.

Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib menyatakan, secara fakta demokrasi adalah sistem yang bobrok. Demokrasi menjadi jalan bagi para pemilik modal menguasai rakyat. Demokrasi tidak pernah menyuarakan suara rakyat, tapi hanya merupakan kepentingan segelintir orang saja.

Demokrasi meniscayakan kebenaran dan kebaikan ditentukan oleh manusia dan mengesampingkan agama [baca: Islam] karena didasari prinsip sekulerisme—pemisahan agama dari kehidupan. Dapat dipastikan, hukum-hukum yang dihasilkan akan berpihak kepada kepentingan para pembuat hukumnya saja.

Dari kacamata syariah, tindakan para pembuat hukum ini berarti menyejajarkan diri dengan Allah SWT. Bahkan, mereka lebih tinggi karena untuk melegalkan hukum Islam, harus mendapat persetujuan mereka. Bukankah ini tindakan syirik?

Walhasil, mempertahankan demokrasi berarti sama juga membiarkan negeri ini tetap dalam cengkraman asing dan membiarkan rakyat hidup tertindas serta berbuat maksiat kepada Allah SWT karena mereka mengesampingkan hukum Allah.

Banyak orang kemudian bingung, jika tidak menggunakan demokrasi, menggunakan sistem apa. Padahal ada banyak sistem yang berkembang di dunia. Dan di antara semua sistem tersebut, menurut Rokhmat, satu-satunya yang benar adalah sistem pemerintahan Islam. “Itulah khilafah. Karena itu berdasarkan wahyu Allah SWT,” katanya.

Sistem itu sangat khas. Sistem ini sepenuhnya memberlakukan hukum dari Dzat Yang Maha Benar dan Maha Adil. Hukumnya berlaku secara universal kepada manusia dan tidak memihak kepada satu kelompok tertentu. Hukumnya bersifat tetap sampai akhir zaman, tidak berubah dengan bergantinya rezim.

Sistem ini berbeda dengan sistem manapun, apakah sistem teokrasi, sistem kerajaan, sistem federasi, termasuk sistem demokrasi. Dan sistem ini bukan sistem baru, tapi sistem yang pernah diterapkan berabad-abad lamanya hingga menghasilkan peradaban dunia yang cemerlang. Hasilnya, bahkan dinikmati oleh manusia pada masa sekarang.

Will Durant, dalam bukunya ‘The Story of Civilization’, vol. XIII,  halaman 151 menulis: "Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, di mana fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”

Secara akidah, menerapkan seluruh syariah Islam hukumnya wajib. Dan itu hanya bisa terjadi dalam sistem Islam yang disebut khilafah. “Maka kalau ada orang Islam yang menolak sistem Islam, patut dipertanyakan keislamannya,” kata Rokhmat.

Lebih jauh ia menjelaskan, sistem Islam memberikan ruang bagi masyarakat seluas-luasnya untuk berpendapat, namun tetap dalam kerangka hukum syariah yang menjadi standar acuan. Di sana juga ada Majelis Umat yang berfungsi mengontrol khalifah, bukan legislasi hukum.

Khalifah dipilih oleh rakyat, bukan turun temurun seperti dalam sistem kerajaan. Ia dipilih untuk melaksanakan hukum syariah. Karena itu, lanjutnya, mengkritik penguasa yang menyimpang dalam Islam bukan hanya hak, tetapi sekaligus merupakan kewajiban. “Pahala sangat besar pun diberikan kepada mereka yang syahid mengkritik penguasa dengan sebutan sebaik-baik jihad (afdhal al-jihad) dan pemimpin para syuhada,” jelasnya.

Terdapat juga Mahkamah Mazhalim yang akan menyelesaikan persengketan antara rakyat dan penguasa, kalau rakyat menganggap kebijakan penguasa merugikan mereka. Mahkamah Mazhalim juga akan meluruskan keputusan-keputusan khalifah yang bertentangan dengan hukum syariah.

Sistem Islam akan menjamin hak-hak mendasar manusia. Penerapan syariah Islam akan menjaga nyawa manusia, keturunan, harta dan kehormatan. Di antaranya dengan menjatuhkan sanksi yang keras bagi pelaku pembunuhan, pencuri, pezina dll.

Dan tak kalah penting, sistem Islam akan menjamin kepastian hukum dan persamaan di depan hukum. Muslim dan non Muslim memiliki kedudukan yang sama.

Sementara itu dalam hal kesejahteraan, khilafah akan menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat, pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Barang tambang yang melimpah (emas, perak, minyak dll), air, hutan dan listrik merupakan milik umum yang digunakan untuk kepentingan rakyat; tidak boleh diberikan kepada swasta atau individu. Dengan cara seperti ini khilafah akan menyejahterakan rakyat.

“Campakkan demokrasi, tegakkan khilafah,” tandas Rokhmat. Apa ada yang lebih baik dari sistem Islam? [] mujiyanto

Boks

Suara Terbanyak Bukan Kebenaran

Ada ungkapan suara rakyat adalah suara tuhan. Artinya, suara mayoritas dianggap sebagai kebenaran karena dianggap mewakili suara tuhan. Benarkah?

Allah SWT berfirman: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (TQS al-An’am [6]: 116).

Menurut As-Sa’di ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit.  Kenyataannya (memang) yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali.  (Tetapi) kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan yang bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” (Tafsir Kariimir-Rahman 1/270)

Akan tetapi orang yang sedikit bukan pula jaminan bahwa itu sudah pasti berada di atas kebenaran.

Sedangkan Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebutkan: “Allah memberitahukan perihal kebanyakan penduduk bumi dari kalangan bani Adam bahwa mereka dalam keadaan sesat, seperti yang disebut dalam ayat lain, yaitu firman-Nya (yang artinya) : “Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) kebanyakan dari orang-orang yang terdahulu” (Qs.Ash-Shaffat : 71) dan firman Allah yang mengatakan (yang artinya) : “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (Qs.Yusuf : 103)…”  (Tafsir Ibnu Katsir Juz 8, Qs.Al-An’am:116)

Dari dulu hingga sekarang dan seterusnya, umumnya mayoritas penduduk bumi adalah bukan orang-orang beriman yang mengikut risalah kenabian (kecuali di masa-masa awal umat manusia. Allahu A’lam). Mayoritas penduduk bumi selalu adalah orang-orang kafir.

“Sesungguhnya ia (Alquran) benar-benar dari Rabbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (TQS Hud : 17)

Dan bentuk kesesatan kebanyakan orang yang dimaksud di QS Al-An’am: 116 adalah tidak mengambil petunjuk, memperturutkan persangkaan sendiri/zhan yang bathil dan berdusta terhadap Allah.

Selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan, mereka dalam kesesatannya itu tidak merasa yakin perihal mereka sendiri, melainkan mereka berada dalam dugaan (sangka-sangka) yang dusta dan perkiraan yang bathil.”

 

 
[106] Jangan Takut Menyampaikan Islam PDF Print E-mail
Friday, 01 November 2013 06:20

Sebagaimana dimaklumi, tidak ada ucapan yang lebih baik daripada ucapan yang mengandung unsur dakwah atau seruan Islam. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT sendiri melalui firman-Nya: Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan dengan orang yang menyeru kepada Allah mengerjakan amal yang shalih dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (TQS Fushilat [41]: 33).

Artinya, sebaik dan seindah apapun ucapan dalam pandangan manusia, jika tidak mengandung unsur dakwah atau seruan Islam, bukanlah ucapan terbaik.

Dakwah bahkan menjadi salah satu amalan yang bisa menyelamatkan manusia dari kerugian di dunia di akhirat, selain iman dan amal shalih. Hal ini pun ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar adalah dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman, bermal shalih serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (TQS al-‘Ashr [103]: 1-3).

Karena itulah, dakwah atau kebenaran Islam wajib disampaikan, tidak boleh disembunyikan. Sepahit apapun ucapan dirasakan oleh manusia, jika mengandung unsur dakwah dan kebenaran Islam, ia wajib dinyatakan dan disampaikan. Demikianlah sebagaimana sabda Baginda Rasulullah SAW bersabda,  “Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit.” (HR al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

Sebaliknya, menyembunyikan dakwah atau kebenaran (Islam) adalah sebuah tindakan tercela dan terlaknat. Ini sebagaimana firman Allah SWT: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati (TQS al-Baqarah [2]: 159).

Bahkan jika tindakan menyembunyikan kebenaran itu ditujukan demi meraih keuntungan-keuntungan duniawi, hal demikian akan mendatangkan azab yang pedih bagi pelakunya. Demikianlah sebagaimana firman Allah SWT: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan, yaitu Al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat serta tidak menyucikan mereka dan bagi mereka siksaan yang amat pedih (TQS al-Baqarah [2]: 174).

Sebaliknya, sebaik dan seindah apapun ucapan dalam pandangan manusia, jika mengandung unsur kebatilan dan kesesatan, ia haram dinyatakan atau disampaikan, apalagi disebarluaskan dan dipropagandakan.

Karena itulah, sejatinya amat mudah dipahami jika seorang Muslim diharamkan menyerukan demokrasi yang nyata-nyata menempatkan kedaulatan manusia di atas kedaulatan Allah SWT; menyebarluaskan paham nasionalisme yang nyata-nyata menghalangi ukhuwah islamiyah yang bersifat global; memasarkan gagasan pulralisme yang berusaha menyejajarkan Islam dengan agama dan ideologi lain; mempropagandakan sekulerisme- kapitalisme atau sosialisme-komunisme—pemisahan agama (Islam) dari kehidupan—yang sejatinya merupakan biang kehancuran umat manusia. Semua itu haram disampaikan, disebarluaskan dan dipropagandakan karena nyata-nyata bertentangan dengan Islam.

Sebaliknya, seorang Muslim wajib menyerukan akidah dan syariah Islam, menyebarluaskan gagasan tentang kewajiban mendirikan Negara Islam atau Khilafah Islam, sekaligus mempropagandakan kewajiban umat Islam agar hanya berhukum pada hukum Allah SWT seraya mencampakkan hukum-hukum buatan manusia.

Karena itu, sangat aneh jika ada seorang Muslim justru mencela Muslim lainnya yang senantiasa konsisten menyerukan akidah dan syariah Islam sekaligus mempropagandakan kewajiban menegakkan Khilafah Islam sebagai institusi pelaksananya. Sebaliknya, amat aneh pula jika ada seorang Muslim yang memuji-muji Muslim lainnya yang terus-menerus menyerukan demokrasi, nasionalisme, pluralisme, sekulerisme dll yang nyata-nya merupakan gagasan/ide sekaligus sistem yang batil.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap konsisten menyampaikan dakwah dan kebenaran Islam, tak perlu hirau apalagi takut terhadap celaan orang-orang yang memang kerjaannya hanyalah mencela. Demikianlah sebagaimana firman Allah SWT: Hai orang-orang yang beriman, siapa saja di antara kalian yang murtad dari agamanya, kelak Allah pasti akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai Dia, yang bersikap lemah lembut terhadap orang Mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang Dia keehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Mahatahu (TQS al-Maidah [5]: 54).

Wa ma tawfiqi illa bilLah. [] abi

 

 

 

 

 
[114] NKRI Bersyariah? PDF Print E-mail
Tuesday, 19 November 2013 05:24

Oleh: Agus Trisa, Aktivis HTI Kota Surakarta

Gagasan NKRI Bersyariah, gagasan orang-orang yang terbeli. Terbeli atas apa? Atas apa pun. Jabatan, kuasa, harta, bahkan kondisi. Jabatan, kuasa, dan harta mungkin akan bisa ditolak oleh para aktivis Muslim. Namun “kondisi” inilah yang seringkali menyebabkan para aktivis itu mulai goyah pendiriannya. Yang semula hanya berpikir soal khilafah, namun entah karena kondisi tertentu maka gagasan khilafah itu pun dinomorduakan dan yang dinomorsatukan adalah gagasan NKRI Bersyariah.

Sungguh sangat disayangkan mereka orang-orang yang terbeli dalam perjuangan. Mungkinkah mereka kurang bersabar atas perjuangan ini sehingga mereka pun berbalik arah dan mengabaikan arah perjuangan semula?

Perlu kita ketahui bersama, orang kafir, butuh waktu ratusan tahun untuk menghancurkan negara berideologi Islam (khilafah). Orang kafir butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa membangun peradaban kapitalisme yang bakal menguasai dunia.

Namun, mereka tetap “bersabar” dalam perjuangannya itu. Sebab, mereka (orang kafir) paham bahwa untuk menghancurkan sebuah negara khilafah, bukan saja menghancurkan bangunan fisiknya. Namun kaum kafir juga harus menghancurkan bangunan pemikiran kaum Muslim yang telah mengakar dalam dirinya. Sejak mulai dari masuknya misionaris-misionaris ke dalam tubuh Daulah Islamiyah, hingga mampu memukul telak pada tahun 1924.

Demikian pula perjuangan penegakan khilafah. Butuh waktu, memang iya. Sebab, untuk membangun kembali masyarakat Islam, bukanlah membangun bangunan fisik sebuah istana negara Islam lengkap dengan perangkat-perangkat kenegaraannya. Namun membangun kembali masyarakat Islam adalah dengan membangun pemikiran Islam, perasaan Islam, dan aturan-aturan Islam.

Membangun kembali masyarakat Islam adalah membangun pemahaman-pemahaman Islam yang ada di dalam diri kaum Muslim. Ini bukan jalan mudah. Sebab, yang pertama kali harus dihancurkan adalah bangunan pemikiran yang ada sebelumnya. Baru kemudian menggantinya dengan bangunan pemahaman (mafaahim) Islam.

Ini juga yang ditempuh oleh orang kafir, setelah mereka mengetahui bahwa yang harus dihancurkan adalah pemahaman masyarakat Islam, bukan bangunan fisiknya. Sebab, jika hanya menghancurkan bangunan fisik, tanpa bangunan ideologi, maka bangunan fisik itu akan bisa kembali berdiri dengan mudahnya, selama bangunan ideologi itu masih ada.

Namun, kita tidak meniru orang kafir. Justru kita berupaya membangun masyarakat Islam (negara Islam) berangkat dari teladan kita, Rasulullah SAW yang telah mencontohkannya dengan cara menghancurkan ideologi jahiliyah orang-orang Arab dan menggantinya dengan ideologi Islam yang berasaskan pada ketauhidan.

Jika memang meneladani Rasulullah SAW, lantas mengapa waktu yang digunakan untuk membangun masyarakat Islam begitu lama dan tidak seperti waktu yang digunakan oleh Rasulullah SAW?

Jika kita sudah sampai pada pembicaraan ini, maka banyak faktor yang harus dipahami. Misalnya berkaitan dengan datangnya nashrullah (pertolongan Allah). Berkaitan dengan nashrullah, ini hanyalah hak Allah. Sebagaimana dulu Rasulullah SAW pun tidak memahami kapan pertolongan Allah akan tiba.

Adanya hambatan dakwah menuju tegaknya Islam yang berasal dari kalangan Muslim sendiri, juga merupakan faktor yang memperlama perjuangan tegaknya masyarakat Islam. Hambatan ini bisa berbentuk serangan pemikiran (paham-paham kufur yang telah merasuk ke dalam diri kaum muslim), maupun hambatan politis melalui undang-undang yang diterapkan oleh negara.

Namun, apakah karena adanya hambatan-hambatan itu lantas membuat kita harus “memotong kompas” perjuangan, mencari jalan pintas, yang jauh dari metode perjuangan Rasulullah SAW yang penuh dengan kesabaran?

Apakah kondisi yang demikian berat membuat para aktivis harus menerima kenyataan berdasarkan kaidah “daripada”? Daripada tidak berkuasa, mending NKRI Bersyariah. Seperti itukah? Orang bijak, tentu tidak akan berpikir demikian.

Jadi, tetaplah bersabar sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bersabar. Maka, hendaknya orang-orang yang tidak bersabar dalam perjuangan ini mengingat akan firman Allah: Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) kabar tentangmu.” Lihat QS. Muhammad: 31.[]

 
[115] Bay’ (Jual Beli) dan Istishna’ PDF Print E-mail
Tuesday, 12 November 2013 22:15

Al Bay’

Manusia Allah SWT ciptakan lengkap dengan segala potensi untuk menopang hidupnya termasuk keinginan memiliki harta, karena harta salah satu sebab yang bisa mendatangkan kemashlahatan bagi manusia.

Miskin atau kayanya seseorang tidak akan menghilangkan perasaan cinta harta (hubbud tamaluk) ini, karena perasaan tersebut suatu yang fitri yang muncul dari naluri mempertahankan hidup (gharizah baqa’).  Ketika miskin ia tidak ingin terus miskin dan seseorang yang keadaannya sudah tidak miskin alias kaya, ia ingin lebih kaya lagi.

Cara tersebut dengan perniagaan atau jual beli, di mana Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali melalui perniagaan yang didasarkan kerelaan di antara kalian” (TQS. An Nisa [4]:  29).

Adapun yang termasuk perniagaan (tijarah) ada 2 macam, yakni pertama adalah perniagaan yang halal disebut jual beli (al bay’) dan kedua adalah perniagaan haram yaitu riba.  Allah SWT sangat tegas membedakan dua perniagaan ini, bahkan sampai memberikan status kufur atas orang-orang yang mengingkari perbedaan antara jual beli dan riba. Allah SWT berfirman :

“Hal itu karena mereka benar-benar telah mengatakan bahwa jual beli itu juga seperti riba” (TQS. Al Baqarah [2] : 275).

Dan Allah SWT menegaskan perbedaan antara jual beli dan riba dengan menyatakan halal dan haram.

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (TQS Al Baqarah [2] : 275).

Jelaslah bagi seorang Muslim termasuk kalangan pengusahanya bila ingin mengembangkan harta tidak boleh mengembangkannya melalui perniagaan (tijarah) haram yakni riba, melainkan harus dengan cara halal yaitu jual beli.

Istishna’

Istishna' adalah bentuk ism mashdar dari kata dasar istashna'a-yastashni'u. Artinya meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya. Adapun dalam istilah syar’i, istishna’ termasuk dalam jual beli (al bay’) di mana para ulama fikih menggolongkan bay’ istishna’ ke dalam bay’ salam.

Bay’ Salam adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Dalam pelaksanaannya pembeli melakukan pembayaran penuh di muka sementara penjual akan menyerahkan barang secara penuh di akhir. Biasanya komoditas yang ditransaksikan adalah komoditas pertanian seperti padi, buah-buahan, dan sebagainya.

Adapun bay’ istishna’ adalah pembelian barang dengan pembayaran bertahap sesuai dengan progres pembuatan barang pesanan misalkan dengan memberikan uang muka di depan dan pelunasannya di akhir setelah barang pesanan selesai dibuat atau dicicil tahap demi tahap tertentu atau seluruh pembayaran dilakukan di belakang. Transaksi jenis ini biasanya untuk produk manufaktur seperti gedung, mobil, perabotan rumah dan sebagainya.

Hukum bay’ istishna’ adalah boleh atau mubah berdasarkan firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang tidak di tentukan, hendaklah kamu menuliskannya….” (TQS. Al-Baqarah [2] :282)

Dalam istishna’, bahan baku dan pekerjaan penggarapannya menjadi kewajiban pembuat barang. Jika bahan baku disediakan oleh pemesan dan dia meminta dibuatkan barang tertentu dengan bahan baku tersebut, maka akadnya berubah menjadi ijarah bukan jual beli.

Sementara manufaktur  hukumnya juga boleh dan telah dinyatakan oleh Sunnah. Rasulullah SAW pernah membuat cincin. Anas ra menyatakan:

“Rasulullah SAW pernah membuat sebuah cincin” (HR. Bukhari).

Rasul SAW juga pernah membuat mimbar. Sahal ra berkata :

“Rasulullah SAW pernah mengutus seseorang kepada seorang wanita untuk memerintahkan putranya yang tukang kayu agar membuat untukku” (HR. Bukhari).

Muslim terutama pengusaha Muslim di masa sekarang akan berinteraksi dengan kegiatan transaksi jual beli dan manufaktur seperti dijelaskan di atas.  Oleh karena itu Syeikh Taqiyuddin An Nabhani secara khusus menuangkan pembahasan tersebut dalam bab Al Bay’ Wal Istishna’ di buku Nidzam Iqtishadiy Fil Islam.

Dalam bukunya Nidzam Iqtishadiy fil Islam beliau mengingatkan bahwa walaupun industri manufaktur telah berkembang menjadi industri modern, bukan berarti hukum-hukum Islam tidak mengatur aspek-aspek kegiatan manusia di dalamnya.  Industri modern maupun tradisional yang manual tidak akan lepas dari hukum-hukum kerja sama usaha (syirkah), jasa, jual beli dan perdagangan luar negeri.

Saat seseorang ingin mendirikan industri manufaktur modern, hampir bisa dipastikan sebagian besar industri didirikan dengan kerja sama modal dari sejumlah orang.  Bila kondisinya demikian maka berlaku hukum kerja sama usaha islami (Asy Syirkah Al Islamiyah).  Adapun dari segi administrasi, kerja dan proses pembuatan barang berlaku hukum-hukum seputar ijarah atas pekerjanya, sementara dari segi pengelolaan hasil produksi akan terikat dengan hukum-hukum jual beli dan perdagangan luar negeri.

Dari uraian di atas kita menyadari sebagai seorang Muslim dan pengusaha sudah selayaknya mempelajari aspek-aspek akad dan transaksi berdasarkan hukum syariat Islam dengan detil, mengingat perkembangan dunia usaha dan manufaktur yang semakin kompleks dan luas.

 
Ketika Komunikasi Tahan Sadapan PDF Print E-mail
Tuesday, 26 November 2013 15:30

Dr. Fahmi Amhar

Baru saja tak cuma negeri kita terkena isu penyadapan oleh intelijen asing – bahkan kanselir Jerman pun berang pada Amerika Serikat yang dituduh menyadapnya.  Dan itu sebenarnya bukan hal yang baru, bahwa setiap negara memiliki dinas mata-mata, yang salah satu tugasnya adalah memata-matai negara lain, baik kawan apalagi lawan – karena yang dulu kawan pun bisa saja di kemudian hari menjadi lawan yang lebih berbahaya.

Penyadapan bisa dilakukan dengan berbagai cara.  Ada yang dengan menanam suatu mikrofon amat kecil lengkap dengan pemancar radionya di dekat target yang mau disadap.  Alat ini bisa ditaruh tanpa mencurigakan di kamar hotel, ruang rapat atau kendaraan target.  Untuk kendaraan, kadang ditaruh GPS amat kecil – juga berpemancar – sehingga gerak gerik target bisa diikuti.

Yang sedikit lebih rumit adalah menyadap lalu lintas komunikasi.  Penyadap perlu melacak frekuensi sinyal yang digunakan.  Kalau komunikasi itu menggunakan internet, maka perlu mendeteksi lewat komputer mana saja email atau data itu mengalir.  Bukan soal yang mudah.  Karena itu, Amerika sampai mempekerjakan ribuan ahli matematika dan telematika untuk urusan sadap menyadap ini.

Timbul pertanyaan, apakah fenomena ini di masa lalu pernah terjadi dalam sejarah Islam?  Daulah Islam di masa lalu mencakup wilayah yang sangat luas, membentang dari tepian Atlantik hingga tepian Pasifik, dari pegunungan Ural sampai gunung Kilimanjaro.  Bagaimana cara-cara mereka dulu berkomunikasi, menyebarkan informasi dan membangun masyarakat yang beradab, kuat dan bermartabat dengan teknologi yang ada saat itu?  Bagaimana mereka melindungi komunikasi mereka saat itu agar tidak jatuh ke tangan yang salah?  Sejauh apa kontribusi ilmuwan Muslim dalam melindungi saluran komunikasi dari penyadapan?

Dalam hal penyaluran atau transmisi informasi, pada abad pertengahan, komunikasi jarak jauh dilakukan dengan kurir berkuda, burung merpati pos atau dengan sinyal-sinyal api.  Kurir berkuda atau merpati pos memerlukan waktu tempuh 50 km/jam atau 120 km/jam dan setelah beberapa waktu harus dilakukan estafet.  Sinyal api dapat bergerak lebih cepat, namun memerlukan menara-menara yang dibangun di puncak-puncak gunung atau setiap jarak 30 kilometer dengan petugas jaga untuk menerima dan meneruskan sinyal.  Namun karena kapasitas informasinya terbatas, sinyal api memerlukan perjanjian terlebih dulu tentang makna di balik setiap sinyal.

Setiap transmisi informasi ada peluang disadap oleh pihak yang tidak berhak.  Karena itu para ilmuwan Muslim juga mendalami teknik untuk merahasiakan pesan, sehingga sekalipun informasi jatuh ke pihak asing, mereka tidak mampu memahaminya.  Sekitar 850-M, al-Kindi menulis makalah tentang mengunci dan membuka pesan terenkripsi.  Inilah dasar cryptography.  Pekerjaan ini dimungkinkan setelah tahun 820-M al-Khawarizmi merumuskan metode memecahkan persamaan linear dalam kitabnya al-Jabar wal Muqabalah.  Lalu pada 825-M beliau menulis cara menggunakan angka India.  Buku ini yang tersisa adalah edisi bahasa Latin yang berjudul Algoritmi de numero Indorum.  Dari sinilah muncul istilah “algoritma” – yang semula adalah kesalahan dari penerjemahnya ketika menyangka nama penulisnya (al-Khawarizmi) adalah bagian dari judul dari buku tersebut.  Kini istilah algoritma adalah istilah paling lazim dalam setiap pemrograman komputer.  Tentang mesin yang dapat diprogram itu sendiri, pada 1206-M, al-Jazari sudah menciptakan mesin orkestra yang dapat diprogram, meski masih digerakkan oleh manusia atau tenaga air.

Teknologi kominfo saat ini juga tak akan lepas dari penggunaan gelombang elektromagnetik.  Sesungguhnya dasar-dasar elektromagnetik dibuat oleh ibn al-Haytsam (Alhazen) yang pada 1021-M menerbitkan bukunya tentang teori cahaya yang menjadi dasar lebih lanjut para fisikawan mempelajari gelombang elektro-magnetik.

Penggunaan satu kanal cahaya atau gelombang elektromagnetik sebagai medium komunikasi dalam waktu singkat menunjukkan keterbatasan kapasitasnya.  Untuk itu informasi perlu dipampatkan (dikompres).  Di zaman modern, teknologi CDMA adalah contoh bagaimana kapasitas kanal bisa diperbesar dengan pemampatan terkode (Code Division Multiple Access).  Dasar-dasar teknik pemampatan ini diletakkan pada sekitar tahun 1400-M oleh Ahmad al-Qalqasyandi, yang memberikan daftar kunci dalam kitabnya “Subh al-a’sya” yang mencakup baik substitusi maupun transposisi, dan untuk pertama kalinya suatu kunci dengan substitusi ganda untuk sembarang teks terbuka.  Ini adalah dasar analisis frekuensi yang dipakai untuk kompresi data dalam komunikasi modern.

Dengan demikian, meski ketika negara khilafah tegak, komunikasi radio belum ditemukan, apalagi komputer dan internet, namun para ilmuwan Muslim telah membangun dasar-dasar bagi suatu revolusi komunikasi dan informasi di kemudian hari.  Dan meski dalam ukuran sekarang teknologi saat itu masih cukup sederhana, namun negara khilafah telah menggunakannya secara efisien dan efektif untuk mengumpulkan informasi, menyalurkannya ke segala penjuru secara aman, mengelolanya menjadi asset pengetahuan yang rapi, dan menyebarkan ke masyarakat sehingga masyarakat menjadi cerdas.

Bukti tak terbantahkan dari itu semua adalah bahwa saat itu negara khilafah menjadi negara paling luas, paling kuat, paling beradab dan paling bermartabat selama beberapa abad. (Mediaumat.com, 26/11/2013)

 

 

 

 


Page 22 of 492

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved