MediaUmat.com
[122] Membiasakan Anak Meminta Maaf PDF Print E-mail
Sunday, 23 March 2014 09:31

Assalamualaikum Wr Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati,  saya ibu dari dua putri. Putri saya yang pertama usia 3 tahun 4 bulan, adiknya 9 bulan. Bagaimana cara membiasakan anak pertama saya untuk berani dan mau minta maaf jika melakukan kesalahan. Karena selama ini, dia susah sekali bahkan cenderung tidak mau minta maaf. Jika disuruh minta maaf selalu menangis. Padahal saya selalu mencontohkan kalau saya melakukan kesalahan segera meminta maaf. Mohon saran ya. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr Wb

NH

Jatim

Waalaikumsalam Wr.Wb

Ibu NH yang baik,

Satu hal yang terkadang berat dilakukan, dan cukup melekat  pada diri seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain adalah meminta maaf atau memaafkan. Sebagai orang tua, tentu tidak ingin anak-anak kita berat melakukan dua hal tersebut. Meminta maaf, akan membantu anak belajar berjiwa besar dan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dilakukannya. Dengan meminta maaf dapat membantu anak untuk mengenali dirinya, menjalin hubungan baik dengan teman-temannya, dan memberikan pengajaran untuk empati dan bertanggung jawab pada tindakannya. Jika sejak kecil anak  sudah sering menunjukkan keengganannya untuk meminta maaf, maka hal itu bisa menjadi benih-benih arogansi dan superioritas yang akan tumbuh hingga ia dewasa.

Ibu NH yang baik,

Usia dini adalah masa pembentukan. Anak mengamati lingkungan sekitarnya, mencontoh  berbagai perilaku, belajar dari berbagai pembiasaan, menyimak berbagai fenomena serta belajar memaknai berbagai hal yang salah dan yang benar dari berbagai konteks. Untuk memasuki kehidupan bersosial, setiap anak  harus memiliki bekal tentang bagaimana caranya bersosial yang baik. Salah satunya adalah dengan memiliki kesadaran untuk saling memaafkan. Keluarga merupakan tempat belajar pertama buat anak, maka meminta maaf dan memaafkan juga mesti dibiasakan dalam lingkungan keluarga. Apa yang Anda lakukan selama ini sudah tepat. Memberikan contoh pada ananda, langsung meminta maaf ketika Anda melakukan kesalahan.

Ibu NH yang baik,

Tumbuhkan sikap empati pada anak. Empati adalah sebuah perasaan merasakan apa yang dialami orang lain. Misalkan jika ananda memukul teman atau adiknya, maka katakan padanya, “Teman kamu sampai menangis, mungkin pukulanmu membuatnya sakit. Kamu mau tidak  dipukul sama teman kamu seperti itu?”.  Dengan pertanyaan seperti itu, ananda akan merenungi ucapan Anda, dan memikirkan bagaimana seandainya kalau dia yang dipukul. Ini akan membuatnya berpikir bahwa apa yang dilakukannya menyakiti temannya, dan akan mendorongnya untuk meminta maaf. Ada kalanya anak enggan meminta maaf karena tidak mengerti bagaimana caranya. Perkenalkan berbagai cara meminta maaf pada ananda. Jika ananda enggan meminta maaf secara langsung dengan mengucapkan kata maaf, maka Anda bisa memperkenalkannya tentang berbagai cara meminta maaf yang lain. Seperti mengganti mainan yang dirusaknya, bersalaman, mengajak teman bermain kembali dan sebagainya.

Ibu NH yang baik.

Berikan reward yang membangun ketika ananda akhirnya mau meminta maaf. Bentuk reward yang diberikan bisa apa saja, meski sederhana. Seperti,  mengacungkan jempol, menjabat tangannya, mengucapkan selamat, meraih dan memeluk tubuhnya, dan lain-lain. Bila ananda masih kesulitan juga untuk meminta maaf terhadap kesalahan yang telah diperbuatnya, coba jelaskan bahwa dengan meminta maaf akan mendekatkan hubungan pertemanan dengan siapapun, termasuk dengan teman-teman sebayanya. Banyak teman itu akan menyenangkan. Meminta maaf juga perbuatan yang mulia. Memang tidak mudah mengajarkan anak hingga ia sadar bahwa meminta maaf itu harus disegerakan. Sampai akhirnya dengan sendirinya anak akan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya dan bertanggung jawab untuk meminta maaf tanpa harus diminta atau diarahkan. Dengan upaya dan kesabaran, insya Allah akan berhasil. Semoga Anda diberi kemudahan dalam membimbing ananda.

 
[123] Mencari Predikat Kota Syariah PDF Print E-mail
Monday, 07 April 2014 10:50

Dr. Fahmi Amhar

Sekarang syariah sudah mulai “nge-trend”.  Di mana-mana orang sudah semakin tidak “phobi” atau “risih” dengan label syariah. Sudah semakin banyak bank atau asuransi berlabel syariah.  Bahkan hotel dan restoran syariah pun muncul bak cendawan di musim hujan.

Tentu saja orang masih bisa berdebat sejauh mana syariah benar-benar ada pada lembaga-lembaga itu.  Maka sudah saatnya dirumuskan indikator suatu hal disebut “sesuai syariah”, agar pelabelan itu bisa terukur, sehinga yang sudah bisa dipertahankan, dan yang kurang bisa dilengkapi.

Maka lalu muncul pertanyaan, seperti apa “kota syariah” itu?  Apakah sekadar kota yang tak ada maksiat di dalamnya?  Tak ada lokalisasi pelacuran, tak ada miras, tak ada judi, tak ada diskotik atau “salon aneh-aneh”?  Atau kota syariah adalah sebuah kota yang “menggiring” (tak cuma memfasilitasi) seluruh warganya agar melaksanakan seluruh syariah?

Beberapa walikota di Indonesia mendapat penghargaan internasional atas keberhasilannya membangun kota yang lebih humanis, kota yang tidak dilalap oleh gegap gempita investasi, kota yang juga untuk mereka yang lemah dan kurang beruntung.  Sedang kota syariah adalah sebuah kota yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat mudah semua orang untuk selamat agamanya; sehat fisik, jiwa dan sosialnya; meningkat ilmu dan kecerdasannya; berkah rezekinya; dan mereka dapat meninggalkan dunia dengan khusnul khatimah.

Tentu saja, kota syariah pasti bukan kota yang setiap hari dihantui kesemrawutan atau kemacetan di jalanan, banjir setiap musim hujan, kumuh permukimannya, tidak aman jalanannya dan rawan terhadap bencana apa saja.

Kuncinya adalah usaha tak pernah henti untuk merencanakan kota dengan baik, melaksanakan rencana dan mengawasinya supaya tidak ada pelanggaran.  Ada banyak teknologi yang dapat dilibatkan agar penataan kota itu berjalan optimal.  Dan ini pernah dilakukan di kota-kota besar Khilafah Islam seribu tahun yang lalu!

Seribu tahun yang lalu, tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk di atas 100.000 jiwa.  Menurut para sejarahwan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad di Iraq memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M.  Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa.  Peringkat kedua diduduki oleh Cordoba di Spanyol yang saat itu juga wilayah Islam dengan 500.000 jiwa dan baru Konstantinopel yang saat itu masih ibu kota Romawi-Byzantium dengan 300.000 jiwa.

Namun sebagaimana laporan para pengelana Barat, baik Baghdad maupun Cordoba adalah kota-kota yang tertata rapi, dengan saluran sanitasi pembuang najis di bawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih dan diberi penerangan pada malam hari.  Ini kontras dengan kota-kota di Eropa pada masa itu, yang kumuh, kotor dan di malam hari gelap gulita, sehingga rawan kejahatan.

Pada 30 Juli 762 M Khalifah al-Mansur mendirikan kota Baghdad.  Al-Mansur percaya bahwa Baghdad adalah kota yang akan sempurna untuk menjadi ibu kota Khilafah.  Al-Mansur sangat mencintai lokasi itu sehingga konon dia berucap, “Kota yang akan kudirikan ini adalah tempat aku tinggal dan para penerusku akan memerintah”.

Modal dasar kota ini adalah lokasinya yang strategis dan memberikan kontrol atas rute perdagangan sepanjang sungai Tigris ke laut dan dari Timur Tengah ke Asia.  Tersedianya air sepanjang tahun dan iklimnya yang kering juga membuat kota ini lebih beruntung daripada ibukota khilafah sebelumnya yakni Madinah atau Damaskus.

Namun modal dasar tadi tentu tak akan efektif tanpa perencanaan yang luar biasa.  Empat tahun sebelum dibangun, tahun 758 M al-Mansur mengumpulkan para surveyor, insinyur dan arsitek dari seluruh dunia untuk datang dan membuat perencanaan kota.  Lebih dari 100.000 pekerja konstruksi datang untuk mensurvei rencana-rencana. Banyak dari mereka disebar dan diberi gaji untuk langsung memulai pembangunan kota.  Kota dibangun dalam dua semi-lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer.  Bulan Juli dipilih sebagai waktu mulai karena dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah percaya bahwa itu saat yang tepat, karena air Tigris sedang tinggi, sehingga nantinya kota dijamin aman dari banjir.  Memang ada sedikit astrologi di situ, tetapi itu bukan pertimbangan utama.  Batu bata yang dipakai untuk membangun berukuran sekitar 45 centimeter pada seluruh seginya.  Abu Hanifah adalah penghitung batu bata dan dia mengembangkan sistem kanalisasi untuk membawa air baik untuk pembuatan batu bata maupun untuk kebutuhan manusia.

Setiap bagian kota yang direncanakan untuk jumlah penduduk tertentu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.  Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan.  Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.  Negara dengan tegas mengatur kepemilikan tanah berdasarkan syariat Islam. Tanah pribadi yang ditelantarkan lebih dari tiga tahun akan ditarik kembali oleh negara, sehingga selalu tersedia dengan cukup tanah-tanah yang dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum.

Namun perencanaan kota juga memperhatikan aspek pertahanan terhadap ancaman serangan.  Ada empat benteng yang mengelilingi Baghad, masing-masing diberi nama Kufah, Basrah, Khurasan dan Damaskus, sesuai dengan arah gerbang untuk perjalanan menuju kota-kota tersebut.  Setiap gerbang memiliki pintu rangkap yang terbuat dari besi tebal, yang memerlukan beberapa lelaki dewasa untuk membukanya.

Tak heran bahwa kemudian Baghdad dengan cepat menutupi kemegahan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia yang terletak 30 kilometer di tenggara Baghdad, yang telah dikalahkan pada perang al-Qadisiyah pada tahun 637.  Baghdad meraih zaman keemasannya saat era Harun al Rasyid pada awal abad 9 M.

Kejayaan Baghdad baru surut pasca serangan Tartar pada tahun 1258 M, yang terjadi setelah ada pengkhianatan di antara pejabat Khilafah.  Serangan ini berakibat terbantainya sekitar 1,6 juta penduduk Baghdad dan musnahnya khazanah ilmu yang luar biasa setelah buku-buku di perpustakaan Baghdad dibuang ke sungai Tigris, sampai airnya hitam.  Nyaris 8 abad kemudian pemboman Amerika “menyelesaikan” penghancuran bangunan megah yang masih tersisa di kota 1001 malam ini.

 
[124] Clean Corporate Culture (C3) Dengan Perspektif Alqurán PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:28

Oleh : Wari Albantany

Ketua Lajnah Khusus Pengusaha DPD I Provinsi Banten/IT Preneurs

Ada pandangan yang berkembang di kalangan sebagian orang yang menyatakan mempertahankan perusahaan lebih sulit dibandingkan saat membangunnya. Hal itu terjadi karena menurunnya ritme kerja dari owner dan karyawan terutama karyawan senior, munculnya berbagai masalah kerja maupun cashflow perusahaan yang menimbulkan stressing juga kebosanan. Bila ini terjadi maka hal tersebut merupakan titik balik dari sebuah usaha menuju titik nol, dan siapapun orangnya tidak menginginkan hal ini terjadi padanya. Untuk itu berbagai cara dan langkah diupayakan agar dapat mempertahankan perusahaannya.

Muslim Preneurs yang dirahmati Allah SWT

Semua pengusaha ingin sukses, keuntungan besar, skala bisnis meningkat, menaikkan jumlah pelanggan, area pemasaran bertambah, nilai omset naik dan aset bertebaran di mana-mana.

Untuk itu berbagai cara dan metode dilakukan tak terkecuali ilmu bisnis yang selalu diperbaharui (update) baik melalui buku ataupun yang populer adalah pelatihan bisnis (Business Coach) penambahan ilmu bisnis yang memacu dan mengasah ketrampilan berbisnis (business skill) tumbuh subur bak jamur di tanah subur metode, teori serta istilah yang bebeda-beda tergantung siapa yang menyajikannya.

Tentunya bagi kita seorang Muslim tidak sebatas bisnis sukses untung besar semata, namun kebarakahan serta ketentraman dan ketenangan perlu kita dapatkan. Dalam tataran teknis, keberhasilan bisnis bergantung dari upaya yang kita lakukan termasuk kaidah kausalitasnya.

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”(TQS. An-Najm  [53]; 39)

Clean Corporate Culture (C3) adalah istilah yang tidak ada dalam kamus teori bisnis.  Istilah ini adalah istilah yang saya buat sendiri, landasan dasar C3 ini adalah iman kepada Allah SWT. Dan penerapan C3 akan mendatangkan kebaikan di dunia juga kebaikan di akhirat karena landasan amalnya adalah tauhidullah. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam membangun C3 adalah:

Pertama, tanamkan dalam diri kita sebagai pembuat kebijakan baik owner maupun top management serta level pelaksana bahwa tugas utama kita adalah ibadah kepada Allah SWT,  dasarnya dan seluruh potensi sumberdaya baik jiwa dan harta hanyalah untuk Allah SWT. Lihat QS Adzariyat ; 56 dan QS al-An’ám 162-163.

Kedua, tanamkan dalam diri kita semangat menjadi para pembuka pintu kebaikan, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain dari level atas hingga pelaksana serta aplikasi dari “Khairunnas Anfaúhum linnas”. Dasarnya adalah QS. Al-Insyirah , Hadits Bukhari dan Muslim.

Ketiga, internalisasi dalam diri mulai dari owner hingga pelaksana budaya kerja keras (etos kerja), inovasi terus menerus, perbaikan terus menerus, rajin, kerja paripurna, tidak malas, bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah. Lihat QS. Al-Qashash: 77 dan QS. Al-Jumuáh: 9-11.

Keempat, sosialisasikan terus dan implementasikan budaya transparansi, hindari konflik hati berkepanjangan, kikis penyakit hati di antara karyawan (hasud, iri , riya , dengki) dengan pendekatan tazkiyatun nufs serta hindari politik belah bambu di antara karyawan saling menjatuhkan di antara yang lain, dan memuji yang lain (baca; bermuka dua)  serta selesaikan dengan pendekatan obyektivitas bila terdapat kesalahan. Juga sampaikan tentang amalan-amalan tertinggi manusia yakni dakwah Islam, karena sejarah mencatat peranan para pengusaha serta para stafnya yang berhasil menyebarkan dakwah Islam lewat tangan para pedagang. Lihat QS. Yunus: 57, QS. Al-Isra: 82,

Kelima, bersama staf mendakwahkan Islam, senantiasa berdoa serta segala ikhtiar yang mendatangkan ridha Allah SWT agar Allah memberikan kemudahan dan terjadinya momentum keajaiban (miracle momentum) dikarenakan kesalihan individu-individu perusahaan baik top management hingga level pelaksana.

Keenam, berjual beli dengan Allah SWT dalam bentuk mengorbankan harta untuk membantu suksesi dakwah Khilafah Islamiyah, karena salah satu hal yang dibolehkan seorang iri pada manusia adalah iri kepada seorang yang dikaruniai harta ia dermawan dan membelanjakannya dijalan Allah SWT.

Banyak lagi metode-metode lainnya terkait pembahasan ini. Satu kesimpulannya, apapun bentuk aktifitas yang bila didalamnya diwarnai dengan Alquran maka akan menjadi harum, laksana sebuah gelas yang diisi minyak wangi maka akan menebarkan keharuman di sekelilingnya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

 

 

 

 

 

 
[124] Yesus Bukan Kristen PDF Print E-mail
Saturday, 19 April 2014 23:54

Judul ini pasti membuat rasa penasaran bagi umat Islam, ‘kalau bukan Kristen, lalu apa?’. Atau jika yang membaca umat Kristen, pasti menuai sikap kontroversi. Walaupun demikian, siapa yang membaca semoga membuka wawasan, menuntun pada kebenaran.

Semua pengikut Yesus pasti mengakui bahwa mereka beragama Kristen. Tetapi apakah ada di antara mereka bisa memberikan bukti atau menunjukkan ayat-ayat yang tertulis di dalam Bibel bahwa Yesus beragama Kristen?

Akan sangat mengejutkan bahwa ternyata dalam Bibel, sama sekali tidak akan kita jumpai pengakuan Yesus bahwa dia beragama Kristen. Jika Yesus bukan beragama Kristen, lalu apa agama Yesus? Dan jika Yesus bukan beragama Kristen, mengapa orang-orang yang mengaku pengikut Yesus beragama yang bukan agama Yesus?

Banyak umat Kristiani tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Yesus bukan beragama Kristen dan yang menamakan agama itu `Kristen’ bukan Yesus, tapi Barnabas dan Paulus (Saulus) di Antiokhia.

Perhatikan ayat-ayat Alkitab dibawah ini :

Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,  karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.  Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.  Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. (Kisah Para Rasul 11:23-26)

“Di Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen”. Ayat di atas membuktikan bahwa yang menamakan agama itu ‘Kristen’ bukan Yesus. Tetapi Barnabas dan Paulus. Dan hal ini dilakukan di sebuah daerah yang bernama Antiokhia, di daerah Turki. Sedangkan Yesus tinggal di Palestina dan murid-muridnya pun di Palestina.

Seumur hidupnya Yesus tidak pernah mengajarkan bahwa risalah yang dibawanya bernama Kristen. Yesus tidak membawa agama baru. Yesus menegaskan berkali-kali bahwa dia hanya adalah seorang nabi yang meneruskan ajaran para nabi sebelumnya.

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku (Yesus) datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (Matius 5:17)

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5:18)

Bahkan lebih tegas lagi Yesus mengancam, barang siapa yang berani mengubah-ubah ayat-ayat dalam Kitab Taurat maka orang tersebut akan masuk neraka (tempat terendah di  Kerajaan Sorga/akhirat)

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:19), (Matius 5:20)

Sementara Paulus dan Barnabaslah memberi nama ‘Kristen’ terhadap agama yang mereka bentuk, yaitu sekitar tahun 42 M.

Di dalam Alquran, tidak dijumpai satu pun kata ‘Kristen’, yang ada kata ‘Nashara’. Umumnya umat Islam dan Kristen mengetahui bahwa Nashara adalah berasal dari nama kota kelahiran Yesus, Nazareth.

 

Tapi ada data yang mengejutkan bahwa, tidak ada nama kota Nazareth di abad 1 M. 
Josephus (37-100 M) adalah seorang sejarawan Yahudi. Ia telah mencatat nama 45 kota di Galilee. Namun ia sama sekali tidak menyebut sebuah kota bernama kota Nazareth. 
Talmud tidak mencatat ada sebuah nama kota bernama Nazareth di abad 1 M, artinya tidak ada nama kota Nazareth di zaman Yesus.

Jika memang Nazareth adalah sebuah tempat kelahiran seorang nabi yang namanya akan terus diingat sepanjang zaman, maka mustahil nama tempat ini terlewatkan dalam Perjanjian Lama.

Apakah Nasrani adalah sebuah agama? Kita simak lagi ayat Matius 5:17, Yesus tidak membawa ajaran baru. Tapi justru menguatkan, meluruskan risalah yang telah dibawa oleh Nabi Musa as, meluruskan dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

 

 
[124] Menjadi Mualaf di Amerika Tidaklah Mudah PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:46

Meskipun Will Caldwell dilahirkan, dibesarkan dan berpendidikan perguruan tinggi di Georgia, namun dia merasa tidak nyaman beribadah di sana.

Seperti yang ditulis www.huffingtonpost.com (20/2), perasaan tidak nyaman seperti itu muncul dari pengalaman yang tidak mengenakkan. Suatu malam di  musim panas yang cerah tahun 2007, di sebuah pompa bensin di suatu negara bagian di antara Savannah dan Macon, Caldwell sedang dalam perjalanan pulang ke Saint Simons Island dari Emory University. Dia baru saja menyelesaikan tahun pertama kuliahnya. Caldwell memasukkan Mini Cooper merahnya  ke rest area. Saat itu matahari mulai terbenam, karena dia telah memeluk agama Islam, itu berarti saatnya menjalankan shalat Maghrib.

Di sebidang tanah kosong di sebelah pompa bensin itu, dia menemukan sebuah sudut, lalu mulai membentang sajadahnya. Setelah takbir, dia mulai melafalkan ayat-ayat suci, berdiri untuk melakukan shalat di rakaat pertama, ruku’, hingga sujud. Saat itu dia melihat dua orang sedang memperhatikannya, diam-diam mengintip dari balik truk mereka.

Caldwell merasa gelisah  dan terpaksa mempercepat shalatnya, melipat sajadah dan kembali ke mobil lalu pergi. Saat dia pergi, dia bisa melihat dari kaca spion belakangnya sebuah mobil polisi masuk ke tempat parkir. Orang-orang yang tadi menatapnya memberi isyarat kepada polisi itu dan menunjuk ke Caldwell. Dia lalu menjalankan kendaraanya dengan kecepatan sedang, dia melihat polisi tidak mengikutinya. Namun sejak itu dia mulai berpikir ulang untuk melakukan hal yang sama, shalat di tempat umum di wilayah selatan.

Caldwell orang yang lembut bicaranya. Dia berhenti sejenak untuk berpikir sebelum berbicara dan kadang-kadang berhenti di antara kalimat-kalimatnya ketika berbicara. Dia memakai baju kemeja kotak-kotak, kacamata yang kecil bulat dan kendur, dengan berbingkai kawat. Matanya yang hijau menatap keluar dengan tatapan serius dengan wajah putih​nya yang kekuningan.

Siapapun yang bertemu dengannya akan merasa bahwa dia adalah orang baik dan relijius. Mungkin ini justru itulah kesalahannya yang fatal. Setelah tumbuh di Gereja Episkopal, Caldwell menemukan kembali spiritualitas dalam Islam dan memutuskan untuk menjadi mualaf. Sekarang, kurang seratus mil dari tempat dia dibesarkan, orang-orang melihat cara shalat Caldwell sebagai ancaman potensial. Mengapa hal ini terjadi?

"Konteks politik kita sangat penuh dengan retorika anti-Muslim sehingga hampir tidak mungkin, saya katakan demikian, menjadi mualaf tanpa memiliki konsekuensi politik bahkan jika seorang mualaf sama sekali tidak bermaksud melakukan hal itu," kata Brannon Ingram, seorang profesor studi agama di Universitas Northwestern yang mengkhususkan diri dalam Islam dan tasawuf.

Dalam kondisi maraknya retorika anti Islam, pantas Muslim Amerika kerap mengalami diskriminasi. Pada tahun 2013, Pew Research Center for People & Press Study menemukan fakta berdasarkan hasil surveinya , 45 persen orang Amerika percaya bahwa umat Islam mengalami banyak diskriminasi.

Sentimen negatif tentang Muslim seringkali mengaitkan Islam dengan radikalisme dan terorisme. Ironisnya, retorika anti Islam ini justru dibangun oleh lembaga resmi negara seperti kepolisian. Sebuah dokumen tahun 2007 yang ditulis oleh Departemen Kepolisian New York berjudul "Radikalisasi di Barat: Ancaman di Dalam Negeri”, menjadi salah satu bukti.

Dalam dokumen itu dikatakan ideologi jihadis adalah pendorong yang memotivasi para pemuda dan kaum perempuan, yang lahir atau tinggal di Barat, untuk melaksanakan jihad sendiri melalui tindakan terorisme terhadap negara-negara di mana mereka tinggal.

Karena anggapan khas “Islamophobia “ seperti ini  polisi melakukan pengawasan atas masjid-masjid di New York City dan komunitas Muslim. Polisi memanfaatkan informan, pemetaan lingkungan, foto-foto dan rekaman video. Ketika American Civil Liberties Union menangkap kebijakan ini pada bulan Juni 2013, mereka menggugat NYPD.

Jauh Dari Agama

Pindah agama ke agama apapun tampaknya semakin tidak normal mengingat negara Paman Sam ini semakin menjauh dari agama. Menurut sebuah studi Pew Research, jumlah orang Amerika yang tidak mengafiliasikan dirinya dengan agama terus meningkat. Naik sebesar 5 persen dalam lima tahun terakhir, dari 15,3 persen di 2007 menjadi 19,6 persen di tahun 2012.

Di lain sisi, jumlah Muslim di Amerika Serikat meningkat. Dalam tujuh tahun setelah serangan 11/9 di World Trade Center tahun 2001, populasi Muslim Amerika tumbuh dari 1.104.000 menjadi 1.349.000 berdasarkan sensus tahun 2012. Dan menariknya, Pew Forum on Religion & Public Life menemukan bahwa 40 persen Muslim Amerika justru tidak dibesarkan dengan agama Islam. Tapi mereka menjadi lebih dekat dengan Islam setelah dewasa.

Untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman ini, sebagian mualaf membentuk kelompok-kelompok mereka sendiri. Salah satunya adalah Ta'leef Collective. Kelompok ini didirikan untuk membantu orang yang baru masuk Islam dan calon mualaf. Ta'leef membuka kelas, diskusi dan kelompok pendukung. Kantor pusatnya terletak di Fremont, California. Kelompok ini membuka Cabang Chicago tahun 2012. Ta'leef menjauh dari media karena takut media akan menggambarkan mereka dengan buruk. (rz/)

 

 

 

 


Page 22 of 604

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved