MediaUmat.com
[117] Allah Maha Penerima Tobat PDF Print E-mail
Wednesday, 19 February 2014 07:27

Bukti-bukti kecintaan Allah SWT kepada para hamba-Nya, sebagaimana disebutkan di dalam Alquran, amatlah banyak. Di antara bukti yang paling penting adalah penerimaan Allah SWT atas tobat para pelaku maksiat, pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, keridhaan-Nya kepada mereka dan kecintaan-Nya kepada mereka setelah sebelumnya Dia membenci mereka. Allah SWT berfirman (yang artinya): Memohon ampunlah kalian kepada Tuhan kalian karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun (TQS Nuh: [70]: 10); Siapa saja yang melakukan kesalahan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, pasti ia akan mendapati Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (TQS an-Nisa’ [4]: 110); Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus-asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS az-Zumar [39]: 53); Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemilik ampunan bagi manusia yang telah menzalimi diri mereka sendiri (TQS ar-Ra’du [13]: 6); Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (TQS al-Baqarah [2]: 222).

Beberapa ayat di atas dan ayat-ayat lain yang semisalnya menunjukkan bahwa Allah SWT membentangkan tanganNya dengan penuh rahmat dan kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya untuk menerima tobat mereka sekaligus menghapus kesalahan-kesalahan mereka.

Di antara rahmat Allah SWT adalah Dia akan menukar berbagai dosa dan kesalahan hamba-Nya yang bertobat dengan berbagai kebaikan sebagai balasan kepada dirinya yang telah mau bertobat dan kembali ke haribaan-Nya.

Allah SWT tidak suka menghukum dan menyiksa  kaum Mukmin. Allah SWT bahkan amat mengasihi dan menyayangi orang-orang Mukmin yang bertobat kepada-Nya. Secara hakiki Allah SWT tidaklah membenci hamba-Nya kecuali hamba-hamba-Nya yang kafir dan tetap dalam kekafirannya, para pelaku maksiat yang terus-menerus dalam kemaksiatan mereka dan orang-orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan dosa dan keharaman.

Karena itulah, Allah SWT telah menyeru manusia agar bersegera untuk bertobat dari dosa-dosa mereka sekaligus memohon ampunan kepada-Nya. Seruan ini merupakan bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada para hamba-Nya. Di dalam sebuah hadits qudsi penuturan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah SWT telah berfirman: Wahai hamba-Ku, kalian melakukan dosa siang-malam, sementara Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Karena itu, memohon ampunlah kalian kepada diri-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian (HR Muslim).

Allah adalah Maha Penerima tobat. Ampunan-Nya amat luas. Karena itu, tidak seorang pun layak berputus asa dari rahmat dan kasih-sayang Allah SWT. Tangan Allah SWT selalu terbuka bagi orang-orang yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Karena itulah, seseorang tidak selayaknya mendahului Allah SWT dengan menyatakan kepada pelaku dosa bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni dosanya. Rasulullah SAW sebagaimana dituturkan oleh Jundab ra, pernah bersabda, “Sesungguhnya pernah ada seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Lalu Allah SWT berfirman kepada orang itu, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku dengan menyatakan bahwa Aku tidak akan mengumpuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengumpuni dia dan membatalkan amal kamu.’” (HR Muslim).

Terkait hadits di atas, Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani menyatakan bahwa Allah SWT membatalkan pahala seluruh amal orang itu karena murka terhadap orang tersebut. Pasalnya, dia telah menghalangi seseorang dari luasnya rahmat dan ampunan Allah SWT dan dia tidak menyukai untuk hamba-Nya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri (dalam hal ini ampunan Allah SWT, pen). (Ibn ad-Diba’ asy-Syaibani, Mukaffirat ad-Dzunub wa Mujibat al-Jannah, I/8).

Tentang betapa luasnya ampunan Allah SWT, Anas bin Malik ra berkata bahwa ia pun pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu berdoa dan berharap kepada diri-Ku. Aku pun telah mengampuni dosamu dan aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, andai dosa-dosamu setinggi  langit, lalu kamu memohon ampunan kepada diri-Ku, Aku pasti akan mengampuni kamu atas dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, andai kamu mendatangi Aku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu kamu datang kepada diri-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan apa pun, Aku pasti akan mendatangi kamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR at-Tirmidzi).

Anas bin Malik ra pun menuturkan bahwa Rasulullah SAW  pernah bersabda, “Allah itu amat berbahagia dengan tobatnya salah seorang dari kalian saat dia bertobat. Kebahagiaan Allah (karena tobatnya seorang hamba-Nya, pen.) itu melebihi kebahagiaan seseorang di antara kalian yang mengendarai hewan di sebuah tanah lapang; hewan itu lalu lepas dan menghilang, sementara seluruh bekal makanan dan minumannya ada di atas hewan itu; ia sampai putus asa mencari hewan itu; kemudian ia berteduh di bawah sebuah pohon dalam keadaan putus asa; tetapi saat ia bangun, tiba-tiba hewan itu ada di samping dirinya dengan membawa seluruh perbekalannya sehingga ia pun amat berbahagia.” (HR Muslim dan Ahmad).

Abu Musa al-Asy’ari ra juga menuturkan bahwah Rasulullah SAW  pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah selalu membentangkan tangannya pada siang hari untuk menerima tobat para pelaku dosa pada malam harinya. Allah pun selalu membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat para pelaku dosa pada siang harinya.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW yang terpelihara (ma’sum) dari dosa sekalipun tetap memohon ampunan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda beliau, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR al-Bukhari).

Bagaimana dengan kita? [] abi

 
[122] Membiasakan Anak Meminta Maaf PDF Print E-mail
Sunday, 23 March 2014 09:31

Assalamualaikum Wr Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati,  saya ibu dari dua putri. Putri saya yang pertama usia 3 tahun 4 bulan, adiknya 9 bulan. Bagaimana cara membiasakan anak pertama saya untuk berani dan mau minta maaf jika melakukan kesalahan. Karena selama ini, dia susah sekali bahkan cenderung tidak mau minta maaf. Jika disuruh minta maaf selalu menangis. Padahal saya selalu mencontohkan kalau saya melakukan kesalahan segera meminta maaf. Mohon saran ya. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr Wb

NH

Jatim

Waalaikumsalam Wr.Wb

Ibu NH yang baik,

Satu hal yang terkadang berat dilakukan, dan cukup melekat  pada diri seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain adalah meminta maaf atau memaafkan. Sebagai orang tua, tentu tidak ingin anak-anak kita berat melakukan dua hal tersebut. Meminta maaf, akan membantu anak belajar berjiwa besar dan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dilakukannya. Dengan meminta maaf dapat membantu anak untuk mengenali dirinya, menjalin hubungan baik dengan teman-temannya, dan memberikan pengajaran untuk empati dan bertanggung jawab pada tindakannya. Jika sejak kecil anak  sudah sering menunjukkan keengganannya untuk meminta maaf, maka hal itu bisa menjadi benih-benih arogansi dan superioritas yang akan tumbuh hingga ia dewasa.

Ibu NH yang baik,

Usia dini adalah masa pembentukan. Anak mengamati lingkungan sekitarnya, mencontoh  berbagai perilaku, belajar dari berbagai pembiasaan, menyimak berbagai fenomena serta belajar memaknai berbagai hal yang salah dan yang benar dari berbagai konteks. Untuk memasuki kehidupan bersosial, setiap anak  harus memiliki bekal tentang bagaimana caranya bersosial yang baik. Salah satunya adalah dengan memiliki kesadaran untuk saling memaafkan. Keluarga merupakan tempat belajar pertama buat anak, maka meminta maaf dan memaafkan juga mesti dibiasakan dalam lingkungan keluarga. Apa yang Anda lakukan selama ini sudah tepat. Memberikan contoh pada ananda, langsung meminta maaf ketika Anda melakukan kesalahan.

Ibu NH yang baik,

Tumbuhkan sikap empati pada anak. Empati adalah sebuah perasaan merasakan apa yang dialami orang lain. Misalkan jika ananda memukul teman atau adiknya, maka katakan padanya, “Teman kamu sampai menangis, mungkin pukulanmu membuatnya sakit. Kamu mau tidak  dipukul sama teman kamu seperti itu?”.  Dengan pertanyaan seperti itu, ananda akan merenungi ucapan Anda, dan memikirkan bagaimana seandainya kalau dia yang dipukul. Ini akan membuatnya berpikir bahwa apa yang dilakukannya menyakiti temannya, dan akan mendorongnya untuk meminta maaf. Ada kalanya anak enggan meminta maaf karena tidak mengerti bagaimana caranya. Perkenalkan berbagai cara meminta maaf pada ananda. Jika ananda enggan meminta maaf secara langsung dengan mengucapkan kata maaf, maka Anda bisa memperkenalkannya tentang berbagai cara meminta maaf yang lain. Seperti mengganti mainan yang dirusaknya, bersalaman, mengajak teman bermain kembali dan sebagainya.

Ibu NH yang baik.

Berikan reward yang membangun ketika ananda akhirnya mau meminta maaf. Bentuk reward yang diberikan bisa apa saja, meski sederhana. Seperti,  mengacungkan jempol, menjabat tangannya, mengucapkan selamat, meraih dan memeluk tubuhnya, dan lain-lain. Bila ananda masih kesulitan juga untuk meminta maaf terhadap kesalahan yang telah diperbuatnya, coba jelaskan bahwa dengan meminta maaf akan mendekatkan hubungan pertemanan dengan siapapun, termasuk dengan teman-teman sebayanya. Banyak teman itu akan menyenangkan. Meminta maaf juga perbuatan yang mulia. Memang tidak mudah mengajarkan anak hingga ia sadar bahwa meminta maaf itu harus disegerakan. Sampai akhirnya dengan sendirinya anak akan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya dan bertanggung jawab untuk meminta maaf tanpa harus diminta atau diarahkan. Dengan upaya dan kesabaran, insya Allah akan berhasil. Semoga Anda diberi kemudahan dalam membimbing ananda.

 
[123] Arius Penentang Penuhanan Yesus PDF Print E-mail
Friday, 04 April 2014 23:43

Di tulisan yang lalu saya menceritakan tentang Sejarah Konsili Nicea. Sedikit mengingat apa yang telah saya sampaikan, Konsili Nicea adalah konsili yang mengundang 1800 utusan dari gereja-gereja Barat dan Timur. Mereka yang hadir terdiri atas, 1000 orang yang berasal dari Gereja Timur dan 800 dari Gereja Barat.

Namun mayoritas undangan mempunyai pandangan yang sama dengan Arius, yakni meyakini Yesus (Isa as) adalah seorang nabi, manusia biasa. Akhirnya Konstantin mengusir keluar 1482 uskup dan tersisa 318 uskup yang boleh mengikuti persidangan. Dan dari 318 uskup tersebut hanya 2 orang pengikut Arius.

Siapakah Arius?

Arius (250-336 M) adalah salah seorang murid utama Lucian berbangsa Libya yang juga bersama-sama dengan gurunya menegakkan ajaran tauhid kepada Allah. Arius merupakan seorang presbyter (ketua majelis agama/gereja) di gereja Baucalis Alexandria, salah satu gereja tertua dan terpenting di kota itu pada tahun 318 M.

Sejak wafatnya Lucian pada tahun 312 M di tangan orang-orang gereja Paulus, perlawanan Arius terhadap doktrin Trinity semakin memuncak, dan dalam perjuangannya ini, Arius mendapatkan dukungan dua orang saudara Kaisar Konstantin yang bernama Konstantina dan Licines.

Arius dianggap sebagai seorang pemberontak Trinitas dengan mendasarkan teori:

“Jika Yesus itu benar-benar anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, maka Bapa harus ada lebih dahulu. Oleh karena itu harus ada “masa” sebelum adanya anak. Artinya anak adalah makhluk. Maka anak itu pun tidak selamanya ada atau tidak abadi. Sedangkan Tuhan yang sebenarnya haruslah abadi, berarti Yesus tidaklah sama dengan Tuhan.

Atas pandangan Arius tersebut, sebanyak 100 orang pendeta Mesir dan Libya berkumpul untuk mendengar pandangan Arius. Pada waktu inilah juga Arius mengemukakan kembali pendangannya :

“Ada masa sebelum adanya Jesus, sedangkan Tuhan sudah ada sebelumnya. Yesus ada kemudian, dan Yesus hanyalah makhluk biasa yang bisa binasa seperti makhluk-makhluk lainnya. Tetapi Tuhan tidak mungkin binasa.”

Arius memperkuat pendapatnya dengan sejumlah ayat-ayat Bible seperti Yohanes 14:8, “Bapa lebih besar daripada Yesus”; Seandainya kita mengakui bahwa Yesus adalah sama dengan Tuhan, maka kita harus menolak kebenaran ayat Yohanes tersebut.

Pendapat Arius ini secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut: “Jika Yesus memang “anak Tuhan”, maka akan segera disertai pengertian bahwa “Bapak Tuhan” haruslah ada terlebih dahulu sebelum adanya sang “Anak”.”

Oleh sebab itu tentulah akan terdapat jurang waktu ketika “Anak” belum ada. Oleh karena, “Anak” adalah makhluk yang tersusun dari sebuah “esensi” atau makhluk yang tidak selalu ada. Dan Tuhan merupakan suatu zat yang bersifat mutlak, kekal, tidak terlihat dan berkuasa, maka Yesus tidak mungkin bisa menjadi sifat yang sama sebagaimana sifat Tuhan.

Argumen Arius ini tidak dapat dilawan lagi, maka mulai tahun 321 M Arius dikenal sebagai seorang Presbyter Pembangkang. Ia mendapat banyak dukungan dari uskup-uskup daerah Timur. Hal ini membuat Konstantin semakin marah.

Arius juga sangat menentang keras keputusan Nicea pada tahun 325 M, sehingga senantiasa mendapatkan tantangan dari orang-orang gereja PaulusHasil Konsili Nicea 325 M memutuskan bahwa Yesus/Isa as adalah anak tuhan. Pada tahun 336 Arius dibunuh di Constantinopel dalam satu muslihat yang licik.

Setelah pembunuhan ini segala usaha yang menentang hasil Konsili Nicea, dilawan habis-habisan. Pengikut ajaran Nabi Isa as atau kaum Nasrani atau Ahli Kitab yang tauhid, dihabisi. Pembunuhan dan pengejaran terhadap orang-orang Ahli Kitab yang tauhid ini benar-benar dilakukan oleh penguasa Romawi secara besar-besaran hingga di Barat, kaum Nasrani ini habis. Sebagian mereka berpindah ke Timur namun seiring waktu merekapun terkontaminasi oleh paham Trinitas. Hingga kini, kaum Nasrani sudah tidak ada lagi di dunia. Naskah Injil diseragamkan oleh penguasa. Naskah yang tidak sama dengan pihak gereja versi penguasa  dimusnahkan, dihapuskan di bumi Kerajaan Romawi. Inilah sejarah awal tersesatnya ajaran Kristen.

 
[122] Mencari Predikat Kota Syariah PDF Print E-mail
Sunday, 23 March 2014 09:42

Prof. Dr. Fahmi Amhar

Sekarang syariah sudah mulai “nge-trend”.  Di mana-mana orang sudah semakin tidak “phobi” atau “risih” dengan label syariah. Sudah semakin banyak bank atau asuransi berlabel syariah.  Bahkan hotel dan restoran syariah pun muncul bak cendawan di musim hujan.

Tentu saja orang masih bisa berdebat sejauh mana syariah benar-benar ada pada lembaga-lembaga itu.  Maka sudah saatnya dirumuskan indikator suatu hal disebut “sesuai syariah”, agar pelabelan itu bisa terukur, sehinga yang sudah bisa dipertahankan, dan yang kurang bisa dilengkapi.

Maka lalu muncul pertanyaan, seperti apa “kota syariah” itu?  Apakah sekadar kota yang tak ada maksiat di dalamnya?  Tak ada lokalisasi pelacuran, tak ada miras, tak ada judi, tak ada diskotik atau “salon aneh-aneh”?  Atau kota syariah adalah sebuah kota yang “menggiring” (tak cuma memfasilitasi) seluruh warganya agar melaksanakan seluruh syariah?

Beberapa walikota di Indonesia mendapat penghargaan internasional atas keberhasilannya membangun kota yang lebih humanis, kota yang tidak dilalap oleh gegap gempita investasi, kota yang juga untuk mereka yang lemah dan kurang beruntung.  Sedang kota syariah adalah sebuah kota yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat mudah semua orang untuk selamat agamanya; sehat fisik, jiwa dan sosialnya; meningkat ilmu dan kecerdasannya; berkah rezekinya; dan mereka dapat meninggalkan dunia dengan khusnul khatimah.

Tentu saja, kota syariah pasti bukan kota yang setiap hari dihantui kesemrawutan atau kemacetan di jalanan, banjir setiap musim hujan, kumuh permukimannya, tidak aman jalanannya dan rawan terhadap bencana apa saja.

Kuncinya adalah usaha tak pernah henti untuk merencanakan kota dengan baik, melaksanakan rencana dan mengawasinya supaya tidak ada pelanggaran.  Ada banyak teknologi yang dapat dilibatkan agar penataan kota itu berjalan optimal.  Dan ini pernah dilakukan di kota-kota besar Khilafah Islam seribu tahun yang lalu!

Seribu tahun yang lalu, tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk di atas 100.000 jiwa.  Menurut para sejarahwan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad di Iraq memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M.  Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa.  Peringkat kedua diduduki oleh Cordoba di Spanyol yang saat itu juga wilayah Islam dengan 500.000 jiwa dan baru Konstantinopel yang saat itu masih ibu kota Romawi-Byzantium dengan 300.000 jiwa.

Namun sebagaimana laporan para pengelana Barat, baik Baghdad maupun Cordoba adalah kota-kota yang tertata rapi, dengan saluran sanitasi pembuang najis di bawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih dan diberi penerangan pada malam hari.  Ini kontras dengan kota-kota di Eropa pada masa itu, yang kumuh, kotor dan di malam hari gelap gulita, sehingga rawan kejahatan.

Pada 30 Juli 762 M Khalifah al-Mansur mendirikan kota Baghdad.  Al-Mansur percaya bahwa Baghdad adalah kota yang akan sempurna untuk menjadi ibu kota Khilafah.  Al-Mansur sangat mencintai lokasi itu sehingga konon dia berucap, “Kota yang akan kudirikan ini adalah tempat aku tinggal dan para penerusku akan memerintah”.

Modal dasar kota ini adalah lokasinya yang strategis dan memberikan kontrol atas rute perdagangan sepanjang sungai Tigris ke laut dan dari Timur Tengah ke Asia.  Tersedianya air sepanjang tahun dan iklimnya yang kering juga membuat kota ini lebih beruntung daripada ibukota khilafah sebelumnya yakni Madinah atau Damaskus.

Namun modal dasar tadi tentu tak akan efektif tanpa perencanaan yang luar biasa.  Empat tahun sebelum dibangun, tahun 758 M al-Mansur mengumpulkan para surveyor, insinyur dan arsitek dari seluruh dunia untuk datang dan membuat perencanaan kota.  Lebih dari 100.000 pekerja konstruksi datang untuk mensurvei rencana-rencana. Banyak dari mereka disebar dan diberi gaji untuk langsung memulai pembangunan kota.  Kota dibangun dalam dua semi-lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer.  Bulan Juli dipilih sebagai waktu mulai karena dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah percaya bahwa itu saat yang tepat, karena air Tigris sedang tinggi, sehingga nantinya kota dijamin aman dari banjir.  Memang ada sedikit astrologi di situ, tetapi itu bukan pertimbangan utama.  Batu bata yang dipakai untuk membangun berukuran sekitar 45 centimeter pada seluruh seginya.  Abu Hanifah adalah penghitung batu bata dan dia mengembangkan sistem kanalisasi untuk membawa air baik untuk pembuatan batu bata maupun untuk kebutuhan manusia.

Setiap bagian kota yang direncanakan untuk jumlah penduduk tertentu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.  Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan.  Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.  Negara dengan tegas mengatur kepemilikan tanah berdasarkan syariat Islam. Tanah pribadi yang ditelantarkan lebih dari tiga tahun akan ditarik kembali oleh negara, sehingga selalu tersedia dengan cukup tanah-tanah yang dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum.

Namun perencanaan kota juga memperhatikan aspek pertahanan terhadap ancaman serangan.  Ada empat benteng yang mengelilingi Baghad, masing-masing diberi nama Kufah, Basrah, Khurasan dan Damaskus, sesuai dengan arah gerbang untuk perjalanan menuju kota-kota tersebut.  Setiap gerbang memiliki pintu rangkap yang terbuat dari besi tebal, yang memerlukan beberapa lelaki dewasa untuk membukanya.

Tak heran bahwa kemudian Baghdad dengan cepat menutupi kemegahan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia yang terletak 30 kilometer di tenggara Baghdad, yang telah dikalahkan pada perang al-Qadisiyah pada tahun 637.  Baghdad meraih zaman keemasannya saat era Harun al Rasyid pada awal abad 9 M.

Kejayaan Baghdad baru surut pasca serangan Tartar pada tahun 1258 M, yang terjadi setelah ada pengkhianatan di antara pejabat Khilafah.  Serangan ini berakibat terbantainya sekitar 1,6 juta penduduk Baghdad dan musnahnya khazanah ilmu yang luar biasa setelah buku-buku di perpustakaan Baghdad dibuang ke sungai Tigris, sampai airnya hitam.  Nyaris 8 abad kemudian pemboman Amerika “menyelesaikan” penghancuran bangunan megah yang masih tersisa di kota 1001 malam ini.

 
[123] Menjadikan Alquran sebagai Furqân PDF Print E-mail
Friday, 04 April 2014 23:49

Oleh: Rokhmat S Labib, MEI

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (TQS al-Furqan [25]: 1).

 

Sehebat apa pun manusia, manusia tetaplah makhluk yang dhaif. Ilmu yang diberikan hanya sedikit (lihat QS al-Isra’ [17]: 85). Oleh karenanya, banyak perkara yang tidak sanggup dijangkau oleh akal manusia. Termasuk di dalamnya dalam memahami kebenaran dan kebatilan, serta halal dan haram.

Oleh karena itu, manusia membutuhkan petunjuk yang memberikan panduan tersebut. Tanpa perlu meminta, dengan kemurahan-Nya Allah SWT menurunkan petunjuk itu kepada manusia. Dia mengutus para nabi dan rasul, serta menurunkan kitab-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah salah satu di antaranya. Kepada beliau, diturunkan kitab Alquran. Inilah di antara perkara penting yang diberitakan ayat ini.

 

Alquran Sebagai Pembeda

Allah SWT berfirman: Tabâraka al-ladzî nazzala al-furqân ‘alâ ‘abdihi (Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan [Alquran] kepada hamba-Nya). Ayat ini diawali dengan pujian Allah SWT kepada diri-Nya dengan menyebut sebagai Dzat yang memiliki sifat tabâraka. Ada beberapa penjelasan yang dikemukakan para mufasir tentang makna kata tersebut.

Menurut al-Syaukani dalam tafsirnya, kata tabâraka diambil dari kata al-barakah, yang berarti al-namâ wa al-ziyâdah (tumbuh dan tambah), baik dapat diindra maupun dipikirkan. Sedangkan al-Farra`, sebagaimana dikutip al-Qurthubi, mengatakan, kata tabâraka dan taqaddasa dalam bahasa Arab memiliki makna yang sama, yakni al-‘azhamah (kemuliaan, keagungan, kebesaran).

Al-Samarqandi mengemukakan, kata tabâraka merupakan kata dikhususkan. Tidak bisa dikatakan yatabâraku (dalam bentuk mudhâri’), seperti halnya tidak dikatakan yata’âlî. Tidak pula dikatakan mutabârik[un]. Menurutnya, kata tabâraka berarti dzû barakah, yang memiliki barakah. Sedangkan makna al-barakah adalah katsrat al-khayr (banyak kebaikan).

Dialah Allah SWT yang telah menurunkan al-furqân kepada ábdihi (hamba-Nya). Yang dimaksud dengan al-Furqân di sini adalah Alquran; dan ‘abdihi adalah Nabi Muhammad SAW. Demikian kesimpulan sebagian besar para mufasir.

Kata al-furqân merupakan bentuk mashdar dari kata faraqa (memisahkan). Demikian diterangkan al-Alusi dalam tafsirnya, h al-Ma’ânî.

Makna itu pula yang dapat dipahami dari kata al-furqân ayat ini. Menurut al-Syaukani, Alquran disebut sebagai al-furqân karena Alquran membedakan dan memisahkan antara yang haq dan yang batil dengan hukum-hukumnya, atau antara yang dikokohkan dan dibatalkan.

Dikatakan Imam al-Qurthubi, penyebutan Alquran sebagai al-furqân karena dua aspek. Pertama, karena membedakan antara kebenaran dan kebatilan, Mukmin dan kafir. Kedua, karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang perkara yang disyariahkan, baik yang halal maupun yang haram.

Patut dicatat, dalam ayat ini, digunakan nazzala (menurunkan). Menurut Ibnu Katsir, kata tersebut ber-wazan fa’ala dan memberikan makna al-tikrâr wa al-takatstsur (berulang-ulang dan banyak). Beberapa ayat sejalan ini adalah QS al-Baqarah [2]: 23, al-Nisa’ [4]: 136, Ali Imran [3]: 3, dan lain-lain.

Pada faktanya Alquran diturunkan secara bertahap dan terpisah-pisah, ayat demi ayat, hukum demi hukum, dan surat demi surat. Turunnya Alquran mengandung hikmah bagi orang yang diturunkan. Ini disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya: Berkatalah orang-orang yang kafir, "Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?" Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar) (TQS al-Furqan [25]: 32).

Penggunaan kata abdihi dalam ayat ini juga patut dicermati. Kata yang menunjuk kepada Rasulullah SAW tersebut mengandung sifat terpuji. Menurut Ibnu Katsir, kata ‘abdihi menyandarkan sifat ‘ubûdiyyah (penghambaan) beliau hanya kepada Allah SWT.

Pemberi Peringatan

Setelah diberitakan tentang diturunkannya Alquran kepada Rasulullah SAW, kemudian Allah SWT berfirman: Liyakûna li al-‘âlamîna nadzîr[an] (agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam). Artinya, dengan diturunkannya Alquran itu kepada Rasulullah SAW, maka beliau menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.

Kata mundzir merupakan bentuk fâ’il (pelaku) dari kata al-indzâr. Kata al-indzâr berarti ikhbâr fîhi takhwîf (pemberitahuan yang di dalamnya terdapat sesuatu yang menakutkan). Kebalikannya adalah al-tabsyîr, kabar yang menggembirakan. Demikian diterangkan al-Alusi.

Mengenai tugas Rasulullah SAW menjadi pemberi peringatan dengan Alquran juga diterangkan dalam firman Allah SWT: Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya) (TQS al-An’am [6]: 19).

Sebenarnya di dalam Alquran bukan hanya berisi nadzîr (pemberi peringatan), namun juga basyîr (pemberi kabar gembira). Meskipun demikian dalam ayat ini hanya disebutkan sebagai nadzîr. Menurut al-Alusi, karena di dalam surat ini memuat berita tentang orang–orang yang menjadi penentang Allah dan menjadikan anak dan sekutu bagi-Nya.

Ditegaskan ayat ini, Rasulullah SAW merupakan pemberi peringatan bagi al-‘âlamîn. Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb, kata al-‘âlam adalah semua selain Allah dan mencakup seluruh mukallaf, baik dari kalangan jin, manusia, maupun malaikat. Akan tetapi, Rasulullah SAW bukanlah rasul untuk malaikat. Berarti, Nabi Muhmmad SAW adalah rasul untuk seluruh jin dan manusia. Kesimpulan yang sama juga dikatakan oleh para mufasir, seperti Ibnu Katsir, al-Samarqandi, al-Jazairi, dan lain-lain. Imam al-Qurthubi juga mengatakan bahwa beliau adalah rasul untuk kedua mahluk tersebut, pemberi peringatan kepadanya, dan khâtam al-nabiyyîn, penutup para nabi.

Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa Rasulullah SAW dan risalah yang dibawa ditujukan untuk seluruh manusia. Bukan hanya untuk kaumnya saja, atau hanya untuk sebagian manusia tertentu saja. Hal ini juga ditegaskan dalam beberapa ayat lain seperti QS al-A’raf [7]: 158 dan QS Saba [34]: 28. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk manusia berkulit merah dan berkuli hitam (HR Ahmad dari Jabir bin Abdillah).

Demikianlah. Manusia membutuhkan petunjuk yang membedakan antara yang haq dan batil, yang halal dan yang haram, yang mengantarkan kepada surga dan kepada neraka. Dan Allah SWT telah menurunkan kitab  yang menjadi petunjuk itu. Itulah Alquran.

Maka siapa pun yang mengimani dan mempraktekkannya dalam kehidupan, niscaya hidupnya akan lurus dan berada dalam kebenaran. Kebahagiaan pun akan didapat di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, siapa pun yang mengingkari, mengabaikan, dan menolak untuk mempraktekkannya, hidupnya akan diliputi dengan kesesatan dan berujung dengan kesengsaraan di dunia akhirat.

Maka sungguh aneh jika ada yang mengaku beriman kepada Alquran, namun menolak syariah dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ironisnya lagi, mereka lebih memilih konsep dan pemikiran dari John Locke, Adam Smith, Karl Marx, dan semacamnya. Padahal tokoh panutan mereka itu adalah orang-orang kafir yang dicela oleh banyak ayat dan diancam dengan neraka jahannam. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

 

Ikhtisar:

  1. Alquran merupakan al-furqân, pembeda yang haq dan yang batil, yang halal dan yang haram.
  2. Rasulullah pemberi peringatan seluruh manusia dan jin yang hidup sejak beliau diutus hingga hari Kiamat.
 


Page 22 of 549

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved