MediaUmat.com
[123] Mencari Predikat Kota Syariah PDF Print E-mail
Monday, 07 April 2014 10:50

Dr. Fahmi Amhar

Sekarang syariah sudah mulai “nge-trend”.  Di mana-mana orang sudah semakin tidak “phobi” atau “risih” dengan label syariah. Sudah semakin banyak bank atau asuransi berlabel syariah.  Bahkan hotel dan restoran syariah pun muncul bak cendawan di musim hujan.

Tentu saja orang masih bisa berdebat sejauh mana syariah benar-benar ada pada lembaga-lembaga itu.  Maka sudah saatnya dirumuskan indikator suatu hal disebut “sesuai syariah”, agar pelabelan itu bisa terukur, sehinga yang sudah bisa dipertahankan, dan yang kurang bisa dilengkapi.

Maka lalu muncul pertanyaan, seperti apa “kota syariah” itu?  Apakah sekadar kota yang tak ada maksiat di dalamnya?  Tak ada lokalisasi pelacuran, tak ada miras, tak ada judi, tak ada diskotik atau “salon aneh-aneh”?  Atau kota syariah adalah sebuah kota yang “menggiring” (tak cuma memfasilitasi) seluruh warganya agar melaksanakan seluruh syariah?

Beberapa walikota di Indonesia mendapat penghargaan internasional atas keberhasilannya membangun kota yang lebih humanis, kota yang tidak dilalap oleh gegap gempita investasi, kota yang juga untuk mereka yang lemah dan kurang beruntung.  Sedang kota syariah adalah sebuah kota yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat mudah semua orang untuk selamat agamanya; sehat fisik, jiwa dan sosialnya; meningkat ilmu dan kecerdasannya; berkah rezekinya; dan mereka dapat meninggalkan dunia dengan khusnul khatimah.

Tentu saja, kota syariah pasti bukan kota yang setiap hari dihantui kesemrawutan atau kemacetan di jalanan, banjir setiap musim hujan, kumuh permukimannya, tidak aman jalanannya dan rawan terhadap bencana apa saja.

Kuncinya adalah usaha tak pernah henti untuk merencanakan kota dengan baik, melaksanakan rencana dan mengawasinya supaya tidak ada pelanggaran.  Ada banyak teknologi yang dapat dilibatkan agar penataan kota itu berjalan optimal.  Dan ini pernah dilakukan di kota-kota besar Khilafah Islam seribu tahun yang lalu!

Seribu tahun yang lalu, tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk di atas 100.000 jiwa.  Menurut para sejarahwan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad di Iraq memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M.  Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa.  Peringkat kedua diduduki oleh Cordoba di Spanyol yang saat itu juga wilayah Islam dengan 500.000 jiwa dan baru Konstantinopel yang saat itu masih ibu kota Romawi-Byzantium dengan 300.000 jiwa.

Namun sebagaimana laporan para pengelana Barat, baik Baghdad maupun Cordoba adalah kota-kota yang tertata rapi, dengan saluran sanitasi pembuang najis di bawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih dan diberi penerangan pada malam hari.  Ini kontras dengan kota-kota di Eropa pada masa itu, yang kumuh, kotor dan di malam hari gelap gulita, sehingga rawan kejahatan.

Pada 30 Juli 762 M Khalifah al-Mansur mendirikan kota Baghdad.  Al-Mansur percaya bahwa Baghdad adalah kota yang akan sempurna untuk menjadi ibu kota Khilafah.  Al-Mansur sangat mencintai lokasi itu sehingga konon dia berucap, “Kota yang akan kudirikan ini adalah tempat aku tinggal dan para penerusku akan memerintah”.

Modal dasar kota ini adalah lokasinya yang strategis dan memberikan kontrol atas rute perdagangan sepanjang sungai Tigris ke laut dan dari Timur Tengah ke Asia.  Tersedianya air sepanjang tahun dan iklimnya yang kering juga membuat kota ini lebih beruntung daripada ibukota khilafah sebelumnya yakni Madinah atau Damaskus.

Namun modal dasar tadi tentu tak akan efektif tanpa perencanaan yang luar biasa.  Empat tahun sebelum dibangun, tahun 758 M al-Mansur mengumpulkan para surveyor, insinyur dan arsitek dari seluruh dunia untuk datang dan membuat perencanaan kota.  Lebih dari 100.000 pekerja konstruksi datang untuk mensurvei rencana-rencana. Banyak dari mereka disebar dan diberi gaji untuk langsung memulai pembangunan kota.  Kota dibangun dalam dua semi-lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer.  Bulan Juli dipilih sebagai waktu mulai karena dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah percaya bahwa itu saat yang tepat, karena air Tigris sedang tinggi, sehingga nantinya kota dijamin aman dari banjir.  Memang ada sedikit astrologi di situ, tetapi itu bukan pertimbangan utama.  Batu bata yang dipakai untuk membangun berukuran sekitar 45 centimeter pada seluruh seginya.  Abu Hanifah adalah penghitung batu bata dan dia mengembangkan sistem kanalisasi untuk membawa air baik untuk pembuatan batu bata maupun untuk kebutuhan manusia.

Setiap bagian kota yang direncanakan untuk jumlah penduduk tertentu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.  Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan.  Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.  Negara dengan tegas mengatur kepemilikan tanah berdasarkan syariat Islam. Tanah pribadi yang ditelantarkan lebih dari tiga tahun akan ditarik kembali oleh negara, sehingga selalu tersedia dengan cukup tanah-tanah yang dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum.

Namun perencanaan kota juga memperhatikan aspek pertahanan terhadap ancaman serangan.  Ada empat benteng yang mengelilingi Baghad, masing-masing diberi nama Kufah, Basrah, Khurasan dan Damaskus, sesuai dengan arah gerbang untuk perjalanan menuju kota-kota tersebut.  Setiap gerbang memiliki pintu rangkap yang terbuat dari besi tebal, yang memerlukan beberapa lelaki dewasa untuk membukanya.

Tak heran bahwa kemudian Baghdad dengan cepat menutupi kemegahan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia yang terletak 30 kilometer di tenggara Baghdad, yang telah dikalahkan pada perang al-Qadisiyah pada tahun 637.  Baghdad meraih zaman keemasannya saat era Harun al Rasyid pada awal abad 9 M.

Kejayaan Baghdad baru surut pasca serangan Tartar pada tahun 1258 M, yang terjadi setelah ada pengkhianatan di antara pejabat Khilafah.  Serangan ini berakibat terbantainya sekitar 1,6 juta penduduk Baghdad dan musnahnya khazanah ilmu yang luar biasa setelah buku-buku di perpustakaan Baghdad dibuang ke sungai Tigris, sampai airnya hitam.  Nyaris 8 abad kemudian pemboman Amerika “menyelesaikan” penghancuran bangunan megah yang masih tersisa di kota 1001 malam ini.

 
[124] Yesus Bukan Kristen PDF Print E-mail
Saturday, 19 April 2014 23:54

Judul ini pasti membuat rasa penasaran bagi umat Islam, ‘kalau bukan Kristen, lalu apa?’. Atau jika yang membaca umat Kristen, pasti menuai sikap kontroversi. Walaupun demikian, siapa yang membaca semoga membuka wawasan, menuntun pada kebenaran.

Semua pengikut Yesus pasti mengakui bahwa mereka beragama Kristen. Tetapi apakah ada di antara mereka bisa memberikan bukti atau menunjukkan ayat-ayat yang tertulis di dalam Bibel bahwa Yesus beragama Kristen?

Akan sangat mengejutkan bahwa ternyata dalam Bibel, sama sekali tidak akan kita jumpai pengakuan Yesus bahwa dia beragama Kristen. Jika Yesus bukan beragama Kristen, lalu apa agama Yesus? Dan jika Yesus bukan beragama Kristen, mengapa orang-orang yang mengaku pengikut Yesus beragama yang bukan agama Yesus?

Banyak umat Kristiani tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Yesus bukan beragama Kristen dan yang menamakan agama itu `Kristen’ bukan Yesus, tapi Barnabas dan Paulus (Saulus) di Antiokhia.

Perhatikan ayat-ayat Alkitab dibawah ini :

Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,  karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.  Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.  Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. (Kisah Para Rasul 11:23-26)

“Di Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen”. Ayat di atas membuktikan bahwa yang menamakan agama itu ‘Kristen’ bukan Yesus. Tetapi Barnabas dan Paulus. Dan hal ini dilakukan di sebuah daerah yang bernama Antiokhia, di daerah Turki. Sedangkan Yesus tinggal di Palestina dan murid-muridnya pun di Palestina.

Seumur hidupnya Yesus tidak pernah mengajarkan bahwa risalah yang dibawanya bernama Kristen. Yesus tidak membawa agama baru. Yesus menegaskan berkali-kali bahwa dia hanya adalah seorang nabi yang meneruskan ajaran para nabi sebelumnya.

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku (Yesus) datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (Matius 5:17)

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5:18)

Bahkan lebih tegas lagi Yesus mengancam, barang siapa yang berani mengubah-ubah ayat-ayat dalam Kitab Taurat maka orang tersebut akan masuk neraka (tempat terendah di  Kerajaan Sorga/akhirat)

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:19), (Matius 5:20)

Sementara Paulus dan Barnabaslah memberi nama ‘Kristen’ terhadap agama yang mereka bentuk, yaitu sekitar tahun 42 M.

Di dalam Alquran, tidak dijumpai satu pun kata ‘Kristen’, yang ada kata ‘Nashara’. Umumnya umat Islam dan Kristen mengetahui bahwa Nashara adalah berasal dari nama kota kelahiran Yesus, Nazareth.

 

Tapi ada data yang mengejutkan bahwa, tidak ada nama kota Nazareth di abad 1 M. 
Josephus (37-100 M) adalah seorang sejarawan Yahudi. Ia telah mencatat nama 45 kota di Galilee. Namun ia sama sekali tidak menyebut sebuah kota bernama kota Nazareth. 
Talmud tidak mencatat ada sebuah nama kota bernama Nazareth di abad 1 M, artinya tidak ada nama kota Nazareth di zaman Yesus.

Jika memang Nazareth adalah sebuah tempat kelahiran seorang nabi yang namanya akan terus diingat sepanjang zaman, maka mustahil nama tempat ini terlewatkan dalam Perjanjian Lama.

Apakah Nasrani adalah sebuah agama? Kita simak lagi ayat Matius 5:17, Yesus tidak membawa ajaran baru. Tapi justru menguatkan, meluruskan risalah yang telah dibawa oleh Nabi Musa as, meluruskan dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

 

 
[124] Menjadi Mualaf di Amerika Tidaklah Mudah PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:46

Meskipun Will Caldwell dilahirkan, dibesarkan dan berpendidikan perguruan tinggi di Georgia, namun dia merasa tidak nyaman beribadah di sana.

Seperti yang ditulis www.huffingtonpost.com (20/2), perasaan tidak nyaman seperti itu muncul dari pengalaman yang tidak mengenakkan. Suatu malam di  musim panas yang cerah tahun 2007, di sebuah pompa bensin di suatu negara bagian di antara Savannah dan Macon, Caldwell sedang dalam perjalanan pulang ke Saint Simons Island dari Emory University. Dia baru saja menyelesaikan tahun pertama kuliahnya. Caldwell memasukkan Mini Cooper merahnya  ke rest area. Saat itu matahari mulai terbenam, karena dia telah memeluk agama Islam, itu berarti saatnya menjalankan shalat Maghrib.

Di sebidang tanah kosong di sebelah pompa bensin itu, dia menemukan sebuah sudut, lalu mulai membentang sajadahnya. Setelah takbir, dia mulai melafalkan ayat-ayat suci, berdiri untuk melakukan shalat di rakaat pertama, ruku’, hingga sujud. Saat itu dia melihat dua orang sedang memperhatikannya, diam-diam mengintip dari balik truk mereka.

Caldwell merasa gelisah  dan terpaksa mempercepat shalatnya, melipat sajadah dan kembali ke mobil lalu pergi. Saat dia pergi, dia bisa melihat dari kaca spion belakangnya sebuah mobil polisi masuk ke tempat parkir. Orang-orang yang tadi menatapnya memberi isyarat kepada polisi itu dan menunjuk ke Caldwell. Dia lalu menjalankan kendaraanya dengan kecepatan sedang, dia melihat polisi tidak mengikutinya. Namun sejak itu dia mulai berpikir ulang untuk melakukan hal yang sama, shalat di tempat umum di wilayah selatan.

Caldwell orang yang lembut bicaranya. Dia berhenti sejenak untuk berpikir sebelum berbicara dan kadang-kadang berhenti di antara kalimat-kalimatnya ketika berbicara. Dia memakai baju kemeja kotak-kotak, kacamata yang kecil bulat dan kendur, dengan berbingkai kawat. Matanya yang hijau menatap keluar dengan tatapan serius dengan wajah putih​nya yang kekuningan.

Siapapun yang bertemu dengannya akan merasa bahwa dia adalah orang baik dan relijius. Mungkin ini justru itulah kesalahannya yang fatal. Setelah tumbuh di Gereja Episkopal, Caldwell menemukan kembali spiritualitas dalam Islam dan memutuskan untuk menjadi mualaf. Sekarang, kurang seratus mil dari tempat dia dibesarkan, orang-orang melihat cara shalat Caldwell sebagai ancaman potensial. Mengapa hal ini terjadi?

"Konteks politik kita sangat penuh dengan retorika anti-Muslim sehingga hampir tidak mungkin, saya katakan demikian, menjadi mualaf tanpa memiliki konsekuensi politik bahkan jika seorang mualaf sama sekali tidak bermaksud melakukan hal itu," kata Brannon Ingram, seorang profesor studi agama di Universitas Northwestern yang mengkhususkan diri dalam Islam dan tasawuf.

Dalam kondisi maraknya retorika anti Islam, pantas Muslim Amerika kerap mengalami diskriminasi. Pada tahun 2013, Pew Research Center for People & Press Study menemukan fakta berdasarkan hasil surveinya , 45 persen orang Amerika percaya bahwa umat Islam mengalami banyak diskriminasi.

Sentimen negatif tentang Muslim seringkali mengaitkan Islam dengan radikalisme dan terorisme. Ironisnya, retorika anti Islam ini justru dibangun oleh lembaga resmi negara seperti kepolisian. Sebuah dokumen tahun 2007 yang ditulis oleh Departemen Kepolisian New York berjudul "Radikalisasi di Barat: Ancaman di Dalam Negeri”, menjadi salah satu bukti.

Dalam dokumen itu dikatakan ideologi jihadis adalah pendorong yang memotivasi para pemuda dan kaum perempuan, yang lahir atau tinggal di Barat, untuk melaksanakan jihad sendiri melalui tindakan terorisme terhadap negara-negara di mana mereka tinggal.

Karena anggapan khas “Islamophobia “ seperti ini  polisi melakukan pengawasan atas masjid-masjid di New York City dan komunitas Muslim. Polisi memanfaatkan informan, pemetaan lingkungan, foto-foto dan rekaman video. Ketika American Civil Liberties Union menangkap kebijakan ini pada bulan Juni 2013, mereka menggugat NYPD.

Jauh Dari Agama

Pindah agama ke agama apapun tampaknya semakin tidak normal mengingat negara Paman Sam ini semakin menjauh dari agama. Menurut sebuah studi Pew Research, jumlah orang Amerika yang tidak mengafiliasikan dirinya dengan agama terus meningkat. Naik sebesar 5 persen dalam lima tahun terakhir, dari 15,3 persen di 2007 menjadi 19,6 persen di tahun 2012.

Di lain sisi, jumlah Muslim di Amerika Serikat meningkat. Dalam tujuh tahun setelah serangan 11/9 di World Trade Center tahun 2001, populasi Muslim Amerika tumbuh dari 1.104.000 menjadi 1.349.000 berdasarkan sensus tahun 2012. Dan menariknya, Pew Forum on Religion & Public Life menemukan bahwa 40 persen Muslim Amerika justru tidak dibesarkan dengan agama Islam. Tapi mereka menjadi lebih dekat dengan Islam setelah dewasa.

Untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman ini, sebagian mualaf membentuk kelompok-kelompok mereka sendiri. Salah satunya adalah Ta'leef Collective. Kelompok ini didirikan untuk membantu orang yang baru masuk Islam dan calon mualaf. Ta'leef membuka kelas, diskusi dan kelompok pendukung. Kantor pusatnya terletak di Fremont, California. Kelompok ini membuka Cabang Chicago tahun 2012. Ta'leef menjauh dari media karena takut media akan menggambarkan mereka dengan buruk. (rz/)

 

 

 

 
[124] Wajib Tunduk kepada Hukum Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:32

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (TQS al-Furqan [25]: 2).

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa manusia berhak mengatur negara yang ditinggalinya dengan sekehendaknya. Seolah negeri yang ditinggali itu milik mereka. Padahal, negeri yang mereka tinggali adalah bagian dari bumi milik Allah SWT. Bahkan, bukan hanya bumi, langit dan seluruh jagad raya ini adalah kerajaan milik Allah SWT. Dialah Raja dan pemiliknya sehingga seluruh isinya wajib tunduk dan patuh kepada-Nya. Dan Allah SWT telah menurunkan hukum yang wajib ditaati seluruh manusia.

Ayat ini adalah di antara yang menegaskan bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik-Nya. Tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan.

Milik Allah

Allah SWT berfirman: al-Ladzî lahu mulk al-samâwâti wa al-ardh (Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi). Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, kata al-ladzî di sini merupakan sifat bagi al-ladzî yang pertama, yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.

Dalam ayat sebelumnya Allah SWT memuji diri-Nya dengan ungkapan: tabâraka (Maha Suci). Lalu disebutkan bahwa Dia Yang Maha Suci itulah yang menurunkan al-Furqân kepada hamba-Nya, yakni Alquran kepada Rasulullah SAW.

Kemudian ayat ini menyebutkan beberapa sifat Dzat yang telah menurunkan Alquran tersebut. Sifat pertama yang disebutkan adalah sebagai pemilik mulk al-samâwâti wa al-ardh, kerajaan langit dan bumi. Pengertian sifat ini adalah Dia adalah al-mutasharrif fîhâ kayfa yasyâ` (Sang Pemilik otoritas dalam mengatur di dalamnya sebagaimana dikehendaki-Nya). Demikian penjelasan Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya.

Menurut Abu Zahrah, al-mulk berarti al-sulthân (kekuasaan). Kekuasaan tersebut mutlak milik Allah SWT. Tidak ada kekuasaan bagi selain-Nya. Dialah yang mengurusi langit dan bumi. Bintang tidak bisa berjalan kecuali dengan kekuasaan-Nya. Semua yang ada di langit, baik matahari, bulan, maupun bintang tunduk dengan perintah-Nya. Demikian pula bumi dan semua yang ada di dalamnya, seperti gunung, laut, dataran tinggi, binatang, tambang, dan lain-lain, tunduk kepada perintah-Nya.

Diterangkan juga oleh Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya, al-mâlik al-haqîqî (Pemilik sebenarnya) semua yang ada di langit dan di bumi adalah Allah SWT. Pengertian al-Mâlik adalah yang memiliki al-sulthân al-muthlaq (kekuasaan mutlak) dalam pengaturan di kerajaan-Nya sebagaimana yang Dia dikehendaki. Dia pula yang memiliki kekuatan yang sempurna atas apa yang ada di kerajaan-Nya, baik mengadakan maupun melenyapkan, mengihidupkan dan mematikan, memerintah dan melarang sesuai dengan kebijaksaan dan kemaslahatan.

Dalam ayat ini disebutkan dua kata yang menunjukkan bahwa dengan jelas bahwa pemilik otoritas mutlak di jagad raya ini adalah Allah SWT, yakni kata  lahu (milik-Nya) dan al-mulku (kerajaan). Maka, sebagaimana dijelaskan Abu Hayyan al-Andalusi, ayat ini memberitakan bahwa apa yang ada di dalam langit dan bumi adalah milik-Nya; juga kerajaan keduanya adalah kerajaan-Nya. Dengan demikian, berkumpul pada-Nya dua hal, yakni: kepemilikan dan kerajaan.

Oleh karena kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah SWT, maka yang diberlakukan di dalamnya adalah keputusan dan hukum-Nya. Mengomentari ayat ini,  Ibnu Jarir al-Thabari berkata bahwa Dia berfirman: Maka bagi penghuni kerajaan-Nya dan dalam kekuasan-Nya wajib menaati-Nya dan tidak durhaka terhadap-Nya.

Setelah itu diberitakan sifat lainnya dengan firman-Nya: walam yattakhidz walad[an] (dan Dia tidak mempunyai anak). Ini memastikan bahwa tidak ada satu pun yang menduduki kedudukan sebagai anak, baik secara hakiki maupun majazi. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan Ibnu Katsir, Dia tidak memiliki anak secara mutlak.

Dibeberkan al-Qurthubi, Allah SWT  menyucikan diri-Nya dari perkataan kaum musyrik, Yahudi, dan Nasrani beranggapan Allah SWT memiliki anak. Maha Suci Allah dari semua perkataan tersebut. Berkaitan dengan perkataan Yahudi dan Nasrani diberitakan dalam QS al-Taubah [9]: 31. Sedangkan bantahan terhadap kaum Musyrik yang menuduh Allah SWT memiliki anak-anak perempuan, disebutkan dalam QS al-Shaffat [37]: 149-153.

Oleh karena itu, barangsiapa menyandarkan anak kepada-Nya, maka sungguh dia telah berdusta dan mengada-adakan kedustaan atas tuhan-Nya. Demikian penjelasan Ibnu Jarir al-Thabari.

Tidak Ada Sekutu

Selanjutnya disebutkan sifat lainnya yang mempertegas sebelumnya: walam yakun lahu syarîk fi al-mulk (dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-[Nya]). Kata syarîk merupakan merupakan bentuk sifat dari kata syirkah. Pengertian syirkah adalah sesuatu dimiliki oleh dua atau lebih. Ayat ini menafikan adanya selain Allah SWT yang ikut memiliki dan menguasai kerajaan langit dan bumi.

Diterangkan al-Thabari, tidak layak ada sekutu selain Allah SWT dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya  sehingga diperbolehkan menyembah selain-Nya. Allah SWT mengingatkan: “Wahai manusia, esakanlah Tuhanmu yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya Muhammad SAW dalam ketuhanan. Bersihkanlah ibadah hanya kepada-Nya dari sesembahan lain, baik tuhan-tuhan, patung, malaikat, jin, manusia. Tidak patut  beribadah kecuali kepada Allah, Sang Pemilik semua itu.

Seandainya ada sekutu selain-Nya, niscaya alam semesta ini akan rusak binasa sebagaimana disebutkan dalam QS al-Anbiya’ [21]: 22).

Kemudian Allah SWT berfirman: wa khalaqa kulla syay`i (dan Dia telah menciptakan segala sesuatu). Sifat lainnya Dzat yang menurunkan al-Fuqan adalah Dzat yang menciptakan segala sesutu. Maka, sebagaimana ditegaskan al-Thabari,  segala sesuatu adalah ciptaan dan milik-Nya; dan semua yang dimiliki harus taat kepada pemilik mereka dan melayani tuan mereka, bukan kepada yang lain.

Lalu disebutkan: faqaddarahu taqdîr[an] (dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya). Kata qaddara berasal dari kata al-taqdîr. Kata tersebut berarti menjadikan sesuatu dengan ukuran tertentu dan aspek tertentu sesuai dengan tuntutan hikmah. Jika dihubungkan dengan Allah SWT, maka al-taqdîr berarti menciptakan sesuatu secara sempurna dan detail, tidak terjadi penambahan dan pengurangan hingga Allah SWT mengholangkan atau menggantikannya. Demikian menurut al-Asfahani.

Sedangkan Ibnu ‘Athiyah berpendapat bahwa taqdîr al-asysyâ` berarti membatasinya dengan tempat dan waktu, dan ukuran, kemaslahatan, dan kesempurnaannya.

Itulah Dzat yang menurunkan Alquran untuk manusia. Siapa pun yang mengimani dan memahami ayat ini dengan benar menolak penerapan hukum-hukum Alquran dalam kehidupan. Betapa tidak, Alquran diturunkan oleh Pemilik kerajaan langit dan bumi. Atas dasar apa manusia yang tinggal bumi milik Allah SWT berani menolak perintah Raja dan Pemiliknya? Atas dasar apa manusia berani menolak perintah Dzat yang menciptakan dirinya, semua rezeki yang dinikmati, segala kenikmatan yang diterima, dan semua makhluk di alam semesta? Sungguh hanya manusia yang bodoh berani melakukannya.

Berangkat dari ayat ini pula, semua ideologi dan pemikiran yang memberikan kebebasan bagi manusia membuat aturan sendiri seraya mencampakkan hukum Allah SWT seperti sekulerismem kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi wajib ditolak. Sebab, semua ideologi dan pemikiran itu hanya memuat manusia menjadi ingkar kepada-Nya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:

  1. Pemilik kerajaan langit dan bumi adalah Allah SWT, sehingga seluruh makhluk wajib tunduk dan mengabdi kepada-Nya
  2. Allah SWT tidak punya anak dan sekutu dalam kekuasaan-Nya
  3. Allah SWT pencipta segala sesuatu dan menetapkan semuanya dengan ukuran yang paling bagus

 

 

 
[124] Meneruskan Jejak Syeikh Burhanuddin Kuntu PDF Print E-mail
Monday, 05 May 2014 08:19

Ponpes Salafiyah Syekh Burhanuddin Kuntu, Kampar Kiri, Kampar, Riau

Di tengah mahalnya biaya pendidikan sekolah, Ponpes Salafiyah Syekh Burhanuddin Kuntu bisa menjadi pilihan untuk menimba ilmu di Tingkat Wustho (setingkat MTs/SMP) dan di Tingkat ‘Ulya (setingkat MA/SMA). Karena di samping fasilitas dan kurikulum pendidikannya mendukung anak untuk menguasai agama, pengetahuan umum dan ketrampilan, orang tua pun tidak direpotkan memikirkan biaya. Karena semuanya gratis!

Sedangkan operasional ponpes didapat dari infak, shadaqah warga sekitar, kaum Muslimin di mana saja yang mau berbagi, unit usaha ponpes dan juga dari pemerintah.

Sejarah

Miris melihat warga Kampar Kiri banyak yang tidak mendalami dasar-dasar ajaran Islam secara intensif, serta bagi yang ingin memperdalam pun harus nyantri jauh-jauh ke luar Kampar Kiri, maka ulama Kampar KH Angku Mudo Djamarin (almarhum) pada 1 Februari 1973 mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Ponpes Salafiyah Syekh Burhanuddin Kuntu.

Nama tersebut diambil untuk mengenang jasa ulama besar asal Mekah yang menyebarkan agama Islam selama 20 tahun di Sumbar dan Riau hingga wafat dan dikebumikan di Kuntu, Kampar Kiri pada 1191 Masehi.

Sejak didirikan, Ponpes ini mendapat dukungan positif, baik moral maupun materil dari Pemda dan lapisan masyarakat sekitar, sehingga mengalami kemajuan yang sangat menggembirakan.

Hanya saja ketika pemerintah mengetahui KH Angku Mudo Djamarin yang berstatus pegawai negari sipil (PNS) itu tidak mau masuk dan menyoblos (Partai) Golkar, Ponpes tidak mendapatkan dukungan. “Sehingga banyak tekanan dan tidak ada bantuan dari pemerintah sampai masa Reformasi 1998,” ungkap Pimpinan Ponpes Syekh Burhanuddin Kuntu KH Ahmad Junaidi Djamarin.

Fasilitas dan Kurikulum

Ponpes yang berada di Desa Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Provinsi Riau memiliki lahan  empat hektar. Sedangkan yang sudah diisi bangunan baru dua hektar. Bangunan tersebut di antaraya berupa masjid, mushala, gedung lokal belajar, kantor, asrama santri putra, asrama santri putri dan juga tempat tinggal para guru ponpes.

Jumlah santri pada awal berdiri 30 orang dan saat ini berjumlah 700 orang—termasuk tingkat Wustho (setara MTs) dan tingkat Ulya (setara MA). Setiap santri yang menimba ilmu tidak dipungut biaya. Ponpes ini memadukan pendidikan agama, pendidikan umum dan keterampilan.

Selain mendapatkan perpaduan kurikulum tersebut, santri pun dididik agar memiliki ketrampilan berdakwah yang mumpuni dan belajar kitab kuning. Untuk mendukung tujuan tersebut maka Ponpes membuka tiga program yang menjadi ciri khas Ponpes ini.

Pertama, Takhassus (Program khusus). Untuk mempertajam kemampuan kurikulum ilmu alat Bahasa Arab (Nahwu,Sharaf, Ushul, Fiqhi, Mantiq dan Balaghah), kepada siswa diberikan pelajaran tambahan dengan sistem halaqah yang dibina oleh guru-guru tua. Tradisi ini tetap dipertahankan sebagai identitas Pondok Pesantren Sykeh Burhanuddin Kuntu.

Kedua, program bahasa Arab dan bahasa Inggris aktif. Dengan improvisasi kurikulum dan pola pengajaran intensif dan Ta’limul Lugah Arabiah, maka 1 tahun siswa diharapkan mampu berbahasa Arab dan Inggris aktif. Dan melalui diklat dan kursus, dalam bidang ini, Ponpes telah mengakader guru melalui kursus.

Ketiga, program Hifzul Ayat. Bagi santri diharuskan menghafal 2 Juz setiap tahun.

Sedangkan ketrampilan yang diajarkan agar setamat Ponpes bisa mandiri adalah agrobisnis, perkebunan, pertanian, perikanan dan peternakan, kursus komputer dan menjahit.

Santri Ponpes pernah juara umum Musabaqoh Qiraatul Kutub tahun 1999 tingkat Kabupaten, Juara I tilawah. Dan hampir mayoritas khatib Jumat di Kampar Kiri adalah santri alumni Syekh Burhanuddin Kuntu.

Hingga sekarang Ponpes telah meluluskan sekitar 1.665 alumni yang tersebar di berbagai daerah di Propinsi Riau dan Sumatera Barat. Mereka berkiprah di berbagai bidang dan tidak sedikit pula yang membuka pesantren.

Ada juga yang melanjutkan menimba ilmu ke Al Azhar Kairo, ada yang ke Jawa seperti Yogyakarta dan Jakarta. Ada yang masuk kelas Internasional UIN Suska Riau, dan melanjutkan di Unviersitas Riau dan Universitas Islam Riau.[] apri siswanto/joy

BOKS

KH Ahmad Junaidi Djamarin, Pimpinan Ponpes Syeikh Burhanuddin

Syariah untuk Kemashlahatan Muslim dan Non Muslim

KH Ahmad Junaidi Djamarin menyatakan syariah Islam wajib ditegakkan hingga ke level negara. “Karena syariat Islam wajib dan perlu untuk kemaslahatan umat Islam dan non Islam,” tegas lelaki yang pernah aktif di Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU) tersebut.

Makanya lelaki kelahiran Batu Bersurat, 1 Januari 1970, menyatakan mendukung semua kelompok yang berjuang untuk menerapkan syariah Islam kaffah. Tak aneh pula bila ia  juga mendukung perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang memperjuangkan tegaknya syariah dalam naungan khilafah.

Hanya saja kyai yang pernah kuliah di Universitas Al Azhar Kairo tersebut mengaku

merasa perlu belajar lebih banyak lagi tentang sistem pemerintahan Islam. Karena ada hal-hal yang memang belum dipahaminya secara detail bagaimana khilafah mengimplementasikan syariah kepada masyarakat yang multietnis, agama dan ras.

Ia  berharap di sisi itulah HTI dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci terkait hal itu. “Karena saya dan juga masyarakat secara umum masih awam mengenai masalah itu,” akunya.[]apri siswanto/joy

 

 


Page 22 of 596

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved