MediaUmat.com
[123] Arius Penentang Penuhanan Yesus PDF Print E-mail
Friday, 04 April 2014 23:43

Di tulisan yang lalu saya menceritakan tentang Sejarah Konsili Nicea. Sedikit mengingat apa yang telah saya sampaikan, Konsili Nicea adalah konsili yang mengundang 1800 utusan dari gereja-gereja Barat dan Timur. Mereka yang hadir terdiri atas, 1000 orang yang berasal dari Gereja Timur dan 800 dari Gereja Barat.

Namun mayoritas undangan mempunyai pandangan yang sama dengan Arius, yakni meyakini Yesus (Isa as) adalah seorang nabi, manusia biasa. Akhirnya Konstantin mengusir keluar 1482 uskup dan tersisa 318 uskup yang boleh mengikuti persidangan. Dan dari 318 uskup tersebut hanya 2 orang pengikut Arius.

Siapakah Arius?

Arius (250-336 M) adalah salah seorang murid utama Lucian berbangsa Libya yang juga bersama-sama dengan gurunya menegakkan ajaran tauhid kepada Allah. Arius merupakan seorang presbyter (ketua majelis agama/gereja) di gereja Baucalis Alexandria, salah satu gereja tertua dan terpenting di kota itu pada tahun 318 M.

Sejak wafatnya Lucian pada tahun 312 M di tangan orang-orang gereja Paulus, perlawanan Arius terhadap doktrin Trinity semakin memuncak, dan dalam perjuangannya ini, Arius mendapatkan dukungan dua orang saudara Kaisar Konstantin yang bernama Konstantina dan Licines.

Arius dianggap sebagai seorang pemberontak Trinitas dengan mendasarkan teori:

“Jika Yesus itu benar-benar anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, maka Bapa harus ada lebih dahulu. Oleh karena itu harus ada “masa” sebelum adanya anak. Artinya anak adalah makhluk. Maka anak itu pun tidak selamanya ada atau tidak abadi. Sedangkan Tuhan yang sebenarnya haruslah abadi, berarti Yesus tidaklah sama dengan Tuhan.

Atas pandangan Arius tersebut, sebanyak 100 orang pendeta Mesir dan Libya berkumpul untuk mendengar pandangan Arius. Pada waktu inilah juga Arius mengemukakan kembali pendangannya :

“Ada masa sebelum adanya Jesus, sedangkan Tuhan sudah ada sebelumnya. Yesus ada kemudian, dan Yesus hanyalah makhluk biasa yang bisa binasa seperti makhluk-makhluk lainnya. Tetapi Tuhan tidak mungkin binasa.”

Arius memperkuat pendapatnya dengan sejumlah ayat-ayat Bible seperti Yohanes 14:8, “Bapa lebih besar daripada Yesus”; Seandainya kita mengakui bahwa Yesus adalah sama dengan Tuhan, maka kita harus menolak kebenaran ayat Yohanes tersebut.

Pendapat Arius ini secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut: “Jika Yesus memang “anak Tuhan”, maka akan segera disertai pengertian bahwa “Bapak Tuhan” haruslah ada terlebih dahulu sebelum adanya sang “Anak”.”

Oleh sebab itu tentulah akan terdapat jurang waktu ketika “Anak” belum ada. Oleh karena, “Anak” adalah makhluk yang tersusun dari sebuah “esensi” atau makhluk yang tidak selalu ada. Dan Tuhan merupakan suatu zat yang bersifat mutlak, kekal, tidak terlihat dan berkuasa, maka Yesus tidak mungkin bisa menjadi sifat yang sama sebagaimana sifat Tuhan.

Argumen Arius ini tidak dapat dilawan lagi, maka mulai tahun 321 M Arius dikenal sebagai seorang Presbyter Pembangkang. Ia mendapat banyak dukungan dari uskup-uskup daerah Timur. Hal ini membuat Konstantin semakin marah.

Arius juga sangat menentang keras keputusan Nicea pada tahun 325 M, sehingga senantiasa mendapatkan tantangan dari orang-orang gereja PaulusHasil Konsili Nicea 325 M memutuskan bahwa Yesus/Isa as adalah anak tuhan. Pada tahun 336 Arius dibunuh di Constantinopel dalam satu muslihat yang licik.

Setelah pembunuhan ini segala usaha yang menentang hasil Konsili Nicea, dilawan habis-habisan. Pengikut ajaran Nabi Isa as atau kaum Nasrani atau Ahli Kitab yang tauhid, dihabisi. Pembunuhan dan pengejaran terhadap orang-orang Ahli Kitab yang tauhid ini benar-benar dilakukan oleh penguasa Romawi secara besar-besaran hingga di Barat, kaum Nasrani ini habis. Sebagian mereka berpindah ke Timur namun seiring waktu merekapun terkontaminasi oleh paham Trinitas. Hingga kini, kaum Nasrani sudah tidak ada lagi di dunia. Naskah Injil diseragamkan oleh penguasa. Naskah yang tidak sama dengan pihak gereja versi penguasa  dimusnahkan, dihapuskan di bumi Kerajaan Romawi. Inilah sejarah awal tersesatnya ajaran Kristen.

 
[123] The Power of Trust PDF Print E-mail
Monday, 07 April 2014 10:45

Buku Muhammad as a Trader berkisah tentang praktek-praktek bisnis Muhammad SAW  sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Imam Hakim meriwayatkan, bahwa Rabi ibn Badr, pernah melakukan kerja sama bisnis dengan Muhammad SAW. Di kemudian hari Rabi menemui Muhammad SAW setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Nabi mengatakan, “Apakah engkau mengenali aku?” Ia menjawab, “Engkau pernah menjadi mitra bisnisku dan juga mitra yang paling baik. Engkau tidak pernah menipuku dan tidak berselisih denganku”.

Mitra bisnis Nabi SAW yang lain, bernama Saib bin Ali Saib, ketika beliau menemui Nabi pada saat Fathu Makkah (Penaklukan Makkah), beliau mengatakan bahwa Muhammad SAW adalah mitra bisnisnya dan selalu lurus dalam perhitungan-perhitungan bisnisnya.

Subhanallah, panutan kita Muhammad SAW, sebagai seorang pebisnis sebelum masa kenabiannya, telah memberikan contoh yang luar biasa, bagaimana membangun kepercayaan (trust) di kalangan mitra bisnisnya. Dan bahkan beliau dikenal sebagai mitra terbaik dan terpercaya (the best and the most trusted business partner). Walhasil kepercayaan (trust) yang beliau bangun sebelumnya, berdampak sangat positif pada penerimaan dakwah Islam setelahnya. Sehingga beberapa sahabat dari kalangan pebisnis kala itu seperti Abu Bakar, Abdurahman bin Auf, Utsman bin Affan, Saib dan Rabi dengan mudah menerima dakwah Islam dan turut berjuang bersama Rasulullah SAW.

Bagi semua pebisnis, sangat penting untuk mendapatkan kepercayaan (trust) dari pelanggannya (customer), supplier, distributor, maupun investor. Bahkan kalangan pebisnis besar maupun pemilik merek kelas dunia (World Class Brand), memahami bahwa Branding is all about Trust. Titik utama kekuatan merek adalah Trust. Dari hasil survei The Nielsen Company, World Class marketing research, menemukan bahwa rekomendasi dari konsumen merupakan iklan yang paling terpercaya. Jika suatu produk terpercaya maka konsumenlah yang menjadi duta merek tersebut (Brand Ambassador).

Bisa Anda bayangkan ketika pelanggan tidak mempercayai lagi produk Anda, atau supplier Anda menghentikan suplai barangnya, atau investor menarik dananya karena Anda tidak dapat dipercaya, maka jelas kerugian besarlah yang akan Anda alami.  Padahal kita tahu tidaklah mudah membangun kepercayaan (trust) dan bahkan mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun. Akan tetapi untuk menghancurkannya, cukup dengan sekali saja kita tidak memenuhi amanah (janji).

Dalam banyak kasus, seseorang atau lembaga dengan bermodalkan ketokohan dan proposal bisnis yang menawarkan keuntungan besar, dapat dengan mudah menarik investor untuk berinvestasi. Padahal kalau kita perhatikan lebih dalam, ternyata proposal bisnis tersebut tidak disertai pengelolaan risiko bisnis (risk management) yang memadai. Dan hasilnya sudah bisa ditebak bisnis tersebut GATOT alias Gagal Total. Dan akhirnya, pelaku bisnis tersebut berusaha mangkir dari para investornya atau dengan membuat seribu janji (pendusta).  Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika hal ini dilakukan oleh seorang aktivis dakwah. Bisa saja hal ini akan dikaitkan dengan lembaga dakwahnya padahal ini jelas dilakukan oleh seorang oknum. Na’uzubillahi min dzalik

Kepercayaan itu laksana cermin, sekali saja pecah maka Anda tidak akan pernah lagi melihatnya serupa lagi. Jika Anda gagal membangun kepercayaan maka akan gagal membangun masa depan Anda.

Rasulullah SAW memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap seorang pebisnis yang jujur dan terpercaya, sebagaimana sabdanya: ”Seorang pebisnis yang JUJUR dan TERPERCAYA akan bersama dengan para Nabi, Shiddiqun dan para Syuhada (HR Tirmidzi dan ad-Darimi).

Wahai Saudaraku para pebisnis tidak inginkah kita tinggal bersama para Nabi, shiddiqin dan syuhada di jannatul firdaus kelak?.

Dan Rasulullah sangat mencela orang-orang yang mengkhianati amanah, dan perlindungan Allah tercabut dari pengkhianat tersebut, sebagaimana sabdanya:

”Sesungguhnya Allah SWT berfirman,”Aku adalah pihak KETIGA (yang akan melindungi) DUA PIHAK yang melakukan SYIRKAH (kerjasama bisnis) selama salah seorang diantara mereka tidak mengkhianati mitranya. Apabila salah seorang diantara mereka telah berkhianat maka Aku keluar dari keduanya (tidak melindungi lagi).” (HR Abu Dawud).

Oleh: Fahmi Shadry,

-       DPP LKP HTI

-       Praktisi Strategic Business Integrator, International Consultant and Digital Business

 

 
[124] Wajib Tunduk kepada Hukum Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:32

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (TQS al-Furqan [25]: 2).

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa manusia berhak mengatur negara yang ditinggalinya dengan sekehendaknya. Seolah negeri yang ditinggali itu milik mereka. Padahal, negeri yang mereka tinggali adalah bagian dari bumi milik Allah SWT. Bahkan, bukan hanya bumi, langit dan seluruh jagad raya ini adalah kerajaan milik Allah SWT. Dialah Raja dan pemiliknya sehingga seluruh isinya wajib tunduk dan patuh kepada-Nya. Dan Allah SWT telah menurunkan hukum yang wajib ditaati seluruh manusia.

Ayat ini adalah di antara yang menegaskan bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik-Nya. Tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan.

Milik Allah

Allah SWT berfirman: al-Ladzî lahu mulk al-samâwâti wa al-ardh (Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi). Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, kata al-ladzî di sini merupakan sifat bagi al-ladzî yang pertama, yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.

Dalam ayat sebelumnya Allah SWT memuji diri-Nya dengan ungkapan: tabâraka (Maha Suci). Lalu disebutkan bahwa Dia Yang Maha Suci itulah yang menurunkan al-Furqân kepada hamba-Nya, yakni Alquran kepada Rasulullah SAW.

Kemudian ayat ini menyebutkan beberapa sifat Dzat yang telah menurunkan Alquran tersebut. Sifat pertama yang disebutkan adalah sebagai pemilik mulk al-samâwâti wa al-ardh, kerajaan langit dan bumi. Pengertian sifat ini adalah Dia adalah al-mutasharrif fîhâ kayfa yasyâ` (Sang Pemilik otoritas dalam mengatur di dalamnya sebagaimana dikehendaki-Nya). Demikian penjelasan Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya.

Menurut Abu Zahrah, al-mulk berarti al-sulthân (kekuasaan). Kekuasaan tersebut mutlak milik Allah SWT. Tidak ada kekuasaan bagi selain-Nya. Dialah yang mengurusi langit dan bumi. Bintang tidak bisa berjalan kecuali dengan kekuasaan-Nya. Semua yang ada di langit, baik matahari, bulan, maupun bintang tunduk dengan perintah-Nya. Demikian pula bumi dan semua yang ada di dalamnya, seperti gunung, laut, dataran tinggi, binatang, tambang, dan lain-lain, tunduk kepada perintah-Nya.

Diterangkan juga oleh Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya, al-mâlik al-haqîqî (Pemilik sebenarnya) semua yang ada di langit dan di bumi adalah Allah SWT. Pengertian al-Mâlik adalah yang memiliki al-sulthân al-muthlaq (kekuasaan mutlak) dalam pengaturan di kerajaan-Nya sebagaimana yang Dia dikehendaki. Dia pula yang memiliki kekuatan yang sempurna atas apa yang ada di kerajaan-Nya, baik mengadakan maupun melenyapkan, mengihidupkan dan mematikan, memerintah dan melarang sesuai dengan kebijaksaan dan kemaslahatan.

Dalam ayat ini disebutkan dua kata yang menunjukkan bahwa dengan jelas bahwa pemilik otoritas mutlak di jagad raya ini adalah Allah SWT, yakni kata  lahu (milik-Nya) dan al-mulku (kerajaan). Maka, sebagaimana dijelaskan Abu Hayyan al-Andalusi, ayat ini memberitakan bahwa apa yang ada di dalam langit dan bumi adalah milik-Nya; juga kerajaan keduanya adalah kerajaan-Nya. Dengan demikian, berkumpul pada-Nya dua hal, yakni: kepemilikan dan kerajaan.

Oleh karena kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah SWT, maka yang diberlakukan di dalamnya adalah keputusan dan hukum-Nya. Mengomentari ayat ini,  Ibnu Jarir al-Thabari berkata bahwa Dia berfirman: Maka bagi penghuni kerajaan-Nya dan dalam kekuasan-Nya wajib menaati-Nya dan tidak durhaka terhadap-Nya.

Setelah itu diberitakan sifat lainnya dengan firman-Nya: walam yattakhidz walad[an] (dan Dia tidak mempunyai anak). Ini memastikan bahwa tidak ada satu pun yang menduduki kedudukan sebagai anak, baik secara hakiki maupun majazi. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan Ibnu Katsir, Dia tidak memiliki anak secara mutlak.

Dibeberkan al-Qurthubi, Allah SWT  menyucikan diri-Nya dari perkataan kaum musyrik, Yahudi, dan Nasrani beranggapan Allah SWT memiliki anak. Maha Suci Allah dari semua perkataan tersebut. Berkaitan dengan perkataan Yahudi dan Nasrani diberitakan dalam QS al-Taubah [9]: 31. Sedangkan bantahan terhadap kaum Musyrik yang menuduh Allah SWT memiliki anak-anak perempuan, disebutkan dalam QS al-Shaffat [37]: 149-153.

Oleh karena itu, barangsiapa menyandarkan anak kepada-Nya, maka sungguh dia telah berdusta dan mengada-adakan kedustaan atas tuhan-Nya. Demikian penjelasan Ibnu Jarir al-Thabari.

Tidak Ada Sekutu

Selanjutnya disebutkan sifat lainnya yang mempertegas sebelumnya: walam yakun lahu syarîk fi al-mulk (dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-[Nya]). Kata syarîk merupakan merupakan bentuk sifat dari kata syirkah. Pengertian syirkah adalah sesuatu dimiliki oleh dua atau lebih. Ayat ini menafikan adanya selain Allah SWT yang ikut memiliki dan menguasai kerajaan langit dan bumi.

Diterangkan al-Thabari, tidak layak ada sekutu selain Allah SWT dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya  sehingga diperbolehkan menyembah selain-Nya. Allah SWT mengingatkan: “Wahai manusia, esakanlah Tuhanmu yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya Muhammad SAW dalam ketuhanan. Bersihkanlah ibadah hanya kepada-Nya dari sesembahan lain, baik tuhan-tuhan, patung, malaikat, jin, manusia. Tidak patut  beribadah kecuali kepada Allah, Sang Pemilik semua itu.

Seandainya ada sekutu selain-Nya, niscaya alam semesta ini akan rusak binasa sebagaimana disebutkan dalam QS al-Anbiya’ [21]: 22).

Kemudian Allah SWT berfirman: wa khalaqa kulla syay`i (dan Dia telah menciptakan segala sesuatu). Sifat lainnya Dzat yang menurunkan al-Fuqan adalah Dzat yang menciptakan segala sesutu. Maka, sebagaimana ditegaskan al-Thabari,  segala sesuatu adalah ciptaan dan milik-Nya; dan semua yang dimiliki harus taat kepada pemilik mereka dan melayani tuan mereka, bukan kepada yang lain.

Lalu disebutkan: faqaddarahu taqdîr[an] (dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya). Kata qaddara berasal dari kata al-taqdîr. Kata tersebut berarti menjadikan sesuatu dengan ukuran tertentu dan aspek tertentu sesuai dengan tuntutan hikmah. Jika dihubungkan dengan Allah SWT, maka al-taqdîr berarti menciptakan sesuatu secara sempurna dan detail, tidak terjadi penambahan dan pengurangan hingga Allah SWT mengholangkan atau menggantikannya. Demikian menurut al-Asfahani.

Sedangkan Ibnu ‘Athiyah berpendapat bahwa taqdîr al-asysyâ` berarti membatasinya dengan tempat dan waktu, dan ukuran, kemaslahatan, dan kesempurnaannya.

Itulah Dzat yang menurunkan Alquran untuk manusia. Siapa pun yang mengimani dan memahami ayat ini dengan benar menolak penerapan hukum-hukum Alquran dalam kehidupan. Betapa tidak, Alquran diturunkan oleh Pemilik kerajaan langit dan bumi. Atas dasar apa manusia yang tinggal bumi milik Allah SWT berani menolak perintah Raja dan Pemiliknya? Atas dasar apa manusia berani menolak perintah Dzat yang menciptakan dirinya, semua rezeki yang dinikmati, segala kenikmatan yang diterima, dan semua makhluk di alam semesta? Sungguh hanya manusia yang bodoh berani melakukannya.

Berangkat dari ayat ini pula, semua ideologi dan pemikiran yang memberikan kebebasan bagi manusia membuat aturan sendiri seraya mencampakkan hukum Allah SWT seperti sekulerismem kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi wajib ditolak. Sebab, semua ideologi dan pemikiran itu hanya memuat manusia menjadi ingkar kepada-Nya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:

  1. Pemilik kerajaan langit dan bumi adalah Allah SWT, sehingga seluruh makhluk wajib tunduk dan mengabdi kepada-Nya
  2. Allah SWT tidak punya anak dan sekutu dalam kekuasaan-Nya
  3. Allah SWT pencipta segala sesuatu dan menetapkan semuanya dengan ukuran yang paling bagus

 

 

 
[123] Mencari Predikat Kota Syariah PDF Print E-mail
Monday, 07 April 2014 10:50

Dr. Fahmi Amhar

Sekarang syariah sudah mulai “nge-trend”.  Di mana-mana orang sudah semakin tidak “phobi” atau “risih” dengan label syariah. Sudah semakin banyak bank atau asuransi berlabel syariah.  Bahkan hotel dan restoran syariah pun muncul bak cendawan di musim hujan.

Tentu saja orang masih bisa berdebat sejauh mana syariah benar-benar ada pada lembaga-lembaga itu.  Maka sudah saatnya dirumuskan indikator suatu hal disebut “sesuai syariah”, agar pelabelan itu bisa terukur, sehinga yang sudah bisa dipertahankan, dan yang kurang bisa dilengkapi.

Maka lalu muncul pertanyaan, seperti apa “kota syariah” itu?  Apakah sekadar kota yang tak ada maksiat di dalamnya?  Tak ada lokalisasi pelacuran, tak ada miras, tak ada judi, tak ada diskotik atau “salon aneh-aneh”?  Atau kota syariah adalah sebuah kota yang “menggiring” (tak cuma memfasilitasi) seluruh warganya agar melaksanakan seluruh syariah?

Beberapa walikota di Indonesia mendapat penghargaan internasional atas keberhasilannya membangun kota yang lebih humanis, kota yang tidak dilalap oleh gegap gempita investasi, kota yang juga untuk mereka yang lemah dan kurang beruntung.  Sedang kota syariah adalah sebuah kota yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat mudah semua orang untuk selamat agamanya; sehat fisik, jiwa dan sosialnya; meningkat ilmu dan kecerdasannya; berkah rezekinya; dan mereka dapat meninggalkan dunia dengan khusnul khatimah.

Tentu saja, kota syariah pasti bukan kota yang setiap hari dihantui kesemrawutan atau kemacetan di jalanan, banjir setiap musim hujan, kumuh permukimannya, tidak aman jalanannya dan rawan terhadap bencana apa saja.

Kuncinya adalah usaha tak pernah henti untuk merencanakan kota dengan baik, melaksanakan rencana dan mengawasinya supaya tidak ada pelanggaran.  Ada banyak teknologi yang dapat dilibatkan agar penataan kota itu berjalan optimal.  Dan ini pernah dilakukan di kota-kota besar Khilafah Islam seribu tahun yang lalu!

Seribu tahun yang lalu, tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk di atas 100.000 jiwa.  Menurut para sejarahwan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad di Iraq memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M.  Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa.  Peringkat kedua diduduki oleh Cordoba di Spanyol yang saat itu juga wilayah Islam dengan 500.000 jiwa dan baru Konstantinopel yang saat itu masih ibu kota Romawi-Byzantium dengan 300.000 jiwa.

Namun sebagaimana laporan para pengelana Barat, baik Baghdad maupun Cordoba adalah kota-kota yang tertata rapi, dengan saluran sanitasi pembuang najis di bawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih dan diberi penerangan pada malam hari.  Ini kontras dengan kota-kota di Eropa pada masa itu, yang kumuh, kotor dan di malam hari gelap gulita, sehingga rawan kejahatan.

Pada 30 Juli 762 M Khalifah al-Mansur mendirikan kota Baghdad.  Al-Mansur percaya bahwa Baghdad adalah kota yang akan sempurna untuk menjadi ibu kota Khilafah.  Al-Mansur sangat mencintai lokasi itu sehingga konon dia berucap, “Kota yang akan kudirikan ini adalah tempat aku tinggal dan para penerusku akan memerintah”.

Modal dasar kota ini adalah lokasinya yang strategis dan memberikan kontrol atas rute perdagangan sepanjang sungai Tigris ke laut dan dari Timur Tengah ke Asia.  Tersedianya air sepanjang tahun dan iklimnya yang kering juga membuat kota ini lebih beruntung daripada ibukota khilafah sebelumnya yakni Madinah atau Damaskus.

Namun modal dasar tadi tentu tak akan efektif tanpa perencanaan yang luar biasa.  Empat tahun sebelum dibangun, tahun 758 M al-Mansur mengumpulkan para surveyor, insinyur dan arsitek dari seluruh dunia untuk datang dan membuat perencanaan kota.  Lebih dari 100.000 pekerja konstruksi datang untuk mensurvei rencana-rencana. Banyak dari mereka disebar dan diberi gaji untuk langsung memulai pembangunan kota.  Kota dibangun dalam dua semi-lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer.  Bulan Juli dipilih sebagai waktu mulai karena dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah percaya bahwa itu saat yang tepat, karena air Tigris sedang tinggi, sehingga nantinya kota dijamin aman dari banjir.  Memang ada sedikit astrologi di situ, tetapi itu bukan pertimbangan utama.  Batu bata yang dipakai untuk membangun berukuran sekitar 45 centimeter pada seluruh seginya.  Abu Hanifah adalah penghitung batu bata dan dia mengembangkan sistem kanalisasi untuk membawa air baik untuk pembuatan batu bata maupun untuk kebutuhan manusia.

Setiap bagian kota yang direncanakan untuk jumlah penduduk tertentu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.  Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan.  Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.  Negara dengan tegas mengatur kepemilikan tanah berdasarkan syariat Islam. Tanah pribadi yang ditelantarkan lebih dari tiga tahun akan ditarik kembali oleh negara, sehingga selalu tersedia dengan cukup tanah-tanah yang dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum.

Namun perencanaan kota juga memperhatikan aspek pertahanan terhadap ancaman serangan.  Ada empat benteng yang mengelilingi Baghad, masing-masing diberi nama Kufah, Basrah, Khurasan dan Damaskus, sesuai dengan arah gerbang untuk perjalanan menuju kota-kota tersebut.  Setiap gerbang memiliki pintu rangkap yang terbuat dari besi tebal, yang memerlukan beberapa lelaki dewasa untuk membukanya.

Tak heran bahwa kemudian Baghdad dengan cepat menutupi kemegahan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia yang terletak 30 kilometer di tenggara Baghdad, yang telah dikalahkan pada perang al-Qadisiyah pada tahun 637.  Baghdad meraih zaman keemasannya saat era Harun al Rasyid pada awal abad 9 M.

Kejayaan Baghdad baru surut pasca serangan Tartar pada tahun 1258 M, yang terjadi setelah ada pengkhianatan di antara pejabat Khilafah.  Serangan ini berakibat terbantainya sekitar 1,6 juta penduduk Baghdad dan musnahnya khazanah ilmu yang luar biasa setelah buku-buku di perpustakaan Baghdad dibuang ke sungai Tigris, sampai airnya hitam.  Nyaris 8 abad kemudian pemboman Amerika “menyelesaikan” penghancuran bangunan megah yang masih tersisa di kota 1001 malam ini.

 
[124] Chevron Kuasai Ciremai PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:42

Sejauh ini aktivitas eksplorasi panas bumi Pertamina sudah teruji di Kamojang.

Perusahaan migas Amerika Serikat Chevron dipastikan mendapat konsesi selama 20 tahun untuk mengeksplorasi panas bumi di Gunung Ciremai, Jawa Barat.

General Manager Policy, Government and Public Affair Chevron Geothermal Indonesia Paul Mustakim mengatakan, pihaknya memang  telah ditetapkan sebagai pemenang tender WKP (wilayah kuasa pertambangan) Gunung Ceremai oleh Pemerintah  Daerah Jawa Barat pada Januari 2013 lalu, sementara tendernya dilakukan pada tahun 2011/2012 lalu.

Kepastian Chevron sebagai pemenang tender proyek geothermal ini sempat dibantah oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Menurutnya, belum ada penetapan pemenang tender proyek tersebut.

Ini bisa dilihat dalam kicauan twitternya. “18. Saat ini belum ada pemenang penetapan pemenang tender #HebohCiremai,” ujar Aher.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Tisnaldi membenarkan bahwa penentuan pemenang itu dilakukan Pemda Jawa Barat. Peserta tender di Ceremai adalah Chevron dan Hitay asal Turki.  Pemenangnya Chevron. Menurutnya, Chevron sedang berunding untuk proyek tersebut dengan menggandeng partner lokalnya PT Fajar Jasa Sarana.

Menurut Paul, tender yang dimenangi perusahaannya adalah tender WKP biasa yang diikuti oleh semua investor. "Investor yang memiliki kemampuan finansial dan pengalaman akan menjadi pemenang tender," ujarnya seperti dikutip Kontan (3/3/2014).

Ia menjelaskan, saat ini perusahaan masih melakukan penyelidikan awal  tentang potensi panas bumi yang ada di Gunung Ceremai dan belum bisa memaparkan nilai investasinya. "Data Dirjen EBTKE Kementerian ESDM menunjukkan ada potensi sekitar 110 Megawatt (MW) panas bumi di Gunung Ceremai," terang Paul. Biasanya untuk investasi Geothermal dibutuhan investasi 3,5 juta dolar AS untuk 1 MW.

Lantaran Chevron belum melakukan pengeboran, kata Paul, pihaknya memaklumi jika banyak informasi dan kabar tidak benar yang beredar di masyarakat saat ini sekitar Gunung Ceremai terkait proyek Geothermal tersebut. "Ini menjadi tantangan industri untuk memberikan pemahaman bagi masyarakat," jelas Paul.

Ketua Gerakan Massa Pejuang Untuk Rakyat Kuningan (GEMPUR) Okki Satrio Djati menyatakan,  pihaknya menuntut transparansi proses tender yang dimenangi  Chevron, sebab sejak masa kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, sudah ada tujuh gunung diberikan ke Chevron untuk proyek geothermal.

Pertamina Mampu

Bercokolnya perusahaan migas asing seperti Chevron disayangkan oleh banyak kalangan. Soalnya, dari sisi kemampuan, sebenarnya Pertamina mampu menangani eksplorasi geothermal tersebut.

Pengamat Energi Komaidi Notonegoro, seperti dikutip republika.co.id mengatakan, Pertamina hanya terkendala masalah dana yang disebabkan tak adanya dukungan pemerintah. Ini sangat berbeda misalnya dengan Malaysia yang menganakemaskan Petronas sebagai perusahaan migas nasional.

Komaidi melukiskan, di Malaysia, pendapatan yang dihasilkan Petronas diputar untuk berinvestasi kembali untuk mengembangkan bisnis. Sedangkan di Indonesia, keuntungan Pertamina dimasukkan sebagai pendapatan negara.

Menurut Komaidi, pemerintah seharusnya memberikan potongan dividen kepada Pertamina. ”Dari seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), 50 persen dividen untuk negara berasal dari Pertamina,” katanya.

Sejauh ini, lanjutnya, aktivitas eksplorasi panas bumi Pertamina sudah teruji di Kamojang. Artinya, sebagai ujung tombak negara di sektor energi sudah saatnya pemerintah memberikan keleluasaan gerak kepada Pertamina.

Menurut Ketua Lajnah Maslahiyah DPP HTI Arim Nasim, langkah pemerintah ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada asing. “Itulah bukti yang kesekian kalinya bahwa rezim ini lebih berpihak kepada asing,” ungkapnya.

Menurutnya, rezim antek penjajah ini pun pandai berkilah, ketika publik mempermasalahkan rencana penyerahan tersebut dengan menyebut negara jual Ciremai Rp 60 triliun, Kementerian ESDM membantahnya dengan menyatakan Ciremai tidak dijual.

“Betul memang gunungnya tidak dijual tapi menyerahkan potensi panas bumi dirampok oleh Chevron, perusahaan Amerika Serikat,” beber Arim.

Menurut Arim, seharusnya panas bumi tersebut dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan dijual kepada asing. [] Joko Prasetyo

 

 


Page 22 of 564

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved