MediaUmat.com
[126] Bertahan dengan Model Salafiah PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:10

Pondok Pesantren Ashhabul Yamin, Nagari Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Sejuk dan tenang. Itulah suasana yang terasa di saat memasuki kawasan Pondok Pesantren Ashhabul Yamin yang berada sebelah utara lereng Gunung Marapi, tepatnya di Nagari Lasi, Kecamatan Candung, Kabupaten Agam.

Ashhabul Yamin berdiri pada 1992 atas dasar swadaya masyarakat, dipelopori oleh Buya H Zamzami Yunus yang sekaligus merupakan pimpinan ponpes sejak awal berdirinya hingga saat ini.

Berdirinya pesantren ini beranjak dari keprihatinan salah seorang tokoh masyarakat Lasi Tuo Malin Daro melihat putra-putri masyarakat Lasi hanya mampu menamatkan pendidikan dasar.

Dengan keberadaan sarana pendidikan yng serba minim, menyebabkan mereka sulit untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi. Jika mempunyai dana cukup dan kemauan keras, mereka harus sekolah ke luar daerah yang membutuhkan biaya cukup besar.

Malin Daro menyampaikan pemikirannya kepada Buya H Zamzami Yunus, seorang ulama yang juga salah seorang tokoh pendidikan dan pernah mengajar di beberapa pondok pesantren di Sumbar.

Usulan tersebut berupa kesediaan Malin Daro mewakafkan tanahnya yang terletak di jantung Dusun Lasi Tuo, untuk dijadikan sebuah lembaga pendidikan agama bagi masyarakat Lasi. Atas dukungan penuh dari masyarakat, maka berdirilah pesantren ini di atas tanah wakaf seluas setengah hektar.

Penerimaan perdana santri baru dilaksanakan pada 2 Agustus 1992. Murid pertamanya sekitar 19 orang. Sedangkan yang membantu Buya Zamzami mengajar saat itu adalah Ustadz Marzuk Malin Kayo; Ustadz Syafrizal Khatib Mangkuto; Ustadz Ahmad Dardir Pakiah Bandaro dan seorang tenaga tata usaha asal Palembayan, Ernawati (Almh).

Awalnya proses belajar mengajar dilakukan di gedung rumah dinas guru yang sudah tidak terpakai, yang terdiri atas ruangan kecil dengan penyekat semi permanen. Kondisi pembelajaran yang demikian menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan pesantren ke depannya. Saat ini jumlah santri mencapai 278 orang dengan ruangan kelas sebanyak 10 lokal.

Model Salafiah

Satu ciri khas yang sekaligus menjadi ikon dari ponpes Ashhabul Yamin adalah sistem pendidikan yang masih mempertahankan sistem pendidikan salafiah atau halaqah.

Artinya, kurikulum yang dipakai hanya terbatas pada kurikulum pondok dengan mempelajari beberapa ilmu seperti nahwu, sharaf, fiqih, tafsir, hadist, tauhid, tasawuf dan lain-lain. Tak  aneh jika Ashhabul Yamin tetap mempertahankan gaya pendidikan tersebut karena ponpes ini mempunyai visi terciptanya ulama yang mampu menghadapi tantangan zaman. Sebuah visi yang akan melahirkan kader-kader waratsatul anbiya (pewaris para nabi).

Dengan keterbatasan yang ada, santri Ashhabul Yamin mampu menorehkan prestasi baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Salah satu prestasi yang pernah diraih adalah juara umum lomba MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub) tahun 2008 tingkat provinsi dan Juara I pencipta puisi terbaik tingkat nasional tahun 2007 yang dilaksanakan di Samarinda.

Sesuai niat untuk mendidik warga, Ashabul Yamin pun menyelenggarakan pendidikan formal madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah yang mengombinasikan kurikulum pesantren dengan kementerian agama.

Pesantren ini tidak memosisikan diri sebagai lembaga pendidikan yang ekslusif, tetapi mengarahkan agar warga ponpes berbaur dengan masyarakat sekitar dan memberikan kontribusinya di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat sekitar merasakan manfaat dari keberadaan ponpes ini.

Beberapa aktivitas sosial yang dilakukan oleh para santri adalah dakwah kepada masyarakat, penyelenggaraan jenazah, pengutusan para santri satu kali sebulan sebagai khatib Jumat dan roadshow tiap Ramadhan ke luar daerah.

Tugas Mulia

Di tengah arus sekulerisme yang menghantam seluruh sendi kehidupan, Ashabul Yamin menegaskan, menuntut ilmu di pesantren bukanlah tiket untuk mencari nafkah. Karena pesantren bertugas mencetak dai—penyeru manusia agar tunduk dan taat pada aturan Allah SWT. “Dai adalah tugas yang sangat mulia dan merupakan pekerjaan pokok para nabi dan rasul,” tegas Buya Zamzami.

Maka harus tersemat di dalam hati sanubari setiap santri rasa kepercayaan diri untuk menjadi generasi tonggak estafet perjuangan Rasulullah dan para salafus salih.

Sebagai bekal bagi para santri ketika akan terjun ke masyarakat, Ashhabul Yamin memberikan training mengajar kepada para santri dan juga berbagai ketrampilan lainnya sehingga para santri tidak merasa canggung ketika berada di tengah-tengah masyarakat.

Para alumni Ashhabul Yamin menggeluti berbagai macam bidang yang sebagian besar terjun sebagai seorang mubaligh. Setelah menyelesaikan pendidikan di ponpes banyak dari para santri yang melanjutkan kuliah di dalam negeri bahkan ada yang melanjutkan kuliah ke luar negeri seperti di Mesir dan Yaman.

Di samping itu, Ashhabul Yamin memberikan kesempatan kepada para alumni yang ingin mengabdi di ponpes sebagai guru. Jadi, bukan suatu hal yang aneh jika mayoritas guru adalah alumni ponpes ini.[]abu hamzah-abu fatih/joy

BOKS

Buya H Zamzami Yunus, Pimpinan Ponpes Ashabul Yamin

Islam Harus Jadi Asas Bernegara

Kerusakan yang terjadi pada saat ini, disebabkan tidak adanya kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat. Makanya Buya Zamzami menginginkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang islami.

“Kita menginginkan masyarakat kita menjadi masyarakat islami yang bertindak sesuai syariah Islam,” ungkap alumnus Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung dan kuliah syariah Malalo Solok.

Menurut lelaki kelahiran Lasi, 8 Agustus 1947, Ashhabul Yamin menginginkan Islam menjadi budaya bagi masyarakat dalam setiap sendi kehidupan. “(Oleh karena itu) kita menginginkan Islam menjadi asas dalam bernegara, itu tidak bisa ditawar-tawar,” pungkasnya menutup pembicaraan dengan Media Umat.[] abu hamzah-abu fatih/joy

 

 
[126] Partai Islam, Riwayatmu Dulu dan Kini PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:32

Pengantar: Partai politik Islam selalu berkiprah dalam pesta demokrasi di Indonesia. Meski sudah 10 kali ikut pemilu, alih-alih menang, parpol Islam sepertinya hanya menjadi penggembira. Mengapa sampai seperti itu dan seharusnya seperti apa parpol Islam, Fokus kali ini membahasnya.

Parpol Islam dan yang berbasis massa Islam, tak lagi terlihat menyuarakan Islam, bahkan seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam.

Sejak kemerdekaan, ada puluhan partai politik, baik yang bercorak sosialis termasuk komunis, nasionalis, dan juga parpol yang dikatakan parpol Islam dan partai politik berbasis massa Islam.  Tak sedikit di antaranya yang kemudian mati di tengah perjalanan.

Jika dihitung sejak pemilu 1999, banyak parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam yang sudah “mati”.  Di antaranya, Partai Kebangkitan Muslim Indonesia, Partai Ummat Islam, Partai Kebangkitan Ummat, Partai Masyumi Baru, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Abul Yatama, Partai Syarikat Islam Indonesia 1905, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi, Partai Nahdlatul Ummat, Partai Ummat Muslimin Indonesia, Partai Bintang Reformasi, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Partai Matahari Bangsa.  Semua partpol ini tidak ikut dalam kontentas pileg 2014.

Sebagian lain tetap ikut dalam kontestasi pemilu hingga kini dengan perolehan suara yang fluktuatif. Data menunjukkan, perolehan suara setiap parpol Islam dan berbasis massa Islam kurang dari sepuluh persen dan hanya beberapa partai bisa meraih belasan persen.  Itu terjadi dalam empat kali pemilu sejak 1999.  Lihat tabel.

Dari waktu ke waktu suaranya terus terpuruk. Total suara lima parpol Islam dan berbasis massa Islam yang tetap ikut kontestasi pada empat pemilu (pileg 1999, 2004, 209 dan 2014) tidak beranjak dari kisaran 30 persen dari suara sah.

Jika dihitung dari jumlah orang yang memiliki hak suara, angkanya lebih kecil lagi, sebab angka itu dari suara sah.  Perlu diingat angka golput pada pemilu 1999 sebesar 10,21 persen. Pada pileg 2004 naik menjadi 23,34 persen dan pada pemilu legislatif 2009 naik lagi menjadi 29,01 persen. Pileg 2014 ini dari rata-rata hasil Quick Count LSI dan Kompas angka golput (tidak memilih ditambah suara tidak sah) naik menjadi 34,18 persen.

Pertanyaannya, mengapa capaian parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam terus saja rendah, jika tidak boleh dikatakan terpuruk? Jawaban pastinya memang sulit diperoleh.

Tapi yang jelas, itu mengindikasikan bahwa parpol Islam dan yang berbasis massa Islam belum bisa menarik kepercayaan pemilih. Bisa jadi karena realita parpol, kinerjanya dan kondisi para politisi dan pejabat berlatar belakang parpol tersebut.

Parpol yang ada termasuk parpol Islam dan yang berbasis massa Islam tidak ada lagi yang bisa dikatakan sebagai parpol ideologis. Semuanya telah menjelma menjadi parpol pragmatis.

Kepentingan kursi jabatan dan kekuasaan menjadi satu faktor penentu sikap.  Dari aspek ini, hampir tidak ada lagi bedanya antara parpol Islam dan yang berbasis massa Islam dengan parpol nasionalis sekuler.

Sikap pragmatis parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu terlihat dalam banyak kebijakan parpol, sekadar contoh adalah dalam berkoalisi. Parpol Islam dalam sejumlah pilkada berkoalisi dengan parpol nasionalis bahkan parpol Kristen (PDS).  Sikap pragmatis non ideologis parpol Islam dalam berkoalisi itu bukan belakangan saja terjadi, bahkan sudah terjadi sejak pasca kemerdekaan 1945.

Pada tahun 1945-1946 dalam kabinet Syahrir I, terjadi koalisi Masyumi – Parkrindo (Partai Kristen Indonesia).  Pada 1950-1951 dalam kabinet Natsir terjadi koalisi Masyumi-PSI (Partai Sosialis Indonesia), tahun 1951-1952 (Kabinet Sukiman) dan tahun 1952-1953 (kabinet Wilopo) terjadi koalisi Masyumi-PNI.

Pudarnya sifat idelogis Islam dan yang berbasis massa Islam, tercermin pula pada tidak adanya visi, misi, paltform pemikiran dan kerangka ide dan konsepsi yang jelas yang diperjuangkan oleh parpol dan diserukan kepada rakyat.

Lebih parah lagi, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam, tak lagi terlihat menyuarakan Islam, bahkan seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam. Sebaliknya, semua parpol seolah berlomba menggunakan slogan-slogan demokrasi, nasionalisme, humanisme, HAM dan slogan-slogan yang identik dengan sistem sekuler demokrasi.

Dari sisi sikap dan kebijakan partai, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam juga tak ada beda dengan parpol lainnya.  Parpol-parol itu hampir selalu mendukung dan membenarkan kebijakan pemerintah yang menyalahi Islam.

Parpol Islam dan yang berbasis massa Islam juga terlibat dalam pembuatan sejumlah UU yang bercorak liberal, merugikan rakyat, menyerahkan kekayaan rakyat kepada asing dan membuka jalan bagi asing mengontrol negeri ini.  Tengok saja, UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Minerba, UU Penamanan Modal, UU Pangan, UU Pengadaaan Tanah untuk Pembangunan, UU Sisdiknas, UU BHMN, UU SJSN dan BPJS, dan UU lainnya.

Semua itu makin diperparah oleh perilaku para politisi dan pejabat yang berasal dari parpol Islam yang terlihat kurang peduli dengan nasib rakyat dan hampir tak beda dengan para politisi dari bukan parpol Islam.  Misalnya glamour, korupsi, dsb.

Walhasil, masyarakat tidak melihat ada perbedaan antara parpol Islam dengan yang bukan parpol Islam, baik dalam hal visi, misi; ide, konsep dan gagasan; sikap dan kebijakan; serta perilaku para politisi dan pejabat yang berasal dari parpol tersebut.

Masih minimnya dukungan kepada parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu juga mengindikasikan masih minimnya kesadaran Islam pada kebanyakan dari masyarakat.  Celakanya, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu tidak terlihat nyata melakukan edukasi dan perjuangan politik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan Islam dan keberislaman.

Di atas semua itu, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam mengalami kegagalan yang lebih mendasar, yaitu telah kehilangan jati diri sebagai parpol Islam.  Jatidiri parpol Islam bisa distandarisari dengan firman Allah SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104). [YA – Lajnah Siyasiyah DPP HTI]

BOKS:

Perolehan Suara Parpol Islam/Basis Massa Islam

Partai

Pileg 1999

Pileg 2004

Pileg 2009

Pileg 2014

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara*

%**

PKB

13.336.982

12,61

11.989.564

10,57

5.146.122

4,94

11227909

9,18

PKS

1.436.565

1,36

8.325.020

7,34

8.206.955

7,88

8268046

6,76

PAN

7.528.956

7,12

7.303.324

6,44

6.254.580

6,01

9197590

7,52

PPP

11.329.905

10,71

9.248.764

8,15

5.533.214

5,32

8157969

6,67

PBB

2.049.708

1,94

2.970.487

2,62

1.864.752

1,79

1846856

1,51

Total

35.682.116

33,74

39.837.159

35,12

27.005.623

25,94

38698370

31,64

Ket:

* Diperoleh dengan mengalikan persentase rata-rata hasil Quick Count dengan jumlah suara sah.  Suara sah diprediksi sebesar 65,82% (rata-rata dari hasil Quick Count LSI 65,98% dan Kompas 65,66% ) yaitu 122308374 suara dari DPT 185.822.507 orang.

** Angka rata-rata hasil Quick Count dari enam lembaga (LSI, Cyrus Network-CSIS, Indikator, Kompas, RRI, Populi Center)

 

 
[126] The Power of Communication PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:45

Oleh: Bey Laspriana Husein, Praktisi Komunikasi Syariah

Al kisah seorang laki-laki tua yang duduk bersila di pinggir jalan menanti kemurahan setiap yang lewat untuk mendapatkan sekeping dua keping receh. Ia buta dan ia hanya ditemani sebuah kaleng dan selembar kardus bertuliskan “I’m Blind. Please Help”.

Tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang entah kenapa ia kemudian mengambil kardus di samping pengemis tua itu, lalu menuliskan sesuatu. Setelah selesai, ia letakkan kembali kardus itu pada tempatnya semula, dan ia beranjak pergi.

Apa yang terjadi? Tidak berapa lama perempuan itu pergi, si pengemis menjadi takjub, karena ia mendapatkan receh yang begitu banyak dibanding biasanya. Bagaimana bisa terjadi? Karena ternyata di atas kardus itu tertulis “It’s a beautiful day and I can’t see it”.

Meski cerita di atas adalah sebuah tayangan iklan sosial, tapi tayangan itu bagi saya sangat inspiratif sekaligus menguatkan keyakinan saya akan kekuatan komunikasi.

Jika kita cermati dan renungkan. Sesungguhnya sebagian besar kehidupan kita diisi oleh kegiatan komunikasi. Baik dalam bentuk verbal (kata-kata, audio), visual (gambar, simbol), bahasa isyarat, maupun gabungan dari berbagai bentuk komunikasi.

Melalui komunikasi seringkali berbagai persoalan bisa diselesaikan. Namun sebaliknya, acapkali persoalan muncul akibat dari lemahnya komunikasi. Komunikasi pula yang mampu membangun kesadaran dan persepsi manusia pada apa yang mereka anggap tidak penting, berbalik menjadi penting bahkan sangat penting dan mendesak. Dan tidak segan-segan akhirnya mereka memberikan dukungan nyata meski mereka sadar akan konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Melalui komunikasi, citra (brand image) seseorang pun bisa diciptakan. Mengubah citra buruk seseorang menjadi baik dan sebaliknya bukanlah hal mustahil bagi sebuah aktivitas komunikasi. Dan melalui komunikasi yang tersistem secara terencana dan terintegrasi perubahan sebuah tatanan sebuah negara bahkan sebuah peradaban kehidupan manusia di dunia bisa dilakukan.

Mari kita flashback sejenak untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh Baginda tercinta, uswah semua manusia, Muhammad Rasulullah SAW. Dalam kurun waktu yang amat singkat—tiga belas tahun, beliau mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat Arab jahiliyah menjadi sebuah tatanan kehidupan baru yang penuh dengan keadilan, menghormati martabat setiap manusia, menyejahterakan dan memberikan ketenangan kepada setiap orang tanpa pandang suku, turunan bahkan agama.

Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya yang dilakukan oleh beliau? Rahasianya ternyata terletak pada apa yang beliau sampaikan kepada masyarakat Arab berupa dakwah Islam. Dakwah Islam inilah yang menjadi wasilah Muhammad SAW mentransformasi ‘gagasan-gagasan langit’ (baca: Firman Allah SWT) menjadi sesuatu yang mengagetkan, dipertanyakan, dipikirkan hingga akhirnya dibutuhkan dan didukung oleh masyarakat jahiliyah kala itu.

Satu-satunya ‘senjata’ yang beliau pakai saat itu adalah kemampuannya mengomunikasikan seluruh pesan “Zat Yang Maha Agung” secara tepat dan efektif, sehingga sebagian besar umat manusia mengikutinya.

Melalui komunikasi itu pula Rasul SAW mampu mengubah persepsi manusia tentang kehidupan. Dan hebatnya mampu membangkitkan umat jahiliyah berubah menjadi masyarakat berperadaban tinggi yang disegani oleh masyarakat dunia lebih dari 13 abad! Sebuah capaian yang belum tertandingi oleh agama dan sistem hidup manapun di dunia ini.

The Power of Islamic Communication

Komunikasi memang ditujukan untuk mengubah persepsi bahkan perilaku seseorang maupun komunal (masyarakat). Permasalahannya adalah komunikasi yang seperti apa yang harus dilakukan agar berpengaruh positif pada perilaku seseorang? Di sinilah komunikasi Islam diperlukan.

Islam menjadikan akidah dan syariah sebagai dua aspek dasar keyakinan dan implementasi dalam segala aktivitas kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal komunikasi. Oleh karenanya, akidah dan syariah  harus menjadi frame of mind dan frame of work (Proud of You, Irtikaz, 2012, hal 92-96).

Frame of mind adalah menjadikan akidah dan syariah sebagai landasan dan acuan dalam menggali ide, gagasan, konsep dan strategi komunikasi yang unik, kreatif, berbeda dan ‘nonjok’ tapi tetap dalam koridor Islam.

Pentingkah? Ya jelas! Karena di kebanyakan orang praktisi komunikasi atau kreatif berpendapat bahwa ide, gagasan, konsep itu harus bebas. Tidak boleh dibatasi karena akan membelenggu kreatifitas. Oleh karenanya, tidak mungkin bagi komunikator Muslim menyuarakan ide kebebasan, ide demokrasi.

Adapun frame of work, adalah implementasi serta eksekusi komunikasi-kreatif baik pada strategi, desain komunikasi visual, media yang harus juga bersandar pada aturan Islam. Mengekspos kecantikan perempuan adalah terlarang, sebagai sebuah contoh. Dengan begitu komunikasi yang seperti ini akan memberikan efek dakwah, keberkahan dan kemaslahatan bagi semua manusia. Wallahu’alam.[]

 

 

 

 

 

 
[126] Emansipasi Wanita Dalam Bibel PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:33

Kembali lagi kita berjumpa di bulan April, bulan yang yang dijadikan kaum Feminis untuk mengampanyekan opini-opini emansipasi wanita. Apa itu emansipasi? Emansipasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat di bidang sosial. Dan umumnya istilah ini dipakai dalam konteks antara wanita dan laki-laki.

Lalu bagaimana sejarah munculnya emansipasi wanita? Gerakan emansipasi wanita muncul dari Barat. Dalam sebuah Ensiklopedia, kutipan sebuah hasil rapat dua konferensi kegerejaan mengenai wanita yang dilaksanakan di Roma tahun 582 M mengeluarkan komunike:

”Wanita adalah mahluk yang tidak mempunyai jiwa dan oleh sebab itu selamanya tidak akan menikmati taman Firdaus dan tidak masuk kerajaan langit. Wanita adalah kekejian perbuatan setan, tidak ada hak bicara dan tertawa dan tidak boleh memakan daging, bahkan setinggi-tingginya hak dia adalah menghabiskan semua kesempatan untuk melayani laki-laki tuannya, atau menyembah Tuhan Allah”. (Encyclopedie La Rousse, kata Femme).

Demikian buruknya pandangan gereja terhadap wanita, sehingga kondisi wanita di Barat terus berjalan dari yang buruk kepada yang lebih buruk hingga abad ke-17 M. Ketika itu wanita di Barat berada pada level perbudakan dan kehinaan yang paling rendah.

Di Inggris ada undang-undang yang memperbolehkan laki-laki menjual istri-istrinya seharga 6 pounsterling. Sekitar tahun 1790, harganya menjadi 2 sen. (Abbas Akkad : Al-mar’ah fil al-Qur’an, hal.192.)

Sehingga kemudian muncullah feminisme.  Gerakan ini muncul pada 1785 berawal dari perkumpulan terpelajar kalangan bangsawan di Middleburg-Belanda. Dari Belanda gerakan ini menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika, dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu & Marquis de Condorcet. Sejatinya, gerakan feminisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan wanita terhadap hukum-hukum Bibel, sebagai bentuk protes terhadap norma-norma sosial saat itu, norma-norma yang didominasi oleh gereja pada abad 18,  yang menindas wanita.

Bagaimana norma-norma gereja yang menindas kaum wanita di Barat? Berikut beberapa ayat dari Bibel:

Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari wanita ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. (1 Korintus 11:3)

Aku tidak mengizinkan wanita mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.  Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan wanita itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. (1 Timotius 2:12-14)

Apabila ada seorang menjual anaknya yang wanita sebagai budak, maka wanita itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.  (Keluaran 21:7)

Ajaran Bibel mengatakan bahwa laki-laki lebih tinggi dari wanita secara mutlak dalam hal apapun. Bahkan tidak ada kesamaan derajat antara wanita dan laki-laki dalam ketakwaan kepada Allah. Wanita berada di level yang paling rendah.

Wanita juga dilarang membagikan ilmunya kepada siapapun. Ini yang masih diikuti gereja Katholik, sehingga dalam biara, walaupun di komunitas biarawati yang kesemuanya adalah wanita, tapi pengajar tetaplah Pastor (pendeta laki-laki).

Apalagi memberikan perintah, suruhan atau kata-kata yang menyuruh apapun kepada laki-laki, berapapun umur mereka. Karena wanita mempunyai derajat yang lebih rendah dari laki-laki.

Tak hanya sampai di situ, Bibel pun menuduh wanita lah sebagai penyebab dosa yang dilakukan Nabi Adam as. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dalam Bibel pun ada ayat-ayat tentang pro-perbudakan. Bukannya melarang perbudakan, tapi bahkan memperbolehkan seorang ayah menjual anak wanitanya untuk dijadikan budak.

Sungguh, ini berbeda jauh dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam surah an Nisa (4):34, wanita pun mendapat kesempatan untuk menjadi mulia di mata Allah SWT. Dalam hal ketakwaan kepada Allah SWT, tidak dibedakan wanita dan laki-laki.

Islam justru datang membebaskan wanita. Islam hadir sebagai ideologi pembaharuan terhadap budaya-budaya, terhadap doktrin-doktrin gereja yang menindas wanita, mengubah status wanita secara drastis. Tidak lagi sebagai second creation (mahluk kedua setelah laki-laki) atau penyebab dosa. Justru Islam mengangkat derajat wanita sebagai sesama hamba Allah seperti halnya laki-laki.

Jika ada umat Islam yang ikut-ikutan latah mengkampanyekan ide-ide feminisme dalam rangka emansipasi wanita, maka sungguh, dia adalah Muslim yang buta dengan ajaran-ajaran Islam!

 

 

 
[126] Lintas Mancanegara PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:57

Pasukan NATO di Afghanistan Sering Membuat Konflik Bertambah Buruk

Mike Martin mengundurkan diri dari jabatan Kapten Tentara Teritorial setelah Kementerian Pertahanan (MoD) menolak memberikan izin mempublikasikan buku hasil penelitiannya. Seperti diberitakan BBC beberapa waktu lalu, dalam buku tersebut Mike mengungkapkan  pasukan NATO di Provinsi Helmand “sering membuat konflik menjadi lebih buruk”.

Martin mempelajari Helmand selama enam tahun dan menyelesaikan gelar PhD yang didanai militer di King College London. Dia mengatakan kepada BBC pasukan NATO tidak memahami “kompleksitas” konflik suku-suku Afghan dan hal ini “dimanipulasi” oleh para pemimpin suku untuk berebut lahan dan air.

“Ini berarti bahwa kami sering membuat konflik menjadi lebih buruk, bukan lebih baik, “tulisnya dalam penelitian itu.

Menurut anggota Kantor Berita HTI Farid Wadjdi, temuan Mike memperbanyak informasi yang terungkap tentang ketidakadilan yang dilakukan oleh pasukan tentara salib di Afghanistan. Dari mulai pasukan NATO yang memutilasi pejuang Taliban hingga mengencingi mayat pasukan Taliban yang tewas. “Sifat barbar pasukan tentara salib ini adalah akar kesombongan mereka dan kegagalan untuk memahami budaya dan kebiasaan penduduk pribumi. Tentara Khilafah Islam tidak pernah memperlakukan rakyat dengan cara ini,” pungkasnya.[]

Pemerintah Pertimbangkan Melarang Hizbut Tahrir Crimea

Wakil Ketua Dewan Menteri Crimea Rustam Temirgaliev menyatakan Hizbut Tahrir, yang dianggap sebagai organisasi teroris di Rusia, harus juga dilarang di Crimea sebagai konsekuensi bergabungnya Crimea dengan Federasi Rusia, Jum’at (4/4) lansir Kantor Berita Interfax.

Menurut aktivis Hizbut Tahrir Crimea Suleyman Ibragimov itu merupakan upaya untuk memberangus semakin banyaknya Muslim Tatar Crimea yang bergabung dengan Hizbut Tahrir. “Karena di satu sisi ribuan orang pendukung Hizbut Tahrir adalah Muslim Tatar Crimea dan di sisi lain Hizbut Tahrir tidak dilarang di Ukraina dan ribuan Muslim di Crimea tiba-tiba menjadi sekelompok penjahat hanya karena negara itu bergabung dengan Rusia,” kritiknya.

Hizbut Tahrir adalah partai politik islami yang tidak mengambil aksi-aksi fisik sebagai metodenya. Misi Hizbut Tahrir adalah mendidik dan mengajarkan kepada masyarakat tentang Islam. Tidak ada cerita sebelumnya bahwa Hizbut Tahrir menggunakan aksi-aksi fisik selama 60 tahun usianya. Demikian juga selama 20 tahun keberadaan Hizbut Tahrir di Ukraina yang kemudian menyebar ke Crimea dan Rusia.

“Hizbut Tahrir dilarang di negara-negara diktator tiran dan jahat,” tegasnya.[]

Facebook Ungkap Negara yang Paling Banyak Meminta Informasi Data Pengguna

Melihat semakin luasnya pengguna Facebook di negara Arab yang sebagian besar menggunakannya untuk mengekspresikan oposisi mereka terhadap sistem dan peraturan yang ada di negara mereka, Facebook mengungkapkan bahwa pihaknya banyak menerima permintan dari negara-negara Arab yang ingin mengetahui data para pengguna.

Situs jejaring Sosial yang sangat terkenal itu mengungkapkan bahwa Lebanon adalah  negara Arab yang paling banyak meminta untuk mengetahui data-data pengguna. Tercatat ada 12 permintaan seputar data pengguna.

Sedangkan dalam peringkat kedua disebut Mesir adalah negara yang sering juga meminta data pengguna, terhitung ada 6 permintaan seputar pencarian data. Sebagaimana yang dilansir oleh situs Arabi 21.

Dan facebook juga melaporkan bahwa Amerika Serikat adalah negara di dunia yang paling banyak meminta data pengguna  dari Facebook , sedangkan India tercatat sebagai negara di dunia yang paling banyak meminta penghapusan konten.

Namun Facebook tidak mengungkapkan dan menjelaskan apakah Facebook menanggapi semua permintaan terebut atau sebagiannya, sama sekali tidak meresponnya.[] joy dari berbagai sumber

 

 


Page 13 of 596

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved