MediaUmat.com
[117] Ibadah Hari Minggu, Adakah Perintahnya? PDF Print E-mail
Wednesday, 19 February 2014 07:21

Mungkin kesannya pertanyaan ini remeh. Tapi mari kita kupas. Masalah ibadah adalah masalah penting yang harusnya memiliki dasar/dalil yang cukup kuat. Karena melakukan ritual ibadah wajib secara terus menerus tanpa dalil atau perintah dari Allah, merupakan ibadah yang sia-sia.

Umat Kristen melakukan ibadah di hari Minggu secara terus menerus dan kontinyu. Bahkan kita mengenal hari Minggu/Sunday adalah hari ibadah umat Kristen. Apakah yang mereka lakukan selama ini benar-benar punya dalil atau dasar yang kuat dari kitab suci kita, ataukah itu hanya berasal dari perintah manusia biasa atau pendapat para pemimpin agamanya, kemudian mewajibkan para pengikutnya untuk melakukannya.

Kalau hal seperti itu yang terjadi, kemudian diikuti oleh para pengikutnya, maka itu berarti yang mereka ikuti adalah ajaran manusia, bukan ajaran Allah.

Sebenarnya jika benar-benar mengikuti Bibel, maka hari peribadatan itu ialah hari Sabat (Sabtu) bukan Minggu! Hari inilah (Sabat) yang ada dalilnya dalam Bibel, bahkan perintah untuk memelihara, menjaga dan mengkuduskannya, jelas sekali ada tertulis di dalam Bibel itu sendiri.

Dalam Alkitab, ternyata ada ancaman yang sungguh mengerikan, yaitu ancaman hukuman mati bagi mereka yang tidak memelihara dan yang melanggar kekudusan hari Sabat.

"Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: "Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu. Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya." (Kel. 31:12-14)

Yang lebih menarik lagi yaitu, ternyata Yesus seumur hidupnya tidak pernah mengkuduskan hari Minggu. Seumur hidupnya Yesus selalu mengkuduskan hari Sabat dan setiap mengajar selalu pada hari Sabat. Yesus tidak pernah satu kalipun menganjurkan untuk beribadah atau mengkuduskan hari Minggu.

Perhatikan hari apa yang Yesus kuduskan di dalam Bibel, apakah hari Sabtu atau hari Minggu?

Lukas 4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat (Sabtu) la masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Markus 1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.

Markus 6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang ' besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?

Lukas 4:16 Ia (Yesus) datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan?Nya pada hari Sabat la masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Al kitab.

Lukas 4:31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.

Lukas 6:6 Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.

Lukas 13:10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat.


Masih banyak ayat-ayat lainnya dimana Yesus memelihara dan mengkuduskan hari Sabat bukan hari Minggu. Dari tujuh ayat diatas saja, sudah lebih dari cukup memberikan bukti-bukti bahwa sesungguhnya menurut Bibel, hari yang diperintahkan untuk di ibadati, dipelihara, dan dikuduskan adalah hari Sabat (Sabtu) bukan Minggu.

Lalu mengapa umat Kristen di dunia saat ini melakukan ibadah di hari Minggu? Ternyata hari Minggu dikuduskan karena menurut pendapat pemuka agama mereka hari itu Yesus bangkit dari kuburnya. Dan ini sudah kita bahas di edisi-edisi lalu, bahwa ‘Yesus bangkit dari kubur’ adalah sebuah kebohongan yang sengaja diciptakan dalam rangka memenuhi rangkaian puzzle ‘penebusan dosa’.


 

 
[118] Jika Keponakan Berperilaku Kasar PDF Print E-mail
Wednesday, 19 February 2014 07:42

Assalaamu’alaikum Wr.Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang ibu dari bayi yang berusia 4 bulan. Sekarang saya tinggal dengan mertua, dan sepertinya akan terus bersamanya, karena suami saya anak bungsu. Setiap hari di rumah ada tiga keponakan saya (anak kakak ipar). Mereka sekolah di TK dan SD dekat rumah, sementara rumah kakak ipar cukup jauh. Usai sekolah, mereka pulang ke rumah ibu (neneknya). Malam hari baru dijemput orang tuanya. Yang jadi masalah, tingkah laku anak-anak ini agak brutal, suka main pukul, membentak, bicara kotor dan sebagainya. Jika saat amati, sedikit banyak terpengaruh  dari orang tuanya yang sangat keras dalam mendidik anak. Kakak ipar lebih memprioritaskan pendidikan pada hafalan Quran dan bahasa Arab. Tapi sangat minim memberikan pemahaman bagaimana seharusnya bersikap, bertingkah laku. Di satu sisi, saya ingin anak saya nanti tetap bersosialisasi dengan sepupu-sepupunya, tapi di sisi lain saya khawatir anak saya akan terpengaruh dengan tingkah laku mereka selama ini. Mohon tanggapan dan masukan dari ibu. Jazakillah.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Ida

08969XXXXXXX

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Ibu Ida yang baik,

Alhamdulillah, kehadiran si kecil yang kini sudah berusia 4 bulan tentu merupakan karunia yang luar biasa buat  Anda dan suami. Semoga tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan shalih. Sudah menjadi kewajiban Anda sebagai orang tua untuk mendidik dan menjaganya agar mendapatkan pendidikan yang terbaik. Termasuk menyiapkan lingkungan dan teman-teman bermainnya. Lingkungan merupakan salah satu unsur penting dalam tumbuh kembang dan pendidikan anak.  Baik lingkungan keluarga (saudara),  di sekitar rumah (teman sebayanya) ataupun di sekolah (jika anak sudah bersekolah), karena anak belajar banyak hal dengan melakukan proses peniruan dari apa yang dilihat dan didengar.

Ibu Ida yang baik,

Insya Allah saya bisa memahami kekhawatiran Anda. Ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kebiasaan buruk anak, salah satunya adalah lingkungan.  Seperti yang Anda duga, bisa jadi keponakan-keponakan Anda berperilaku seperti itu karena lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.  Orang tuanya mungkin tidak menyadari bahwa cara mendidiknya selama ini bisa berpengaruh buruk pada perilaku anak. Pola asuh sangat berpengaruh pada tingkat emosi seorang anak dan bagaimana ia bersikap. Dan orang tua,  merupakan panutan bagi anak. Dari orang tuanyalah anak pertama kali mempelajari dan mencontoh perilaku. Oleh karena itu, orang tua semestinya bersikap hati-hati di hadapan anak-anak.

Ibu Ida yang baik,

Coba Anda bicarakan dengan suami, dan kakak ipar tentang perilaku ketiga keponakan Anda selama ini. Sampaikan baik-baik kepada mereka, bahwa Anda sangat peduli dengan tumbuh kembangnya. Sebagai tantenya, Anda juga punya kewajiban untuk membantu mengarahkan jika memang ada perilaku yang tidak baik. Terutama saat ketigamya ada di rumah nenek. Coba ajak keponakan-keponakan Anda berbicara dari hati ke hati tentang perilaku buruknya. Tanamkan padanya bahwa kata-kata yang diucapkan itu tidak baik. Ingatkan terus-menerus dengan cara yang halus dan lembut tanpa harus memarahi dan menghakiminya. Beri pengertian dan persetujuan mengenai apa yang akan diterima dan menjadi konsekuensinya jika mereka masih berkata dan berperilaku buruk. Anda bisa siapkan hadiah (reward) khusus buat mereka jika berkata dan berperilaku baik.

Ibu Ida yang baik,

Hadiah tidak harus selalu berbentuk materi. Dapat juga berupa pujian, dukungan, ciuman kasih sayang, penghormatan, perlakuan istimewa, dan lain-lain.  Bentuknya juga mesti disesuaikan dengan usia dan kebutuhan perkembangan mereka, agar nilai gunanya tepat dan efektif. Penghargaan yang nilainya terlalu besar sama jeleknya dengan  yang terlalu kecil. Misalnya, setiap kali keponakan-keponakan Anda melakukan hal yang baik, berkata dan berperilaku sesuai dengan yang Anda harapkan, maka segera berikan pujian. Dengan demikian, mereka merasa didukung dan diperhatikan, sehingga lebih semangat untuk melakukan kebaikan.  Dengan kasih sayang, dan perhatian tulus Anda, semoga  mereka akan menjadi lebih baik. Dan saat anak Anda beranjak besar dapat bermain bersamanya, tanpa Anda merasa khawatir.



 

 

 

 

 

 
[118] Sikap tegas Harun Ar-Rasyid Terhadap Nakfur, Raja Romawi PDF Print E-mail
Monday, 24 February 2014 03:23

Pada tahun 187 H, Khalifah Harun ar-Rasyid menerima surat dari Kaisar Romawi, Nakfur (Nicephorus I [802-811 M]). Surat ini berisi pembatalan kesepakatan yang ada antara kaum Muslim dan Ratu Irene (797-802 M), Ratu Romawi.

Bunyi surat itu sebagai berikut:

“Dari Nakfur, Kaisar Romawi kepada Harun, Raja Arab. Sesungguhnya Ratu yang berkuasa sebelum saya telah memosisikan kamu laksana burung garuda raksasa, sedangkan dia sendiri memosisikan dirinya sebagai burung elang sehingga membuat dirinya membawa harta-hartanya kepadamu. Ini karena lemahnya seorang wanita dan kebodohannya. Jika kamu selesai membaca surat ini, maka kembalikanlah harta yang telah dia serahkan kepadamu sebelum ini. Jika tidak, maka pedanglah yang akan bermain untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan kamu.”

Ketika membaca surat ini, Khalifah Harun ar-Rasyid sangat tersinggung dan marah, sehingga tidak ada satu orang pun yang sanggup melihat wajahnya, dan berbicara dengannya. Orang-orang yang ada di sekelilingnya langsung berpencar, karena takut terkena marah. Lalu, ia meminta tinta, dan segera menulis surat balasan. Surat balasan itu berbunyi:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Saya telah membaca surat kamu dengan jelas, wahai anak wanita kafir. Sebagai jawabannya, bukanlah apa yang kamu dengar, tetapi apa yang akan kamu lihat. Salam.”

Sang Khalifah pun berangkat pada hari yang sama, dan terus merangsek hingga ke Asia Kecil, hingga mencapai puncaknya tatkala ia menaklukkan Heraklius. Peristiwa ini merupakan peperangan yang sangat masyhur, sekaligus merupakan penaklukan yang sangat gemilang. Akhirnya, Nakfur minta dilakukan perundingan damai dengan cara membayar upeti tiap tahun. Khalifah agung itu pun menerima tawaran itu.

Sayangnya, tatkala kembali ke Riqqah, Anjing Romawi itu pun kembali menjilat ludahnya, mengingkari janjinya sendiri. Dengan anggapan, tidak mungkin Harun ar-Rasyid akan melakukan serangan kembali di musim dingin. Akhirnya, sang Khalifah agung ini kembali menyerang Romawi, hingga sampai ke teras Istana Kaisar Romawi yang tolol itu. Begitulah, wibawa penguasa kaum Muslim di mata musuhnya, yang sanggup menyumbat mulutnya dengan jihad, hingga tujuannya tercapai, dan mulutnya tidak lagi bisa mengingkari kesepakannya.

Abu al-‘Atahiyyah, dalam bait syairnya, melukiskan dengan indah peristiwa itu:

“Ketahuilah, Heraklius telah menyeru untuk hancurkan dirinya

Oleh raja yang bijak dan penuh nurani

Harun berangkat dengan membentangkan kematian

Dengan kilatan pedang yang begitu tajam..

Sedangkan panji-panji berkibar sebagai tanda kemenangan

Laksana awan yang bergerak dengan demikian kencang..

Pada tahun yang sama, Khalifah Harun ar-Rasyid telah membebaskan seluruh kaum Muslim yang menjadi tawanan Romawi, di seluruh wilayah Romawi, sehingga tidak ada lagi seorang Muslim pun yang tersisa menjadi tawanan mereka. [dinukil dari Tarikh al-Khulafa’, karya Imam as-Suyuthi, hal. 349-350]

 

 

 
[118] Hukum Merayakan Tahun Baru PDF Print E-mail
Sunday, 23 February 2014 22:11

Tanya :

Ustadz, bolehkah seorang muslim ikut hukum merayakan Tahun Baru (Masehi)?

Muhammad, Bogor

Jawab :

Perayaan Tahun Baru Masehi (new year’s day, al ihtifal bi ra`si as sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582.  Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church servives), maupun aktivitas non-ibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan (entertaintment), berolahraga seperti hockey es dan American football (rugby), menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain. (www.en.wikipedia.org).

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang Muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada dua; Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum Muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum Muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (TQS Al Baqarah : 104). Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Ayat-ayat yang semakna ini banyak, antara lain QS Al Baqarah : 120, QS Al Baqarah: 145; QS Ali ‘Imran : 156, QS Al Hasyr : 19; QS Al Jatsiyah : 18-19; dll (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Wa`il Zhawahiri Salamah, At Tasyabbuh Qawa’iduhu wa Dhawabituhu, hlm. 4-7; Mazhahir At Tasyabbuh bil Kuffar fi Al ‘Ashr Al Hadits, hlm. 28-34).

Dalil umum lainnya sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Hadits tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti akidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 22-23).

Selain dalil umum, terdapat dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir.  Dari Anas ra, dia berkata, ”Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya,’Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab, ’Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah.’ Rasulullah SAW bersabda, ’Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud, no 1134). Hadits ini dengan jelas telah melarang kaum Muslimin untuk merayakan hari raya kaum kafir. (Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 173).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, haram hukumnya seorang Muslim merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya. Semuanya haram karena termasuk menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar) yang telah diharamkan Islam. Wallahu a’lam.

 
[118] SJSN dan BPJS: Memalak Rakyat Atas Nama Jaminan Sosial PDF Print E-mail
Monday, 24 February 2014 11:15

Saat ini institusi bisnis asuransi multinasional tengah mengincar peluang bisnis besar di Indonesia

Mulai 1 Januari 2014 pemerintah mulai memberlakukan sistem jaminan sosial. Ini adalah tindak lanjut Perpres No. 12 tahun 2013 tentang jaminan kesehatan dan PP 101/2012  tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebagai implementasi UU SJSN.

Menyongsong pelaksanaan itu, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi aktif tampil di layar kaca. Dengan gaya keibuannya, ia mengemukakan betapa jaminan sosial ini akan memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

Begitukah?

Konsep Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang ditetapkan di Indonesia ini merupakan bagian dari Konsesus Washington dalam bentuk Program SAP (Structural Adjustment Program) yang diimplemetasikan dalam bentuk LoI antara IMF dan Pemerintahan Indonesia untuk mengatasi krisis.

SJSN ini konsepnya mengikuti paradigma Barat atau sistem kapitalis dalam masalah jaminan sosial, yaitu sistem asuransi. Namanya terdengar bagus, Jaminan Sosial Nasional, tetapi isinya ternyata hanya mengatur tentang asuransi sosial yang akan dikelola oleh BPJS. Artinya, itu adalah swastanisasi pelayanan sosial khususnya di bidang kesehatan.

Hal ini bisa dilihat dari isi UU No. 40 tahun 2004 tentang SJSN itu. Dalam  Pasal 1 berbunyi: Asuransi sosial adalah suatu mekanisme pengumpulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna memberikan perlindungan atas risiko sosial ekonomi yang menimpa peserta dan/atau anggota keluarganya. Lalu Pasal 17 ayat (1): Setiap peserta wajib membayar iuran. (2) Setiap pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran yang menjadi kewajibannya dan membayarkan iuran tersebut kepada BPJS  secara berkala.

Dari dua pasal itu bisa dipahami. Pertama: terjadi pengalihan tanggung jawab negara kepada individu atau rakyat melalui iuran yang dibayarkan langsung, atau melalui pemberi kerja bagi karyawan swasta, atau oleh negara bagi pegawai negeri. Lalu sebagai tambal sulamnya, negara membayar iuran program jaminan sosial bagi yang miskin. Pengalihan tanggung jawab negara kepada individu dalam masalah jaminan sosial juga bisa dilihat dari penjelasan undang-undang tersebut tentang prinsip gotong-royong yaitu: Peserta yang mampu (membantu) kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi; dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Jadi, jelas undang-undang ini justru ingin melepaskan tanggung jawab negara terhadap jaminan sosial atau kesehatan.

Kedua: Yang akan menerima jaminan sosial adalah mereka yang teregister atau tercatat membayar iuran.

Ketiga: Jaminan sosial tersebut hanya bersifat parsial, misalnya jaminan kesehatan, tetapi tidak memberikan jaminan kepada rakyat dalam pemenuhan kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan maupun pendidikan.

Adapun BPJS adalah lembaga yang dibentuk  berdasarkan  UU No. 24 Tahun 2011 Tentang BPJS, yang merupakan amanat dari UU No. 40 Tahun 2004 Tentang SJSN.  BPJS akan menjadi lembaga superbody yang memiliki kewenangan luar biasa di negara ini untuk merampok uang rakyat. Tidak hanya kepada para buruh, sasaran UU ini adalah seluruh rakyat Indonesia. Kedua UU tersebut  mengatur asuransi sosial yang akan dikelola oleh BPJS. Hal ini ditegaskan oleh UU 40/2004 pasal 19 ayat 1 yang berbunyi: Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. Juga Pasal 29, 35, 39, dan 43. Semua pasal tersebut menyebutkan secara jelas bahwa jaminan sosial itu diselenggarakan berdasarkan prinsip asuransi sosial.

Prinsip asuransi sosial juga terlihat dalam UU Nomer 24 Tahun 2011 tentang BPJS. Pada Pasal 1 huruf (g) dan Pasal 14 serta Pasal 16 disebutkan bahwa BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan prinsip kepesertaan yang bersifat wajib.

Inilah fakta sebenarnya  dan bahaya  UU SJSN dan BPJS bagi rakyat. Rakyat dipalak sedemikian rupa atas nama kepentingan negara dalam menjamin layanan kesehatan dan sosial lainnya. Bagaimana tidak memalak. UU itu menyiapkan seperangkat sanksi bagi rakyat yang tidak mau membayar premi. Jadi, bohong jika dikatakan bahwa UU ini akan membawa kesejahteraan bagi rakyat.
Saat ini institusi bisnis asuransi multinasional tengah mengincar peluang bisnis besar di Indonesia yang dibuka antara lain oleh UU 40/2004, Pasal 5 dan Pasal 17, juga UU 24/2011 Pasal 11 huruf (b); disebutkan bahwa BPJS berwenang menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi. Ini merupakan bukti nyata dari pengaruh neoliberalisme yang memang sekarang sedang melanda Indonesia. Arim Nasim/Lajnah Mashlahiyyah DPP HTI

 

 


Page 13 of 485

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved