Banner
MediaUmat.com
[126] Semangat Juang di Tengah Kekurangan PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 22:58

Surya bin Apin

Pedagang Cilok Keliling

Bila saja pembawa acara tidak menyebut biografinya, pasti sekitar 1.500 peserta yang hadir tidak menyangka Surya bin Apin adalah seorang pedagang cilok (aci dicolok) yang sekolah di SD pun tidak tamat. Pasalnya, perkataan dari lisannya mengalir dengan lugas menyatakan, demokrasi sebagai biang masalah di negeri ini.

“Ingatlah bahwa demokrasi tidak akan pernah bertahan lama. Ia akan segera dibuang, kehilangan kekuatan, dan akan menghabisi dirinya sendiri. Tidak akan pernah ada sebuah sistem demokrasi yang tidak menghabisi dirinya sendiri,” ungkapnya mengutip John Adams, Presiden Amerika Serikat kedua, yang kemudian disambut takbir hadirin Daurah Akbar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jakarta, Ahad (30/3) di GOR Jakarta Timur.

Meski demikian, memang lelaki yang mengenakan kaus berkerah dan tas pinggang kerap menundukkan pandangan, mungkin itu sebagai cara dirinya menghilangkan demam panggung. Ia pun mengajak peserta daurah untuk meninggalkan demokrasi kemudian turut berjuang menegakkan syariah dan khilafah.

Dan tentu saja, ini bagian yang tak kalah menariknya, ia pun menceritakan perjalanan hidupnya sehingga bertemu, bergabung dan turut berjuang dengan Hizbut Tahrir untuk menegakkan khilafah.

Imam Mahdi

Sejak usia 6 tahun lelaki kelahiran Desa Gembongan Mekar, Kecamatan Babakan, Kabupaten  Cirebon, Jawa Barat menjadi kuli panggul bawang di pasar. Di samping itu, ia pun kerja serabutan di Cirebon hingga usianya 16 tahun. Sempat sih sekolah, namun sampai kelas dua SD.

Karena perekonomian tidak membaik, pada 1984 mencoba mengadu nasib ke Jakarta sebagai pedagang asongan di berbagai perempatan jalan di Cililitan. Dua tahun kemudian, ia pun mengikuti berbagai pengajian  dari berbagai ustadz dan habib di mushala dan masjid di bilangan Cililitan.

Sambil berjualan ia mengamati berbagai orang dan membaca berbagai koran dan majalah. Di samping hidupnya secara ekonomi bermasalah, ia pun menemukan berbagai masalah yang dihadapi banyak orang. Ia pun mempertanyakan apa akar permasalahannya dan bagaimana solusinya.

Ustadz-ustadz dan habib-habib yang ditanya jawabannya relatif seragam; penyebabnya kaum Muslimin terpecah. Solusinya nanti juga kaum Muslimin akan bersatu. Ketika waktunya nanti, Imam Mahdi akan memberantas kemungkaran dan menyatukan kaum Muslimin.

Tetapi sampai sekarang habibnya tidak memahami seperti apa sosok Imam Mahdi itu. Apakah ia seorang diri atau berkelompok serta bagaimana cara Imam Mahdi menyatukan kaum Muslimin.

“Kalau seorang diri berarti kehebatannya melebihi Rasulullah SAW ya? Bahkan ada habib dari Syiah yang mengatakan Imam Mahdi sudah lahir tetapi keberadaannya dirahasiakan oleh Allah. Saya pikir kok aneh ya?” ungkapnya.

Bertemu HTI

Kepada Media Umat, ia mengaku pertama kali mendengar kata “Hizbut Tahrir” tahun 2001 saat melihat majalah Sabili yang memuat wawancara Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto. Hanya saja ia belum sempat membaca isi wawancara tersebut.

Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2006, ia baru mendengar lagi kata Hizbut Tahrir ketika melihat berbagai publikasi MUI dan 49 Ormas Islam termasuk HTI menuntut RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi.

Meski pun tidak tergabung ke dalam ormas mana pun Surya dan para pedangan lainnya tergerak untuk menyukseskan aksi di Bundaran Hotel Indonesia tersebut. “Di situ saya baru melihat Ustadz Ismail Yusanto secara langsung,” ujarnya.

Setelah membaca publikasi di 2007,  ia juga dengan sukarela meninggalkan dagangannya dan turun ke jalan bersama puluhan ormas tersebut menuntut pembubaran aliran sesat Ahmadiyah.

“Lalu saya mikir, agar kekuatan ormas bertambah, harus banyak pengikutnya, harusnya saya masuk salah satu ormas. Terus ormas apa yang kira-kira mau mempersatukan Muslim dari seluruh dunia?” ujarnya dalam hati.

Pada 2008, ia diminta menjadi penjaga kebersihan di Mushala al Hikmah Asrama Bekangdam  Cililitan. Karena sering melihat ada para pemuda berkumpul di mushala tersebut, suatu hari ia memberanikan diri turut nimbrung.

“Saya ikut duduk deh memberanikan diri, ini dari ormas mana, kok yang dibahasnya khilafah lagi, khilafah lagi. Saya belum pernah dengar sebelumnya walau pun saya Muslim,” ujarnya belakangan dia tahu ternyata itu Hizbut Tahrir.

Salah seorang dari mereka Abu Ismail namanya, anak seorang tentara di Bekangdam mengajaknya turut pembinaan intensif, ia pun langsung mengiyakan.

Meski sudah ikut kajian rutin beberapa kali namun Surya belum ngeh Hizbut Tahrir akan menyatukan kaum Muslim. Barulah pada September 2008, ketika daurah di Kelurahan Makassar yang diisi oleh Ustadz Abu Hanifah ia menyadari HTI lah sebenarnya ormas yang dicarinya.

“Di situ ada tayangan Hizbut Tahrir di berbagai negara di dunia yang ingin menyatukan kaum Muslim dalam negara khilafah. Wah jangan-jangan ini ya ormas yang saya cari,” ungkapnya.

Dan ternyata benar, HTI lah yang dicarinya. “Karena HT tidak mempermasalahkan antar mazhab mau Maliki, Hambali, Syafi’i, Hanafi, mau Wahabi atau lainnya boleh  yang penting patokannya Alquran dan Sunnah dan semua berjuang untuk menegakkan khilafah,” ungkapnya.

Maka, sejak 2009, ia pun dengan senang hati dibina HTI Cililitan. “Hizbut Tahrir misinya pas, misi yang saya cari-cari. Hizbut Tahrir berupaya membebaskan kaum Muslim dari penjajahan kaum kafir dan menyatukannya dalam naungan khilafah,” tegasnya.

Giat  Berdakwah

Pasca lebaran 2013, ia pun berhenti berdagang asongan yang sudah digelutinya selama 29 tahun. Beralih profesi menjadi tukang cilok, salah satu jajanan khas Sunda; mirip bakso yang terbuat dari tepung tapioka dan berbumbu kacang.

Pagi hari, sepulang dari pasar membeli bahan baku dagangannya, Surya pun membuat adonan hingga menjadi cilok. Beres jam 14.30 WIB. “Karena semua dikerjakan sendiri, sekitar 300 butir maksimal yang saya buat,” ungkapnya.

Kemudian, keliling dari Kelurahan Kebon Pala sampai Cawang hingga habis atau sampai Isya’. Nah, di sela-sela jualan tersebut, kerap ia mengajak diskusi terkait penegakan Islam kaffah kepada  pembeli mau pun sesama pedagang.

Tempat yang jadi favorit adalah di tempat mangkalnya penjual es kelapa muda, sambil melepas lelah, diskusi deh. Kadang dengan tukang buah, dengan mandor, dengan orang Kristen Manado, Kristen Batak, tukang asongan, tukang es kelapa, tukang ojek dan lainnya.

Teman-temannya sering didakwahi,  ada yang  nolak, ada yang menerima, ada yang baru disampaikan langsung mau ikut daurah. “Ada yang tahu betul tujuan HT tapi tidak mau ikut karena takut rugi dagangannya. Kalau ekonomi dijadikan alasan terus, kapan bisa bersatunya?” ungkap Surya.

Setiap Kamis ba’da Isya’, jadwal pembinaan rutin dengan Hizbut Tahrir. Namun sejak berjualan cilok, karena sudah beraktifitas sehari penuh, ia pun merasa ngantuk. Solusinya? Setiap Kamis ia libur berdagang! Agar malamnya bisa  meng-update pemahaman Islam dengan keadaan segar.

Karena ideologi Islam sudah menyatu dalam darah dan tubuhnya, hari libur itu ia gunakan untuk membagikan tabloid Media Umat ke para khatib Jumat yang ia kenal di sekitar Cililitan. “Kalau dagangan rame saya bisa beli MU lima kadang sampai 10 untuk dibagikan ke khatib Jumat,” ungkapnya.

Di samping itu mereka pun kerap diundang Surya ke acara HTI namun sebanyak itu pula menolak ajakannya. “Bilang iya, iya pas waktunya tapi tidak datang,” keluhnya.

Ada yang tegas menolak dengan alasan sang ustadz adalah termasuk golongan Ahlul Sunnah wal Jamaah.  “Memang kalau mengikuti acara yang digagas Hizbut Tahrir tidak boleh menjadi paham Ahlul Sunnah wal Jamaah? Kan boleh. Kalau ormas itu bebas, mazhabnya apa saja,” ujarnya. Mendengar itu si ustadz pun diam saja.

Surya mengaku meski jauh lebih banyak orang yang menolak ajakannya untuk berjuang menegakkan syariah dan khilafah ia tidak patah semangat. “Karena ini adalah amanah, meski saya tidak diamanahi (oleh pembina saya, red) karena sudah paham saya tetap akan melakukan ini,” pungkasnya.[] joko prasetyo

 
[126] Anak-anak Generasi Emas PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:05

Dr Fahmi Amhar

Para ahli kependudukan mengatakan bahwa Indonesia akan mendapatkan “bonus demografi” pada tahun 2025.  Itu tatkala jumlah penduduk usia produktif pada posisi optimum, dibandingkan jumlah lansia atau anak-anak.  Tentu saja, bonus tersebut hanya dapat diraih jika mereka yang saat ini masih usia anak-anak itu dapat diformat menjadi generasi emas, generasi yang bertakwa, sehat, cerdas, gemar bekerja keras dan dapat bersinergi.

Dulu khilafah Islam dalam kurun waktu yang tidak sampai satu generasi telah menjadi produsen generasi emas yang kemudian berjaya berabad-abad.  Pertanyaannya, bagaimana cara orang tua di masa itu mempersiapkan generasi-generasi cemerlang? Lalu kalau kita refleksikan, seberapa besar peran orang tua di masa kini bisa memberikan suri teladan bagi anak-anaknya baik secara akhlak, moral, minat hingga kecondongan anak-anak untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki? Bagaimana Islam memberikan peranan serta arahan bagi para keluarga khususnya di bidang sains mengingat saat ini banyak event-event internasional di bidang sains yang dimenangi oleh tim dari Indonesia, namun ironisnya, hampir sebagian besar, didominasi oleh kalangan non-Muslim.

Di semua peradaban yang masih sederhana, keluarga selalu jadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.  Maka kualitas orang tua sangat berpengaruh pada kualitas anak-anak tersebut.  Mereka yang hidup dengan berburu, pasti mengajari anak-anaknya bagaimana hidup di hutan, mencari hewan buruan, menjebak atau menjinakkannya.  Mereka yang hidup dengan bertani, pasti mengajari anak-anaknya bagaimana bercocok tanam, menemukan tanah yang sesuai tanamannya, kapan saat yang tepat untuk memupuk, menyingkirkan gulma hingga memanen.  Dan mereka yang hidup dengan berdagang, pasti sejak dini mengajak anak-anaknya mengenal bisnis.

Pendidikan seperti itu tetap diteruskan di zaman Nabi.  Namun Nabi menambahkannya dengan dua hal:

Pertama, menambahkan bahwa manusia diberi peran lebih oleh Allah, yaitu untuk beribadah dan untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam.  Ini suatu misi manusia di dunia yang tidak begitu saja muncul secara naluriah, dan harus diajarkan.  Maka generasi sahabat mulai menanamkan kesadaran misi Islam itu pada anak-anaknya.

Kedua, menanamkan bahwa umat Islam harus menjadi umat terbaik di tengah manusia.  Maka mereka harus menjadi manusia-manusia pembelajar.  Maka Rasul juga membuka dunia belajar seluas-luasnya, meminta tawanan Perang Badar mengajar anak-anak Muslim tulis-baca, menyuruh beberapa sahabat belajar bahasa asing, bahkan mengirimkannya ke Barat dan ke Timur, hingga sampai ke Cina.

Orang-orang tua pada masa itu berusaha keras mengikuti pendidikan cara Nabi tersebut.  Mereka yang menyadari dirinya memiliki keterbatasan, menitipkan anak-anaknya ke para sahabat yang terdekat dengan Nabi, atau bahkan ke Nabi sendiri, seperti misalnya terjadi pada Anas bin Malik yang dititipkan orang tuanya agar mengabdi pada Nabi, sekaligus belajar banyak hal tentang kehidupan.

Hal ini berlanjut terus di masa khilafah selanjutnya.  Orang-orang tua yang sangat peduli pendidikan, membawa anaknya untuk nyantri di kalangan para ulama dan ilmuwan.  Ada yang diserahkan Imam Malik, dan akhirnya juga menjadi imam seperti Imam Syafi’i.  Dan ada yang menjadi santri dari astronom Yahya bin Abi Mansur, seperti tiga anak yatim dari Musa bin Syakir.  Tiga anak yatim yang dikenal dengan Banu Musa ini kemudian menjadi ilmuwan-ilmuwan hebat di bidang astronomi, matematika dan mekanika.

 

 

 

 

 

Ilustrasi anak-anak Musa bin Syakir, yang semua menjadi ilmuwan cemerlang pada sebuah perangko Suriah.

Oleh orang tuanya, anak-anak cemerlang itu dibiasakan sejak kecil hidup dalam suasana shalih, jujur, selalu memilih yang halal, juga gemar bekerja keras dan menghargai ilmu.  Syafi’i kecil atau Ibnu Sina, dan ribuan ulama dan ilmuwan lainnya, sudah hafal Alquran  sebelum usia 10 tahun.

Didikan orang tua itu menambah efektif suasana lingkungan yang dibentuk oleh Negara Khilafah.  Negara bertanggung jawab agar “noise” atau gangguan yang muncul di luar rumah ada di titik minimum.  Tidak ada perzinaan atau pornografi, tidak ada miras dan narkoba, juga tidak ada aktivitas-aktivitas sia-sia lainnya.  Lingkungan yang ada adalah suasana ilmu, kerja keras, dakwah dan jihad.

Di rumah tentu saja orang tua menghadapi tantangan bahwa mereka harus jadi contoh yang baik, terutama masalah integritas.  Umar bin Khattab pernah tersentuh ketika mendengar seorang anak gadis yang tidak mau mengikuti perintah ibunya untuk mencampur susu dengan air.  Ibunya, sang penjual susu mengatakan, toh Khalifah tidak tahu.  Tetapi anaknya membantah, sekalipun Khalifah tidak tahu, tetapi Allah tahu.  Umar segera menyuruh Ashim putranya melamar anak gadis itu.  Atsar ini menunjukkan, bahwa sekalipun orang tua kadang tergoda untuk bermaksiat, tetapi suasana umum yang shalih pada waktu itu, bisa membuat seorang anak tetap shalih.

Kapan peradaban Islam mencapai zaman keemasannya memang tergantung ukuran yang kita pakai.  Kalau ukurannya adalah jumlah muttaqin atau mujahidin per kapita, mungkin zaman paling emas adalah zaman Rasul.  Tetapi kalau ukurannya adalah luasnya kekuasaan, kuatnya pengaruh dan banyaknya karya ilmu, teknologi dan seni, maka itu tercapai di abad-2 H, atau di abad pertama dinasti Abbasiyah.  Pada saat itulah kombinasi dan sinergi antara hasil dakwah dan jihad selama abad pertama, stabilitas politik dan keamanan, pembangunan fasilitas pendidikan oleh negara, wakaf para aghniya di bidang ilmiah dan tentu saja ketekunan para keluarga untuk memberikan bibit terbaik yang akan memasuki majelis ilmu, sangat berperan di dalamnya.

Metode terbaik dalam membuat orang tua memberikan perhatian besar pada anak-anaknya adalah menanamkan kesadaran bahwa mereka sedang membentuk calon pemimpin masa depan, generasi penakluk Konstantinopel dan Roma yang dirindukan Rasulullah sebagai orang-orang terbaik yang tidak pernah dilihat para sahabat.

Orang-orang tua Muslim di masa itu, dan juga negara khilafah di masa itu tidak mendikotomikan antara ilmu agama dengan sains.  Jelas bahwa ada hal-hal mendasar yang harus ditanamkan pada setiap anak sejak dini, seperti pengetahuan dasar keislaman dan menghafalkan alquran, minat terus belajar, juga ketrampilan fisik seperti berenang, berkuda dan memanah.  Tetapi sejak menjelang mereka baligh, mereka sudah dapat menekuni berbagai jenis ilmu sesuai minatnya.  Maka kita lihat, sebagan besar intelektual di masa itu adalah polymath, yakni mereka yang menguasai minimal tiga bidang ilmu secara mendalam, misalnya ilmu syariah, ilmu sejarah dan matematika, atau bahkan juga ditambah geografi, kedokteran dan astronomi.

Karena itu, cara terbaik agar agar anak dan orang tua sepakat menggapai kesuksesan di bidang sains, lalu juga mau ikut berkompetisi di tingkat dunia, adalah menanamkan kesadaran, bahwa setiap Muslim adalah bagian dari umat terbaik (khairu ummah), dan itu diperlukan agar dia dapat efektif melakukan amar ma’ruf dan nahy munkar (QS. Ali Imran : 110).

Allah sebenarnya mendistribusikan kecerdasan itu merata di seluruh anak-anak yang lahir di muka bumi.  Hanya saja tidak semua beruntung mendapatkan mentor.  Sama seperti ketika Rasul mengatakan, “semua anak lahir dalam keadaan suci, orang tuanya yang menjadikan mereka yahudi, Nasrani atau Majusi”.  Maka juga “semua anak lahir dalam keadaan cerdas, kritis dan kreatif, orang tuanyalah yang menjadikan mereka bego, tumpul, dan suka mencontek”.

Kita tentu berharap, bahwa dengan terlibat dalam dakwah ideologis, kita memiliki energi spiritual untuk berbuat lebih terhadap anak-anak kita, sehingga mereka menjadi shaleh, dan juga menjadi generasi emas yang unggul dalam teknologi.  Islam tanpa teknologi akan terjajah.  Teknologi tanpa Islam akan menjajah.  Dan Islam yang menginspirasi dan memandu teknologi, akan membebaskan manusia dari penjajahan.

 

 
[126] Partai Islam, Riwayatmu Dulu dan Kini PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:32

Pengantar: Partai politik Islam selalu berkiprah dalam pesta demokrasi di Indonesia. Meski sudah 10 kali ikut pemilu, alih-alih menang, parpol Islam sepertinya hanya menjadi penggembira. Mengapa sampai seperti itu dan seharusnya seperti apa parpol Islam, Fokus kali ini membahasnya.

Parpol Islam dan yang berbasis massa Islam, tak lagi terlihat menyuarakan Islam, bahkan seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam.

Sejak kemerdekaan, ada puluhan partai politik, baik yang bercorak sosialis termasuk komunis, nasionalis, dan juga parpol yang dikatakan parpol Islam dan partai politik berbasis massa Islam.  Tak sedikit di antaranya yang kemudian mati di tengah perjalanan.

Jika dihitung sejak pemilu 1999, banyak parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam yang sudah “mati”.  Di antaranya, Partai Kebangkitan Muslim Indonesia, Partai Ummat Islam, Partai Kebangkitan Ummat, Partai Masyumi Baru, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Abul Yatama, Partai Syarikat Islam Indonesia 1905, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi, Partai Nahdlatul Ummat, Partai Ummat Muslimin Indonesia, Partai Bintang Reformasi, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Partai Matahari Bangsa.  Semua partpol ini tidak ikut dalam kontentas pileg 2014.

Sebagian lain tetap ikut dalam kontestasi pemilu hingga kini dengan perolehan suara yang fluktuatif. Data menunjukkan, perolehan suara setiap parpol Islam dan berbasis massa Islam kurang dari sepuluh persen dan hanya beberapa partai bisa meraih belasan persen.  Itu terjadi dalam empat kali pemilu sejak 1999.  Lihat tabel.

Dari waktu ke waktu suaranya terus terpuruk. Total suara lima parpol Islam dan berbasis massa Islam yang tetap ikut kontestasi pada empat pemilu (pileg 1999, 2004, 209 dan 2014) tidak beranjak dari kisaran 30 persen dari suara sah.

Jika dihitung dari jumlah orang yang memiliki hak suara, angkanya lebih kecil lagi, sebab angka itu dari suara sah.  Perlu diingat angka golput pada pemilu 1999 sebesar 10,21 persen. Pada pileg 2004 naik menjadi 23,34 persen dan pada pemilu legislatif 2009 naik lagi menjadi 29,01 persen. Pileg 2014 ini dari rata-rata hasil Quick Count LSI dan Kompas angka golput (tidak memilih ditambah suara tidak sah) naik menjadi 34,18 persen.

Pertanyaannya, mengapa capaian parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam terus saja rendah, jika tidak boleh dikatakan terpuruk? Jawaban pastinya memang sulit diperoleh.

Tapi yang jelas, itu mengindikasikan bahwa parpol Islam dan yang berbasis massa Islam belum bisa menarik kepercayaan pemilih. Bisa jadi karena realita parpol, kinerjanya dan kondisi para politisi dan pejabat berlatar belakang parpol tersebut.

Parpol yang ada termasuk parpol Islam dan yang berbasis massa Islam tidak ada lagi yang bisa dikatakan sebagai parpol ideologis. Semuanya telah menjelma menjadi parpol pragmatis.

Kepentingan kursi jabatan dan kekuasaan menjadi satu faktor penentu sikap.  Dari aspek ini, hampir tidak ada lagi bedanya antara parpol Islam dan yang berbasis massa Islam dengan parpol nasionalis sekuler.

Sikap pragmatis parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu terlihat dalam banyak kebijakan parpol, sekadar contoh adalah dalam berkoalisi. Parpol Islam dalam sejumlah pilkada berkoalisi dengan parpol nasionalis bahkan parpol Kristen (PDS).  Sikap pragmatis non ideologis parpol Islam dalam berkoalisi itu bukan belakangan saja terjadi, bahkan sudah terjadi sejak pasca kemerdekaan 1945.

Pada tahun 1945-1946 dalam kabinet Syahrir I, terjadi koalisi Masyumi – Parkrindo (Partai Kristen Indonesia).  Pada 1950-1951 dalam kabinet Natsir terjadi koalisi Masyumi-PSI (Partai Sosialis Indonesia), tahun 1951-1952 (Kabinet Sukiman) dan tahun 1952-1953 (kabinet Wilopo) terjadi koalisi Masyumi-PNI.

Pudarnya sifat idelogis Islam dan yang berbasis massa Islam, tercermin pula pada tidak adanya visi, misi, paltform pemikiran dan kerangka ide dan konsepsi yang jelas yang diperjuangkan oleh parpol dan diserukan kepada rakyat.

Lebih parah lagi, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam, tak lagi terlihat menyuarakan Islam, bahkan seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam. Sebaliknya, semua parpol seolah berlomba menggunakan slogan-slogan demokrasi, nasionalisme, humanisme, HAM dan slogan-slogan yang identik dengan sistem sekuler demokrasi.

Dari sisi sikap dan kebijakan partai, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam juga tak ada beda dengan parpol lainnya.  Parpol-parol itu hampir selalu mendukung dan membenarkan kebijakan pemerintah yang menyalahi Islam.

Parpol Islam dan yang berbasis massa Islam juga terlibat dalam pembuatan sejumlah UU yang bercorak liberal, merugikan rakyat, menyerahkan kekayaan rakyat kepada asing dan membuka jalan bagi asing mengontrol negeri ini.  Tengok saja, UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Minerba, UU Penamanan Modal, UU Pangan, UU Pengadaaan Tanah untuk Pembangunan, UU Sisdiknas, UU BHMN, UU SJSN dan BPJS, dan UU lainnya.

Semua itu makin diperparah oleh perilaku para politisi dan pejabat yang berasal dari parpol Islam yang terlihat kurang peduli dengan nasib rakyat dan hampir tak beda dengan para politisi dari bukan parpol Islam.  Misalnya glamour, korupsi, dsb.

Walhasil, masyarakat tidak melihat ada perbedaan antara parpol Islam dengan yang bukan parpol Islam, baik dalam hal visi, misi; ide, konsep dan gagasan; sikap dan kebijakan; serta perilaku para politisi dan pejabat yang berasal dari parpol tersebut.

Masih minimnya dukungan kepada parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu juga mengindikasikan masih minimnya kesadaran Islam pada kebanyakan dari masyarakat.  Celakanya, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu tidak terlihat nyata melakukan edukasi dan perjuangan politik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan Islam dan keberislaman.

Di atas semua itu, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam mengalami kegagalan yang lebih mendasar, yaitu telah kehilangan jati diri sebagai parpol Islam.  Jatidiri parpol Islam bisa distandarisari dengan firman Allah SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104). [YA – Lajnah Siyasiyah DPP HTI]

BOKS:

Perolehan Suara Parpol Islam/Basis Massa Islam

Partai

Pileg 1999

Pileg 2004

Pileg 2009

Pileg 2014

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara*

%**

PKB

13.336.982

12,61

11.989.564

10,57

5.146.122

4,94

11227909

9,18

PKS

1.436.565

1,36

8.325.020

7,34

8.206.955

7,88

8268046

6,76

PAN

7.528.956

7,12

7.303.324

6,44

6.254.580

6,01

9197590

7,52

PPP

11.329.905

10,71

9.248.764

8,15

5.533.214

5,32

8157969

6,67

PBB

2.049.708

1,94

2.970.487

2,62

1.864.752

1,79

1846856

1,51

Total

35.682.116

33,74

39.837.159

35,12

27.005.623

25,94

38698370

31,64

Ket:

* Diperoleh dengan mengalikan persentase rata-rata hasil Quick Count dengan jumlah suara sah.  Suara sah diprediksi sebesar 65,82% (rata-rata dari hasil Quick Count LSI 65,98% dan Kompas 65,66% ) yaitu 122308374 suara dari DPT 185.822.507 orang.

** Angka rata-rata hasil Quick Count dari enam lembaga (LSI, Cyrus Network-CSIS, Indikator, Kompas, RRI, Populi Center)

 

 
[126] Bertahan dengan Model Salafiah PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:10

Pondok Pesantren Ashhabul Yamin, Nagari Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Sejuk dan tenang. Itulah suasana yang terasa di saat memasuki kawasan Pondok Pesantren Ashhabul Yamin yang berada sebelah utara lereng Gunung Marapi, tepatnya di Nagari Lasi, Kecamatan Candung, Kabupaten Agam.

Ashhabul Yamin berdiri pada 1992 atas dasar swadaya masyarakat, dipelopori oleh Buya H Zamzami Yunus yang sekaligus merupakan pimpinan ponpes sejak awal berdirinya hingga saat ini.

Berdirinya pesantren ini beranjak dari keprihatinan salah seorang tokoh masyarakat Lasi Tuo Malin Daro melihat putra-putri masyarakat Lasi hanya mampu menamatkan pendidikan dasar.

Dengan keberadaan sarana pendidikan yng serba minim, menyebabkan mereka sulit untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi. Jika mempunyai dana cukup dan kemauan keras, mereka harus sekolah ke luar daerah yang membutuhkan biaya cukup besar.

Malin Daro menyampaikan pemikirannya kepada Buya H Zamzami Yunus, seorang ulama yang juga salah seorang tokoh pendidikan dan pernah mengajar di beberapa pondok pesantren di Sumbar.

Usulan tersebut berupa kesediaan Malin Daro mewakafkan tanahnya yang terletak di jantung Dusun Lasi Tuo, untuk dijadikan sebuah lembaga pendidikan agama bagi masyarakat Lasi. Atas dukungan penuh dari masyarakat, maka berdirilah pesantren ini di atas tanah wakaf seluas setengah hektar.

Penerimaan perdana santri baru dilaksanakan pada 2 Agustus 1992. Murid pertamanya sekitar 19 orang. Sedangkan yang membantu Buya Zamzami mengajar saat itu adalah Ustadz Marzuk Malin Kayo; Ustadz Syafrizal Khatib Mangkuto; Ustadz Ahmad Dardir Pakiah Bandaro dan seorang tenaga tata usaha asal Palembayan, Ernawati (Almh).

Awalnya proses belajar mengajar dilakukan di gedung rumah dinas guru yang sudah tidak terpakai, yang terdiri atas ruangan kecil dengan penyekat semi permanen. Kondisi pembelajaran yang demikian menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan pesantren ke depannya. Saat ini jumlah santri mencapai 278 orang dengan ruangan kelas sebanyak 10 lokal.

Model Salafiah

Satu ciri khas yang sekaligus menjadi ikon dari ponpes Ashhabul Yamin adalah sistem pendidikan yang masih mempertahankan sistem pendidikan salafiah atau halaqah.

Artinya, kurikulum yang dipakai hanya terbatas pada kurikulum pondok dengan mempelajari beberapa ilmu seperti nahwu, sharaf, fiqih, tafsir, hadist, tauhid, tasawuf dan lain-lain. Tak  aneh jika Ashhabul Yamin tetap mempertahankan gaya pendidikan tersebut karena ponpes ini mempunyai visi terciptanya ulama yang mampu menghadapi tantangan zaman. Sebuah visi yang akan melahirkan kader-kader waratsatul anbiya (pewaris para nabi).

Dengan keterbatasan yang ada, santri Ashhabul Yamin mampu menorehkan prestasi baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Salah satu prestasi yang pernah diraih adalah juara umum lomba MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub) tahun 2008 tingkat provinsi dan Juara I pencipta puisi terbaik tingkat nasional tahun 2007 yang dilaksanakan di Samarinda.

Sesuai niat untuk mendidik warga, Ashabul Yamin pun menyelenggarakan pendidikan formal madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah yang mengombinasikan kurikulum pesantren dengan kementerian agama.

Pesantren ini tidak memosisikan diri sebagai lembaga pendidikan yang ekslusif, tetapi mengarahkan agar warga ponpes berbaur dengan masyarakat sekitar dan memberikan kontribusinya di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat sekitar merasakan manfaat dari keberadaan ponpes ini.

Beberapa aktivitas sosial yang dilakukan oleh para santri adalah dakwah kepada masyarakat, penyelenggaraan jenazah, pengutusan para santri satu kali sebulan sebagai khatib Jumat dan roadshow tiap Ramadhan ke luar daerah.

Tugas Mulia

Di tengah arus sekulerisme yang menghantam seluruh sendi kehidupan, Ashabul Yamin menegaskan, menuntut ilmu di pesantren bukanlah tiket untuk mencari nafkah. Karena pesantren bertugas mencetak dai—penyeru manusia agar tunduk dan taat pada aturan Allah SWT. “Dai adalah tugas yang sangat mulia dan merupakan pekerjaan pokok para nabi dan rasul,” tegas Buya Zamzami.

Maka harus tersemat di dalam hati sanubari setiap santri rasa kepercayaan diri untuk menjadi generasi tonggak estafet perjuangan Rasulullah dan para salafus salih.

Sebagai bekal bagi para santri ketika akan terjun ke masyarakat, Ashhabul Yamin memberikan training mengajar kepada para santri dan juga berbagai ketrampilan lainnya sehingga para santri tidak merasa canggung ketika berada di tengah-tengah masyarakat.

Para alumni Ashhabul Yamin menggeluti berbagai macam bidang yang sebagian besar terjun sebagai seorang mubaligh. Setelah menyelesaikan pendidikan di ponpes banyak dari para santri yang melanjutkan kuliah di dalam negeri bahkan ada yang melanjutkan kuliah ke luar negeri seperti di Mesir dan Yaman.

Di samping itu, Ashhabul Yamin memberikan kesempatan kepada para alumni yang ingin mengabdi di ponpes sebagai guru. Jadi, bukan suatu hal yang aneh jika mayoritas guru adalah alumni ponpes ini.[]abu hamzah-abu fatih/joy

BOKS

Buya H Zamzami Yunus, Pimpinan Ponpes Ashabul Yamin

Islam Harus Jadi Asas Bernegara

Kerusakan yang terjadi pada saat ini, disebabkan tidak adanya kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat. Makanya Buya Zamzami menginginkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang islami.

“Kita menginginkan masyarakat kita menjadi masyarakat islami yang bertindak sesuai syariah Islam,” ungkap alumnus Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung dan kuliah syariah Malalo Solok.

Menurut lelaki kelahiran Lasi, 8 Agustus 1947, Ashhabul Yamin menginginkan Islam menjadi budaya bagi masyarakat dalam setiap sendi kehidupan. “(Oleh karena itu) kita menginginkan Islam menjadi asas dalam bernegara, itu tidak bisa ditawar-tawar,” pungkasnya menutup pembicaraan dengan Media Umat.[] abu hamzah-abu fatih/joy

 

 
[126] The Power of Communication PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:45

Oleh: Bey Laspriana Husein, Praktisi Komunikasi Syariah

Al kisah seorang laki-laki tua yang duduk bersila di pinggir jalan menanti kemurahan setiap yang lewat untuk mendapatkan sekeping dua keping receh. Ia buta dan ia hanya ditemani sebuah kaleng dan selembar kardus bertuliskan “I’m Blind. Please Help”.

Tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang entah kenapa ia kemudian mengambil kardus di samping pengemis tua itu, lalu menuliskan sesuatu. Setelah selesai, ia letakkan kembali kardus itu pada tempatnya semula, dan ia beranjak pergi.

Apa yang terjadi? Tidak berapa lama perempuan itu pergi, si pengemis menjadi takjub, karena ia mendapatkan receh yang begitu banyak dibanding biasanya. Bagaimana bisa terjadi? Karena ternyata di atas kardus itu tertulis “It’s a beautiful day and I can’t see it”.

Meski cerita di atas adalah sebuah tayangan iklan sosial, tapi tayangan itu bagi saya sangat inspiratif sekaligus menguatkan keyakinan saya akan kekuatan komunikasi.

Jika kita cermati dan renungkan. Sesungguhnya sebagian besar kehidupan kita diisi oleh kegiatan komunikasi. Baik dalam bentuk verbal (kata-kata, audio), visual (gambar, simbol), bahasa isyarat, maupun gabungan dari berbagai bentuk komunikasi.

Melalui komunikasi seringkali berbagai persoalan bisa diselesaikan. Namun sebaliknya, acapkali persoalan muncul akibat dari lemahnya komunikasi. Komunikasi pula yang mampu membangun kesadaran dan persepsi manusia pada apa yang mereka anggap tidak penting, berbalik menjadi penting bahkan sangat penting dan mendesak. Dan tidak segan-segan akhirnya mereka memberikan dukungan nyata meski mereka sadar akan konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Melalui komunikasi, citra (brand image) seseorang pun bisa diciptakan. Mengubah citra buruk seseorang menjadi baik dan sebaliknya bukanlah hal mustahil bagi sebuah aktivitas komunikasi. Dan melalui komunikasi yang tersistem secara terencana dan terintegrasi perubahan sebuah tatanan sebuah negara bahkan sebuah peradaban kehidupan manusia di dunia bisa dilakukan.

Mari kita flashback sejenak untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh Baginda tercinta, uswah semua manusia, Muhammad Rasulullah SAW. Dalam kurun waktu yang amat singkat—tiga belas tahun, beliau mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat Arab jahiliyah menjadi sebuah tatanan kehidupan baru yang penuh dengan keadilan, menghormati martabat setiap manusia, menyejahterakan dan memberikan ketenangan kepada setiap orang tanpa pandang suku, turunan bahkan agama.

Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya yang dilakukan oleh beliau? Rahasianya ternyata terletak pada apa yang beliau sampaikan kepada masyarakat Arab berupa dakwah Islam. Dakwah Islam inilah yang menjadi wasilah Muhammad SAW mentransformasi ‘gagasan-gagasan langit’ (baca: Firman Allah SWT) menjadi sesuatu yang mengagetkan, dipertanyakan, dipikirkan hingga akhirnya dibutuhkan dan didukung oleh masyarakat jahiliyah kala itu.

Satu-satunya ‘senjata’ yang beliau pakai saat itu adalah kemampuannya mengomunikasikan seluruh pesan “Zat Yang Maha Agung” secara tepat dan efektif, sehingga sebagian besar umat manusia mengikutinya.

Melalui komunikasi itu pula Rasul SAW mampu mengubah persepsi manusia tentang kehidupan. Dan hebatnya mampu membangkitkan umat jahiliyah berubah menjadi masyarakat berperadaban tinggi yang disegani oleh masyarakat dunia lebih dari 13 abad! Sebuah capaian yang belum tertandingi oleh agama dan sistem hidup manapun di dunia ini.

The Power of Islamic Communication

Komunikasi memang ditujukan untuk mengubah persepsi bahkan perilaku seseorang maupun komunal (masyarakat). Permasalahannya adalah komunikasi yang seperti apa yang harus dilakukan agar berpengaruh positif pada perilaku seseorang? Di sinilah komunikasi Islam diperlukan.

Islam menjadikan akidah dan syariah sebagai dua aspek dasar keyakinan dan implementasi dalam segala aktivitas kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal komunikasi. Oleh karenanya, akidah dan syariah  harus menjadi frame of mind dan frame of work (Proud of You, Irtikaz, 2012, hal 92-96).

Frame of mind adalah menjadikan akidah dan syariah sebagai landasan dan acuan dalam menggali ide, gagasan, konsep dan strategi komunikasi yang unik, kreatif, berbeda dan ‘nonjok’ tapi tetap dalam koridor Islam.

Pentingkah? Ya jelas! Karena di kebanyakan orang praktisi komunikasi atau kreatif berpendapat bahwa ide, gagasan, konsep itu harus bebas. Tidak boleh dibatasi karena akan membelenggu kreatifitas. Oleh karenanya, tidak mungkin bagi komunikator Muslim menyuarakan ide kebebasan, ide demokrasi.

Adapun frame of work, adalah implementasi serta eksekusi komunikasi-kreatif baik pada strategi, desain komunikasi visual, media yang harus juga bersandar pada aturan Islam. Mengekspos kecantikan perempuan adalah terlarang, sebagai sebuah contoh. Dengan begitu komunikasi yang seperti ini akan memberikan efek dakwah, keberkahan dan kemaslahatan bagi semua manusia. Wallahu’alam.[]

 

 

 

 

 

 


Page 13 of 556

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved