Banner
[41] Ramadhan Tanpa Khilafah PDF Print E-mail
Friday, 03 September 2010 12:49

Seandainya Khilafah ada, kita tidak hanya menangis saat berdoa di malam lailatul Qadar yang sepi, sementara kita membiarkan tangis pilu jutaan anak yatim, para wanita tua yang kehilangan sanak saudaranya akibat kebuasan penjajah.

Bayangkan seandainya Khilafah masih ada, maka menjelang awal Ramadhan Khalifah dengan sangat serius mempersiapkan upaya pemantauan hilal (bulan), sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW.  Khalifah akan mengerahkan ulama, ahli falak, pakar astronomi di berbagai kawasan negeri Khilafah mulai dari Maroko sampau Marauke. Teknologipun dipersiapkan untuk membantu, siaran langsung dari berbagai kawasan pemantauan dari seluruh dunia dilakukan seperti siaran langsung sepak bola di era jahiliyah modern ini. Kemungkinan detik-detik terlihatnya hilal bisa disaksikan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia.
Setelah hilal terlihat, Khalifah segera mengumumkan masuknya 1 Ramadhan, atau bulan Sya'ban digenapkan 30 hari kalau belum terlihat. Siaran langsung pidato Khalifah dipancarkan secara langsung televisi ataupun radio Departemen I'lami (informasi negara) dari pusat kota negara Khilafah. Disaksikan via satelit oleh hampir 1,5 milyar umat Islam negara Khilafah berbagai penjuru dunia. Dengan kecanggihan sains dan teknologi ini tidak ada kendala untuk menyampaikan pesan penting ini dengan cepat dan akurat di seluruh dunia.
Umat Islam menyambutnya dengan riang gembira, merekapun shaum pada saat yang sama: 1 Ramadhan yang sama. Meskipun terjadi perbedaan pendapat tentang bagaimana menentukan awal dan akhir Ramadhan, tapi perintah Imam yang wajib ditaati telah melebur semua itu: “amrul imam yarfa'ul khilaf” (perintah imam/Khalifah menghilangkan perbedaan). Semuanya taat kepada perintah Khalifah, ketaatan yang diperintahkan Allah SWT dan Rasulnya.
Di malam 1 Ramadhan setelah shalat maghrib Khalifah pun berpidato sebagaimana Rasulullah SAW berpidato yang juga diikuti oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra, yang intinya mengingatkan kaum Muslimin tentang keutaman bulan Ramadhan. Khalifah  mendorong umat Islam untuk melaksanakan amalan wajib di bulan Ramadhan dan memperbanyak amalan sunnah. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat berjamaah bersama dengan Khalifah sebagai imamnya.
Kalaulah Khilafah ada, bulan Ramadhan ini tidak akan kita isi hanya dengan menahan lapar dan haus, membaca Alquran atau shalat tarawih bersama. Tapi juga berperang di jalan Allah SWT (jihad fi sabilillah). Sebagaimana Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan memobilisasi umat Islam untuk berjihad dalam perang Badar dan Fathul Makkah. Khalifah akan mengomandokan kita umat Islam di seluruh penjuru dunia, tentara-tentara Islam yang terlatih, untuk bersiap-siap membebaskan negeri-negeri Islam yang masih dijajah oleh negara-negera imperialis.
Kita bersama jutaan tentara-tentara Islam yang terlatih yang terdiri atas berbagai bangsa, bermacam ras dan warna kulit, dari berbagai benua, bergerak bersama-sama di bawah komando Khalifah ke Palestina, Irak, Afghanistan dan Pakistan. Mengisi Ramadhan kita dengan salah satu amalan yang paling mulia yakni jihad fi sabilillah tanpa bisa dihalangi oleh nasionalisme yang membelenggu atau PBB yang menipu.
Kita tidak hanya diam khusuk di sudut-sudut masjid, sementara saudara-saudara kita di Jalur Gaza menangis karena lapar akibat embargo Zionis Yahudi. Kita tidak hanya menangis saat berdoa di malam Lailatul Qadar yang sepi, sementara kita membiarkan tangis pilu jutaan anak yatim, para wanita tua yang kehilangan sanak saudaranya. Tangis menyayat hati yang terdengar sangat jelas, akibat kebrutalan tentara kafir penjajah di Irak dan Afghanistan.  Ramadhan ini juga akan kita isi dengan keringat dan darah yang tertumpah di medan perang untuk membebaskan saudara-saudara kita yang tertindas.
Seandainya Khilafah ada, kita tidak akan melalui hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan penuh kemunafikan dan dosa. Kita tidak melaluinya dengan makanan berbuka yang berlebihan di ruang-ruang AC yang nyaman. Sementara banyak saudara-saudara kita yang terpaksa menahan lapar yang perih karena kemiskinan di kolong jembatan dan gubuk tak layak. Khalifah tidak sekadar mendorong untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan terhadap orang miskin. Tindakan nyata Khalifah adalah menghentikan sistem kapitalis yang memiskinkan rakyat dan menjarah kekayaan negara. Menggantinya dengan kebijakan ekonomi negara yang menyejahterakan yang berdasarkan syariah Islam.
Seandainya Khilafah ada, Ramadhan tidak akan kita lalui dengan sikap yang hipokrit. Berulang-ulang kita menyatakan bulan Ramadhan adalah bulan ketakwaan, tapi di depan mata kita kemaksiatan terus berlangsung akibat sistem yang melegalkannya. Berulang-ulang mengatakan Alquran pedoman hidup, sementara hukum-hukumnya kita campakkan dengan tidak menerapkanya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Pernyataan berulang Alquran sebagai hudallinnas (petunjuk manusia), hudallil muttaqin, menjadi semacam retorika tanpa realita.
Inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW, terjadi pada umatnya. Sebagaimana firman Allah Swt. Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini sebagai sesuatu yang diabaikan. (QS al-Furqan [25]: 30). Rasulullah mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan Alquran sebagai mahjûr[an]. Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur'ân (meninggalkan atau mengabaikan Alquran). Di antaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak mentadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya.
Dengan adanya Khilafah, hal itu tentu tidak akan terjadi. Sebab Khilafah akan menjadikan syariah Islam menjadi hukum resmi negara yang wajib diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian Alquran dan Sunnah benar-benar menjadi pedoman hidup kita.[] farid wadjdi

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved