|
Salah satu faktor penting dalam politik luar negeri sebuah negara adalah menentukan mana negara musuh dan negara kawan. Penentuan ini sangat penting bagi keamanan negara dan juga menentukan bagai-mana kebijakan terhadap negara tersebut. Sangat berbahaya kalau negara yang jelas-jelas musuh kemudian dianggap negara mitra atau negara sahabat.
Justru inilah yang menjadi kesalahan utama dari politik luar negeri Indonesia, keliru dalam menentukan mana negara musuh mana mitra. Amerika Serikat yang jelas-jelas adalah negara penjajah dianggap sebagai negara mitra atau sahabat. Padahal Indonesia mengklaim diri sebagai negara yang anti penjajahan.
Dalam Islam status Amerika adalah sangat jelas, disebut sebagai muhariban fi'lan ,yaitu negara kafir yang secara nyata-nyata memerangi umat Islam. Karena itu status terhadap Amerika adalah permusuhan dan peperangan. Amerika Serikat secara terbuka dan terbukti telah melakukan pembantaian terhadap umat Islam di berbagai kawasan seperti Irak, Afghanistan, dan Yaman. Jutaan umat Islam menjadi korban perang barbar Amerika Serikat ini. Bocornya 400 ribu dokumen rahasia yang dipublikasikan oleh Wikileaks menunjukkan bagaimana barbarnya negara yang mengklaim dirinya sebagai negara beradab ini. Bocoran dokumen itu mengungkapkan rincian terjadinya perkosaan, penyiksaan, pembunuhan warga sipil yang dilakukan dari helikopter tempur dan insiden lainnya oleh pasukan koalisi dan pasukan Irak. Bahkan sebagian peristiwa itu berlangsung di bawah kontrol Obama pada tahun 2009. Dokumen itu juga mengungkapkan bagaimana tentara koalisi menutup mata atas laporan tentang penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan secara ekstrajudisial oleh pemerintah boneka Irak.
Amerika juga dengan kekuatan militer, politik dan ekonominya melakukan perampokan kekayaan negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia. Berbeda dengan Irak yang dirampok dengan jalan militer, di Indonesia perampokan kekayaan alam dilakukan atas nama pasar bebas, investasi asing, dan pembangunan. Kekayaan alam negeri Islam termasuk Indonesia yang seharusnya digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat, sebagian besar dirampok oleh Amerika.
Amerika juga membuat makar di berbagai negeri Islam, menyulut berbagai krisis termasuk mendukung perpecahan dan separatisme. Secara nyata hal ini dilakukan Amerika Serikat di Pakistan, Afghanistan, Sudan, dan Irak. Di Indonesia, Amerika berperan penting dalam berbagai peristiwa politik penting seperti pemberontakan dan tragedi berdarah tahun 1965 yang menyebabkan banyak korban jiwa.
Lepasnya Timor Timur dari Indonesia, langsung atau tidak langsung adalah peran Amerika, di samping kebodohan penguasa Indonesia. Meskipun kerap menyatakan mendukung integrasi Papua dan Aceh, secara diam-diam negara ini menciptakan pra kondisi disintegrasi Papua dan Aceh dengan berbagai cara.
Negara ini juga mendukung penuh rezim-rezim penindas di negeri Islam. Mulai dari dukungan tidak terbatas terhadap negara Zionis Israel, sampai penguasa-penguasa negeri Islam yang bengis seperti Husni Mubarak di Mesir, Zardari di Pakistan, Karimov di Uzbekistan, rezim Saudi dan Suriah dan banyak lagi .
Di Indonesia, Amerika Serikat di era Soeharto mendukung penuh rezim yang korup dan represif. Sekarang Amerika juga mendukung penuh rezim SBY yang atas nama perang melawan terorisme telah menjadikan umat Islam dan Islam sebagai musuhnya. Rezim SBY juga didukung negara Paman Sam ini meskipun telah menyengsarakan rakyat dan merugikan negara karena paham neoliberalnya.
Sebagai negara muhariban fi'lan seharusnya Amerika didudukkan sebagai negara musuh, diharamkan melakukan hubungan apapun dengan negara musuh baik ekonomi, politik, budaya, maupun militer. Diharamkan pula untuk menerima pemimpin negara musuh, Obama. Ia datang bukan untuk berdamai dan menghentikan perang dan penjajahannya terhadap umat Islam. Kedatangannya justru untuk mengokohnya penjajahannya di Indonesia. Imam as Syafi'I dalam kitab al Umm juz IV menjelaskan secara rinci sikap kita seharusnya terhadap muhariban fi'lan yang masuk dalam kategori ahlul harb. Dengan tegas Imam Syafi'I menyatakan, Ahlul Harb dilarang datang ke negeri Muslim untuk berdagang apapun alasannya. Kalau mereka masuk tanpa jaminan keamanan (al aman) dan risalah (sebagai duta), maka harta mereka boleh dirampas, mereka harus dikembalikan ke negeri mereka dan tidak boleh melenggang di negeri kaum Muslimin.
Mereka yang memerangi umat Islam, merampok kekayaan umat Islam jelas merupakan musuh Allah dan musuh kaum Muslimin. Dalam Alquran Allah SWT juga dengan tegas menyatakan jangan mengambil musuh Allah dan musuh kaum Muslimin sebagai teman setia (TQS Al Mumtahanah : 1). Di samping itu, tindakan para penjajah terhadap umat Islam jelas adalah perilaku setan. Memecah belah, membunuh, memerkosa, merampok, mengajak pada kekufuran dan kesesatan adalah perilaku setan. Bukankah Allah SWT memerintahkan kita untuk memusuhi setan yang merupakan musuh yang nyata?
Dalam Alquran Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala"(TQS. Al-Faathir : 6). Dalam tafsir al Jalalain dijelaskan, menjadikan setan itu sebagai musuh adalah dengan cara taat kepada Allah SWT (bi tho'atillah) dan dengan tidak menaati setan itu. Sementara dalam tafsir Abu Su'ud sikap menjadikan setan sebagai musuh tercermin dari tidak menyetujui, menyangkal atau berlawanan dengan setan dalam masalah aqidah dan perilaku. Sikap inilah yang harus kita ambil terhadap negara setan, Amerika. Kita harus menentang, melawan, dan berseberangan dengan Amerika, bukan malah menjadikannya mitra. Kecuali kalau penguasa negeri ini juga ikut-ikutan menjadi penguasa setan![] farid wadjdi
|