|
Ada dua poin penting dari pidato Obama di Universitas Indonesia (Rabu; 10/11/2010) penuh racun dan kebohongan. Seperti lazimnya presiden AS yang lain Obama dalam kuliah umumnya kembali 'mengajarkan' kita tentang demokrasi, HAM, pluralisme, dan pasar bebas. Muatan itu dikemas dengan retorika menarik dan simpati dengan dua senjata ampuh: pujian terhadap Indonesia dan nostalgia masa lalu. Pidato tersebut membius meski yang disampaikan racun.
Demokrasi adalah racun dan ide kufur. Dengan prinsip utama kedaulatan di tangan rakyat, demokrasi telah menjadikan akal dan hawa nafsu manusia menjadi standar dalam membuat hukum (mashdarul ahkam). Padahal dalam Islam hak membuat hukum hanyalah milik Allah SWT (QS Yusuf: 40) HAM dengan pilar utama liberalisme juga racun. Liberalisme agama bukanlah sekadar kebolehan beragama tapi juga kebebasan untuk keluar dari agama (termasuk murtad dari Islam), bahkan tidak beragama sekalipun. Liberalisme terbukti telah menumbuhsuburkan kemaksiatan yang menjadi pangkal kemurkaan Allah SWT. Pelaku dan pendukung homoseksual, seks bebas, pornografi, aliran sesat, selalu mengedepankan argumentasi HAM untuk membenarkan kemaksiatan mereka.
Adapun pluralisme, bukanlah sekadar pengakuan tentang keberagaman yang sebenarnya tidak dipersoalkan dalam Islam. Ide pluralisme memiliki racun tersembunyi berupa pengakuan terhadap kebenaran semua agama dengan alasan sama-sama pengikut Tuhan. “We are all God's follower (kita semua pengikut Tuhan)” demikian Obama menyebutnya. Secara politik pluralisme juga menjadi alat untuk menghalangi tegaknya syariah Islam yang merupakan kewajiban akidah Muslim. Alasannya, semua agama harus dihargai dalam masyarakat.
Poin kedua dari kuliah umum Obama adalah kebohongan. Dalam pidatonya Obama mengatakan: the United States is committed to human progress ( Amerika Serikat berkomitmen untuk kemajuan manusia). Apa yang dilakukan oleh AS bukanlah untuk kepentingan kemanusiaan tapi elite pemilik modal. Untuk itu mereka menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan dua hal substansial yang menghancurkan kemanusiaan: pembunuhan dan perampokan. Ini dilakukan Obama mengikuti jejak prisiden Amerika lainnya.
Negara itu sampai sekarang masih melakukan pembunuhan terhadap umat Islam di Irak, Afghanistan, dan Pakistan. Amerika merampok kekayaan alam dunia ketiga yang kaya termasuk Indonesia, sementara rakyat yang dirampok hidup dalam kemiskinan. Seperti apa yang AS lakukan di Papua, Aceh, Riau, Blok Cepu, atau Natuna.
Dalam hubungan AS dan Islam, Obama mengatakan tidak memerangi Islam tapi Al-Qaida yang dia sebut sebagai teroris. Masalahnya, siapapun yang tidak sejalan dengan Amerika dan menentang penjajahan Amerika termasuk rakyat sipil akan disebut sebagai Al-Qaida atau berhubungan dengan Al-Qaida. Hal berarti mereka berhak untuk dibunuh.
Obama di satu sisi menyatakan rakyat Amerika terancam oleh kelompok teroris, di sisi lain dia seakan-akan menutup mata bagaimana tentara Amerika melakukan teror dan pembunuhan terhadap ratusan ribu umat Islam. Obama juga tidak menyinggung sama sekali teror yang dilakukan tentara Zionis Israel .Pertanyaan kita, apakah bagi Obama hanya rakyat Amerika yang disebut manusia yang harus dilindungi , sementara nyawa umat Islam di Irak, Afghansitan, dan Palestina bukan manusia atau dia anggap binatang hina?
Berkaitan dengan Afghanistan, Obama menggunakan kalimat-kalimat kunci seperti AS bersama koalisi negara-negara (a coalition of nations). Obama sengaja menutupi motif ekonomi Amerika di Afghanistan dengan menyalahkan apa yang disebut dengan kelompok ekstrimis kekerasan. Kalau para mujahidin yang membela negaranya dari penjajahan dia sebut ekstrimis kekerasan, bagaimana dengan tentara NATO yang menggunakan berton-ton bom canggih, pesawat tanpa awak, dan zat kimia di Afghanistan yang membunuh kaum Muslimin di sana?
Obama juga melakukan kebohongan tentang kenyataan sebenarnya di Irak. Obama membanggakan diri telah menarik 100 ribu pasukan dari Irak. Surat kabar Inggris, The Guardian (Ahad,15/8) juga menegaskan penarikan pasukan pendudukan Amerika dari Irak hanya “simbolis” saja untuk menyelamatkan Presiden Barack Obama dari warisan pendahulunya, George W. Bush.
Kenneth M. Pollack dalam tulisannya di Washington Post (22/08/2010) menyatakan klaim AS tidak lagi memiliki pasukan tempur di Irak adalah sekadar mitos. Menurutnya, dari sekitar 50.000 personil militer Amerika yang berada di Irak, mayoritasnya masih merupakan pasukan tempur – mereka hanya diberi nama lain.
Tampak sangat jelas Obama ingin mengesankan bahwa dia sedang mengupayakan perdamaian di Palestina. Sesuatu yang juga dilakukan oleh presiden Amerika lainnya namun tanpa hasil. Pasalnya, Amerika mensyaratkan pengakuan terhadap penjajah Yahudi dan pelucutan senjata para pejuang Palestina .
Amerika juga sejak awal bukanlah mediator perdamaian yang netral karena telah dengan tegas menyatakan berada pada pihak Israel. Obama bahkan menyatakan dukungannya terhadap negara Zionis Israel adalah harga mati yang tidak bisa diubah.
Usulan dua negara yang hidup berdamping (two states solution) juga omong kosong. Karena itu berarti mengakui legalitas penjajah Israel yang kuat yang berdampingan dengan negara merdeka Palestina yang semu karena tidak dibolehkan memiliki kekuatan yang dianggap mengancam negara Zionis itu. Kita patut bertanya kalau Obama memang sungguh-sungguh menginginkan perdamaian kenapa AS di bawah Obama justru memperkuat militer Israel yang jelas-jelas digunakan untuk membunuh umat Islam? Amerika Serikat baru-baru ini menjual 20 jet tempur F-35 ke Israel. Dalam kampanyenya, Obama juga berjanji untuk meningkatkan bantuan Amerika ke Israel hingga 30 milyar dolar dalam jangka waktu 10 tahun.
Ironisnya di Universitas Indonesia, pidato Obama yang penuh racun dan kebohongan disambut dengan antusias dan tawa. Mereka lupa bahwa tepuk tangan itu merupakan legitimasi terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT ![] farid wadjdi
|