|
Kejatuhan rezim diktator yang menerapkan kapitalisme tinggal menunggu waktu, perubahan ke arah tegaknya syariah dan khilafah akan menjadi solusi di masa depan.
Akhirnya rezim Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali tumbang. Penguasa diktator yang telah memerintah selama 23 tahun, melarikan diri ke Saudi Arabia. Ben Ali dipaksa mundur karena gelombang unjuk rasa anti pemerintah. Kegagalan Ben Ali menyejahterakan rakyat ditambah pemerintahan yang represif selama ini membuat rezim ini tumbang.
Tak ayal, tumbangnya Ben Ali, menularkan rasa takut pada para diktator lain yang bertebaran di Timur Tengah dan Afrika. Salah seorang anggota Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika, mengingatkan tumbangnya rezim Tunisia harus menjadi pelajaran bagi para diktator Afrika lainnya. Hal yang sama bisa terjadi pada mereka.
Barat pun kelihatan galau melihat krisis Tunisia. Ben Ali yang selama ini menjadi penguasa komprador yang mendukung kepentingan penjajahan Barat akhirnya ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri. Sesuatu yang sangat menakutkan bagi Barat. Karena selama ini keberadaan rezim-rezim pengkhianat yang menjadi boneka merekalah yang telah membuat eksistensi penjajahan mereka terjaga.
Munculnya gelombang revolusi baru tak terduga oleh Barat. Seorang komentator di surat kabar the Washington Post menulis, ancaman terbesar Amerika di Timur Tengah bukanlah peperangan, melainkan adalah revolusi. Kemarahan publik atas korupsi, pengangguran dan kediktatoran terjadi di Mesir, Aljazair, dan banyak negara di wilayah itu.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari tumbangnya rezim diktator ini. Pertama, tidak ada kekuasaan diktator yang kekal. Kegagalan mengurus rakyat ditambah tindakan totaliter akan menuai kebencian rakyat. Sikap represif hanya bisa memperlambat tumbangnya rezim diktator, tapi tidak bisa menghentikannya.
Kedua, krisis ekonomi dan politik yang terjadi di Tunisia, tidak lain karena penerapan sistem kapitalisme yang gagal. Sistem kapitalisme hanya mengguntungkan segelintir elite yang hidup bermewah-mewah dan memberikan keuntungan kepada perusahaan asing yang mengeruk kekayaan alam negeri-negeri Islam. Sementara rakyat hidup menderita.
Ketiga, bersandar pada kekuatan asing penjajah sangatlah lemah. Mereka hanya berpikir pragmatis menjamin kepentingan politik dan ekonomi penjajahan mereka. Bagi para penjajah, tidak ada kata setia untuk mempertahankan bonekanya. Kalau mereka menganggap tidak ada lagi manfaat mempertahankan bonekanya, mencampakkan bahkan membunuh sahabat politik mereka sendiri bukanlah masalah besar. Hal yang sama dialami Saddam Hussein yang menjadi kaki tangan Inggris di Irak, atau Syah Reza Pahlevi di Iran, Marcos di Filipina atau Soeharto di Indonesia.
Tumbangnya rezim diktator di negeri-negeri Islam tinggallah menunggu waktu. Kegagalan sistem kapitalisme yang mereka adopsi akan mempercepat perubahan. Apalagi tuan-tuan besar penjajah mereka juga mengalami kondisi akut yang sama. Krisis ekonomi, politik dan sosial, bukan hanya terjadi pada negara boneka jajahan, tapi juga di pusat-pusat penjajahan seperti Amerika Serikat dan Eropa. Rakyat akan berpaling dari mereka semua. Hal ini sesungguhnya merupakan kesempatan baik sekaligus tantangan bagi gerakan Islam. Harus ada tawaran yang jelas untuk mengganti rezim dan sistem kapitalisme yang gagal ini. Solusi Islam berupa penegakan syariah Islam dan khilafah harus terus disosialisasikan di tengah-tengah umat sehingga muncul kesadaran umum umat (al wa'yu al 'ami) yang akan memengaruhi opini umum (ar ra'yu al 'ami).
Opini umum yang didasarkan kepada kesadaran inilah yang akan menggerakkan umat untuk menuntut perubahan. Bukan sekadar perubahan rezim tapi juga sistem yang justru menjadi pangkal persoalan. Bukan sekadar emosi yang sifatnya sementara, tapi perubahan yang didasarkan kepada kesadaran mabdai' (ideologis). Kesadaran bahwa ideologi kapitalismelah yang menjadi penyebab utama berbagai krisis di tengah masyarakat.
Kesadaran imani bahwa hanya Islam dan khilafahlah yang akan menjadi solusi. Bukan sekadar karena syariah Islam dan khilafah Islam akan membawa kemashlahatan, namun yang terpenting adalah muncul dari kesadaran akan kewajiban menerapkan syariah Islam dan khilafah sebagai konsekuensi keimanan. Inilah yang akan membawa perubahan yang jelas, terarah, dan sifatnya tetap.
Perubahan seperti ini haruslah menghindari cara-cara kekerasan yang menimbulkan pertumpahan darah. Karena itu mencari dukungan dari ahlunnushrah (para penolong) yang memiliki kekuatan politik dan senjata seperti militer dan kepolisian menjadi sangat penting. Dukungan dari ahlunnushrah akan menghindarkan dari gejolak yang berdarah-darah, yang banyak mengorbankan rakyat.
Perubahan seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika daulah Islam tegak di Madinah. Meskipun perubahan yang dibawa Rasulullah SAW sifatnya mendasar (asasiyah) dan menyeluruh (inqilabiyah), nyaris tak ada pertumbahan darah. Ini tidak lain karena ditopang oleh kesadaran masyarakat Madinah yang merindukan sistem yang baru yakni Islam dan pemimpin baru Rasulullah SAW. Di samping itu, ahlunnushrah yaitu para pemimpin kabilah utama di Madinah –Aus dan Khazraj- juga telah memberikan dukungan dan bai'at mereka kepada sang pemimpin politik baru. Kalau ini terjadi, siapa yang bisa membendung perubahan ini?[] farid wadjdi
|