|
Mengikuti Tunisia, Mesir bergolak. Dengan keberanian yang luar biasa, rakyat Mesir turun ke jalan-jalan menuntut turunnya rezim diktator Mubarak. Menerjang barisan pasukan keamanan bertampang seram, tidak peduli desing peluru siap merobek tubuh mereka. Rakyat Mesir sudah muak terhadap kediktatoran Mubarak yang terus dibela dan dilindungi oleh negara kafir Amerika Serikat. Krisis ekonomi, kemiskinan dan pengangguran menjadi api yang membakar kemarahan.
Kondisi yang lebih kurang sama dialami Indonesia di masa reformasi tahun 1998. Rakyat bersama tokoh reformis menuntut Soeharto yang puluhan tahun telah berkuasa turun tahta. Soeharto mirip dengan Mubarak menggunakan tangan besi membungkam lawan-lawan politiknya. Krisis ekonomi yang mengguncang Asia saat itu mempercepat kejatuhan Soeharto. Sama dengan Mesir, resep ekonomi IMF justru memperparah kondisi ekonomi Indonesia.
Reformasi 1998 memang berhasil menumbangkan sang diktator, namun hingga kini persoalan Indonesia belum selesai. Apa yang di era Soeharto dikritik oleh demonstran seperti maraknya korupsi, kolusi, mafia peradilan, kemiskinan, justru kembali berulang saat ini. Dalam beberapa hal bahkan lebih parah. Berbagai julukan diberikan kepada Indonesia saat ini: negara gagal, republik koruptor, negara lelucon sampai negara biadab!
Satu hal yang masih menyelamatkan SBY – yang berbeda dengan masa Soeharto- adalah kebebasan politik. Harus diakui di masa SBY kran demokrasi masih terbuka lebar, kebebasan pers masih ada. Hanya saja, ketika rakyat gagal disejahterakan dan di depan mata mereka koruptor dilindungi, demokrasi bisa saja dicampakkan rakyat. Sederhananya sangat mungkin rakyat berpikir: untuk apa demokrasi kalau kami lapar, kami sulit berobat, pendidikan mahal, dan koruptor malah dibiarkan?
Pelajaran penting dari kegagalan Indonesia, reformasi rezim tidaklah cukup. Sebab pangkal persoalannya bukanlah hanya Soeharto, tapi sistem kapitalisme yang diterapkan rezim Suharto. Kapitalisme inilah yang menciptakan budaya korupsi, suap menyuap, dan praktik mafia hukum. Ideologi sekuler inilah yang juga menjadi penyebab kemiskinan rakyat.
Era reformasi justru melahirkan kebijakan ekonomi neoliberal anti rakyat seperti privatisasi, pengurangan subsidi, penaikan harga BBM dan pasar bebas. Kenaikan BBM dengan segala tipu-tipunya termasuk istilah pembatasan BBM bersubsidi, tidak bisa dilepaskan dari liberalisasi migas. Celakanya, semua kebijakan ini dilegalkan oleh UU yang merupakan produk demokrasi.
Perubahan sebatas rezim tanpa disertai dengan perubahan sistem akhirnya kembali mendudukkan orang-orang yang menjadi kaki tangan poros imperialis. Mereka kembali bersujud kepada penjajah asing dalam segala kebijakannya.
Hal inilah yang harus menjadi pelajaran bagi rakyat Mesir. Persoalan Mesir bukanlah hanya Mubarak, tapi sistem kapitalisme sekuler. Tanpa perubahan sistem, Mesir akan kembali dipimpin boneka-boneka Amerika dengan topeng demokrasi. Mereka seolah menjadi pembela rakyat Mesir dengan teriakan reformasi, demokrasi dan HAM.
Amerika tentu saja tidak membiarkan perubahan apapun yang mengancam dominasinya. Tanpa malu negara ini sepertinya berpihak kepada rakyat. Padahal, kalau Amerika benar-benar menegakkan HAM dan demokrasi, kenapa selama berpuluh tahun mendukung rezim diktator yang menyengsarakan rakyat.
Namun, mungkin memang beginilah takdir sejarah yang harus dijalani umat Islam. Rezim diktator jatuh, diganti oleh rezim yang juga pro Amerika dan masih menerapkan sistem yang sama. Persoalan yang sama muncul.
Hanya saja kita tidak boleh putus asa. Dengan pertolongan Allah SWT, kita yakin akan ada gelombang perubahan yang kedua. Rakyat tidak lagi hanya menuntut pergantian orang tapi juga sistem. Hal ini terjadi karena rakyat kemudian menyadari pergantian orang tidak banyak membawa perubahan berarti.
Rakyat juga akan mencampakkan siapapun selama ini yang berkoalisi dengan sistem kufur kapitalisme, meskipun mengklaim partai Islam sekalipun. Ulama-ulama yang menjilat penguasa zalim akan dihinakan Allah SWT, umat pun akan mencap mereka pengkhianat. Dengan dasar keimanan, rakyat tidak mau lagi dipimpin oleh mereka yang berhubungan dengan masa lalu, yang berkoalisi dengan penjajah, dan diam ketika rakyat dalam kesulitan.
Seruan-seruan perubahan sistemik (al inqilabiyah) yang dilakukan oleh umat Islam saat ini pastilah akan membuahkan hasil. Seruan tanpa henti terhadap perubahan sistem kapitalisme menjadi syariah Islam dan khilafah akan disambut oleh masyarakat yang muak dengan kebusukan dan kegagalan sistem demokrasi. Dengan pertolongan Allah SWT, masalah ini tinggal menunggu waktu saja.
Namun kita tegaskan perubahan yang sejati ini haruslah didasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT. Tuntutan syariah Islam, bukanlah sekadar muncul dari perasaan marah akibat perut lapar atau kemiskinan. Tapi muncul dari keimanan kepada Allah SWT. Tentu menyedihkan kalau kita bergerak karena sebatas perut lapar atau tidak punya pekerjaan. Namun diam saja saat syariah Islam tidak diterapkan sementara hukum kufur mencengkeram kita.[] farid wadjdi
|