Banner
[62] Pentingya Kesadaran dan Komitmen Perjuangan PDF Print E-mail
Wednesday, 20 July 2011 09:35

Alhamdulillahirabbil 'alamin, tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT.  Hanya berkat pertolongan-Nya, acara Konferensi Rajab 1432 Hijriyah berlangsung dengan baik. Opini tentang kewajiban syariah dan khilafah pun kian menggema di seluruh Nusantara mulai Aceh hingga Papua. Dukungan pun semakin menguat dari masyarakat, para intelektual, tokoh, dan ulama. Perlu digarisbawahi, Konferensi Rajab ini adalah sekadar pilihan uslub (teknis) dalam thariqah (metode) dakwah yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir.  Adapun substansinya adalah membangun kesadaran dan komitmen.

Dua hal ini—kesadaran dan komitmen—adalah perkara yang penting dalam perubahan masyarakat. Kesadaran  akan  membentuk  opini  umum  yang  akan  menggiring  dan  menggerakkan  masyarakat  untuk menuntut perubahan dengan tegaknya khilafah. Sementara  komitmen untuk berpartisipasi dan berkorban akan menentukan keberhasilan perjuangan yang membutuhkan dukungan penuh dengan kerelaan berkorban pada jalan yang penuh tantangan dan ujian.

Sejak  awal,  materi-materi  dari  Konferensi  Rajab  1432  H  memang  ditujukan  ke  arah  sana.  Materi pertama—Indonesia dalam cengkeraman kapitalisme global—memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya Indonesia masih dijajah dan solusinya adalah syariah Islam. Dan hal ini mutlak membutuhkan keberadaan khilafah sebagai institusi politiknya.

Pada pemaparan yang ketiga, ada gambaran yang lebih rinci, bagaimana penerapan syariah Islam di bawah naungan khilafah akan mampu menciptakan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu secara rinci dipaparkan kebijakan politik negara dalam ekonomi (jaminan pemenuhan pokok tiap individu  masyarakat  oleh  negara,  kebijakan  pasar,  mata  uang,  distribusi,  industri,  sumber  daya  alam, perdagangan, pengelolaan pendapatan dan pengeluaran negara. Termasuk kebijakan pendidikan dan kesehatan gratis.

Dari sini diharapkan muncul pemahaman bahwa Islam  memiliki solusi yang praktis dan memang mampu menyelesaikan persoalan manusia. Secara historis juga digambarkan bahwa syariah Islam memang benar-benar pernah diterapkan dan mampu menyejahterakan selama lebih kurang 13 abad. Hal ini untuk membantah tudingan bahwa syariat Islam hanya sekadar selogan kosong dan utopia.

Materi yang keempat adalah gambaran tentang negara adi daya khilafah masa depan. Secara potensi Allah SWT telah mempersiapkan umat Islam menjadi umat yang terbaik (khairu ummah), menjadi negara terdepan dan adi daya dunia.  Kita sebenarnya telah memiliki semua syarat untuk menjadi negara adi daya. Yang kita butuhkan hanyalah satu: yakni adanya daulah Khilafah Islam yang menyatukan potensi itu hingga menjadi kekuatan riil negara adi daya.

Berbeda dengan Barat (ideologi kapitalisme), kesejahteraan yang akan diciptakan oleh Ideologi Islam adalah kesejahteraan untuk seluruh umat manusia, bukan dengan cara mengeksploitasi dan merampok wilayah lain. Dan yang terpenting kesejahteraan itu penuh dengan nilai ruhiyah karena diperoleh dengan cara yang benar dan ditujukan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Kesadaran-kesadaran di atas semakin diperkokoh dengan janji Allah SWT akan kemenangan Islam dan kembalinya Daulah Khilafah pada materi kelima. Di antara janji Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam adalah istikhlaf fi al-ardh (menjadi penguasa di muka bumi).

Materi terakhir berupa Seruan Hangat dari Hizbut Tahrir Indonesia intinya mengajak umat Islam untuk berkomitmen memperjuangkan syariah dan khilafah ini. Bukan hanya sadar dalam pengertian sekadar tahu, tapi juga terlibat langsung dalam perjuangan ini dengan segala pengorbanannya. Sebab, kewajiban penegakan syariah Islam dan khilafah adalah masalah kewajiban syar'i yang merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim.

Seruan hangat ini juga menjelaskan bagaimana metode Hizbut Tahrir untuk mewujudkan kembali khilafah dengan cara mengikuti thariqah (metode) Rasulullah SAW. Yakni aktifitas politik berupa pembinaan (tatsqif), membongkar  makar  penjajahan (kasyful  khuththat),  mengkoreksi  penguasa  (muhasabah  lil  hukkam),  dan meminta pertolongan dari ahlul quwwah (thalabun nushrah). Semua ini dilakukan secara fikriyah (pemikiran),
siyasiyah (politik) dan la madiyah (tanpa kekerasaan).

Inilah  perjuangan  yang  mulia  yang  memiliki  pahala  yang  besar  dari  Allah  SWT.  Secara  khusus  HT menyerukan ahlul quwwah (para jenderal dan perwira militer) untuk mendukung Hizbut Tahrir. ”Jadilah Anda semua kaum Anshar abad ke-15 Hijrah sebagaimana kaum Anshar pada zaman Rasulullah SAW! Sungguh, 'Arasy Ar Rahman telah bergetar karena kematian pemimpin Anshar, Saad bin Muadz ra, Baginda Rasulullah SAW. bersabda: 'Arasy Ar Rahman bergetar karena kematian Saad bin Muadz (HR Bukhari dari Jabir ra).

Perjuangan tentu belum selesai dengan berakhirnya Konferensi Rajab. Untuk para aktifis, tidak ada lain, harus tetap sabar dan ikhlas serta sungguh-sungguh dalam berdakwah. Untuk umat, juga tidak ada lain kecuali harus secara sungguh-sungguh dan ikhlas mendukung dan berjuang bersama jamaah yang tegas hendak mewujudkan tegaknya syariah dan khilafah, yakni Hizbut Tahrir. Allahu Akbar.[] farid wadjdi


 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved