Banner
[69] Nasib Tragis Sang Diktator Qaddafi PDF Print E-mail
Friday, 03 February 2012 14:46

Muammar Qaddafi, akhirnya mati mengenaskan. Dibunuh dan dilecehkan bagaikan hewan. Kata-katanya yang selama ini wajib ditaati bagaikan Fir’aun, tidak lagi didengar. Qaddafi ditemukan bersembunyi di aliran got, tempat tikus banyak bersarang. Ironisnya, dengan sombong sebelumnya dia menyatakan para pejuang yang menantangnya dengan julukan para tikus. Sang diktator ini mengikuti jejak tragis diktator kejam lainnya seperti Sah Reza Pahlevi, Soeharto, Saddam Husain, Husni Mubarak, Zainal Abidin bin Ali. Terjungkal dari kekuasaan secara tragis.

Sudah seharusnya ini menjadi pelajaran bagi diktator lain yang masih berkuasa: Bashar Assad di Suria, Abdullah di Yaman, Raja Saudi, Yordania, dan lainnya. Ketika rakyat sudah marah, harta melimpah yang dia miliki, pasukan setia terlatih dan bersenjata canggih, kekuasaan tinggi, tidak bisa menolongnya lagi. Negara-negara Barat yang menjadi tuan mereka pun berbalik arah, menendang  para diktator yang tidak lagi bermanfaat bagi mereka. Padahal, apapun sudah dilakukan oleh para diktator ini untuk melayani kepentingan tuan-tuan besar mereka. Kekayaan alam yang sesungguhnya milik rakyat dijual secara murah kepada negara-negara imperialis. Imbalannya, mereka membeli senjata dan barang-barang mewah dari Barat.

Bahkan para diktator ini rela memerangi rakyat mereka sendiri atas nama perang melawan terorisme dan radikalisme. Padahal yang dilakukan oleh rakyat mereka adalah memperjuangkan syariah Islam untuk kebaikan manusia dan membebaskan dari penjajahan asing. Bersandar pada kekuataan asing, seperti bersandar pada sarang laba-laba yang rapuh. Hidup mereka tidak hanya hina di dunia, tapi juga di akhirat. ”Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. dan Sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.” (TQS az-Zumar [39]: 26)

Pelajaran penting lain dari semua ini, setiap keburukan berupa penyimpangan dari hukum Allah SWT pasti akan berbuah kehinaan. Dan setiap keburukan itu  pasti akan tumbang. Rezim bengis demikian juga sistem yang buruk  karena bertentangan hukum Allah SWT pasti akan tumbang. Sejarah mencatat, bagaimana imperium Soviet dengan komunismenya, Imperium Romawi dan Persia yang bengis juga tumbang. Termasuk  kekuasaan umat Islam dengan Khilafah Islam juga tumbang, di samping karena faktor ekternal, penyebabnya juga muncul dari dalam tubuh umat Islam baik pemimpin maupun rakyatnya yang menyimpang dari syariah Islam. Umat Islam juga tidak sungguh-sungguh mempertahankan khilafah yang merupakan kewajiban syariah yang jelas.

Dan sekarang ini, sistem dan ideologi Kapitalisme pun sedang sekarat. Bahkan rakyat mereka sendiri mulai mengecam kapitalisme dengan gerakan Occupy Wall Sreet. Ideologi ini secara ekonomi telah menyebabkan kemiskinan dan kesenjangan antara kaya dan miskin yang dalam. Secara politik, kapitalisme pun menghalalkan segala cara untuk meraih kepentingannya dengan cara menjajah negara lain, menebar teror di seantero dunia, menumbuh suburkan konflik dan peperangan. Termasuk menimbulkan krisis kemanusiaan yang parah, tingkat stres yang tinggi, perpecahan keluarga, kriminalitas, depresi sosial, semuanya buah dari kapitalisme.

Negara-negara imperialis pun hadir dalam wajah yang hipokrit. Tampak standar ganda yang jelas dalam kebijakan mereka. Di satu sisi, Obama mengucapkan selamat kepada rakyat Libya karena terbebas dari rezim diktator, dan secara hampir bersamaan negara itu menjalin hubungan yang akrab dengan rezim diktator lainnya seperti Karimov. Di satu sisi bicara penegakan HAM, tapi negara-negara Barat justru menjadi pelanggar HAM nomor wahid. Mereka menuduh umat Islam teroris kerena menentang penjajahan sementara Amerika membombardir satu negeri seperti Irak dan Afghanistan, dan membunuh jutaan orang legal atas nama demokrasi.

Semua perubahan termasuk tumbangnya rezim dan diktator, tentu semua ini terjadi dengan kekuasaan Allah SWT, sang pemilik kekuasaan. Dialah yang memiliki kekuasaan, kalau Allah SWT berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Firman Allah SWT : Katakanlah (Muhammad),”Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki, Engkau hinakan siapapun yang engkau kehendaki.” (TQS Ali Imron [3]: 26)

Dalam tafsir an Naktu wal Uyun, Imam Al Mawardi menjelaskan bahwa ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan Qatadah berkaitan dengan permintaan Rasulullah SAW agar umat Islam bisa menaklukkan Persia dan Romawi—dua negara adi daya pada saat itu. Sebagaimana umat Islam sebelumnya, akhirnya mereka bisa menaklukkan Persia dan Romawi. Kita juga dengan izin Allah pasti bisa menaklukkan negara adi daya bengis seperti Amerika saat ini.

Namun hanya negara adi daya yang bisa menaklukkan negara adi daya. Umat Islam mampu menaklukkan dua negara adi daya itu, ketika umat memiliki negara khilafah yang kuat.  Karena itu meskipun sudah keropos Amerika akan tetap eksis selama belum ada negara ada daya baru khilafah yang menandinginya dan kemudian menaklukkannya. Dan dengan kekuasaan Allah SWT disertai dengan usaha nyata dari umat Islam,  khilafah akan tegak dan umat Islam akan menaklukkan Amerika dengan sistem kapitalisnya. Saat ini jangan tanya lagi kapan khilafah tegak, tapi tanyalah diri kita apa yang sudah kita lakukan untuk menegakkan Khilafah![] Farid Wadjdi

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved