Banner
[51] Kenaikan Harga Beras Masih Mengancam PDF Print E-mail
Monday, 14 March 2011 19:24

Pemerintah ternyata belum memiliki instrumen untuk menghitung stok beras di masyarakat.

Menjelang akhir tahun 2010 dan memasuki tahun 2011, masyarakat benar-benar mendapat kado pahit. Berbagai harga komoditas berlomba-lomba untuk naik. Setelah beras yang merangkak naik sejak pertengahan tahun lalu, harga gula juga tak kunjung turun meski beberapa pabrik gula telah masuk musim giling. Kini giliran harga cabe yang mengamuk.

Dari beberapa komoditas pangan yang harganya melonjak, paling menyesakan dada adalah kenaikan harga beras. Sebagai bahan pangan pokok masyarakat Indonesia, harga beras justru melambung di tengah produksi beras dalam negeri naik.

Operasi pasar beras yang dilancarkan Perum Bulog ternyata belum mampu menahan lonjakan harga. Data Kementerian Perdagangan, harga rata-rata beras kualitas medium hingga 14 Janu-ari sudah mencapai Rp 7.288/kg.

Sedangkan berdasarkan angka ramalan (ARAM) III Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi pada tahun 2010 sebanyak 65,98 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau naik 2,46 persen dari tahun 2009 sebesar 64,4 juta ton GKG. Kalkulasi pemerintah dengan pro-duksi tersebut akan ada surplus sekitar 4 juta ton beras.

Meski pemerintah meng-klaim produksi surplus, di lapa-ngan harga gabah dan beras justru bertahan pada level tinggi di atas harga pembelian peme-rintah (HPP). Sesuai Instruksi Pre-siden No.7/2009 tentang Kebi-jakan Perberasan, HPP gabah kering panen (GKP) di petani se-besar Rp 2.640/kg, GKP di penggilingan Rp 2.685/kg. Se-dangkan GKG di penggilingan Rp3.300/kg dan di gudang Bulog Rp 3.345kg. Sementara harga be-ras di gudang Bulog Rp 5.050/kg.

Mengacu hukum ekonomi, lonjakan harga menjadi suatu yang bertolak belakang. Di tengah produksi yang melimpah, justru harga melambung. Harusnya har-ga gabah dan beras akan terko-reksi turun ketika produksi me-ningkat. “Secara hukum ekonomi memang tidak ketemu,” aku Men-teri Pertanian, Suswono.

Akibat tingginya harga membuat Perum Bulog yang mendapat tugas menyerap gabah dan beras petani hanya mampu membeli 1,9 juta ton setara beras dari target sebanyak 3,2 juta ton. Minimnya stok beras yang ada di gudang Bulog memaksa pemerin-tah mengambil keputusan pahit yakni impor beras.

Suswono mensinyalir, me-lonjaknya harga gabah dan beras karena pedagang tengah menguji kekuatan stok beras pemerintah. “Dengan stok yang minim ada kemungkinan spekulan ikut ber-main. Apalagi pemerintah belum mempunyai instrumen untuk menghitung stok beras yang ada di masyarakat,” katanya.

Bagaimana dengan Perum Bulog? Sebagai orang nomor satu di Bulog, Sutarto Alimoeso mene-gaskan, persoalan yang dihadapi pihaknya adalah harga. Selama tahun 2010 rata-rata harga gabah selalu berada di atas HPP, se-hingga Bulog kesulitan menda-patkan gabah/beras.

Bahkan menurut mantan Dirjen Tanaman Pangan itu, harga beras di tingkat konsumen sejak Mei 2010 tidak pernah turun dan cenderung naik terus. “Baru kali ini pada Juni terjadi operasi pasar. Tapi operasi pasar belum mampu menekan harga. Padahal penga-laman tahun-tahun sebelumnya, ketika harga melonjak tinggi, dengan operasi pasar harga bisa diredam,” tuturnya.

Sutarto memprediksi situasi perberasan pada tahun ini tidak akan terlepas dari situasi tahun 2010. Artinya produksi padi masih tetap akan dibayangi situasi iklim dan cuaca yang terus berubah.

Akibat gangguan produksi diprediksi stok beras dunia turun dari 95,3 juta ton menjadi 94,3 juta ton. Ini karena konsumsi mening-kat dari 437 juta ton menjadi 453 juta ton. Dengan situasi seperti itu Sutarto memprediksi harga beras akan terus meningkat karena penurunan stok dan gangguan produksi.

Posisi harga beras pada awal Januari mencapai 490 dolar AS/ton untuk beras Thailand 15 persen dan 480 dolar AS/ton beras Vietnam 15 persen. Posisi itu meningkat sekitar 40-60 dolar AS/ton dibandingkan Juli-Agus-tus 2010 lalu.

Menurut Sutarto, kemung-kinan peningkatan harga beras di pasar dunia tersebut akan berpe-ngaruh terhadap perkembangan harga di dalam negeri. “Produksi pangan dunia pada tahun ini masih ada ancaman gangguan akibat perubahan iklim,” katanya.

Pemerintah harus menang-gapi serius lonjakan harga beras. Dalam politik ekonomi Islam, pe-merintah harus menjamin terpe-nuhinya kebutuhan pokok. Dalam pandangan Islam, kebutuhan po-kok itu mencakup kebutuhan terhadap barang-barang tertentu berupa pangan, sandang dan papan serta kebutuhan terhadap jasa-jasa tertentu berupa ke-amanan, pendidikan dan kese-hatan.[] ijul'28

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved