|
Pemerintah tak memiliki langkah yang progresif menghadapi itu.
Ancaman krisis pangan dengan melonjaknya harga komoditas perta-nian kini menghantui negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Ancaman ini tidak lepas dari kondisi iklim yang kian sulit diprediksi sehingga membuat produksi pangan di beberapa negara di dunia turun.
Pengalaman krisis pangan sempat melanda dunia pada 2007/2008. Saat itu yang menjadi pemicu adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia. Namun krisis pangan yang meng-ancam tahun ini lebih banyak karena faktor iklim. Iklim yang makin sulit ditebak membuat negara-negara di dunia lebih mementingkan kebutuhan pa-ngan dalam negeri, ketimbang melempar ke pasar dunia.
Contohnya, Rusia sebagai salah satu produsen gandum terbesar dunia terpaksa meng-hentikan ekspornya akibat kega-galan panen. Vietnam dan Thai-land sebagai produsen beras juga mulai membatasi pengiriman be-rasnya ke luar negeri.
Kondisi yang sama juga terjadi dengan Cina. Pada 2010 lalu, Negeri Tirai Bambu ini ter-paksa membeli jagung dari pasar dunia sebanyak 1,7 juta ton untuk mengamankan stok di dalam negeri. Tahun 2011, negeri Tirai Bambu ini sudah bersiap meng-impor sebanyak 5 juta ton.
AS juga mulai ketakutan ancaman krisis pangan. Negerinya Barrack Obama mulai membatasi ekspor jagung dan mengalihkan sebagai bahan baku ethanol. Data Departemen Pertanian AS (USDA), pada tahun 2009/2010, ekspor jagung AS sebanyak 1.975 juta bushel atau sekitar 49,375 juta ton dan pada 2010/2011 diprediksi hanya 2.050 juta bushel atau 51,250 juta ton.
Seperti diketahui, harga pangan dunia melonjak selama Desember 2010, dengan Indeks Harga Pangan FAO mencapai rekor tertinggi. Kenaikan harga pangan itu melebihi yang terjadi pada 2008. Saat itu lonjakan harga pangan menyebabkan kerusuhan di sejumlah negara.
Bayang-bayang ancaman krisis pangan juga menghantui Indonesia. Meski pada 2010, produksi padi naik, tapi pertum-buhannya terbilang lebih kecil hanya 2,4 persen. Padahal dalam dua tahun sebelumnya (2008-2009), pertumbuhan produksi berada di atas 5 persen.
Kondisi ini menjadi pen-dorong tingginya harga beras di dalam negeri selama 2010 lalu. Misalnya, harga beras pada De-sember 2009 rata-rata Rp 6.938/kg menjadi Rp 9.082/kg pada Desember 2010 atau meningkat 30,90 persen. Sedangkan pada periode Maret-Desember 2010 naik dari Rp 7.492/kg menjadi Rp 9.082/kg (21,22 persen).
Sebagai bahan pangan po-kok, beras merupakan penyum-bang paling tinggi pada inflasi. Selama 2010, kontribusi beras terhadap inflasi 1,29 persen dari total 6,96 persen. Artinya, beras menyumbang 18,5 persen men-dekati 19 persen dari total inflasi. Akumulasi bahan pangan secara keseluruhan seperti beras, cabe, kedelai, terigu dan lain-lain ber-kontribusi 72,8 persen terhadap inflasi.
Menteri Koordinator Pereko-nomian, Hatta Rajasa mengata-kan, salah satu kebijakan peme-rintah mengantisipasi tren kenaik-an harga pangan di dunia yang cukup besar adalah membebas-kan bea masuk impor pangan yak-ni beras, kedelai, bahan baku pakan dan gandum.
Kebijakan lainnya adalah mengintensifkan operasi pasar beras dengan volume yang lebih besar. Jika selama ini hanya 2.000 ton/hari, maka mulai Januari pe-merintah akan menaikkan volume operasi pasar menjadi dua kali.
Pemerintah juga akan me-mastikan beras untuk masyarakat miskin (raskin) terbagi tepat waktu. Volume penyaluran raskin juga ditambah menjadi empat kali selama periode Januari-Maret. Artinya dalam tiga bulan akan ada sekitar 1,04 juta ton beras disa-lurkan untuk raskin.
Guna menjaga stabilisasi pangan, Hatta mengungkapkan, pemerintah akan menjaga stok beras di Bulog sebanyak 1,5 juta ton. Karena itu Bulog mendapat tugas menyerap 3,5 juta ton beras pada tahun ini. Sedangkan pro-duksi padi ditargetkan tumbuh 5 persen menjadi 70,01 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 43,93 juta ton setara beras. Tapi apakah itu akan berhasil? Bukankah itu kebijakan biasa saja.[] ijul'28
|