Banner
[53] Kesesatan Ahmadiyah PDF Print E-mail
Thursday, 14 April 2011 14:26

Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya adalah penjelmaan Muhammad SAW.

Bukan Ahmadiyah namanya kalau tidak berbohong. Petinggi Ahmadiyah, terutama di hadapan media massa, sering berkelit bahwa mereka tidak pernah menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Mereka pun berpura-pura menolak kitab tadzkirah sebagai kitab suci pengikuti Ahmadiyah. Padahal banyak fakta yang menunjukkan sebaliknya.

Mayoritas organisasi Islam dan para ulama telah sepakat Ahmadiyah adalah aliran sesat. Para ulama yang tergabung di Liga Muslim Dunia (Rabithah 'Alam Islami) dalam konferensi tahunannya di Makkah Al-Mukarramah Saudi Arabia dari tanggal 14-18 Rabiul Awwal 1394 H (6-10 April 1974) yang diikuti oleh 140 delegasi negara-negara Muslim dan organisasi Muslim dari seluruh dunia, mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah.



Dalam Deklarasi Liga Muslim Dunia (Rabithah Islami) Tahun 1974 itu dinyatakan Qadianiyah atau Ahmadiyah  adalah sebuah gerakan bawah tanah yang melawan Islam dan Muslim dunia, dengan penuh kepalsuan dan kebohongan mengaku sebagai sebuah aliran Islam; yang berkedok sebagai Islam dan untuk kepentingan keduniaan berusaha menarik perhatian dan merencanakan untuk merusak fondamen Islam.

Disimpulkan, terdapat penyimpangan-penyimpangan nyata ajaran Ahmadiyah dari prinsip-prinsip dasar Islam ada-lah sebagai berikut : (1) Pendiri-nya mengaku dirinya sebagai nabi; (2) Mereka dengan sengaja menyimpangkan pengertian ayat-ayat suci Alquran; (3) Mere-ka menyatakan bahwa jihad telah dihapus.

Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi
Terdapat sumber-sumber Ahmadiyah sendiri seperti buku dan leaflet yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul. Beberapa di antaranya :

'Nabi Muhammad merupa-kan nabi penutup yang mem-bawa syariat, tetapi bukan penu-tup nabi-nabi yang tidak mem-bawa syariat. Jadi, tetap terbuka diutusnya nabi setelah Nabi Muhammad' (Ahmadiyah, Apa dan Mengapa. Syafi'i R. Batuah. Cetakan XVIII. Peberbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1986, hal. 7)

Dalam Kata Pengantar Tadzkirah edisi Inggris disebut-kan: 'Mirza Ghulam Ahmad affir-med that his claim to prophet-hood, as explained by him, was in accord with the Holy Quran and the true Hadits' [Mirza Ghulam Ahmad menegaskan bahwa klaimnya terhadap kenabian, seperti yang ia jelaskan, sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadits shahih] (Tadzkirah, edisi Inggris, Pimpinan Pusat Ahmadi-yah London, 2006, hal. 7).

Dalam Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 Nopember 1985 (Nubuw-wah 1364 HS), rubrik “Tadzkirah”, disebutkan: “Dalam wahyu ini Tuhan menyebutku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin Ah-madiyah, Tuhan Maha Kuasa te-lah membuatku manifestasi dari semua Nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, Aku Seth, Aku Nuh, Aku Ibrahim, Aku Ishaq, Aku Ismail, Aku Ya'qub Aku Yusuf, Aku Musa, Aku Daud, Aku Isa, dan Aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad SAW, yakni aku adalah Muham-mad dan Ahmad sebagai refleksi. (Haqiqatul Wahyi, h. 72).” (Hal. 11-12)

Memperbaiki Kesalahan (Eik Ghalthi Ka Izalah), karya Mir-za Ghulam Ahmad, yang dialih bahasakan oleh HS Yahya Ponto, (terbitan Jamaah Ahmadiyah cab. Bandung, tahun 1993). Di situ tertulis penjelasan terhadap ayat Alquran: “Muhammad ada-lah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sa-yang sesama mereka” (QS Al Fath : 29).

Dalam buku ini, Mirza Ghu-lam Ahmad menjelaskan, siapa yang dimaksud dengan “Muham-mad” dalam ayat tersebut, yakni: "Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutku Muhammad dan Rasul…(hal. 5).

Di selebaran yang dikeluar-kan Jemaat Ahmadiyah Indone-sia disebutkan: Pada bulan No-vember 1901 Hazrat Mirza Ghu-lam Ahmad menegaskan kemba-li kepada umatnya bahwa Allah telah memberikan wahyu kepa-da beliau yang di dalamnya me-ngandung kata-kata rasul, mur-sal, dan bani yang tidak hanya sekali atau dua kali saja, tetapi sampai yang beratus-ratus kali. (Eik Ghalthi Ka Izalah).

Di antara pengakuan Mirza adalah: ”Sesungguhnya Allah te-lah menamakan nabi kepadaku dengan wahyu-Nya. Demikian juga Dia telah menamakan (nabi) sebelum itu melalui sabda rasul kita Al Musthafa (Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) (al Istifta' halaman 18)

”Dan dengan benar aku te-lah telah diutus (sebagai rasul) maka apa yang menyebabkan kamu tidak mengerti” (al Istifta' halaman 46) ( Dikutip dari sele-baran Hakikat Nabi dan Rasul, penerbit Jemaat Ahmadiyah Indonesia)

Tadzkirah Kitab Suci
“Kitab Suci kami hanyalah Alquranul Karim.” Ahmadiyah ju-ga mengatakan, bahwa “Tadzki-rah” bukanlah kitab suci mereka, tetapi merupakan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935 (27 tahun setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia tahun 1908).

Penjelasan Ahmadiyah ini juga tidak sesuai dengan kenya-taan. Dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya kata-kata berikut ini: “ tadzkirah ya'ni wahyu muqoddas,” artinya tadzkirah adalah wahyu suci. Jadi, kaum Ahmadiyah jelas menganggap bahwa kitab Tadz-kirah adalah “wahyu yang disucikan”. Karena itu, sangat tidak benar jika mereka tidak mengakuinya sebagai kitab suci. Sangat jelas, mereka memiliki kitab suci lain, selain Alquran, yaitu kitab Tadzkirah.

Di dalam Tadzkirah bertebaran ayat-ayat yang mengacak-acak Alquran. Ayat-ayat tersebut diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, Nabi dan Rasul terakhir, tetapi diklaim oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah sebagai wahyu yang diturunkan kepada Mirza Gulam Ahmad, Nabinya Ahmadiyah.
Kesesatan Ahmadiyah, tidak hanya dalam kedua poin di atas. Tidaklah mengherankan kalau ormas-ormas Islam di Indonesia sepakat untuk menyatakan Ahmadiyah adalah ajaran sesat yang bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islam.[] abu fatih

 


Membajak Alquran

Tadzkirah: "Dialah Tuhan yang mengutus rasul-Nya, Mirza Ghulam Ahmad, dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas semua agama (Tadzkirah, hal. 621).

Alquran: “ Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai (QS At Taubah: 33).

Tadzkirah: “Katakanlah, wahai Mirza Ghulam Ahmad, jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku." (Tadzkirah, hal.637).

Alquran: "Katakanlah hai (Muhammad): "Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku (nabi)" (QS Ali Imran: 31)

Tadzkirah: “Dan kami tidak mengutus engkau –wahai Mirza Ghulam Ahmad- kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (Tadzkirah hal.634)

Alquran: Tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS Al Anbiya: 107)

Tadzkirah : “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad” – Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, hanya diberi wahyu kepadaKu”. (Tadzkirah hal.633).

Alquran: “Katakanlah (Muhammad) sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu yang telah menerima wahyu (QS Al Kahfi: 110).[] abu fatih
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved