Banner
[53] Muhammad Rasulullah, Nabi dan Rasul Terakhir PDF Print E-mail
Thursday, 14 April 2011 14:50

Penutup para nabi tak bisa dimaknai dengan makna lain. Hadits mutawatir memperkuat pengertian itu.

Alquran dengan sha-rih menjelaskan tertutupnya pintu nubuwwah dan ri-salah setelah wafat-nya Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat. Beliau SAW, telah ditetapkan Allah SWT sebagai penutup para nabi, atau nabi yang terakhir. Tidak akan ada nabi dan rasul baru, setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman: "Mu-hammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".[TQS Al Ahzab (33):40]

Imam Thabariy menafsir-kan ayat tersebut sebagai beri-kut, "Wahai manusia, sesungguh-nya Nabi Muhammad itu bukan-lah bapak dari Zaid bin Haritsah dan juga bukanlah bapak dari seorang di antara kalian (para sahabat) yang tidak dilahirkan (keturunan) dari Nabi Muham-mad SAW; sehingga ia (Nabi Muhammad) diharamkan meni-kahi istri mereka, setelah mereka mencerainya. Akan tetapi, ia ada-lah Rasulullah dan penutup para Nabi (khaatam al-nabiyyiin). Beliau adalah penutup kenabian (nubuwwah), sekaligus orang yang diberi cap kenabian. Atas dasar itu, kenabian (nubuwwah) tidak akan dibukakan kepada seorang pun setelah beliau SAW, hingga hari kiamat".[Imam Tha-bariy, Tafsir al-Thabariy, juz 20, hal. 278]

Imam Ibnu Katsir menyata-kan, "Ayat ini merupakan nash yang menunjukkan tidak adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Jika tidak ada nabi setelah beliau SAW, lebih-lebih lagi seorang rasul. Sebab, kedudukan risalah (menyampaikan risalah) lebih khusus daripada keduduk-an nubuwwah (kenabian). Pasal-nya, setiap rasul adalah nabi, tidak sebaliknya. Oleh karena itu, masalah ini telah disebutkan oleh hadits-hadits mutawatir yang di-riwayatkan oleh mayoritas saha-bat dari Nabi SAW. [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Ahzab (33):40]

Imam Al Baghawiy di dalam Tafsir Al-Baghawiy menuturkan, "Sesungguhnya, dengan diutus-nya Nabi Muhammad SWT, Allah SWT telah menutup pintu kena-bian. Imam 'Ashim membacanya dengan "khaatam" (huruf ta'-nya difathah), sehingga kedudukan-nya sebagai isim. Ini bermakna beliau adalah akhir dari para Nabi. Ulama lain membacanya dengan "khaatim", sehingga ke-dudukannya sebagai isim faa'il.  Sebab, beliau adalah penutup para Nabi". [Imam al Baghawiy, Tafsir al-Baghawiy, juz 6, hal. 358]

Sahabat Rasulullah SAW Ibnu Abbas ketika menjelaskan QS Ahzab : 40 diatas menyebut-kan: dengan Nabi Muhammad SAW. Allah telah menutup nabi-nabi yang sebelumnya, maka ti-dak akan ada nabi baru sesudah-nya (Tanwir al Miqbas Min Tafsiri Ibni Abbas). Sedangkan menurut Ibnul ‘Arabi rahimahullah dalam Ahkamul Quran (3/473) dan Al-Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir (4/476), bahwa khatamun nabiyyin adalah akhir mereka (para nabi).

Penafsiran senada juga di-ketengahkan oleh para ulama tafsir, semisal, Imam Qurthubiy, Imam Nasafiy, Imam Ibnu Taimiy-yah, Imam Baidlawiy, Imam al-Baghawiy, dan lain sebagainya.  Atas dasar itu, kata "khaatam" yang terdapat di dalam surat Al Ahzab ayat 40 tidak mungkin ditafsirkan dengan penafsiran lain, selain "penutup para nabi, atau nabi pamungkas (terakhir)". 

Diperkuat Hadits Mutawatir

Pengertian ayat di atas juga diperkuat oleh hadits-hadits yang menuturkan tertutupnya risalah dan kenabian. Menurut Imam Ibnu Katsir, riwayat-riwayat yang berbicara mengenai tertutupnya risalah dan kenabian se-telah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah mutawatir. Diantara riwayat-riwayat tersebut adalah sebagai berikut;

Imam Tirmidziy menge-tengahkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah ter-putus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku."[HR. Turmudziy, juz 3, hal. 364]

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW ber-sabda, "Adalah Bani Israil, urusan mereka senantiasa diatur oleh para nabi, setiap nabinya telah wafat, maka akan diganti nabi yang lain.  Akan tetapi, tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya sa-ngat banyak." [HR. Imam Bukhari, juz 2, hal. 175]

Walhasil dari sini pula dapat dipahami, sesungguhnya Allah SWT telah menutup pintu risalah dan nubuwwah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman.  Tidak akan pernah ada pengangkatan nabi atau rasul baru.[] af dari berbagai sumber

 

Memerangi Nabi Palsu


Pada dasarnya, sejak masa Rasulullah SAW sudah ada orang yang mengaku dirinya nabi dan rasul, di antaranya adalah Musailamah al-Habib yang berasal dari Yamamah dan al-Aswad bin Ka'ab al-'Ansiy dari Shuna'a.  Hanya, saja Rasulullah SAW belum memerangi mereka dikarenakan kesibukan beliau menangani urusan-urusan lain yang lebih penting.Dalam Sirah Ibnu Hisyam dituturkan, bahwa Musailamah pernah menulis surat dan mengirim dua orang utusan kepada Rasulullah SAW.[Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, hal 866] 

Di dalam sebuah hadits dituturkan, bahwasanya setelah Nabi SAW membaca surat Musailamah, beliau bertanya kepada dua utusan Musailamah, "Bagaimana pendapat kalian berdua?" Dua utusan itu menjawab, "Pendapat kami seperti yang ia katakan."  Mendengar ini Nabi SAW bersabda: "Kalaulah tidak karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, niscaya telah kupenggal leher kalian."[HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud]

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, barulah para sahabat ra memerangi Musailamah al-Kadzdzab, nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan para penolak zakat. [lihat al-Hafidz al-Suyuthiy, Taariikh al-Khulafaa', hal. 55-59]. Adapun panglima perang yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar untuk memerangi Musailamah al-Kadzab adalah Khalid bin Walid.[]
 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved