|
H Budi Mulyana, Ketua Lajnah Khusus Intelektual DPP HTI
Kini giliran Muammar Qaddafi, penguasa tiran Libya, yang terkena efek domino tumbangnya para penguasa diktator di tangan rakyatnya sendiri. Namun akankah rontoknya para rezim antek penjajah itu akan disusul dengan naiknya penguasa Muslim bertakwa yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah atau muncul penguasa-penguasa zalim baru yang juga antek para penjajah?
Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Khusus Intelektual DPP Hizbut Tahrir Indonesia H Budi Mulyana yang juga seorang dosen Hubungan Internasional FISIP Unikom Bandung. Berikut petikannya.
Apakah rakyat Libya menginginkan tegaknya demokrasi sehingga menggulingkan penguasa diktator Muammar Qaddafi? Saya memandangnya lebih karena mereka terlalu lama hidup dalam rezim yang represif. Ketika ada momentum gelombang perubahan di Tunisia dan Mesir, rakyat Libya mendapatkan contoh yang bisa juga mereka tiru. Jadi, terlalu jauh kalau dikaitkan dengan demokrasi, terlebih kultur dan pembelajaran demokrasi di Timur Tengah masih sangat minim.
Tipikal kekuasaan di Timur Tengah itu memang otoriter? Otoritarianisme sampai sekarang tetap merupakan ciri paling menonjol dalam politik di dunia Arab. Rezim-rezim otoriter berkuasa dalam waktu yang lama di kawasan Arab Maghribi. Muammar Qaddafi berkuasa di Libya sudah lebih 40 tahun; Husni Mubarak memegang jabatan Presiden Mesir hampir 28 tahun; Raja Mohammed V di Maroko sudah berkuasa sekitar 10 tahun setelah mengudeta ayahnya sendiri Raja Hasan II. Lalu di semenanjung Arab, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh sudah berkuasa selama 32 tahun.
Apakah itu gambaran pemerintahan yang islami? Keliru bila menyatakan kediktatoran adalah ciri pemerintahan yang islami. Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, sangat jauh dari sifat kediktatoran. Penguasa Arab itu hanya kebetulan Muslim, tinggadi dunia Arab, sehingga sering diidentikkan dengan Islam. Ini adalah kekeliruan yang nyata.
Apa dampak krisis di dunia Arab ini bagi dunia secara global? Krisis di dunia Arab tentunya berdampak bagi dunia. Dunia Arab atau juga dikenal sebagai Timur Tengah adalah pusat dunia. Secara geografis, posisi dunia Arab adalah perlintasan dari tiga benua. Eropa, Asia dan Afrika. Terusan Suez di Mesir adalah terusan yang paling strategis untuk menyingkat transportasi dari Eropa ke Asia via jalur laut.
Selain itu juga dunia Arab dikenal sebagai penghasil minyak dan gas terbesar di dunia. Sebagian besar pasokan minyak dan gas dialirkan dari Timur Tengah.
Libya saja memproduki minyak 4,5 juta barrel/hari yang dialirkan ke Eropa. Libya memiliki cadangan minyak 47 milyar barrel minyak, dan merupakan negara penghasil minyak terbesar ke-9 di dunia, dan negara yang paling kaya minyak di Afrika.
Libya menjadi anggota OPEC. Kekayaannya yang milyaran barrel minyak ini menjadikan Libya sebagai faktor penting bagi stabilitas energi dunia.
Negeri di Afrika utara ini, juga memiliki cadangan gas 54 trilyun kubik. Hampir 95 persen minyak Libya di ekspor ke negara-negara Barat dan Eropa. Krisis yang terjadi tentunya akan membuat negara-negara di Eropa ketar-ketir.
Jika berlarut-larut krisis yang terjadi di dunia Arab, maka dampaknya akan sangat mengancam stabilitas energi dunia, serta akan berdampak terhadap ekonomi global.
Mengapa suara-suara yang menginginkan tegaknya syariah Islam tidak muncul di Libya dan dunia Arab pada umumnya? Padahal rakyatnya hampir seratus persen Muslim. Keinginan rakyat Libya dan dunia Arab untuk menegakkan syariat Islam sebenarnya sangat kentara. Sepanjang sejarah pergerakan di Timur Tengah, semuanya diwarnai dengan keinginan untuk mengembalikan dunia Arab pada jatidiri aslinya yaitu Islam.
Pemberitaanlah yang menjadikan seakan tidak ada suara Islam dalam revolusi yang terjadi di dunia Arab belakangan ini. Hal ini bisa kita pahami karena media massa dikuasai oleh Barat. Mereka menyuarakan dengan slogan yang sudah menjadi 'bahasa' bersama di kalangan media barat: Tirani vs Demokrasi.
Padahal tidak selalu penentangan terhadap tirani diartikan ingin membangun demokrasi. Islam memiliki sistem pemerintahannya sendiri yang khas, bukan demokrasi bukan pula tirani, tetapi Khilafah.
Maka media-media, baik yang lahir di Barat maupun di negeri-negeri kaum Muslim memiliki tujuan yang sama, yaitu memoles citra pemikiran kapitalis; memperkokoh pilar-pilar negara-negara boneka Barat yang ada di dunia Islam ini; menyerukan agar ikut berpartisipasi bersama rezim-rezim boneka yang ada di negeri-negeri kaum Muslim; juga pastinya mereka tidak akan memberikan ruang pemberitaan kepada pihak-pihak yang berseberangan dengan kepentingannya.
Apakah perubahan di Libya, Mesir, Tunisia dan dunia Arab lainnya terjadi karena murni bentuk perlawanan rakyat atau ada sekenario Barat? Awalnya bisa dan mungkin merupakan murni bentuk perlawanan rakyat yang sudah muak hidup dalam kezaliman. Namun ketika gelombang perubahan menguat, setiap pihak yang punya kepentingan terhadap negeri tersebut pasti akan membuat skenario yang menguntungkan kepentingannya. Tidak terkecuali Barat. Di sinilah skenario dibuat. Dicarilah agen yang tetap akan loyal terhadap kepentingannya sehingga perubahan yang terjadi diupayakan tetap akan mengamankan aset dan kepentingan mereka.
Inilah kelengahan yang sering timbul dalam proses perubahan sosial, sebagaimana juga dulu yang dialami Indonesia. Perubahan tanpa konsep, ide, gagasan, soliditas agen pengubah maka pastinya akan berujung pada kekecewaan rakyat yang awalnya susah payah, bahkan berkorban untuk mengubah keadaannya.
Akankah dunia Arab tetap dalam cengkeraman asing? Dunia Arab akan mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika mereka melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme Barat pasca runtuhnya Khilafah Islam Turki Utsmani yang kalah di Perang Dunia I. Mereka mengira sosialisme adalah solusi, yang muncul malah diktator-diktator yang tetap menghamba pada kepentingan asing.
Tidakkah akan muncul penguasa Muslim yang bertakwa yang menegakkan syariah Islam dalam bingkai khilafah? Penguasa Muslim yang bertakwa yang dengan penuh keikhlasan menegakkan syariah Islam, risalah Allah SWT dalam naungan Khilafah Rasyidah belum akan muncul bila kesadaran masyarakat belum terbangun dan bila para ahlu nusyrah, elite dan tokoh masyarakat masih belum melihat Islam sebagai solusi.
Terakhir saya katakan bahwa upaya untuk mendirikan negara Islam di dunia Islam telah menjadi sesuatu yang diyakini oleh sebagian besar kaum Muslim, dan telah menjadi tujuan bagi kaum Muslim. Sungguh ini merupakan karunia yang sangat besar dari Allah SWT.
Hanya saja masyarakat belum memiliki kesadaran secara rinci terkait hal ini, serta cara untuk meraihnya, sementara yang ada masih berupa kesadaran umum. Dan saya yakin bahwa hal ini tidak mungkin terjadi begitu saja di tengah-tengah kaum Muslim kecuali melalui pembinaan secara intensif dalam halqah- halqah dan kajian-kajian umum yang terus-menerus dilakukan.
Kita memohon kepada Allah SWT semoga mempercepat berdirinya negara Islam, yang akan menghapus semua racun-racun pemikiran kufur di benak kaum Muslim. []
|