| [54] Rezim Ingkar Sunah Berlumur Darah Syuhada Khilafah |
|
|
|
| Wednesday, 01 June 2011 14:44 |
|
Bukan kali ini saja, Muammar Qaddafi mempertontonkan kebengisan dalam membantai rakyatnya sendiri. Sejak berkuasa, Qaddafi selalu memberangus aktivitas keislamanan yang mengancam kedudukannya dengan berbagai cara; antara lain lewat eksekusi, penghancuran rumah, dan hukuman massal. Karena sudah tidak tahan lagi dengan kezalimannya, rakyat Libya pun marah dan turun ke jalan untuk menggulingkannya. Sekitar 200 massa Hizbut Tahrir Indonesia memberikan dukungan politik kepada rakyat Libya untuk terus melawan kedzaliman diktator yang telah berkuasa lebih dari 41 tahun itu, Kamis, (24/2) pagi di depan Kedutaan Besar Libya di Jakarta. Dalam aksi unjuk rasa itu, HTI menegaskan kepada rakyat Libya agar jangan puas hanyadengan sekadar pergantian penguasa zalim antek penjajah Inggris itu dengan penguasa zalim yang juga antek penjajah lainnya. Bila ingin merdeka secara hakiki, sudah semestinya syariah dan khilafahlah yang ditegakkan. Persis di depan gerbang Kedubes Libya, massa membentangkan spanduk yang bertulis- kan: Lawan Qaddafi Ingkar Sunah dan Pembantai Umat Islam! Spanduk itu mengingatkan pada kebengisan Qaddafi yang melakukan pembunuhan di luar jalur hukum (extra judicial killing), dengan menyiksa dan menggan- tung 13 aktivis Hizbut Tahrir Libya yang mencoba meluruskan pe- mikiran Qaddafi yang menolak Sunah Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum. Syahid Ideologis Pelecehan Qaddafi terha dap sumber hukum Islam pun semakin menjadi. Ia menyebar kan pendapatnya yang meragu kan kebenaran hadits. Ia meng anggap semua hadits itu palsu (maudlu), tidak ada yang meru pakan wahyu Allah SWT. Sehing ga ia tidak mau menerapkan hukum yang terkandung dalam hadits. Hizbut Tahrir Libya pun mencoba meluruskan pandang an Qaddafi yang ngawur itu. Maka pada tahun 1978 delegasi HT Libya berkunjung ke ke diaman Qaddafi. Mereka berde bat selama empat jam. Namun tidak ada kata sepakat. Untuk melawan pandang- an kufur yang ditebar Qaddafi di tengah rakyatnya, HT Libya pun menerbitkan Komunike dari Hizbut Tahrir untuk Kolonel Qaddafi pada 9 September 1978 (7 Syaw wal 1398). Buku yang memuat semua argumen yang melurus kan kekeliruan pandangan Qaddafi mengenai hadits itu disebar. Kontan saja Qaddafi be- rang, ia pun memerintahkan badan intelijen Libya untuk menyelidiki siapa saja yang menyebar buku yang membangkang pendapatnya itu. Maka terkumpullah 9 nama aktivis Mereka adalah: Nashir Surais; Ali Ahmad Iwadhullah; Badik Hasan Badar, warga Pales- tina; Namer Salim Isa; Abdullah Hamudah; Shaleh Nawal, keponakan Shaleh Nawal; Dr Majid Al Qudsi Al Douwik, warga Pales- tina; Muhamad Bayoumi, dan Al Faquri. Semuanya ditahan, menyusul tiga pejuang syariah dan khilafah lainnya yang telah dibui sejak tahun 1973, yakni: Abdullah A Al-Maslati; Hasan A Al Kurdi; Muhammad Muhazhab Havan. Semuanya diintimidasi di dalam penjara. Namun mereka tetap teguh dengan pendiriannya. Tidak sedikitpun goyah dan meninggalkan prinsipnya untuk terus berjuang menegakkan Khilafah Islam, yang menjadikan Alquran dan hadits sebagai sumber hukumnya. Qaddafi kian berang. Ia mengancam akan memenjarakan mereka seumur hidup. Mereka tidak goyah. Bahkan dengan lantang Muhammad Muhazhab Havan menjawab, “Sungguh dipenjara seumur hidup itu merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi saya.” Mendengar itu, Qaddafi pun memutuskan untuk menghukum mati semuanya. Maka, pada 1983 vonis mati dilontarkan Qaddafi. Para pejuang Islam ideologis ini pun dieksekusi mati di sekolah-sekolah dan universitas, di depan para guru, dosen, murid dan mahasiswa, serta di depan keluarga dan anak-anak mereka. Ada di antara mereka yang masih hidup setelah dieksekusi, lalu digantung kembali. Setelah diturunkan kemudian diikat ke mobil dan diseret. Begitulah salah satu kekejian Qaddafi yang dipertontonkan kepada rakyatnya yang menghantarkan ke-13 aktivis Islam yang memperjuangkan
|




Qaddafi berang karena pemikirannya yang bertentangan dengan Islam diluruskan.
Profil Singkat Tiga Syuhada Khilafah





