| [54] Muammar QaddafiRezim Diktator yang Ingkar Sunah |
|
|
|
| Wednesday, 01 June 2011 15:04 |
|
Salah, bila selama ini Anda mengira Muammar Qaddafi adalah seorang tokoh Pejuang Ideologi Islam. Memang, Kapten Muammar Qaddafi menjadi penguasa Libya setelah memimpin Revolusi Al Fatah untuk menyingkirkan Raja Idris, yang merupakan antek Amerika, pada 1969. Hubungan Libya dengan Amerika pun retak. Setelah berkuasa Qaddafi yang telah berpangkat kolonel itu melancarkan revolusi budaya yang Tapi sesungguhnya Qaddafi adalah seorang ingkar sunah yang menolak hadits sebagai sumber hukum. Ia lebih memilih ajaran sesat sosialisme yang dia Didikan Inggris Nama lengkapnya adalah Muammar Abu Minyar al-Qad- dafi. Lahir di Surt, Tripolitania, 7 Juni 1942. Ia adalah anak bungsu dari sebuah keluarga miskin Badawi yang nomaden di daerah gurun pasir Sirte. Ibunya adalah seorang Yahudi yang mulai me- meluk agama Islam sejak usia 9 tahun. Ia disekolahkan di SD tradi- sional yang religius dan berse- kolah di SMU Sebha di Fezzan dari 1956-1961. Qaddafi dan sekelompok kecil teman-teman- nya yang dia temui di sekolah ini kemudian membentuk kepe- mimpinan utama dari sebuah kelompok revolusioner militan yang kelak merebut kekuasaan negara Libya. Qaddafi pun kuliah di Uni- versitas Libya, lulus dengan nilai yang sangat baik. Dia lalu berga- bung dengan Akademi Militer di Benghazi pada 1963. Di sana, dia dan beberapa rekan militannya membentuk sebuah kelompok rahasia yang bertujuan menja- tuhkan kerajaan Libya yang pro asing. Setelah lulus pada 1965, ia dikirim ke Inggris untuk latihan lanjutan, dan kembali pada 1966 sebagai seorang opsir dalam Korps Sinyal. Berkat bantuan Inggris, tiga tahun kemudian ia dan kelompok rahasianya ber- hasil menumbangkan Raja Idris. Meracuni Ajaran Islam Sejak berkuasa, Qaddafi selalu memberangus aktivitas keislamanan yang mengancam kedudukannya dengan berbagai cara; antara lain lewat eksekusi, penghancuran rumah, dan hu- kuman massal. Dia sendiri per- nah memiliki hari istimewa untuk menggantung mahasiswa yang dianggapnya melawan dirinya di dalam kampus, yakni setiap tang- gal 7 April. Jadi anggapan bahwa Qad- dafi merupakan cerminan perla- wanan ideologi Islam jelas sangat keliru. Qaddafi sesungguhnya tidak lebih daripada penganut ideologi sosialisme yang tampak jelas dalam “kitab suci”-nya, Buku Hijau. Namun demikian, sama seperti pemimpin-pemimpin sosialis Arab lainnya, Qaddafi me- manipulasi Islam untuk menda- pat dukungan dari rakyat Libya yang mayoritas Muslim. Memang, banyak retorika- retorika Qaddafi yang sepertinya sejalan dengan Islam. Namun demikian, Buku Hijau-nya mem- buktikan bahwa dia tidak lebih daripada seorang sosialis. Tidak aneh dengan gegabah ia menyampingkan hukum-hukum syariat yang dikatakannya seba- gai ide-ide tradisional. Qaddafi juga menolak keotentikan dan kekuatan yang mengikat dari hadis Nabi SAW, mengubah pe- nanggalan Islam, menyatakan berhaji ke Mekah tidak wajib, dan menyamakan zakat dengan ja- minan sosial. Zakat kemudian dia anggap bisa diubah-ubah dan bervariasi. Dia juga mengharamkan kepemilikan individu. Ingkar Sunah Untuk menampakkan citra Islamnya, Qaddafi memberangus seluruh peninggalan kolonial Kristen Eropa di Libya; gereja- gereja ditutup, aktivitas misio- naris dilarang, serta basis-basis militer Amerika dan Inggris di- tutup. Qaddafi juga menerapkan sebagian hukum Islam seperti melarang meminum alkohol dan penutupan kelab-kelab malam. Tetapi bagi yang jeli, tentu saja akan melihat ajaran sosialis- me yang diamalkan dalam peme- rintahannya. Hal itu seperti ter- cermin dalam Buku Hijau Qad- dafi. Buku ini tidak jauh berbeda dengan Buku Merah-nya Mao Tse Tung. Buku yang seolah dianggap kitab suci oleh Qaddafi itu terdiri atas tiga jilid: The Solution to The Problem of Democracy (1975); The Solution of The Economic Problem: Socialism (1977); dan Social Basis of The Third International Theory (1979). Qaddafi kemudian men- jadikan buku ini sebagai bacaan wajib bagi rakyat Libya yang diajarkan di sekolah-sekolah. Qaddafi sering mengata- kan bahwa bukunya itu didasar- kan pada nilai-nilai Islam. Pada- hal, bukunya itu justru memberi- kan pemecahan yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam politik, ia memberi- kan solusi demokrasi. Namun Qaddafi sendiri, dalam praktik- nya, adalah seorang diktator. Sementara itu, dalam ekonomi, justru dia memberikan solusi so- sialisme yang bertentangan dengan Islam. Ide-ide ganjilnya semakin tampak. Untuk membenarkan penafsirannya terhadap Islam, dia mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk menafsirkan Islam. Atas dasar ini, secara bebas (liberal) dia menafsirkan Islam seenaknya. Qaddafi membatasi Alquran hanya pada masalah individual, sementara dalam ma- salah sosial, 'kitab suci'-nya adalah Buku Hijau. Tidak berhenti sampai di sana, Qaddafi membentuk komi- te-komite rakyat untuk mengam- bil alih masjid-masjid yang dia katakan tradisionalis. Tidak sedi- kit ulama ataupun pejuang Islam yang menentang ide-idenya ke- mudian dia bunuh dan dipen- jarakan. Jangankan dengan Is- lam, dengan Buku Hijau-nya saja, yang mengatakan pengakuan terhadap kebebasan beragama dan demokrasi, Qaddafi tidak menjalankannya. Ide kufur Qaddafi yang lain yang dia lontarkan dalam perte- muan Arab (Arab Summit) pada April 2001 adalah meremehkan perjuangan membebaskan Al Quds dan Al Aqsa dari cengke raman Zionis Yahudi. Ia mencela negara-negara Arab yang terobsesi untuk mem- bebaskan Al Quds dari penjajah- an Israel. Dia berkata, “Kalian memecahkan masalah ini atau kalian tidak, itu hanyalah sebuah masjid dan saya bisa berdoa di mana pun. Tidaklah begitu pen- ting di mana kita tinggal…Itu (Al Quds) juga merupakan tempat suci bagi Yahudi.” Qaddafi, selama lebih dari empat dekade pemerintahan- nya, menjadi salah seorang tiran yang paling refpresif di dunia Muslim. Ia terkenal telah menyik- sa siapa saja yang menyerukan Islam. Dengan ringan tangan ia pun menggantung mati delegasi yang dikirim oleh gerakan Islam, Hizbut Tahrir Libya. Padahal HT Libya mendata- nginya baik-baik dan berargu- men secara syar'i untuk melurus- kan pandangan Qaddafi yang terkategori sebagai ingkar Sunah karena menolak hadits sebagai sumber hukum dan menolak keotentikan hadits sebagai peri- wayatan: perbuatan; perkataan; dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Setelah pertemuan itu, HT Libya menerbitkan Komunike Hizbut Tahrir (1978) yang isinya mengkritik pandangan Qaddafi yang ganjil terkait hadits. Kontan saja Qaddafi berang dan lang- sung memerintahkan kaki ta- ngannya untuk menggantung aktifis HT Libya di depan kampus- nya.[] joko prasetyo dari berbagai sumber |




Ia memegang erat Buku Hijau-nya daripada Alquran.





