| [55] Kebencian Terhadap Islam di Eropa Meningkat Dari Survei, Aksi, Hingga Negara |
|
|
|
| Thursday, 07 July 2011 15:27 |
|
Survei Salah satu wujud kebencian itu terekam dalam jajak pendapat yang dirilis pada bulan April 2010 bahwa 54 persen dari masyarakat Austria menganggap bahwa Islam adalah ancaman bagi gaya hidup Barat yang damai, dan melihat 71 persen dari mereka bahwa Islam tidak sesuai dengan konsep Barat tentang demokrasi, kebebasan dan toleransi, sementara 72 persen dari mereka beranggapan bahwa Muslim di Austria tidak mengikuti aturan hidup kolektif.” Di Swiss, 57 persen menolak pembangunan menara masjid, dan di Inggris 53 persen menganggap bahwa Islam adalah bahaya itu sendiri. Survei lainnya menyebutkan bahwa empat dari 10 orang Perancis dan Jerman melihat Muslim yang tinggal di negara mereka sebagai ancaman. Demikian hasil jajak pendapat yang diterbitkan oleh surat kabar Prancis, Le Monde. 42 persen orang Perancis dan 40 persen dari Jerman. Jajak pendapat YouGov pada akhir Mei 2010 mengungkap bahwa satu dari dua orang Inggris mengasosiasikan Islam dengan ekstremisme dan terorisme. Hanya enam persen yang berpendapat kalau Islam menyerukan keadilan. Sebanyak 67 persen berpendapat bahwa Islam mengekang perempuan, dan 41 persen “tidak setuju” atau “sangat tidak setuju” dengan pemikiran bahwa kaum Muslim punya pengaruh positif pada masyarakat Inggris. Wacana Dalam konteks wacana, munculnya kasus film “Fitna” garapan Geert Wilders, pemuatan sejumlah kartun yang melecehkan Nabi Muhammad SAW, ucapan Paus Benediktus XVI yang juga melecehkan Nabi Muhammad SAW. Kebencian itu pun ditunjukkan dengan diselenggarakannya Konferensi Eropa Anti Islam yang berlangsung di Paris, Sabtu, 18 Desember 2010. Konferensi ini diadakan oleh beberapa kelompok Prancis, termasuk kelompok nasionalis politik Blok Identitaire, yang sering mengeluhkan pengaruh Islam yang tumbuh di atas nilai tradisional Prancis. Kelompok Marxis, feminis sampai sekuler dan aktivis sayap kanan, kelompok Islamophobia menga- Perusakan Masjid dan Pembakaran Alquran Di Inggris, kelompok Liga Pertahanan Inggris (English Defence League – EDL) sayap kanan, merupakan dalang dari sebuah serangan pada Masjid Bournemouth. EDL adalah sebuah kelompok yang suka perselisihan yang telah memimpin demonstrasi "anti-Muslim ekstrimisme" di sekitar Inggris sejak tahun 2009. EDL sendiri sering berbenturan dengan para aktivis Islam Inggris yang tergabung dalam Islam4Uk. Ketika kedua kelompok itu melakukan demonstrasi, kelompok EDL selalu memaki-maki para aktivis Islam dengan kata-kata kotor. Para pendukung EDL senantiasa membawa spanduk dengan tulisan-tulisan yang menyudutkan Islam, seperti ''Hukum syariah akan menghancurkan Inggris dan seluruh nilai-nilai Inggris.'' Aksi perusakan lainnya sebagaimana dialami Masjid Kingston. Situs Surreycomet Inggris melaporkan bahwa sekelompok demonstran bertopeng telah Kebencian lainnya ditunjukkan dengan adanya pembakaran Alquran serta berteriak-teriak menghina Islam di pusat kota Carlisle. Diskriminasi hingga Pembunuhan Sampai, salah satu contoh puncak kebencian adalah kasus pembunuhan Marwa el-Sherbini di Jerman yang memicu kemarahan di kalangan umat Muslim. Perempuan yang tengah hamil itu ditusuk berkali-kali hingga tewas di suatu ruang sidang pengadilan di Kota Dresden, yang saat itu terdapat cukup banyak orang. Peristiwa ini terjadi Juli 2010 saat sidang tuntutan penghinaan kepada Marwa dengan sebutan seorang teroris dan pelacur yang mengenakan jilbab. Pembunuhan itu dilakukan oleh Alex Wiens, yang tampaknya memendam kebencian kepada kaum Muslim terkait dengan penampilan Marwa, yang saat itu mengenakan jilbab dan jubah yang menutupi seluruh auratnya. Lebih parah lagi ketika suami Marwa, Elwy Okaz, mencoba melindungi istrinya, justru kakinya ditembak petugas. Kebencian pada Level Kebijakan Negara Hipokrit Sistem Demokrasi Seorang menteri pemerintah Inggris Saidah Farisi (Baroness Sayeed Warsi), menyebutkan bahwa prasangka buruk terhadap kaum Muslim telah menyebar luas di Inggris. Islamphobia yang kini melewati ambang batas kewajaran. Media massa telah memicu perasaan intoleransi melalui klasifikasi kaum Muslim menjadi dua kelompok moderat dan ekstrim. Contoh lain bentuk inkonsistensi penerapan demokrasi adalah ketika perkembangan umat Islam secara signifikan terjadi di Rusia. Dari segi populasi Inilah yang melahirkan kebencian terhadap Islam. Kebencian yang telah mendarah daging yang terus menerus diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya. Motif Kebencian Perang Salib yang berlangsung berabad-abad tentunya menjadi bukti bahwa sejarah menunjukkan kebencian itu telah sedemikian rupa menghujam pada diri mereka yang menghilangkan rasionalitas kemanusiaannya. Hingga akhirnya mereka dapat menghancurkan benteng Islam dan umat yakni khilafah Islam pasca runtuhnya Khilafah Ustmani pada 3 Maret 1924. Kini seakan mereka leluasa melampiaskan kebencian mereka terhadap Islam karena tidak ada lagi yang mereka takutkan yang dapat menghukum segala Pemeluk Agama Islam Meningkat Sejak menyebarnya Islam ke Eropa pada abad ke-7 Masehi melalui Andalusia (Spanyol) oleh pasukan Thariq bin Ziyad, panglima tentara dari Dinasti Bani Umayyah, benua putih dan biru itu seakan menjadi lahan subur penyebaran dakwah dan syiar Islam.
Sisanya tersebar di beberapa negara Eropa lainnya seperti Portugal, Swedia, Belanda, Swiss, Belgia, dan lainnya. Namun demikian, jumlah ini diperkirakan bertambah lagi. Sebuah hasil studi di Rusia menyebutkan, jumlah pemeluk Islam di negara Beruang Merah tersebut mencapai 25 juta jiwa dari total populasi yang mencapai 145 juta jiwa. Peningkatan umat Islam yang demikian pesat itu, bukan saja karena disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk di negara-negara Muslim, tapi juga bertambah jumlah orang-orang yang memeluk Islam (mualaf). Hal ini merupakan suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September 2001. Ketertarikan secara alamiah dan rasa ingin tahu yang mendalam telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Utang Sejarah Kaum Kristen di Eropa, menurut Wallace-Murphy mengenal pengetahuan bukanlah dari warisan tradisi Yunani tetapi dari buku-buku bahasa Arab yang ditulis oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Ketika itu, Barat menjadikan kampus-kampus di Spanyol sebagai model. Cikal bakal peradaban Barat di Eropa dengan didirikannya Oxford University tahun 1263 dan tak lama setelah itu berdiri pula Cambridge University, yang kampus ini persis Idries de Vries, aktivis Islam dari Belanda Barat Berusaha Palingkan Rakyatnya dari Islam
Saat ini dunia Barat sedang mengalami krisis. Krisis itu cukup parah sehingga dampaknya sangat luas. Inilah yang terjadi sebenarnya. |




Eropa bukanlah seperti propaganda kebebasan yang selama ini digembor-gemborkan. Demokrasi yang berlangsung di sana ternyata tidak untuk umat Islam. Kaum Muslimin terus menjadi sasaran kebencian. Perlakuan diskriminatif terhadap umat Islam kini menjadi pemandangan seharihari dan mendapat legitimasi negara.
Idries de Vries, aktivis Islam dari Belanda 





