| [56] Hikmah Gempa Sebelum Workshop Khilafah |
|
|
|
| Thursday, 14 July 2011 14:02 |
|
Sehari sebelum dilaksanakannya workshop internasional tentang Khilafah Islamic World and Globalization, Beyond the Nation State the Rise of New Caliphate 12-13 Maret 2011 di Kyoto, gempa menghantam Jepang. Gempa 9 skala Richter diikuti oleh tsunami hebat menerjang hampir seluruh wilayah pantai Jepang bagian utara. Lebih dari 20 ribu orang diberitakan tewas. Ribuan rumah dan infrastruktur hancur. Bukan hanya itu. Gempa itu juga mengakibatkan kebocoran dan kebakaran reaktor nuklir Fukushima yang menimbulkan ancaman radiasi yang terus meluas. Penduduk di radius 30 kilometer pun diungsikan. Di tengah suasana yang penuh derita itu, salju sisa musim dingin masih terus turun. Bahkan sejumlah kebakaran juga terjadi di beberapa tempat. Gunung api Shinmoedake pun kembali meletus. Jadi praktis masyarakat Jepang dirundung lima atau enam bencana di waktu yang hampir bersamaan. Tetap TenangMenghadapi bencana yang bertubi-tubi itu, masyarakat Jepang tetap terlihat tenang. “Saya yang kebetulan berada di Kyoto dan Tokyo pada saat bencana itu terjadi bahkan tidak melihat ada sesuatu yang berbeda,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto, salah satu pembicara workshop internasional tentang Khilafah itu. Kegiatan masyarakat di Kyoto terlihat normal. Begitu juga di Tokyo yang masih sering digoncang gempa susulan dengan skala yang cukup besar. Seperti yang terjadi pada Senin 14 Maret malam. Gempa hebat 6 skala Richter kembali menggoncang Tokyo. Di lantai 8 hotel yang ia tempati bersama rombongan dari Universitas Doshisha bergoncang hebat. Terdengar bunyi berderak dan berderit. Lebih dari semenit gempa itu terjadi. Sempat panik, tapi akhirnya tenang karena tidak terlihat sedikitpun kerusakan pada bangunan hotel itu. Rencana untuk lari turun urung dilakukan. Setiap kali gempa terjadi, segera di televisi muncul pernyataan resmi pemerintah dilengkapi dengan peta lokasi gempa dan besaran skala gempa di setiap lokasi. Ternyata gempa susulan bukan kali itu terjadi. Berulang terjadi. Siang dan malam. Memang Jepang telah berhasil membangun gedung-gedung pencakar langit di kota Tokyo dan Kyoto dengan teknologi canggih yang tahan gempa. “Berulangkali diguncang gempa lebih dari 6 skala Richter bahkan sebelumnya diguncang gempa 9 skala Richter, tidak ada gedung yang runtuh bahkan kaca pecah pun tidak ada,” ungkap Ismail kepada Media Umat. Dan tiap kali terjadi gempa, orang Jepang tak acuh, seperti seolah tidak terjadi apa-apa. Kegiatan berjalan seperti sedia kala. “Yang lagi makan terus saja menikmati hidangannya. Yang sedang mengobrol atau membaca koran paling mendongak sebentar, setelah itu lanjut dengan obrolannya,” ujarnya. Ismail pun tergelitik untuk bertanya, “Mengapa orang Jepang yang hampir-hampir tidak mengenal agama, ternyata bisa juga bersikap tenang dalam Untuk menghilangkan penasarannya, ia pun bertanya kepada Direktur Asosiasi Muslim Jepang (JMA) Aamir T Arai, moderator workshop internasional Jawaban mereka hampir seragam, ”Orang Jepang umumnya selalu berpikir rasional, bahwa larut dalam kesedihan, cemas dan menyalahkan keadaan tidaklah berguna serta tidak akan menolong keadaan.” Itulah yang membuat mereka tidak panik menghadapi bencana. Bahkan di wilayah utara Jepang yang paling menderita akibat gemba, pada hari Sabtu sehari setelah terjadi gempa dan tsunami besar, sekolah-sekolah tetap masuk seperti biasa.
Di tengah goncangan gempa dan sapuan tsunami, lalu lintas di daerah aman yang biasanya kacau karena panik, ini tidak. Lalu lintas tetap berjalan normal. Tidak ada saling serobot. Tidak ada saling maki. Maka tidak aneh bila muncul pertanyaan, “Kalau orang yang tidak beragama bisa juga tenang dalam menghadapi bencana, lalu apa gunanya agama, Nah, menurut Ismail, pertanyaan di atas kerap juga muncul untuk hal lain seperti soal ketertiban, kedisiplinan, kesejahteraan dan kemajuan teknologi, yang semua itu juga ada di Jepang. Dengan GNP 33.000 US dolar perkapita, Jepang adalah negara paling makmur di dunia. Soal penguasaan teknologi, jangan ditanya. Untuk urusan toilet pun tidak lepas dari sentuhan teknologi. “Berbeda dengan umumnya toilet ala Barat yang tanpa air, di Jepang semua toilet dilengkapi dengan tombol pembilas,” cerita Ismail. Ada pilihan untuk laki-laki dan perempuan. Ada juga tombol untuk menghangatkan dudukan toilet. Tutup toiletnya pun bisa membuka dan menutup secara otomatis beriringan dengan ketika pintu kamar toilet dibuka dan ditutup. Di kereta cepat Shinkansen bahkan air pembilas memakai sensor cahaya. Air otomatis akan mengalir bila tertutup bayangan. Untuk menjawab pertanyaan itu, Ismail tidak lagi bertanya kepada orang Jepang tetapi ia langsung mengutip kitab rujukan utama Hizbut Tahrir Nidzamul Islam karya Syaikh Taqiyyudin An Nabhani. Kafir VS ImanDalam kitab yang terjemahnya berjudul Peraturan Hidup dalam Islam itu, Syeikh Taqiyyudin menegaskan perbedaan pokok antara perbuatan orang kafir dan orang beriman adalah ada tidaknya mazjul madah bir-ruh (menyatunya materi dan ruh). Materi di sini adalah perbuatan seseorang, dan ruh adalah kesadaran hubungannya dengan Allah SWT. Karena orang kafir tidak beriman kepada Allah, maka tentu tidak ada aspek kerohanian dalam perbuatan mereka. Nah, tidak adanya aspek keruhanian inilah yang membuat perbuatan orang kafir, sebaik apapun itu, termasuk sikap tenangnya dalam menghadapi bencana, juga ketertiban, kedisiplinan dan kemajuan terknologi menjadi sia-sia di sisi Allah SWT. “Rugi sekali bukan?” tanya Ismail retorik. Inilah hakikat dari apa yang disebut oleh Allah SWT bahwa sesungguhnya setiap manusia dalam keadaan merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih. Oleh karena itu, harus ditegaskan bahwa di tengah kemajuan peradaban material negara-negara Barat dan Timur seperti Jepang, akidah Islam tetaplah penting. Pesan Alquran sangat jelas. “Janganlah engkau mati melainkan tetap dalam keadaan Muslim, karena inilah satu-satunya jalan yang haq untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat,” ujarnya. Itu pula yang akan membuat setiap titik kebaikan manusia di dunia memiliki nilai di sisi Allah SWT. Bukan sia-sia seperti fatamorgana. Di sini lah relevansinya menegakkan khilafah, agar terjadinya mazjul madah birruh secara sistematis dan menyeluruh. [] joko prasetyo |




Kalau Islam hanya dijelaskan sebagai agama yang membawa ketenangan dan kemakmuran. Kemungkinan besar orang Jepang lebih memilih tetap tidak beragama, karena semuanya itu telah mereka dapatkan.
Semua berjalan seperti seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada keributan. Tidak ada penjarahan. Di tengah dinginnya salju, mereka tetap tertib antre untuk mendapatkan bantuan.





