Banner
[60] Dar-Der-Dor Densus, Tiga Tersungkur PDF Print E-mail
Wednesday, 23 November 2011 17:11

Dua orang yang ditembak Densus dikenal sebagai pemuda yang aktif memberantas kemaksiatan di Solo.

Dengan dalih menumpas terorisme, lagi-lagi pasukan elite anti teror Kepolisian Republik  Indonesia Detasemen Khusus (Densus) 88 membunuh secara tidak sah secara hukum, extra judicial killing, seorang anak negeri. Kali ini korbannya adalah dua aktivis Islam Sigit Qurdhawi dan Hendro Yunanto serta seorang pedagang nasi angkringan “Hik” Nur Iman, Sabtu (14/5) dini hari di Jalan Pelajar Pejuang, Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Selang beberapa jam, Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Ketut Untung Yoga Ana menceritakan kronologis penggerebekan terhadap Sigit dan Hendro, orang yang dituduh Densus 88 sebagai teroris.

Menurut Ketut Untung, mulanya, Sigit dan Hendro berboncengan menggunakan sepeda motor, keluar dari sebuah rumah. Mereka dibuntuti tim surveillance dan tim Tindak Densus 88. Tiba-tiba keduanya berbalik arah menuju tim surveillance dan tim Tindak Densus 88.

“Ketika Tim Densus berusaha menghentikan kendaraan pelaku, Sigit yang dibonceng menembaki anggota sehingga anggota bereaksi membalas tembakan," paparnya. Tembakan Sigit, lanjut Ketut,  salah sasaran dan mengenai seorang pedagang nasi angkringan bernama Nur Imam yang berada beberapa meter dari tempat kejadian.

Temuan di Lapangan

Namun, dari hasil investigasi langsung Media Umat terhadap penyergapan yang menewaskan tiga orang tersebut, ditemukan indikasi yang membantah klaim bahwa terjadi baku tembak antara Sigit-Hendro dengan Densus 88. Karena diduga kuat Sigit dan Hendro tidak membawa senjata apalagi sampai menembak Nur Iman. Justru temuan di lapangan mengarah pada indikasi bahwa Densus 88-lah yang melakukan kebrutalan dan pelanggaran hukum maupun HAM.

Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan Media Umat serta ditambah penggalian informasi dan data dari narasumber yang dapat dipercaya menunjukkan ketiganya diduga kuat sengaja dihabisi oleh Densus 88.

Bila dilihat jarak antara TKP dengan tempat angkringannya Nur Iman terhitung jauh yakni sekitar 50 meter. TKP terbunuhnya Sigit dan Hendro berada di sebelah utara tidak jauh dari mulut gang masuk ke Desa Sanggrahan.

Sedang Nur Iman posisinya di selatan TKP sekitar 100 langkah kaki orang dewasa. Artinya sewaktu kedua korban masuk gang dari arah utara yang kemudian dikuntil dan dihabisi oleh anggota Densus 88, posisi Nur Iman berada jauh di depan atau selatan mereka semua.

Sewaktu kedua korban dihabisi, diduga kuat waktu itu Nur Iman masih hidup dan melihat peristiwa tersebut. Hal ini diakui oleh salah seorang warga setempat yang sempat mendengar suara teriakan Nur Iman yang mengindikasikan salah satu korban masih hidup. Warga sekitar memang hanya dapat mendengar saja di dalam rumah, karena Densus 88 memperingatkan agar tidak boleh satu warga pun ke luar.

Dan dilihat dari bekas-bekas tembakan, semakin memperkuat indikasi tidak terjadinya baku tembak. Kalau memang dua tersangka melakukan penembakan ke anggota Densus 88, tentunya akan ditemukan bekas goresan di tembok bangunan atau pohon yang berada di utara atau belakang kedua korban dan anggota Densus 88.

Dari pengamatan langsung di lapangan, Media Umat tidak menemukan satu goresan atau lubang bekas tembakan yang mengenai bangunan apotik. Padahal apotik tersebut lokasinya tidak jauh dari TKP, persisnya tepat berada kurang lebih sepuluh langkah di utara atau belakang mereka.

Di samping itu, bila dilihat dari luka bekas tembakan maka semakin memperkuat dugaan  bahwa Densus 88 sengaja melakukan pembunuhan. Dari foto yang diperlihatkan oleh seorang narasumber kepada Media Umat, menunjukkan luka tembakan di tubuh Hendro kebanyakan berada di bagian pinggang sebelah kanan.

Terhitung sekitar 10 lubang. Dan di bagian keningnya juga terdapat sebuah lubang menganga yang tembus ke bagian tengkorak kepala belakang. Diduga kuat, waktu itu meskipun korban sudah dibrondong timah panas tetapi masih hidup kemudian dari jarak dekat oleh salah seorang anggota Densus 88 ditembak tepat di jidatnya.

Demikian pula nasib Sigit, tidak jauh beda dengan nasib Hendro. Diduga kuat dia juga dihabisi dari jarak dekat. Informasi dari narasumber  yang melihat jenazah Sigit menyebutkan Sigit mengalami luka mematikan di bagian bawah dagu tembus ke ubun-ubun kepala.

Pengakuan ini diperkuat temuan Media Umat di TKP. Di dinding rumah berlantai dua yang berada di samping timur terkaparnya korban, kurang lebih di atas ketinggian 7 meter terlihat seonggok gumpalan daging atau darah beku yang meleleh. Diduga, itu bekas bagian organ atau darah Sigit yang muncrat ke atas akibat tembakan jarak dekat.

Namun sayangnya narasumber tidak bisa memastikan apakah bagain tubuh lainnya juga terdapat luka tembakan. Karena waktu itu, orang tua korban melarang membuka seluruh kain kafan korban.

Selain Media Umat, temuan serupa juga diperoleh oleh dua lembaga independen yakni Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan The Islamic Study and Action Center (ISAC).

Berdasarkan hasil investigasinya, Komnas HAM yang disampaikan kepada media di Solo beberapa waktu lalu menyebutkan Sigit dan Hendro sengaja dihabisi tanpa perlawanan, dan peluru yang bersarang di tubuh Nur Iman bukan dari senjata api milik keduanya.

Komnas HAM menduga, Nur Iman sengaja dihabisi untuk menghilangkan saksi hidup atas penyergapan Densus 88. Komnas juga meragukan jika Sigit dan Hendro membawa senjata api saat itu. Apalagi sampai melepas tembakan. Hal itu diperkuat bukti bahwa tidak ditemukannya selongsong peluru di dekat kedua korban.

Bukan Teroris

Sedangkan Sekretaris ISAC Endro Sudarsono menilai kepolisian tidak bekerja secara profesional. Terbukti sampai berita ini ditulis, tidak ada surat penangkapan dan tidak ada surat sita atas barang-barang milik Hendro.

Barang-barang yang hilang dibawa Densus 88 tersebut adalah satu unit sepeda motor Supra Fit Nopol AD 6496 UK, satu buah ponsel Sony Ericson seri W 580, satu buah ponsel Nokia seri 2300, satu buah tas berisi Alquran dan baju.

Polisi juga tampak gagap, belum ada uji balistik dan pemeriksaan para saksi-saksi, mereka sudah buru-buru mengumumkan Nur Irman tewas bukan akibat polisi salah tembak tapi akibat tembakan membabibuta terduga teroris. Jelas sikap ini menunjukkan ketidak profesionalan polisi.

ISAC juga menolak klaim kepolisian bahwa Hendro khususnya adalah seorang teroris. “Ia memang tergabung dalam sebuah laskar Islam di Solo, sering melakukan amar makruf nahi munkar, hampir setiap malam Ahad terlibat bersama-sama laskar lain merazia tempat-tempat maksiat,” ujarnya Endro kepada Media Umat.

Sebagai teman satu kampung juga aktivis masjid, Endro tahu benar keseharian Hendro. Menurutnya, Hendro sebelum maupun setelah menikah terkenal sebagai pemuda yang rajin berjamaah ke masjid, tanggung jawab dan pekerja keras membantu orang tuanya membiayai sekolah adik-adiknya. Kesehariannya kalau tidak membantu bapaknya di bengkel pembuatan jok, atau sofa, dia sering berdagang keliling ke sekolah-sekolah di sekitar Cemani. Ia juga tidak pernah terlibat tindak kriminal apalagi masuk DPO Polisi. Lantas mengapa ia dibantai? Hanya Allah SWT dan Densus 88 yang tahu.[] nusa/ak

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved