| [60] Sigit Dijebak Densus 88 |
|
|
|
| Wednesday, 23 November 2011 17:19 |
|
Bagi anggota laskar Islam Solo, Amir Tim Hisbah Sigit Qurdhawi tidaklah asing di telinga mereka. Ia dikenal berani dan kuat dalam memegang prinsip. Hal ini diakui salah seorang aktivis yang dulu sempat dekat dengannya. Sebagaimana pengakuan Khalid kepada wartawan beberapa waktu lalu, dirinya cukup dekat dengan Sigit bahkan dengan anggota laskar lainnya terutama saat mereka bersama-sama dijebloskan ke dalam sel lantaran merazia kafe. Menurut Khalid, Sigit juga dinilai punya pengaruh cukup besar tidak hanya di kalangan kelaskaran Islam tapi juga di komunitas preman Solo. Apalagi pasca insiden Naga, membuat namanya semakin moncer. Komunitas preman Solo yang menamakan dirinya Naga pernah berbenturan dengan Sigit, dan waktu itu dia bisa mengobrak-abrik komunitas ini. Pasca insiden itu banyak anggota Naga termasuk salah satu preman ternama di Solo-Sukoharjo menjadi anak buahnya. Mereka oleh Sigit dibina dengan pemahaman-pemahaman keagamaan. Dan diakui oleh aktivis-aktivis kelaskaran, pasca insiden Naga mayoritas anggota Tim Hisbah adalah mantan-mantan preman. Prestasinya di kalangan kelaskaran Islam tidak hanya itu. Ia juga terlibat aktif memerangi miras, prostitusi, bahkan tidak jarang terlibat bentrok dengan oknum aparat kepolisian yang menjadi beking bisnis-bisnis maksiat. Insiden Warung Doyong sekitar tahun 2005 misalnya. Gara-gara mengobrak-abrik tempat penjualan miras, ia dengan beberapa anggotanya harus mendekam di tahanan 6 bulan. Meskipun pemilik bisnis miras oleh pihak kepolisian tidak dijerat. Namun berkat perjuangan rekan-rekan laskar lainnya, oknum aparat yang ditengarai melindungi pengusaha hitam tersebut akhirnya dipindah tugaskan ke pelosok. Kemudian ia juga terlibat bentrok dengan preman-preman Café 2000. Meskipun sampai saat ini Café ini tetap beroperasi karena ditengarai ada oknum polisi yang membekingi tempat itu. Dan seabrek aksinya yang semakin membuat orang nomor satu dalam Tim Hisbah ini menjadi target untuk dihabisi oleh pengusaha-pengusaha hitam beserta preman-premannya dan oknum-oknum aparat pembekingnya. Belakangan, ada seorang polisi yang mengaku mualaf mendekati Sigit. Ia merasa simpati dengan perjuangan Sigit dalam memberantas maksiat. Sebagai wujud dukungannya, keperluan Sigit pun dipenuhi. Sayang, Sigit tidak menaruh curiga atas kebaikan sang mualaf tersebut, padahal tidak sedikit anggota Tim Hisbah yang memperingatkan Sigit. Akhirnya, di malam naas itu, sang polisi muallaf menelpon Sigit dengan memberitahu kalau di Desa Sanggrahan sedang ada perjudian. Ia pun memberitahukan kepada rekan yang lain bahwa dirinya akan memberi pelajaran kepada pelaku maksiat di daerah kekuasaannya itu. Sigit mengajak Hendro dengan berboncengan sepeda motor untuk mendatangi tempat perjudian itu. Namun rupanya itu hanyalah jebakan Densus dan menjadi telepon penjemput ajal bagi keduanya. Menjelang keduanya tiba di TKP, anggota Densus 88 sudah mengepungnya dan akhirnya membunuhnya dengan cara yang sadis. Terbukti sebuah peluru menembus jidat Hendro. Sedangkan Sigit mengalami luka mematikan di bagian bawah dagu tembus ke ubun-ubun kepala. Bisa dipahami bila yang menjebak Sigit adalah preman atau oknum polisi beking bisnis maksiat, tapi mengapa yang turun malah Densus 88? Hanya Allah SWT dan Densus 88 yang tahu.[]nusa/ak |










