Banner
[61] Gempita Konferensi Rajab PDF Print E-mail
Wednesday, 07 December 2011 14:44

Bulan  Rajab  menjadi momentum  penting bagi umat Islam. Pertama, ada peringatan  Isra' Mi'raj. Kedua , ada momentum keruntuhan khilafah
Islam pada 28 Rajab 1342 H. Akibat tidak ada khilafah inilah umat Islam  kehilangan  kemuliaannya dan  tidak  bisa  melaksanakan Islam secara kaffah.

Berkaitan  dengan  itu, Hizbut  Tahrir  Indonesia  menyelenggarakan  Konferensi  Rajab 1432 H di 29 kota di Indonesia dari Aceh  hingga  Papua.  Acara  ini mengambil tema Hidup Sejarah di Bawah Naungan Khilafah.

Konferensi Rajab di Daerah
Gempita  Konferensi  Rajab bermula di Kota Banjarmasin, Kalimantan  Selatan  pada  Kamis (2/6). Sebanyak 8.000 orang hadir dalam perhelatan yang diadakan di  Stadion  17  Mei  Banjarmasin. Acara  itu  dihadiri  tidak  hanya warga Kota Banjarmasin tapi juga kaum Muslimin dari seluruh daerah di Kalsel. Panitia sempat kesulitan  memenuhi  permintaan tiket yang masih terus mengalir hingga hari kedua sebelum acara. Padahal tiket bagi peserta sudah habis.

Sempat  muncul  rasa  was-was  di  benak  panitia  karena selama  dua  hari  berturut-turut Kota Banjarmasin diguyur hujan yang  sangat  deras.  Hingga  H-1 pun pada saat para panitia melaksanakan gladi kotor, hujan terus mengguyur Kota 1000 Sungai ini. Namun dengan keyakinan tinggi kepada pertolongan Allah, semua panitia  memohon  doa  semoga dimudahkan melaksanakan kegiatan ini dan memohon agar cuaca yang  buruk  tidak  menghalangi pelaksanaan  kegiatan  seruan yang mulia ini.

Doa  pun  terkabul.  Allah memberikan kemudahan dengan cuaca yang sangat cerah untuk melaksanakan  Konferensi  Rajab. Para panitia pun ada yang menitikkan air mata dengan karunia tersebut.

Beberapa di antara peserta tak kuasa menahan air matanya mendengar orasi para pembicara. Seorang peserta membayangkan betapa  indahnya  hidup  dalam naungan khilafah yang menjalankan  Islam  secara  kaffah.  “Konferensi  ini  membuat  saya  ingin segera  hidup  dalam  indahnya naungan khilafah,” ujar salah seorang  peserta.  Ulama,  pengusaha, mahasiswa, ibu-ibu majelis taklim hingga pelajar, ter-masuk sekelompok  tuna  netra,  hanyut dalam  gema  takbir  yang  dikumandangkan  di  setiap  jeda pembicaraan.

Seruan syariah dan khilafah berlanjut  ke  tujuh  kota  lainnya pada  Ahad  (12/6).  Konferensi Rajab digelar hampir bersamaan di Jayapura, Kendari, Palu, Samarinda, Lampung, Batam, dan Ketapang.

“Jayapura siap menjadi titik tegaknya  kembali  khilafah”  ujar Muhammad  Jaffar  Abdullah. Gaung khilafah pun menggema dari sebuah hotel di Kota Jayapura.  Sekitar  200  orang  dari berbagai  tempat  di  Papua  dan Papua  Barat  datang  ke  arena konferensi. Terlihat pula sebagian mereka adalah kaum Muslim asli Papua.

Dalam  testimoninya,  salah satu  peserta  yang  diwakili  oleh kalangan  pengusaha  yaitu  Ir Agam Setyo Utomo, menyampaikan  bahwa  wujud  nyata  dari kesadaran dan kepedulian kaum Muslim  terhadap  problematika umat  saat  ini  adalah  berjuang menegakkan  khilafah,  seperti yang dimotori oleh Hizbut Tahrir. Sedangkan Ustadz Amir S Quillo, mengajak seluruh peserta untuk berjuang  bersama  Hizbut Tahrir dalam  menegakkan  syariah  & Khilafah.

Selang  sejam  setelah  konferensi di Papua, Konferensi serupa  dimulai  di  Kendari,  ibukota Sulawesi Tenggara. Ar raya dan al liwa  (dua  bendera  hitam  dan putih  bertuliskan  dua  kalimat syahadat) berkibar di dua buah tiang  menjulang  tinggi  menghiasi birunya langit kota Kendari. Ribuan kaum Muslimin Sulawesi Tenggara  berduyun  duyun  ke Monumen  MTQ  Kendari  sejak pagi.  Jumlah  mereka  sekitar 15.000 orang.

Ketua DPD I HTI Sultra, Rois Ahmad SPd membuka acara ini dengan  mengatakan  bahwa tujuan Konferensi Rajab ini adalah mengingatkan kaum Muslim tentang dua hal, peristiwa Isra Mi'raj, dan keruntuhan Khilafah. Melalui momentum Konferensi Rajab diharapkan  kepada  seluruh  kaum Muslim  berjuang  menegakkannya.

Yusran Abdul Aziz SE, dari DPD Sultra mengajak kaum Muslim mempersatukan langkah bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan  syariah  dan  khilafah. Karena dengan itulah kaum Muslimin akan menghancurkan kapitalisme global.

“Kita akan membawa kehidupan masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara untuk hidup  sejahtera  di  bawah  naungan khilafah,” teriaknya.

Pekikan  takbir  pun  tidak pernah  henti  digelorakan  oleh para peserta. Tidak hanya itu saja para  peserta  juga  membuat gelombang ar raya al liwa. Mereka mengibarkan bendera Islam itu sambil meneriakkan takbir. Mereka  disuguhi  aksi  teatrikal  oleh para pemuda yang menggambarkan  bagaimana  negeri-negeri Muslim saat ini dipecah belah dan diduduki secara politik oleh penjajah  kafir.  Dengan  tegaknya khilafah, negeri Islam yang terpecah disatukan kembali dan kaum kafir bisa dikalahkan.

Dalam  waktu  hampir  bersamaan, pekik takbir dan seruan syariah  dan  khilafah  bergema berulang kali di Bandar Lampung, ibukota Lampung. Sekitar 2.500 kaum Muslimin memadati ruang indoor Gedung Sumpah Pemuda Pusat Kegiatan Olah Raga (PKOR) Way  Halim  Bandar  Lampung, Ahad (12/6). Acara Konferensi Rajab  di  Lampung  ini  dibuka  dengan Tarian  Saman  dan  Nasyid berirama semangat, menggelorakan  kemenangan  Islam.  Ketua DPD I HTI Lampung Abu Muhammad  dalam  sambutannya  menyampaikan,  sebelum  diruntuhkannya  khilafah  oleh  imperialis Inggris  pada  28  Rajab  1342  (3 Maret 1924), umat Islam pernah berjaya dan memimpin peradaban dunia.

Para orator menyampaikan betapa khilafah mampu menyejahterakan umat. Konsep khilafah sangat aplikatif dan rasional bila diterapkan di Indonesia di segala bidang.

“Hanya  Hizbut  Tahrir  saja yang bisa diharapkan dalam perjuangan  menegakkan  Khilafah!” ujar  Dra  Hj  Rosniawati  dalam testimoninya.  Sedangkan  Kyai Ndang Ahmad Arif yang mewakili para ulama Lampung mengatakan, hanya orang munafik yang tidak setuju dengan penegakan syariah  dan  khilafah.  “Percuma mendirikan pesantren kalau tidak setuju khilafah!” tegasnya.

Tidak berhenti di Kota Lampung gempita Konferensi Rajab pun  terdengar  di  Kota  Batam. Sekitar 1.900 kaum Muslim kota industri  yang  dekat  Singapura memenuhi GOR Indoor Tumenggung Abdul Jamal. Mereka terdiri atas  para  pelajar,  mahasiswa, mubaligh,  dan  anggota  majelis taklim  serta  tokoh  masyarakat setempat termasuk tokoh dewan wilayah Muhammadiyah.

Di  Kalimantan  Konferensi Rajab  berlangsung  di  dua  kota yakni Samarinda, Kalimantan Timur  dan  Ketapang,  Kalimantan Barat.  Di  Samarinda  Konferensi Rajab berlangsung di GOR Segiri. Sebanyak 4.000 orang memenuhi tempat duduk yang disediakan. Perhelatan  ini  tergolong  cukup besar  untuk  sekelas  acara  keagamaan  di  sana.  Acara  yang dibuka Abim Fathan (Ketua DPD I HTI Kaltim) diisi orasi dan teatrikal. Juru bicara HTI Ismail Yusanto pun menyampaikan orasinya.

Sedangkan di Ketapang 100 kaum Muslimin hadir di Asrama Haji Kabupaten Ketapang. Meski berlangsung di kota kecil, acara di tempat  ini  tak  kalah  semangat dibanding kota lainnya.

Seluruh kegiatan konferensi ini  disiarkan  secara  langsung lewat streaming internet, di situs www.hizbut-tahrir.or.id  sehingga dapat diakses dan disaksikan oleh semua  orang  di  seluruh  dunia. Konferensi Rajab juga diliput dan disiarkan  secara  langsung  maupun tunda di beberapa stasiun TV lokal. Tak ketinggalan media massa cetak lokalpun meliputnya. [] fatih  mujahid dari  kontributor daerah

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved