Banner
[82] Ada Apa dengan Fahri? PDF Print E-mail
Monday, 11 June 2012 02:51

Banyak ulama dan tokoh Islam menentang pagelaran Irshad Manji. Tapi politisi PKS ini malah membelanya.



"Tak hanya MUI, tapi siapapun yang mengaku Muslim juga wajib menolak," tandas Ketua Umum MUI Surakarta, Prof Zainal Arifin Adnan, tatkala mengharamkan pementasan Irshad Manji di Solo.


Namun, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah justru membela pementasan Irshad Manji. Menanggapi pembubaran diskusi Manji di Salihara oleh Kapolsek Metro Pasar Minggu Jakarta Selatan dan desakan dari warga setempat, melalui akun twitter-nya Fahri Hamzah menyatakan bahwa tidak seharusnya Irshad Manji dilarang untuk berbicara di depan publik. Ia berdalih, kebebasan berbicara dijamin Undang-Undang Dasar 1945.


‘’Secara subtantif UUD 45 sudah menjamin kebebasan berpendapat (freedom of speech) jadi diskusi apapun bebas. Saya sensitif dengan kebebasan berpendapat. Sebab matinya ide adalah matinya kita semua,’’ tulis Fahri.


Mu’tamat Hizbut Tahrir Indonesia, Ustadz Rokhmat S Labib, menjelaskan, kalau ucapan Fahri Hamzah itu adalah kedustaan, “itu jelas ucapan dusta, dan membuat kedustaan atas nama Allah SWT, kalau dikatakan Tuhan itu memberikan kebebasan bicara dimana Tuhan mengatakan seperti itu? Dalam ayat dan Hadist mana?” ujarnya


“Kalau dia tidak bisa menujukkan berarti dia sedang berdusta atas nama Allah. Mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan Allah,” lanjutnya.

Dan kalau kita cermati dalam ayat Al-Quran maupun Hadist. Dijelaskan malah sebaliknya tidak ada ayat yang membolehkan kita bicara sebarangan, yang ada malah kita diperintahkan bicara seperti apa yang ada dalam hadist, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam”.

Ustadz Labib menuturkan, Baik itu apa yang bersumber dari Islam atau setidaknya dibenarkan Islam. “Nah apabila tidak itu maka alternatifnya lebih baik dia diam. Disitu kebolehan orang ngomong adalah yang baik dan sesuai dengan Islam kalau tidak bisa dilakukan hendaknya dia diam,” imbuhnya.

Islam jelas menolak bicara apalagi itu bicara yang menyampaikan kemungkaran, menyampaikan pertentangannya terhadap islam. Dalam pandangan islam justru ketika kemungkaran itu ada maka kita diperintahkan untuk menghentikannya. Bukan membiarkan berdasarkan freedom for speech tadi.

Jika ada orang yang menyampaikan kemungkaran, bagaimana layaknya perbuatan mungkar seperti dalam hadist. “Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a berkata,aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, "Barang siapa melihat suatu kemungkaran dilakukan di hadapanya maka hendaklah dia mencegah dengan tanganya,jika tidak mampu maka cegahlah dengan lidahnya,jika tidk mampu maka hendaklah dia merasa benci dalam hatinya,dan ini adalah selemah-lemahnya iman."

Ustadz Labib menegaskan kalau pendapat Fahri Hamzah itu adalah pendapat yang mungkar. Tidak pantas orang muslim berkata begitu. Apalagi dirinya mengaku sebagai partai Islam.
Fahri Hamzah pun berkilah dalam akun twitternya kalau Tuhan saja membiarkan setan hidup, kok kita menentang freedom of speech.

Menjelaskan lebih lanjut, Ustadz Labib berpendapat. Membiarkan setan hidup bukan berarti kita mengikuti setan. Bahkan Jelas perangilah pelindung-pelindung setan. Jadi bukan berarti setan dibiarkan hidup dan melakukan pembelaan diri.

Ucapan seperti itu sangat berbahaya menurutnya. “Sebab, untuk apa kita para pembunuh dan para pencuri atau menghukum para pencuri, karena toh para pencuri juga dibiarkan hidup sama Tuhan. Jadi apa bedanya dengan itu?,” tandasnya.

“Jadi kalau begitu jangan dilarang para pelaku kejahatan yang lain toh mereka dibiarkan hidup oleh Tuhan. Jelas ucapan itu jelas sangat mungkar. Jelas sesat menyesakkan,” lanjutnya.

Itu artinya kita rela orang lain rusak oleh ucapan Irshad Manji. Dan itu merupakan sikap yang bertentangan dengan prinsip islam, dalam amal ma’ruf nahi munkar. “Seperti orang-orang yang melubangi perahu jika orang yang diatas tidak mencegah kemungkaran tersebut, maka mereka akan tenggelam. Bukan saja yang melubangi bahkan yang tidak melubangi ikut tenggelam. Jadi membiarkan berarti kita ridho terhadap kemungkaran,” tuturnya[] Fatih Mujahid

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved