|
Haji mabrur itu, tidak ada balasan yang pantas untuk-nya, kecuali surga (HR al-Hakim dan al-Baihaqi). Namun, tak hanya haji mab-rur, surga juga bisa diraih dengan amalan lain: jihad fi sabilillah. Baginda Nabi SAW pernah ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” “Lalu apa lagi?” “Jihad fi sabilillah?” “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur,” jawab Baginda Nabi SAW. (HR Muslim).
Melalui hadits ini, baginda Nabi SAW bahkan menempatkan amalan jihad lebih tinggi di atas amalan haji mabrur. Jadi, jika haji mabrur saja bisa memasukkan pela-kunya ke dalam surga, maka jihad pasti juga akan memasukkan pelakunya ke dalam surga, yang tingkatannya lebih tinggi lagi. Terkait dengan jihad ini, Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang ber-iman, maukah kepada kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bisa menyelamat-kan kalian dari azab yang amat pedih? (Yaitu) kalian mengimani Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dengan jiwa dan harta kalian.. (TQS ash-Shaff [61]: 10).
Allah SWT juga berfirman: Sungguh, Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan bayaran surga. Mereka berjihad di jalan Allah, lalu mereka membunuh (orang-orang kafir) atau terbunuh (oleh mereka). (TQS at-Taubah [9]: 111).
Mengomentari ayat ini, di dalam tafsirnya, Shafwah at-Tafasir, Imam Ali ash-Shabuni mengutip pernyataan Imam al-Hasan, “Perhatikanlah, betapa mulianya Allah SWT! Jiwa manusia, Allahlah yang telah menciptakannya. Harta manusia, Allahlah yang menurunkannya sebagai rezeki, lalu memberikannya kepada manu-sia. Namun kemudian, Allah mau membeli semua itu dari orang-orang Mukmin de-ngan harga yang supermahal: surga!” Pertanyaan kita, adakah bisnis di du-nia ini—meski berpotensi mendatangkan keuntungan milyaran/trilyunan rupi-ah—yang bisa membebaskan pelakunya dari azab Allah SWT sekaligus memasuk-kannya ke dalam surga-Nya? Tidak ada. Padahal bukankah demi mendapatkan surga-Nya dan terhindar dari neraka-Nya setiap Mukmin beramal? Lalu mengapa jika terhadap bisnis yang sekadar men-janjikan keuntungan duniawi (betapapun jumlahnya milyaran/trilyunan rupiah) kebanyakan mereka begitu antusias, tetapi untuk bisnis/perniagaan yang bakal mendatangkan keuntungan yang jauh lebih besar (yang bahkan tidak bisa dihargai dengan uang trilyunan) keba-nyakan mereka cenderung tidak bermi-nat? Padahal bukankah surga itu yang menjadi akhir/puncak harapan setiap Mukmin, termasuk para pebisnis?
Ya, amalan jihad, sebagaimana amal-an haji, sama-sama bisa mendatangkan surga. Namun anehnya, amalan jihad justru jarang peminatnya dibandingkan dengan amalan haji.
Mungkin ada yang bertanya, bagai-mana seorang Muslim bisa melakukan jihad di zaman sekarang jika jihad secara syar'i dipahami sebagai memerangi orang-orang kafir di jalan Allah? Dalam hal ini, para ulama membagi jihad menjadi dua. Pertama: jihad dalam rangka memper-tahankan diri saat wilayah/negeri kaum Muslim diserang musuh yang notabene orang-orang kafir. Inilah bentuk jihad difa'i. Ini seperti yang terjadi di Irak, Afghanistan atau Palestina yang terus diserang bahkan dijajah oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Jelas, kaum Muslim di negeri-negeri tersebut ber-kesempatan mendapatkan surga yang Allah SWT janjikan saat mereka melakukan jihad melawan musuh. Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang terbunuh di sana sebagai syahid benar-benar masuk surga tanpa hisab, sebagaimana yang telah Allah janjikan kepada para syuhada.
Kedua: jihad yang inisiatif awalnya datang dari kaum Muslim. Ini dilakukan sebagai langkah terakhir dalam penye-barluasan hidayah Islam saat dakwah menghadapi tembok penghalang, yakni orang-orang atau negara-negara kafir. Inilah jihad hujumi. Jihad ini hanya bisa dilakukan oleh kaum Muslim di bawah komando seorang imam/khalifah, yakni saat adanya institusi Khilafah Islamiyah.
Walhasil, ada dua jalan agar kita bisa berjihad: saat diserang musuh dan saat Khilafah memerintahkan kita untuk me-nyerang musuh. Karena saat ini, di negeri ini kita tidak sedang berada dalam wilayah al-harb (medan perang), maka harapan menjadi mujahid hanya mungkin jika Khilafah itu ada. Jika faktanya Khilafah saat ini tidak ada, maka idealnya kita segera berjuang menegakkannya, agar saat Khilafah itu tegak, kita berkesempatan menjadi balatentaranya yang berjihad fi sabilillah, yang dengan itu kita ber-kesempatan meraih surga-Nya. Insya Allah, perjuangan kita untuk menegakkan Khilafah, yang memungkinkan dengan Khilafah itu jihad kembali hidup, akan sama nilainya dengan amalan jihad itu sendiri. Wallahu a'lam. [] abi
|