Mengatasi Anak Pemalu PDF Print E-mail
Tuesday, 30 March 2010 23:33

 

{mosimage}

Diasuh oleh:
Dra (Psi) Zulia Ilmawati

Assalamua'alaikum Wr.Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi yang saya hormati, saya sangat kagum dengan Nisa anak teman satu pengajian yang baru berumur 3 tahun. Nisa kecil adalah seorang anak yang penuh percaya diri, riang dan lincah, tidak pernah takut bertanya ini itu dan dengan mantap menyapa orang yang baru dikenalnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan Rida (3 tahun), anak saya. Setiap kali bertemu orang baru, Rida selalu ingin terus-menerus berada dekat saya, menyembunyikan diri di balik jilbab saya, tidak mau diajak bicara dan tidak mau melakukan kontak mata.  Situasi ini kadang membuat saya menjadi tidak nyaman, merepotkan dan tak jarang saya menjadi malu dan sedikit "jengkel" dengan perilakunya. Apakah hal semacam ini normal saja, apa dampak yang akan timbul akibat sifat pemalu, dan Bagaimana sebaiknya saya harus mengatasinya. Jazakillah atas masukan dan sarannya.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Ella

Yogya.

Wa'alaikumsalam Wr.Wb

Ibu Ella yang baik, anak yang pemalu biasanya cenderung untuk menarik diri dari lingkungan sekitar. Kecenderungan menarik diri ini sudah bisa dilihat sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita terkadang melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati atau dipegang orang lain selain ibunya. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan dirinya berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal. Anak pemalu ketika bertemu dengan orang lain biasanya akan menghindari kontak mata, tidak banyak bicara. Jika ditanya, menjawab seperlunya "ya", "tidak", "tidak tahu". Jika anak sudah sekolah biasanya tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas, malu bertanya, tidak mau diminta ke depan kelas untuk menyanyi, memimpin doa atau sekedar menunjukkan tangan jika dipanggil namanya.

Ibu Ella yang baik, pada dasarnya pemalu bukanlah  merupakan abnormalitas. Yang sering menjadi persoalan justru akibat dari pemalu itu sendiri. Misalnya, ketika anak kita berada di rumah teman/tetangga, dan ingin buang air kecil tetapi malu minta izin ke kamar mandi, sehingga menahan keinginan buang air, dan akhirnya malah mengompol.  Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi tidak tergali dan tidak berkembang secara optimal. Lingkungan memegang peranan penting terhadap pembentukan sifat pemalu ini.  Mestinya orang tua menerima sifat pemalu anak apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Dorong anak untuk berani keluar  dan menghadapi dunia luar dengan percaya diri, sehingga ia merasa kompeten, dan berkembang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, tetapi harus dilakukan secara bertahap.

Ibu Ella yang baik, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu si kecil mengatasi rasa malunya:

Pertama, jangan mengolok-olok sifat pemalu anak ataupun memperbincangkannya di depan anak tersebut. Misalnya dengan mengatakan "kamu sih pemalu", "iya loh Bu, anak saya ini pemalu sekali, sampai kadang-kadang saya repot sekali", dan lain-lain. Dengan mengatakan hal-hal ini semacam ini, anak dapat merasa tidak diterima sebagaimana dia adanya. Kedua, cari tahu kesukaan dan potensi anak, lalu doronglah untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Ketiga, ajaklah anak secara rutin berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah. Keempat, jika memungkinkan, ajaklah si kecil ketika Anda datang ke pengajian, atau acara-acara lain yang di situ berkumpul banyak orang. Kelima, lakukan role-playing (bermain peran) bersama anak. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lain-lain. Keenam, jadilah contoh buat anak, jangan hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi tunjukkan pada anak bahwa Anda orang tua yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orang tuanya sendiri. Apapun usaha yang dilakukan, tetaplah dampingi anak jangan langsung dilepaskan sendiri. Anak mulai bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang. Demikian ibu Ella, mudah-mudahan si kecil Rida menjadi anak yang shalihah dan membanggakan orang tuanya...

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved

WordPress Appliance - Powered by TurnKey Linux