| [59] Selisih dengan Saudara |
|
|
|
| Thursday, 03 November 2011 19:06 |
|
Dra (Psi) Zulia Ilmawati Assalaamu’alaikum Wr.Wb Semoga Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga dirahmati Allah SWT. Ada yang ingin saya tanyakan terkait dengan persoalan yang terjadi pada keluarga kami. Kami enam bersaudara. Alhamdulillah hubungan persaudaraan kami sekeluarga selama ini baik-baik saja. Kedua orang tua kami memang terus selalu mengingatkan agar kami rukun dan saling membantu. Sampai pada suatu saat, setelah orang tua kami meninggal, salah satu kakak saya berbuat kecurangan terkait dengan pembagian harta waris. Padahal sejak dari awal kami sekeluarga sudah sepakat untuk berhati-hati dalam persoalan harta peninggalan orang tua. Membaginya sesuai dengan ketentuan yang disyariatkan. Hubungan persaudaraan kami sekeluarga menjadi sedikit terganggu. Saya sangat sedih dan kecewa dengan sikap kakak saya ini. Setelah kejadian ini, kami menjadi jarang sekali berkomunikasi dan enggan untuk saling mengunjungi. Kami ingin hubungan persaudaraan ini dapat terjalin baik kembali. Apa yang mestinya kami lakukan? Jazakillah untuk jawabannya. Wassalaamu’alaikum Wr.Wb. Wati, di bumi Allah Wa’alaikumsalam Wr.Wb Ibu Wati yang baik, Alhamdulillah Anda memiliki keluarga besar yang selalu memperhatikan pentingnya menjalin persaudaraan. Memang sudah demikian seharusnya kehidupan keluarga Muslim. Saya sangat memahami kesedihan dan kekecewaan Anda. Persoalan harta waris kadang memang sering menjadi penyulut perselisihan di antara anggota keluarga. Hubungan persaudaraan menjadi renggang, tidak jarang kemudian terjadi perselisihan hebat yang berkepanjangan, kebencian yang mendalam seumur hidup dan bahkan bisa saling menghilangkan nyawa. Sungguh sangat memprihatinkan kalau sudah demikian. Padahal Islam sangat membenci perselisihan antar keluarga dan memperhatikan hubungan silaturahmi. Allah SWT telah memerintahkan untuk selalu berbuat baik dengan kerabat. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S: An Nisaa: 36) Ibu Wati yang baik, Banyak sekali hadits yang memerintahkan untuk menjaga tali silaturahmi sekaligus juga memberikan ancaman kepada orang-orang yang sengaja memutuskannya. Dalam suatu riwayat Rasulullah SAW. pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal shalih yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (HR Bukhari-Muslim). “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi”(HR Bukhari-Muslim) Ibu Wati yang baik Cobalah bicarakan baik-baik dengan saudara Anda yang lain. Berikan nasihat pada kakak tentang pentingnya pembagian harta waris sesuai dengan yang sudah disyariatkan. Memperlakukan harta waris sesuai dengan ketentuan syariah, merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT, yang Insya Allah bila dilaksanakan dengan benar dan ikhlas akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Pilih di antara saudara Anda, siapa kira-kira yang dapat menyampaikan nasihat itu padanya. Insya Allah dengan niatan yang baik, persoalan ini akan dapat diselesaikan. Tidak ada salahnya Anda dan saudara-saudara lainnya yang memulai menjalin kembali persaudaraan ini, walau Anda dan saudara lainnya sudah merasa didzalimi. Seorang Muslim yang pemaaf sangat disukai Allah SWT. Kalau tidak ada yang mau memulai, maka permusuhan akan terus berkepanjangan dan kedamaian akan sulit diciptakan. “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran: 134) Mudah-mudahan persaudaraan di keluarga besar Anda kembali terjalin dan senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Amiin....[] |




Diasuh oleh:





