Banner
[46] Sentimen Anti Islam Meningkat Matinya Klaim Pluralisme! PDF Print E-mail
Wednesday, 19 January 2011 14:54

Meningkatkatnya sentimen dan kebijakan anti Islam di Eropa membuat banyak pihak mempertanyakan klaim pluralisme Eropa.

Meningkatnya sentimen anti Islam (islamo-phobia) di Eropa semakin mengkhawatirkan banyak pihak.  Gejala ini tampak dari kemenangan bebarapa partai ultranasionalis yang dikenal anti imigran dan anti Islam di berbagai kawasan Eropa. Dalam berbagai pemilu di negara Eropa, partai-partai ekstrim itu perlahan mendapatkan banyak suara.

Setelah Geert Wilders sukses meraih banyak kursi di parlemen Belanda, giliran Partai Demokrat Swedia yang mengikutinya. alam pemilu yang dihelat Ahad (19/9) waktu setempat, partai yang dipimpin Jimmie Akesson, itu berhasil meraih 20 kursi di parlemen Swedia. Itu merupakan kali pertama partai yang memiliki sikap Islamphobia itu masuk ke parlemen.

Bahkan, demi mengangkat status untuk mendapatkan legitimasi parlemen, Demokrat Swedia akan bergabung dengan sesama partai ultra kanan di seluruh Eropa, dari Denmark, Norwegia, dan Belanda, sampai Prancis, Belgia dan Austria. Mengikuti jejak mereka, partai Demokrat Swedia sedang belajar untuk memperluas basis dukungannya keluar konstituen inti mereka yaitu kelompok neo Nazi garis keras dan kaum muda rasialis "skinhead."

Ditambah lagi dengan ber-bagai kebijakan ngara Eropa yang menyudutkan umat Islam seperti larangan berkerudung dan Burga di Prancis, juga larangan pembangunan menara masjid. Sikap jaksa di Belanda yang justru membebaskan Wilders dari tuduhan menghina Islam, membuat Islamophobia semakin mendapat tempat justru dengan dukungan pengadilan. Jaksa Birgit Roessel dan Paul van Velleman menilai komentar Wilders itu ditujukan kepada Islam, bukan Muslim sebagai sebuah kelompok seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/10/2010).

Sebelumnya, Komisi Eropa untuk Rasisme dan Intoleransi (ECRI) pada Juli 2010 telah mengumumkan laporan ECRI Januari-Desember 2009 yang memperlihatkan tren utama rasisme, diskriminasi rasial, xeno-phobia, anti-Semitisme dan intoleransi di Eropa. Salah satu temuan utama ECRI menggaris-bawahi bahwa kaum Muslim adalah korban terbesar dari diskriminasi pekerjaan, penegakan hukum, perencanaan kota, imigrasi, dan pendidikan, serta pembatasan hukum tertentu yang diberlakukan baru-baru ini.

Studi dari para ahli Lembaga Friedrich Ebert di Jerman Rabu (13/10) lalu mengungkapkan bahwa rasisme telah berkembang luas di Jerman, di tengah-tengah perdebatan seputar imigrasi, terutama dari kaum Muslim, yang terus menyulut kemarahan di dalam negara Jerman..“Pada tahun 2010, telah ada peningkatan yang signifikan dalam sikap anti-demokratis dan rasis. Kami mengalami titik balik dramatis,” ungkap peneliti Elmar Braehler dan Oliver Decker.

Matinya Klaim Pluralisme
Menguatnya Islamophobia tampak saat Presiden Jerman Christian Wulf mengatakan (dalam peringatan ke-20 unifikasi Jerman ) bahwa Islam telah menjadi bagian dari Jerman. Ucapan itu tidak menyenangkan sebagian politisi yang membantah pernyataan presiden dengan mengatakan: ”Jika presiden ingin menyamakan Islam di Jerman dengan agama Masehi dan Yahudi, maka itu adalah salah.”

Atas dasar itu kanselir Jerman Angela Merkel membela pernyataan presiden dengan menempatkannya pada konteksnya yang tepat. Dia juga menegaskan akar Masehi-Yahudi Jerman yang membentang ratusan tahun, malah ribuan tahun. Kanselir tidak lupa menegaskan sikapnya dengan ungkapan lain yang menegaskan bahwa kedaulatan di Jerman berada di tangan konstitusi bukan di tangan syariah.

Menyoroti hal ini Syakir 'Ashim, perwakilan media Hizbut Tahrir di Jerman menggugat klaim pluralisme Eropa dengan mengajukan beberapa pernyataan retoris. Apakah maksud politisi itu adalah bahwa kultur Jerman modern adalah hasil dari pencerahan Masehi-Yahudi? Sementara semua orang mengetahui bahwa gerakan pencerahan dan modernisasi dibangun diatas puing-puing reruntuhan pemikiran keagamaan Masehi-Yahudi? Dan bukankah Barat bangkit tidak lain setelah membebaskan diri dari ide Masehi?

Atau apa maksud politisi itu adalah bahwa ikatan persaudaraan di antara orang-orang Masehi dan Yahudi adalah ikatan kecintaan yang berakar dan membentang ratusan tahun jika tidak malah ribuan tahun? Sementara semua orang mengetahui sejarah hubungan antara orang-orang Masehi dan Yahudi, yang dimaksudkan adalah terjadinya pengusiran dan pembunuhan yang diderita oleh orang-orang Yahudi di Eropa selama ratusan tahun jika tidak malah ribuan tahun?

Ataukah yang dimaksud oleh politisi itu bahwa Jerman berdiri di atas pengakuan terhadap agama Masehi-Yahudi? Sementara semua orang mengakui bahwa Jerman adalah negara sekuler memisahkan agama dari negara.

Kemudian, jika identitas Jerman menampakkan simbol tradisi Yahudi-Masehi, lalu apa makna penegasan atas wajibnya integrasi dan loyalitas untuk Jerman? Bukankah itu berarti bahwa politisi menginginkan kaum Muslim loyal kepada kultur Masehi-Yahudi? Yaitu mereka menginginkan kaum Muslim melepaskan diri dari identitas keislaman mereka dan meyakini identitas Jerman yang berarti tradisi-tradisi Masehi-Yahudi?

Lebih jauh Syakir 'Ashim menegaskan Islam bukanlah bagian dari Jerman, kultur dan identitasnya. Menurutnya, persoalannya bukanlah masalah mengintegrasikan Islam di dalam wadah kultural Jerman. “Masalahnya tidak lain adalah: Anda mengklaim bahwa peradaban dan kultur Anda berdiri di atas nilai-nilai toleransi dan kebebasan. Meski demikian Anda tidak menerima pihak lain di dalam masyarakat kecuali jika orang lain itu menjadi semisal Anda,” tegasnya.[] farid wadjdi, dari berbagai sumber

Okay Pala, Perwakilan Media Hizbut Tahrir Belanda

Pengadilan Wilders hanya Dagelan

Terkait dengan “Wilders”, jaksa penuntut umum telah menutup mata sejak lama. Jaksa penuntut umum mengangkat kasus Wilders, meskipun ia sendiri tidak menyukainya. Tampak jelas sejak awal proses pengadilan bahwa jaksa penuntut umum berdiri di barisan yang membela Wilders, bukan di barisan yang menuntutnya. Contohnya, ketika pengacara pembela Wilders meminta kesaksian dari orang-orang yang mereka sebut ahli tentang Islam yang hakikatnya mereka mendukung Wilders, jaksa penuntut umum menyetujui hal itu. Sebaliknya ia tidak meminta kesaksian dari para ulama yang menentang pendapat Wilders.

Lebih mengherankan lagi, jaksa penuntut umum tidak berupaya keras untuk mengejar jawaban para saksi. Seakan-akan jaksa penuntut umum mengakui bahwa pendapat mereka seputar Islam adalah benar. Begitulah drama berlangsung dan menciptakan suasana umum mendukung Wilders dan menjadikannya sebagai korban yang harus dibela . Pengadilan itu benar-benar sebuah dagelan. Wilders keluar dari pengadilan itu sebagai seorang hero yang membela kebebasan berekspresi.

Demi Allah, sungguh itu benar-benar merupakan perkara yang menggelikan. Wilders dengan dukungan penguasa Belanda menyeru kaum Muslim untuk berintegrasi, dengan makna meyakini nilai-nilai Belanda. Yaitu menyeru kaum Muslim untuk meninggalkan syariah Rabb semesta alam dan mengadopsi syariah manusia secara total. Akan tetapi pada waktu yang sama, yang pertama yang melanggar syariah manusia (hukum Belanda) itu dan mengotori nilai-nilainya adalah Wilders dan penguasa Belanda sendiri. Karena itu kami katakan bahwa pengadilan Wilders adalah dagelan yang membuat Wilders dan Belanda menjadi bahan tertawaan dunia.[] fw

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved