Banner
[47] Kebohongan Koran As Syarq al Awsath PDF Print E-mail
Thursday, 27 January 2011 10:49

Ed Husen sendiri mengaku mendapat bantuan dari pemerintah Inggris dan bagian dari Amerika.

Koran As Syarq al Aw-sath baru-baru ini mempublikasikan tulisan yang berjudul Pemimpin di Hizbut Tahrir (Sabtu/2 Oktober 2010). Di dalam artikel itu penulis Muhammad asy-Syafi'iy mewawancarai seorang yang disebut Ed Husen dan memaparkan sejumlah masalah yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir. Artikel tersebut mengandung banyak kerancuan dan kesalahpahaman serta informasi yang tidak benar seputar Hizbut Tahrir, ide-idenya dan aktivitasnya.

Utsman Bakhash (Direktur Kantor Media Hizbut Tahrir pusat) dalam press releasenya menjelaskan kerancuan tersebut. Berikut tanggapannya.

Pertama-tama kami tegaskan beberapa fakta berikut: Pertama, seorang yang disebut Ed Husen tidak sehari pun pernah menjadi anggota Hizbut Tahrir.  Ia hanya pernah belajar di dalam halqah Hizb dalam waktu yang singkat pada pertengahan tahun 90-an.  Ia sendiri menyebutkan di dalam wawancara artikel yang dimaksud bahwa dahulu ia seorang daris. Ucapannya itu dinyatakan di dalam artikel : (di dalam Hizbut Tahrir ada dua tingkatan: pertama disebut darisin. Mereka adalah individu-individu yang komitmen untuk belajar. Sementara tingkatan kedua adalah anggota yang sesungguhnya. Dan saya dahulu adalah seorang “daris”.)

Lalu bagaimana mungkin seseorang yang pada dasarnya tidak menjadi anggota akan bisa menjadi pemimpin, apalagi di dalam partai global yang sudah lama seperti Hizbut Tahrir?  Deskripsi yang tidak ada dasar kebenaran itu diulang beberapa kali di dalam artikel. Dan ditambah lagi dengan ungkapan berlebihan “seorang pemimpin senior” dan “penanggung jawab rekrutmen”.  Padahal orang yang disebut Ed Husen itu menyatakan di dalam artikelnya bahwa waktu itu ia berusia 17-18 tahun ketika mengenal Hizbut Tahrir. Ia juga menyebutkan keberadaannya di Hizb tidak lebih dari tiga tahun yang dia habiskan sebagai daris bukan sebagai anggota.  Lalu bagaimana orang dalam usia seperti itu “menetapkan berbagai strategi” bagi aktivitas Hizb, sebagaimana yang disebutkan di dalam artikel?!!

Kedua, penulis mempromosikan Husen sebagai pakar yang membongkar sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh para ahli senior lainnya dengan menulis  “dia adalah Islamis Inggris senior pertama yang memaparkan metode kerja kelompok Islam dari dalam”!  Andai penulis melakukannya sendiri pastilah ia menemukan metode Hizbut Tahrir dalam merealisasikan perubahan karena metode tersebut merupakan perkara yang terbuka dan diumumkan, bukan rahasia yang disembunyikan.

Ketiga, di antara perkara yang paling menonjol yang  menunjukkan kerancuan “mantan ahli  Islamis ” ini adalah klaimnya bahwa Hizb di balik perekrutan  mahasiswa Arab dengan tujuan “mengirimkan ke negeri-negeri kelahiran mereka untuk melak-anakan misi-misi militer”!  Kekonyolan ini cukup untuk menunjukkan ketololan di dalam artikel tersebut yang membuat kita hera n terhadap rendahnya kredibilitas si penulis. Terutama agar tidak menjerumuskan pembaca dalam petualangan seperti Don Quixote yang  mencari ketenaran dan kesenangan dengan cara-cara murahan.

Keempat, di antara yang cukup untuk menelanjangi kebenaran “mantan fundamentalis” ini -yang merasa malu dengan nama yang termulia Nabi Muhammad SAW dan menyingkat namanya dengan  Ed dalam bahasa Inggris- adalah sebagaimana pengakuannya sendiri bahwa ia berpihak kepada pemerintah Inggris. Padahal Inggris merupakan negara yang mewarisi sejarah peperangan yang panjang  terhadap Islam dan kaum Muslim.

Kelima, sedangkan apa yang dinyatakannya seputar (unsur-unsur Hizb jauh dari shalat dan ibadah) maka itu merupakan kebohongan besar dan kedustaan yang nyata.  Hal itu karena Hizbut Tahrir berdiri di atas akidah Islamiyah dan keterikatan sempurna terhadap seluruh hukum syara'.  Hizbut Tahrir tidak menerima di dalam barisannya, baik sebagai seorang Hizbiyun (anggota) atau daris, orang yang tidak terikat dengan hukum-hukum syara' baik ibadah, akhlak, maupun muamalah.

Para syabab Hizbut Tahrir  bahkan yang tinggal negeri-negeri Barat sekalipun terkenal dengan keterikatan luar biasa mereka dengan ibadah. Meski seberat apapun tekanan di tempat pekerjaan dan lembaga-lembaga pendidikan tempat mereka berada yang tidak memperhatikan hak untuk menunaikan ibadah baik shalat maupun puasa pada diri pelajar/mahasiswa dan pekerja Muslim.

Bukan hanya itu saja, seandainya ada yang bergabung dalam barisan Hizb, kemudian orang itu tidak shalat dan menyembunyikannya dari Hizb, maka secara otomatis ia akan jatuh (keluar dengan sendirinya) dari barisan Hizbut Tahrir. Sebagaimana jatuh-nya Ed Husen yang seperti yang dia akui sendiri telah  meninggalkan shalat Subuh dan shalat 'Isya'!

Keenam, adapun perkataan bahwa Hizb mementingkan aktivitas-aktivitas politik, dan seakan-akan itu terpisah dari hukum-hukum syara', maka itu merupakan perkataan yang rancu.  Politik dalam makna syar'i adalah pengaturan urusan masyarakat sesuai hukum-hukum syara'. Dan aktivitas-aktivitas politik yang dilakukan oleh Hizb adalah sama dengan hukum-hukum amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, menampakkan nasihat kepada umat secara umum maupun khusus, mengadopsi kemaslahatan hakiki kaum Muslim, dan menyeru mereka untuk menerapkan solusi-solusi yang dibawa oleh Islam untuk menjalankan dan mengatur interaksi masyarakat sesuai perintah dan larangan Allah SWT.

Itu adalah aktivitas-aktivitas yang diperintahkan Allah SWT kepada kaum Muslim untuk dilaksanakan ketika Allah SWT: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (TQS Ali Imran [3]: 104)

Oleh karena itu, aktivitas politik yang dilakukan Hizb adalah mengemban dakwah Islam untuk mengembalikan penerapan Islam dan mengoreksi penguasa kaum Muslim atas pengabaian mereka terhadap permasalahan-permasalahan umat dan pemeliharaan urusan-urusan kaum Muslim sesuai hukum-hukum Islam dan solusi-solusinya. Dan itu bukanlah  politik menurut pengertian Barat, yang terpisah dari nilai-nilai ruhiyah, akhlaqiyah dan kemanusiaan dan sebalikya berdiri di atas pemisahan materi dari ruh, terpisah dari agama dan syariah Allah SWT, dan yang bersandar kepada kebohongan, kemunafikan, kepentingan-kepentingan materi dan pribadi.

Sebagai penutup, bagi kami tidaklah heran melihat pribadi semisal Ed Husen yang membuat kedustaan terhadap Islam dan kaum Muslim karena itu merupakan kebiasaannya.

Akan tetapi yang kami heran bagaimana mungkin penulis koran asy-Syarq al-Awsath mau mengambil informasi tentang Islam, kaum Muslim, tentang khilafah dan para pejuangnya dari pribadi yang mengatakan organisasi “Quilliam” yang didirikannya “menerima bantuan dari pemerintah Inggris” dan yang mengatakan tentang dirinya sendiri bahwa ia “anggota senior di Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika”.  Artinya ia memiliki keburukan di kedua sisinya.

Bukankah setelah itu kami boleh bertanya-tanya tentang motif di belakang wawancara tersebut? Dan tentang tujuan penulis menyanjung si Ed itu dan menjadikannya sebagai rujukan yang disebut “pemimpin senior di Hizbut Tahrir”. Ed juga ditanya tentang Hizb sementara dia sendiri telah tergelincir dari Hizb dan ia seorang daris yang sama sekali belum menjadi anggota Hizb?! Perlu diketahui bahwa kantor-kantor Hizb tersebar di seluruh dunia dan tidak sulit bagi media massa untuk menjalin kontak dengan perwakilan-perwakilan Hizb.

Terakhir, bahwa pihak yang lebih besar dari Ed ini, jauh lebih besar, dan bersama mereka kekuatan politik dan pers, mereka berupaya menyematkan kebohongan-kebohongan mereka terhadap Hizbut Tahrir, maka mereka gagal dan merugi. Dan akibat perbuatannya mereka akan terjatuh dari kerendahan ke dasar kerendahan, sementara Hizb justru akan naik ke ketinggian menuju ketinggian yang lebih tinggi. Allah SWT menolong orang-orang yang shalih.[] fw dari berbagai sumber

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved